Kamis, 04 Agustus 2011

Imperialis Cilik

Duh, si kecil maunya menguasai segala sesuatu untuk dirinya sendiri. Rasanya hanya ia seorang yang punya hak. Perlu diajari tentang hak meski usianya masih dini.

"Ini punyaku, kakak gak boleh!" teriak Reza ngotot sambil memeluk dua buah mainan dengan ketatnya.
Lain waktu ia marah ketika melihat ibu memberi kue
sama kakak. "Kakak gak boleh, gak boleh. Untuk ade semua!"

Anda mungkin geleng-geleng kepala, kok si kecil jadi seperti imperialis cilik. Semua mau dikuasainya. Adakalanya tak perduli bahwa seperti dirinaya orang lain pun memiliki hak yang sama. Apa perlu mengajarkan soal hak ini pada si cilik?

Terlalu dini untuk mengharapkan batita kita mampu menghargai hak orang lain. Sebab, kekuasaan kerajaan yang ada di dunia ini tidak ada artinya bagi anak batita. Matahari terbit dan tenggelam serta dunia berputar pun mereka benar-benar tak peduli. Teman bermain, orang tua, nenek dan kakek, pengasuh bahkan hewan pelihaaan-semuanya seakan ada untuk kepentingan dirinya saja. Keinginan mereka segunung, kebutuhan mereka tidak dapat ditawar, perasaan mereka adalah satu-satunya yang perlu diperhitungkan.

Tahap Perkembangan Otonomi
Tak usah kaget melihat batita Anda mengeluarkan sikap yang mau menang sendiri, tak peduli dengan hak orang lain. Karena sesungguhnya pada fase usia seperti itu anak sedang mengalami perkembangan mental. Menurut Miranda Zarfiel, psikolog, anak usia 2-3 tahun yang semula (usia 0-2 tahun) dalam fase trush, fase aman karena orangtua selalu berada di sampingnya, melindungi, membantunya bahkan membiarkannya bermain dengan benda yang disukainya sepuasanya, kini memasuki fase perkembangan otonomi.

Fase perkembangan otonomi ini merupakan sikap anak agar orang lain mengakui 'keakuanya'. Anak merasa bahwa semua hal harus dalam kendali dirinya dan orang lain harus memahami dan menghargainya. Anak akan sangat marah bila keinginannya dilarang oleh orang tuanya karena dirinya berpikir ia sudah 'dewasa' dan mampu melakukan sendiri segala sesuatu.

Adakalanya anak begitu ego dalam kesehariannya, sama sekali tidak mau berbagi, tidak mau menghargai orang lain atau bahkan sedikit 'tidak' memiliki rasa kasih terhadap orang lain. Akibatnya bisa ditebak, dia jadi jarang ditemani oleh teman bermainnya. Jika demikian yang terjadi menurut Miranda tak bisa lepas dari fase perkembangan emosional anak sebelumnya yakni 'trush'.

Anak yang melalui masa trushnya dengan cukup baik, kata Miranda, biasanya energi anak tidak terlalu besar untuk menunjukkan energi 'keakuannya'. Anak sudah terpuaskan oleh pemahaman bahwa dirinya percaya dengan keadaan sekelilingnya. Dengan demikian ketika anak memasuki tahap otonomi dia tidak terlalu overacting atau menjelma menjadi 'imperialis kecil' .

Hilang sendirinya
Fase ini juga disebut Miranda sebagai fase kritis. Karena dalam tahap ini anak sudah menunjukkan kemampuan dirinya berbuat sesuatu. Merasa dirinya mampu untuk makan sendiri, sudah mampu untuk menyisir sendiri, mampu untuk memilih warna dan jenis pakaian sendiri bahkan merasa berhak mengatur barang-barang milik orang di sekitarnya.

Semua anak usia 2 - 3 tahunan akan mengalaminya. Hanya kekuatan masing-masing yang berbeda. Jadi tidak usah cemas terhadap perkembangan emosi seperti ini. Sebab, akan hilang di atas usia 5 tahunan. "Tetapi hilang tidaknya tentu membutuhkan pemahaman serta campur tangan sekelilingnya."

Campur tangan berarti memberi anak pemahaman bukan pemaksaan. Koperatif terhadap sikap anak bukan maunya orangtua sendiri, sehingga alih-alih anak menurut malah bertengkar. Termasuk juga sportif tak membenarkan anak melulu tapi perlu juga membenarkan kakak atau temannya jika mereka lebih benar, akan membuat anak lolos melewati tahap ini dengan baik. Hasilnya bahkan mungkin membanggakan. Misalnya, anak akan memiliki sifat terpuji, mandiri, bijak, dan murah hati. Sebaliknya, bila anak melalui masa tersebut tanpa penanganan yang baik, akibatnya anak menjadi otoriter dan sangat egois.

Jelaskan Hak, Perlu

Salah satu hal yang harus dipelajari oleh'imperialis kecil' ini adalah bahwa orang lain juga mempunyai hak. Tak terlalu dini? "Tak ada yang terlalu dini jika penjelasannya tepat. Semakin besar usia anak dan baru dikenalkan justru dapat membuatnya lebih sulit dikendalikan karena sikap imperialisnya mungkin sudah 'menetap' atau jadi kebiasaan," kata Miranda.

