Betapapun sulitnya memakaikan baju pada si batita, hindari pemaksaan.
"Cepat dong pakai bajunya Sayang. Mama kan mau kerja," ujar seorang ibu pada anak batitanya. Bukannya menurut, si kecil malah berlari keluar. Si ibu makin mangkel. Akhirnya, dia menarik si anak masuk ke dalam rumah dan memakaikan baju dengan paksa. Memang ada saja ulah si batita yang di luar harapan. Salah satunya sulit dipakaikan baju. Pada situasi yang tidak menguntungkan, karena orang tua sedang terburu-buru pergi ke kantor katakanlah, pemaksaan terkadang tak terhindarkan. Padahal tindakan tersebut, meskipun akhirnya membuat anak menurut, secara psikologis tidak dianjurkan.
Lebih baik, cari tahu apa yang menjadi penyebab si kecil tak mau dipakaikan baju. Tanyakan kenapa dia tidak mau pakai baju. Jawaban atau isyarat si kecil bisa dijadikan landasan mengatasi masalah.
* Baju tidak nyaman
Dapat saja bajunya kekecilan atau terbuat dari bahan yang tidak nyaman, menimbulkan rasa gatal atau gerah. Kalau sudah begitu, wajar kalau anak malas memakainya. Penolakan yang lebih "hebat" bisa terjadi pada anak yang memiliki kulit sensitif karena ia bukan saja tidak merasa nyaman namun juga merasa tersiksa kala mengenakannya.
Lantaran itu, kenyamanan merupakan syarat penting dalam memilih baju bagi si kecil. Jangan gara-gara harga murah, kita langsung membeli tanpa memperhitungkan faktor lain. Baju dari bahan katun adalah alternatif yang baik.
* Perilaku negativistik
Mungkin saja anak tidak memiliki alasan. Ini berarti si kecil sedang ingin menunjukkan kemandirian, ingin menunjukkan bahwa sayalah yang punya kontrol pada diri saya sendiri. Apapun yang saya lakukan berdasarkan apa yang saya mau. Inilah yang disebut dengan fase negativistik atau fase otonomi diri yang biasa terjadi pada masa batita.
Menghadapi perilaku ini, orang tua perlu bersabar. Coba jelaskan gunanya memakai baju. "Baju itu kan untuk melindungi tubuh Adek dari panas matahari, kalau Adek enggak mau pakai baju nanti kepanasan dong," misalnya.
Biasanya penjelasan yang sederhana dan secara terus menerus akan mengubah perilakunya, dari tidak mau menjadi mau.
* Meniru
Jika anak sering melihat orang di sekitar rumah tidak memakai baju, bisa saja ia menirunya. Katakanlah, si kakak hobi mengenakan celana pendek dengan bertelanjang dada. Karena batita masih senang sekali meniru, ia bisa saja berpikir "Wah enak kali ya kalau cuma pakai celana pendek kayak Kakak," misalnya.
Atasi dengan penjelasan mengapa si kakak melakukan hal itu. "Kakak merasa gerah sehabis pulang sekolah. Jadi untuk sementara enggak pakai baju dulu. Adek gerah tidak? Tidak kan." Selanjutnya, mau tak mau "si pemberi contoh" harus mengubah perilakunya, terutama bila di depan si kecil. Kalaupun ingin bertelanjang dada sesekali hendaknya tidak terlalu lama atau tidak sambil melakukan sesuatu.
* Ingin mendapat perhatian
Sewaktu anak kabur kala dipakaikan baju lalu kita mengejarnya, bisa jadi ia menikmati momen tersebut karena merasa diperhatikan. Apalagi bagi si kecil yang jarang memiliki kesempatan bermain bersama orang tuanya, saat-saat seperti itulah dijadikan kesempatan untuk mendapat perhatian. Sayang banyak orang tua yang tidak menyadari sehingga naik pitam dan justru memarahinya.
Sebaiknya, ladeni saja apa yang diinginkan anak. Sebenarnya ia mau memakai baju tapi perlu dibujuk. Hubungan erat yang terjalin antara orang tua dan anak seperti saat bermain kejar-kejaran seperti itu- akan memengaruhi pertumbuhan kepribadiannya secara positif. Tentu waktu kejar-kejarannya perlu dibatasi. Jangan sampai anak terlalu lama tidak mengenakan baju.
* Ingin buru-buru main
Karena tidak sabar untuk segera bermain, seusai mandi bisa saja anak langsung berlari untuk bergabung bersama teman sebayanya. Dia juga memiliki kekhawatiran kalau terlalu lama memakai baju, teman-teman akan keburu pergi.
Kalau sudah begitu, berilah penjelasan simpel. "Adek kalau mau main harus pakai baju dulu. Kalau digigit semut bagaimana?"
