Jumat, 05 Agustus 2011

Huaaaaaaa....! Dan Nangis Jadi Senjata

Anda mengira bahwa Anda lebih cerdik dan pintar ketimbang balita Anda? Coba cek dulu, apakah anak-anak suka menangis dan mengamuk kalau kemauannya tidak dituruti, dan Anda akhirnya pilih mengabulkan apa yang diinginkannya?

Minggu pagi yang cerah, Alin mengajak anak-anaknya ke sebuah mal yang belum lama dibuka. "Kita lihat-lihat saja ya, nggak boleh ada yang minta ini-itu. Mama cuma mau ngajak jalan-jalan dan kalau sudah capek kita makan doi restoran terus pulang," begitu pesan Alin kepada tiga anaknya yang berusia 8,6 dan 4 tahun.

Tentu saja semua anaknya menjawab kompak, "Iya, Mama." Namun, apa yang terjadi setelah sampai di mal yang cukup ramai pada akhir pekan itu? Di sebuah toko mainan, anak-anak mengajak berhenti. Mereka bilang, "Cuma lihat-lihat, Mama."

Hampir setengah jam mereka di dalam toko itu. Alin mengajak mereka keluar, tapi si bungsu ternyata enggan pindah tokok. Dia memegang erat sebuah mainan robot yang bisa berjalan, dan meminta ibunya untuk membelikannya. melihat gelagat yang tidak baik, Alin berusaha tegas menolak permintaan itu dengan mengingatkan janji mereka sejak awal, bahwa mereka hanya melihat-lihat. Kenyataannya, si bungsu tidak peduli, dia mulai menangis sambil menghentak-hentakkan kakinya.

Ketika Alin melangkahkan kaki meninggalkan toko itu, si bungsu makin kencang menangis sambil menggelesotkan tubuhnya ke lantai. Seketika itu juga rasa malu dan panik muncul pada diri Alin. "Duh, rasanya waktu itu semua mata memandang saya dan menilai saya sebagai ibu yang tidak becus," ungkapnya.

Karena ingin segera melepaskan diri dari perasaan dipandangi semua orang itulah, Alin buru-buru membayar mainan yang digenggam anaknya dan membawa mereka cepat-cepat keluar tokok. Luar biasa cerdik, bukan, putra bungsu Alin?

Patuhi Kesepakatan
Sepintas lalu kasus semacam itu merupakan peristiwa wajar tang sehari-hari lazim terjadi pada keluarga-keluarga yang punya anak kecil. "Ah, daripada berisik dan rewel, ya sudah dituruti saja apa maunya. Capek mendengarkan anak-anak nangis," ujar Toro yang dibenarkan istrinya, Ida.

"Toh yang diminta anak-anak paling banter juga mainan atau jajanan, ngga mahal-mahal amat. Lagian, kita kerja mati-matian juga buat siapa kalau bukan buat anak," tambah Ida. meski begitu, Probondari punya pendapat yang berbeda. Ibu lima anak yang mengantongo ijazah sarjana pendidikan dari IKIP Santa Dharma Yogyakarta ini bilang, sebagai orangtuanya hendaknya kita tidak dikendalikan oleh anak. Sebaliknya, anak-anaklah yang harus mematuhi aturan yang dibuat oleh orangtua. Lebih-lebih kalau suatu kesepakatan sudah dibuat bersama antara orangtua dan anak. Semua yang bersepakat harus mematuhinya," katanya.

Dalam kasus Alin dan anak-anaknya, mereka sudah bersepakat hanya akan melihat-lihat dan tidak ada acara membeli mainan. Mereka sendirilah yang harus mematuhi kesepakatan itu. Probondari mengakui, ada kalanya anak-anak bersuaha mencederai kesepakatan yang telah dibuat. Usaha mereka antara lain dengan menawar, membujuk, mencoba mengubah kesepakatan dengan janji baru, hingga melakukan pemaksaan kepada orangtua dengan menggunakan senjata berupa tangisan.