Bila anak sedang berebut mainan dengan kakak atau temannya, meski mobil-mobilan itu bukan miliknya, hanya ia yang pertama memainkanya, orangtua harus menunjukkan sikap sportif. Katakan hal sebenarnya dan minta padanya untuk meminta izin terlebih dahulu karena ingin meminjamnya. Bila pun anak sudah belajar meminjam, tapi temannya tidak memberi lantas anak menangis, tak perlu Anda sewot. Kata Miranda, menangis juga proses belajar mendidik anak perihal bagaimana rasanya ditolak, sebagaimana ia tahu rasa senang jika diberi pinjaman mainan.

Orang tua juga perlu mengajarkan anak bagaimana cara memberi pinjaman mainan pada teman, atau bahkan memberi dalam arti sesungguhnya. Orang tua pun tidak boleh egois dengan memberi pelajaran instan berupa pemaksaan anak 'murah hati' pada temannya. Ketika terjadi rebutan mainan walaupun mainan itu milik anak kita, Anda harus meminta izin anak sebelum memberikan.

Jadi, mengajarkan hak orang lain harus dimulai dengan mengajarkan hak anak sendiri. Seperti minta ijin akan meminjamkan mainan milik anak pada temannya. Kata Miranda, ini adalah pelajaran berat yang membutuhkan waktu bertahun-tahun. Tetapi mulailah sekarang saat anak menunjukkan otonominya agar perilaku itu tak menjadi kebiasaan yang menetap. Atau, Anda akan lebih pusing karenanya.

Yuk, memahami hak orang lain!
  • Jangan bertindak sebagai martir. Memang sebagian tugas dari menjadi orang tua adalah mendahulukan kebutuhan anak di depan kebutuhan sendiri. Tapi hal demikian tak selamanya. Jika Anda selalu dan selamanya melakukan hal ini tidak mustahil akan terjadi dua hal yang tidak diinginkan. Pertama, membuat Anda dibebani dan akhirnya merasa dendam. Kedua, memperkuat dan memperpanjang sikap 'imperialis' anak. Akibatnya? Anak tidak keluar dari tahap perkembangan ini, bahkan sebaliknya batita yang egois akan tumbuh menjadi anak yang sangat manja. Tak ada salahnya mempertahankan hak Anda sebagai orang tua untuk hal-hal 'privasi' misalkan, membebaskan kamar Anda dari mainan anak atau hak untuk tetap membaca buku favorit Anda.
  • Jangan hanya menuntut hak Anda, tapi juga jelaskan. Dari pada berkata 'mama tidak bisa bermain sekarang karena sedang membaca buku', lebih baik jelaskan bahwa, membaca buku adalah kegiatan yang menyenangkan bagi mama sama seperti kamu menyenangi permainan balok atau boneka. Dengan penjelasan ini membuat anak tahu bahwa Anda dan orang lain juga mempunyai kebutuhan dan perasaan yang sama persis dengan dia sendiri.
  • Hargai hak anak. Kebanyakan orang tua ingin 'membina kebesaran jiwa' anak dengan cara mendahului hak teman bermainnya. Tanpa seijinnya tak jarang Anda memberikan permainan anak pada teman bermainnya, atau bahkan memihak anak lain ketika terjadi perebutan mainan. Sayangnya, cara ini tak mengajarkan kemurahan hati anak, yang timbul malah anak menjadi egois. Anak merasa haknya selalu diabaikan atau terancam dengan demikian ia menjadi kokoh dan bertahan untuk tidak berbagi, tidak mau bekerja sama. Sikap menghargai hak anak juga harus dipertahankan ketika adik barunya sudah muncul. Tidak adil jika ia selalu dituntut untuk mengalah 'karena ia lebih besar'. Karena, bukan tak mungkin pelampiasannya adalah adu fisik atau 'menyakiti' adik bayinya. Lebih runyam kan?
  • Hargai perasaan anak. Anak tidak akan belajar menghargai perasaan orang lain jika perasaannya sendiri tidak pernah dihargai. Jika Anda mempermalukannya di depan teman-temannya atau orang dewasa lainnya dengan "Oh kamu nakal sekali, kok kamu bisa sih menumpahkan susu seperti ini?", atau tak memperdulikan pendapatnya, "sudah kamu ikuti kata mama saja." Maka, jangan heran bila anak Anda pun akan melakukan hal sama dengan Anda.
Berikanlah contoh yang baik. kata-kata tidak akan berpengaruh besar jika sikap Anda tidak sama dengan 'nasihat' yang Anda berikan. Misalnya, Anda melarang anak melakukan sesuatu, terapkan juga pada seluruh anggota keluarga termasuk Anda sendiri. Anak tetap anak-anak. Bila ia melihat kakak, ayah atau Om Tante melakukan sedang ia tidak, tentu ia akan mengambil kesimpulan "boleh" bila ia menginginkannya. 

{ Dapatkan CD terapi gelombang otak untuk menambah nafsu makan anak2 & dewasa , klik link di bawah ini.......} 
Sumber : www.gelombangotak.com/menambah_nafsu_makan_anak.htm

Tidak ada komentar:

Posting Komentar