Bila perlu, pakaikan bajunya di dekat teman-temannya yang sedang bermain untuk menunjukkan dia tidak akan ditinggal pergi. Katakan, "Malu lo kalau tidak pakai baju. Yang lain saja pakai baju, masa Adek sendiri yang enggak pakai baju."
BERI PILIHAN
Kalaupun upaya-upaya tersebut belum berhasil, tetap hindari pemaksaan. Apalagi menggunakan tindakan-tindakan kasar. Biarkan saja ia telanjang sejenak. Saat anak sudah merasa tidak nyaman karena bertelanjang, baru bujuk ia kembali untuk memakai baju.
Kiat lain yang diberikan adalah dengan memberikan kesempatan pada anak untuk memilih pakaian yang ingin dikenakan. Hal ini terutama cocok untuk kasus si kecil yang negativistik karena dengan begitu ia merasa dihargai. Tawarkan secara langsung, "Baju mana yang ingin Adek pakai?" sambil menunjukkan baju-baju yang ada di lemari. Hindari kalimat, "Yuk pakai baju. Pilih sendiri di lemari!" Kalimat seperti ini tidak efektif karena anak batita masih perlu pengarahan yang lebih konkret.
Bisa juga, si kecil tinggal menentukan pilihan dari beberapa alternatif baju yang sebelumnya telah kita siapkan. Hal ini dapat menghindari risiko "salah pilih". Di sore hari, katakanlah, baju daster akan lebih nyaman ketimbang baju terbuka karena menjelang malam umumnya udara akan lebih dingin.
Cara-cara tadi, lanjut Vera, secara tidak langsung dapat merangsang kecerdasan anak dalam menentukan keputusan. Menentukan keputusan kan harus melalui proses berpikir sehingga otak anak pun ikut bekerja. Meskipun sangat sederhana namun hal ini sangat baik untuk perkembangan kecerdasannya.
Yang lebih penting, anak merasa dihargai. Dari situ diharapkan pertumbuhan kepribadian si kecil menjadi positif dan memiliki kepercayaan diri yang lebih tinggi.
*** Irfan Hasuki. Foto: Iman/nakita
{ Dapatkan DVD terapi gelombang otak untuk menghilangkan kecanduaan & kebiasaan buruk , klik link di bawah ini.....}
Sumber : www.gelombangotak.com/menghilangkan_kecanduan_alkohol_merokok.htm
Tampilkan postingan dengan label sulit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sulit. Tampilkan semua postingan
Senin, 01 Agustus 2011
Sabtu, 30 Juli 2011
8 PENYEBAB SI KECIL MULAI SULIT MAKAN
Senangnya hati setiap orang tua kala melihat bayinya yang masih berusia 5-7 bulan menyantap bubur susu maupun bubur saringnya dengan lahap. Begitu juga saat si kecil sudah mulai diperkenalkan dengan nasi tim yang diblender. "Pintar anak Bunda. Makannya hebat, jagoan deh," begitu puji si ibu setiap kali bayinya yang berusia 9-10 bulan menyantap bersih isi mangkuk berupa tim lengkap dengan lauk ayam, kacang hijau, wortel dan bayam atau kangkung.
Namun begitu menginjak usia 11-12 bulan dan seterusnya hingga usia 3 tahunan, kebahagiaan semacam itu ada yang tinggal kenangan. Si kecil yang tadinya lahap makan kini mendadak susah makan. "Wah, jangan tanya deh gimana susahnya nyuapin anak seumur ini. Bisa masuk lima suap saja, sudah hebat!" Nada bicara semacam ini bukan dicari-cari lo, melainkan "ungkapan tulus" mayoritas orang tua. Sesabar apa pun orang tua atau pengasuh menyuapinya, acara makan seakan menjadi ajang "pertengkaran". Ada saja ulahnya. Dari yang selalu menolak makan dengan menutup rapat mulutnya, sampai menyembur-nyemburkan atau melepeh kembali makanan yang sudah berhasil masuk ke mulutnya.
Hal ini tentu saja membuat orang tua waswas. Terlebih sebagai akibatnya berat badan si kecil susah sekali naik. Padahal di usia ini anak justru perlu mendapat asupan gizi lebih banyak dibanding saat bayi. Pasalnya, daya jelajah anak semakin luas mengingat dia sudah bisa berjalan. Otaknya pun "lapar" untuk mendapatkan berbagai masukan mengenai hal-hal baru melalui berbagai stimulasi.
Akan tetapi, papar dr. Nuraini Irma Susanti Sp.A., keadaan seperti ini seakan diputarbalikkan oleh aneka mitos yang banyak diyakini masyarakat. Seperti, "Kalau anak mau jalan, biasanya memang susah makan. Wajar aja kalau badannya jadi kurus." Atau, "Enggak usah cemas, itu tandanya anak mau pintar."
