Senin, 01 Agustus 2011

AGAR SI KECIL NYAMAN DENGAN PENGASUH BARU

Gunakan feeling apakah si pengasuh baru bisa klop dengan si kecil atau tidak.
"Anakku sampai enggak mau makan, bahkan sempat jatuh sakit kala ditinggal Mbaknya!" begitu keluh seorang ibu. Lainnya bercerita, ia harus mendampingi buah hatinya selama beberapa hari karena si kecil tidak bisa langsung tune in dengan pengasuh barunya. Lama proses adaptasi anak dengan pengasuh baru, memang berbeda satu sama lain. Yang cepat bisa hanya perlu waktu seminggu. Sementara yang sulit bisa mencapai sebulanan lebih. Hal ini penting dipahami karena selain si batita masih perlu didampingi, ia pun sudah bisa dengan jelas melakukan aksi penolakan terhadap orang yang tidak mendapat perkenannya.

Jika ayah dan ibu sama-sama bekerja, persoalan adaptasi yang lama ini bisa diatasi dengan cuti bergantian untuk mendampingi si kecil. Paling tidak jika masing-masing cuti 2-3 hari maka ada waktu seminggu untuk memantau. Anak pun merasa nyaman ditemani orang yang sudah dikenalnya kala sedang ditangani pengasuh baru. Alternatif lain, minta bantuan keluarga, seperti kakek-nenek untuk sekadar menemaninya di rumah.
Cara pemecahan berikutnya adalah dengan membawa si kecil dan pengasuh baru ke kantor. Saat ini, ada beberapa kantor yang menyediakan fasilitas daycare di lingkungan perusahaan. Atau mintalah izin kepada atasan untuk membawa anak ke kantor dalam beberapa hari. Dengan begitu kita bisa lebih dekat memantau apa yang dilakukan pengasuh baru dan bagaimana reaksi si kecil terhadapnya.

"Kalau kita belum sreg betul dengan pengasuh, ya, anak jangan ditinggal dulu," demikian saran Tari Soendjojo, Psi. Rasa waswas orang tua hanya akan membuat si kecil merasa tidak nyaman. "Ada semacam hubungan batin antara anak dengan orang tua." Idealnya, orang tua harus merasa yakin terlebih dahulu dengan pengasuh baru ini sebelum meninggalkan anak. Bagaimanapun, rasa tenang orang tua turut menjadi kunci utama kestabilan emosi anak.
 

AGAR SERAH TERIMA BERJALAN MULUS
JIKA orang tua sudah tahu dari jauh-jauh hari bahwa pengasuh si kecil akan mengundurkan diri, lakukan langkah-langkah berikut. Tujuannya agar diperoleh pengasuh baru yang sesuai kriteria dan proses adaptasi si kecil berlangsung lancar.
 
* Sebelum pengasuh lama berhenti, berikan kesempatan kepada pengasuh baru untuk merawat anak. Dari situ, pengasuh baru akan belajar banyak lewat pengasuh lama tentang hal-hal yang harus dan tidak boleh dilakukan kala merawat anak. Selain itu, si anak juga tidak kaget dengan kemunculan pengasuh baru karena dia punya cukup waktu untuk mengenalnya sambil didampingi pengasuh lama. Nanti, ketika pengasuh lama sudah tidak berada di rumahnya, dengan mudah anak mau ditangani pengasuh barunya.
 
* Ketika pengasuh lama ingin berhenti, jangan hanya orang tua saja yang tahu tetapi anak juga. Berikan penjelasan kepadanya dengan jujur mengenai pengasuhnya yang tidak akan kembali lagi. "Mbak mau pulang kampung, dia tidak bisa bersama Adek lagi. Adek enggak usah takut karena Mama sudah siapkan pengasuh baru," misalnya. Jangan malah ditutup-tutupi dan menganggap si kecil belum mengerti masalah ini.
Malah sebenarnya, pergantian pengasuh tak selamanya menimbulkan masalah. Ada sisi positif lain yang menurut Tari bisa didapat anak, yakni dia akan memiliki pengalaman lebih banyak terhadap bentuk sosialisasi dengan mengenal lebih banyak karakter, wajah, perilaku, yang mungkin berbeda satu sama lain. "Hal ini akan memperkaya pengetahuan anak terhadap berbagai perbedaan orang di sekelilingnya."