"Orangtua harus bisa tegas. Kalau sudah sepakat hanya lihat-lihat ya sudah, hanya lihat-lihat. Kalau mengikuti perasaan, memang inginnya kita menuruti semua kemauan mereka. Apalagi kalau kita tahu bahwa kita mampu secara finansial untuk menuruti. Tapi, orangtua 'kan harus berpikir bahwa disiplin itu juga penting, demi kebaikan anak sendiri," tutur Prabandari.

Oleh karena itu, kalau ada anak yang mencoba-coba "mengancam" dengan senjata tangisan, ia tidak akan mempedulikannya. la yakin, katau anak merengek di toko dan orangtua tetap meninggalkan toko itu, biarpun tangisannya makin keras anak akan mengikuti orangtuanya keluar dari toko. "Pada saat itulah orangtua bisa kembali merengkuhnya, dan kem bali mengingatkan tentang kesepa katan yang telah mereka buat bersama. Dengan demikian anak mengeri bahwa orangtua tetap menyayanginya, tapi disiplin harus ditegakkan," tambahnya.

Sebaliknya, kalau mereka diberi pengalaman bahwa dengan menangis sampai lelah pun orangtua tetap konsisten untuk menegakkan disiplin dan mematuhi kesepakatan atau peraturan yang telah dibuat, anak akan mengerti dan berhenti mencoba-coba menggunakan senjata tangisan itu.

"Pengalaman yang menyenangkan cenderung akan diulangi, dan pengalaman yang tidak menyenangkan akan cenderung dihindari," ujar psikolog Nilam Widyarini, MSi., yang rutin mengisi rubrik Psikologi di tabloid ini.

Anak anak cukup cerdik untuk mencari celah dan menguji kele mahan orangtuanya. Sikap orang tua yang tidak konsisten, lemah, dan tidak mau repot akan mem berikan pembiasaan buruk ter hadap anak.

Dan kalau sudah begitu, sebagai orangtua jangan heran atau terkejut sendiri menyaksikan anak-anak sedemikian pandai memainkan "senjata" mereka untuk mengalahkan Anda dengan menangis, mengamuk, berguling-guling di lantai, dan lain-lain.

Kuncinya Konsisten

Apa yang sebaiknya Anda lakukan jika anak-anak menggunakan tangisan, rengekan, amukan, bahkan sampai berguling-guling di lantai sebagai "senjata" untuk mendapatkan keinginan mereka?
  • Ingatlah, bahwa Anda sedang mendidik anak-anak.
  • Buang jauh-jauh perasaan kasihan terhadap anak, atau bahkan rasa malu pada orang lain karena khawatir Anda dinilai tidak becus mengurus anak.
  • Buang jauh-jauh anggapan bahwa orang lain peduli terhadap upaya Anda mendidik anakanak.
  • Lupakan saja perasaan bahwa orang-orang tengah memperhatikan Anda dan anak Anda yang tengah merengek meminta sesuatu.
  • Tetaplah konsisten untuk menegakkan disiplin.
  • Ingatkan diri sendiri dan anak Anda, bahwa kesepakatan, janji, atau peraturan tetap harus dipatuhi.
  • Jelaskan kepada anak bahwa Anda tidak akan melanggar kesepakatan, janji, atau peraturan yang telah dibuat.
  • Jika tangisan anak makin keras, tinggalkan dia. Tak perlu khawatir, anak pasti akan mengikuti ke mana Anda pergi.
  • Jika anak telah kembali mengikuti Anda, peluklah dia dan redakan tangisnya.
  • Jelaskan kepada anak bahwa Anda tetap menyayanginya, tapi Anda ingin supaya dia tidak melanggar kesepakatan atau aturan yang telah dibuat.
Ingatkan kepada anak supaya lain kali jangan mengulangi perbuatan semacam itu karena Anda tidak akan berubah sikap.

{ Dapatkan CD terapi gelombang otak untuk Membebaskan otak Anda untuk mencapai kondisi relaksasi dan meditasi , klik link di bawah ini....}
Sumber : http://www.gelombangotak.com/meditasi_alpha_theta.htm

Tidak ada komentar:

Posting Komentar