ALASAN MENOLAK MAKANAN
Biasanya, kata dokter yang berpraktek di RSUP Fatmawati, Jakarta Selatan ini, anak mulai mendapat makanan tambahan dan susu pendamping ASI di usia 6-7 bulan. Semakin bertambah usianya, seperti saat memasuki usia 9 bulan, maka porsi makannya harus lebih besar dibanding ASI. Biasanya, anak mendapat tiga jenis makanan dalam satu hari, yakni makanan padat, susu tambahan pendamping ASI, maupun ASI itu sendiri. Dalam menjalani kebiasaan baru ini, bisa saja anak mengalami hal-hal yang membuatnya enggan menyantap makanan. Inilah alasannya:
1. Tak pernah benar-benar lapar
Tak heran jika makanan yang terdiri atas tiga kali makanan utama dan dua kali makanan selingan membuatnya kenyang. Jadi ketika waktu makan yang berikutnya tiba, ia belum benar-benar lapar. Ditambah lagi rutinitas makan dan minum susu yang bisa membuat anak bosan. Hal seperti ini akan terbawa terus hingga masa batita awal. Namun orang tua sering lupa dan menganggap perilaku menolak atau melepehkan makanan sebagai masalah besar.
2. Mulai punya selera terhadap rasa
Yang juga kerap terlupakan, di usia batita ini rasa ingin tahu anak sudah semakin besar. Ia sudah punya selera tersendiri terhadap makanan. Itulah kenapa makanan anak usia ini tidak boleh disamakan dengan makanan bayi yang tawar. Tidak ada salahnya memberikan rasa-rasa tertentu yang dia sukai ke dalam makanannya, seperti garam dan gula. Apa citarasa yang disukai anak, tugas orang tualah untuk menemukannya.
3. Bosan tekstur yang halus dan campur aduk
Rasa bosan bisa juga muncul dari tekstur. Bukan mustahil anak bosan atau sudah merasa mual dengan makanan lunak dan campur aduk seperti makanannya semasa bayi. Dengan demikian orang tua mesti cerdik dalam menyiasati olahan dan penyajian makanan. Variasikan sedemikian rupa agar anak tetap suka makan, misalnya dengan memisah-misahkan lauknya dan memblender berasnya saja lebih dulu sebelum diolah.
4. Munculnya sikap negativistik
Sikap negativistik yang menjadi ciri usia batita antara lain ditandai dengan sikap penolakan terhadap rutinitas yang selama ini wajib dijalani anak. Namun, lantaran khawatir kecukupan gizi anak tidak terpenuhi, orang tua biasanya makin keras memaksa anaknya makan. Padahal cara ini justru harus dihindari.
Asal tahu saja, semakin dipaksa anak usia ini justru akan makin ngotot melakukan perlawanan sebagai wujud negativistiknya. Realisasinya apalagi kalau bukan penolakan terhadap makanan. Bisa dimaklumi kalau ada orang yang sampai dewasa emoh makan nasi atau sama sekali tak menyentuh daging. Bisa jadi sewaktu masih kecil yang bersangkutan sempat mengalami trauma akibat perlakuan orang tuanya yang selalu memberinya makan secara paksa.
5. Mulai cari perhatian
Cari perhatian biasanya ditunjukkan dengan mudahnya anak melahap makanannya saat disuapi pengasuh sementara selagi disuapi orang tuanya malah jual mahal.
6. Mulai eksplorasi ke mana-mana
Ketika sudah mahir berjalan, anak akan lebih mengutamakan kegiatan eksplorasi ketimbang acara makan. Lihat saja cara bermainnya yang disertai gerakan berjalan, memanjat, atau berlari seolah tidak pernah lelah. Tak heran jika acara makan dianggapnya sebagai kegiatan buang-buang waktu, apalagi kalau diminta duduk diam.
7. Sedang sakit
Tidak mau makan yang disebabkan alasan medis biasanya disertai ciri-ciri badan lemas, sering demam, bolak-balik diare, berat badannya tak bergerak naik atau malah mengalami penurunan, dan adanya perubahan tingkah laku. Kalau semula anak terlihat aktif, riang dan "cerewet", maka di kala sakit ia lebih suka diam dan terlihat malas-malasan.
Kalau anak menunjukkan gejala seperti itu, tentu harus segera diperiksakan ke dokter. Sebab dilihat dari indikasinya, besar kemungkinan problema sulit makan ini disebabkan radang tenggorok, lambung terganggu, atau malah kena vlek paru-paru, bahkan TBC.
8. Kebanyakan diberi camilan manis dan gurih
Bisa juga anak tampak lemas tapi tidak memperlihatkan gejala sakit. Yang seperti ini, menurut Nuraini, boleh jadi akibat tidak tercukupinya asupan kalori dari makanan padat. Anak yang sulit makan seperti ini biasanya punya kebiasaan makan yang salah. Semisal, belum apa-apa anak sudah dijejali susu, permen, cokelat, atau snack yang mengandung MSG. "Sekalipun mengenyangkan, makanan seperti ini jelas-jelas tidak bisa memenuhi angka kecukupan gizi si kecil. Karena sudah merasa kenyang, jangan salahkan bila ia cenderung menolak makanan padat."
KIAT KREATIF MENGATASINYA
Nuraini mengakui bahwa mengatasi batita yang susah makan memang bukan masalah gampang. "Makanya saya selalu mengingatkan orang tua pasien untuk senantiasa bersabar dan kreatif." Mencoba bersabar memang tidak mudah karena umumnya orang tua lebih gampang kesal dan putus asa menghadapi si kecil yang tidak lagi kooperatif. Beberapa tips berikut bisa dicoba untuk diterapkan di rumah:
* Sebelum memberi makan, cicipi dulu makanan tersebut. Kalau menurut kita tidak enak, ya jangan paksa anak menikmatinya.
* Kombinasikan rasa asin dan gurih dari lauk pauk secara pas dengan rasa asam dan manis dari buah-buahan. Ini semata-mata supaya makanan tersebut enak untuk dicecap, harum ketika dicium, dan menggugah selera.
* Variasikan hidangan setiap kali makan, baik dari pilihan bahan makanannya maupun penyajiannya.
* Begitu juga pilihan peralatan makan. Manfaatkan bentuk, gambar dan warna-warna menarik kesukaan anak. Sementara penyajiannya bisa diakali dengan tampilan yang lucu dan menarik seperti hiasan dari tomat, wortel, sayur atau irisan telur di atasnya.
* Soal lauk pauknya, berikan seperti apa yang dimakan anggota keluarga lainnya. Jangan membatasi dengan hanya memberinya olahan hati ayam, wortel dan bayam. Kacang merah yang ditumbuk, sup kacang hijau atau kacang polong sah-sah saja dicampur dengan ikan, daging sapi atau ayam maupun telur. Yang harus diberikan secara terbatas dan hati-hati sebetulnya hanyalah jenis lauk pauk yang mengundang alergi seperti ikan laut, udang, dan telur.
* Bangun pula suasana makan yang menyenangkan. Bila perlu libatkan anak. Kalau anak suka makan sambil diiringi musik, why not? Kalau anak bisa lahap sambil main mobil-mobilan, ya tidak apa-apa. "Asalkan lambut laun seiring dengan bertambahnya usia, anak harus digiring untuk tahu bahwa di sini dan begini, lo, cara makan yang baik itu."
* Yang juga sering terjadi, gara-gara tidak mau makan, orang tua lantas "menggenjot" anaknya dengan asupan susu lebih banyak. Padahal pola seperti ini justru hanya akan membunuh nafsu makannya. Bagaimana pun, makanan padat penting bagi anak. Terutama sebagai latihan dan pembelajaran mengunyah sampai menelan makanan tanpa tersedak. "Tidak mungkin sampai dewasa ia hanya mengandalkan susu sebagai makanannya." Malahan, pemberian susu sebaiknya dikurangi secara bertahap.
* Hindari atau setidaknya kurangi pemberian makanan "alternatif" yang mengenyangkan seperti cokelat, dan sejenisnya. Kalau asupan karbohidratnya memang dianggap kurang, misalnya karena si anak tak suka nasi, berikanlah makanan alternatif yang kandungan zat gizinya setara. Bisa roti, makaroni, jagung, dan lain-lain.
* Berikan tambahan vitamin atau suplemen makanan yang dapat menutupi kekurangan zat gizi tertentu akibat ia sulit makan. Jangan lupa, konsultasikan dulu dengan dokter yang bisa menilai kebutuhan anak. Harus diingat bahwa vitamin/zat gizi yang terdapat dalam sumber nabati maupun hewani yang fresh jauh lebih baik dari vitamin/zat gizi sejenis yang didapat dari suplemen.
PERKEMBANGAN OTAK DAN FISIK
Nuraini menyangkal pendapat yang mengatakan perkembangan anak usia ini secara fisik memang sedang surut, sementara perkembangan otaknya meningkat pesat. "Yang benar, perkembangan otak dan fisik berjalan seiring. Untuk mendapatkan stimulasi, anak perlu eksplorasi dan agar bisa bereksplorasi ia memerlukan makanan berenerji yang bisa diandalkan untuk menghasilkan tenaga. Jadi, tipis kemungkinan anak bisa semakin pintar kalau fisiknya loyo."
***Gazali Solahuddin. Foto: Dok. nakita
{ Dapatkan CD terapi gelombang otak untuk menarik cinta lawan jenis , klik link di bawah ini.......}
Sumber : www.gelombangotak.com/Menarik lawan jenis.htm
Langganan:
Postingan (Atom)