JIKA PENGASUH LAMA BERHENTI TANPA PERSIAPAN
BAGAIMANA bila pengasuh lama berhenti mendadak dengan atau tanpa alasan? Orang tua harus melakukan beberapa hal penting saat menyeleksi pengasuh baru:
 

* Perhatikan kepribadian si pengasuh baru. Kalau si kecil enggan didekati pengasuh baru, coba perhatikan kepribadiannya. Jangan-jangan ia memang tidak bisa melakukan pengasuhan dengan baik. Umpamanya, cara bicaranya selalu dengan intonasi tinggi, kurang ramah, sikapnya kasar, suka mengancam akan memberi hukuman, atau mungkin wajahnya tidak bersahabat, selalu cemberut, dan sebagainya. Ini akan lebih terasa lagi, jika anak biasa diperlakukan lemah lembut oleh pengasuh sebelumnya atau oleh orang tuanya. Tentu sikap tak bersahabat ini membuat anak cemas dan muncullah sikap negatif seperti ngambek, rewel, marah, dan sebagainya.
 

* Orang tua harus cepat tanggap. Umumnya anak bisa merasakan apakah pengasuh penggantinya adalah orang yang disukainya atau tidak dengan hanya mencermati mimik muka atau perilaku yang keluar saat pertemuan pertama dengannya. "Sebelum menerima pengasuh baru, lakukanlah semacam tes bermain bersama, sehingga kita bisa melihat apakah anak merasa nyaman dengan pengasuh baru atau tidak," anjur Tari.
Kalau ternyata si kecil terlihat tidak nyaman dan merasa terancam terus-menerus, cari pengasuh lain. Jika dipaksakan, si kecil bisa hidup dalam kecemasan dan ketakutan karena harus menghabiskan waktu seharian bersama pengasuhnya. Tak mustahil nantinya ia akan mengalami trauma, seperti takut ditinggal pergi orang tuanya atau takut pada orang asing.
 

* Bila masih memungkinkan, beri tahu kepada si pengasuh agar mengubah sikap dan perilakunya. Beri contoh bagaimana intonasi bicara yang bisa diterima si kecil, dan minta kepadanya untuk selalu murah senyum. Intinya, gunakan feeling, apakah pengasuh ini cocok dengan kita atau tidak. Jadi kalaupun suaranya memang keras atau wajahnya kurang ramah, tapi selama feeling kita mengatakan ia merupakan pengasuh yang baik, katakan hal itu pada si kecil. Misalnya, "Mbak itu orangnya baik lo. Memang, suaranya keras tetapi dia itu sayang sekali sama Adek!"
 

* Beri waktu beradaptasi. Ketika pengasuh baru mulai bekerja di rumah, jangan langsung meninggalkan si kecil sepenuhnya bersama dia. Pantau terlebih dulu setiap kegiatan yang dilakukan mereka; mulai dari mandi, makan, tidur, dan seterusnya. "Selama masa adaptasi, orang tua sebaiknya terlibat dan menjelaskan apa yang harus dilakukan beserta cara-caranya," kata Tari. Selain pengasuh mendapat ilmu baru dan tahu bagaimana cara mengasuh anak, si kecil pun akan merasa lebih aman karena dia masih melihat orang tuanya berada di dekatnya.
 
* Amati perkembangan. Apakah pengasuh benar-benar menjalankan tugasnya dengan baik atau tidak. Bila memang ada hal yang perlu diluruskan, lakukan segera sehingga semuanya berjalan lancar. Misalnya, bagaimana dia mencuci perabotan si kecil, memotong makanan, menyuapi makanan, memandikan, menjaga kebersihan ruang, dan sebagainya.


BILA SI KECIL MENOLAK PENGASUH BARU
SEBETULNYA ada apa di balik penolakan si kecil terhadap pengasuh barunya? Jangan-jangan, seperti yang dikhawatirkan Tari, si kecil sudah begitu lekat pada pengasuh lamanya melebihi kelekatan pada orang tuanya. Ini tak lepas dari sikap orang tua yang mungkin saja -secara disadari atau tidak- melepaskan begitu saja masalah perawatan anak kepada pengasuh karena alasan kesibukan.
Jikalau si kecil "susah" bertemu orang tuanya, tak heran bila ia mencari kelekatan pada orang lain. Nah, pengasuh yang selalu berada di sisinyalah yang akan sangat diandalkan. Sama saja dengan orang dewasa yang akan lebih dekat dengan orang yang selalu bersama-samanya. Anak pun demikian. Karena dari kebersamaan itu biasanya timbul kesepahaman, keterikatan dan sebagainya. Hal inilah yang seharusnya bisa diantisipasi sejak jauh hari oleh para orang tua.
Untuk itulah psikolog dari Taman Bermain Cikal, Kemang, Jakarta Selatan ini menyarankan agar orang tua memberikan porsi cukup untuk kebersamaannya dengan si kecil. Buatlah agar pengasuh hanya berperan selama orang tua pergi bekerja. Ketika sudah tiba di rumah, semua urusan utama anak harus diambil alih kembali. Dengan begitu tidak akan terjadi kelekatan anak yang berlebihan pada pengasuhnya.


JUSTRU REWEL BILA DITANGANI ORANG TUA
SELAGI menunggu datangnya pengasuh yang klop, orang tua tentu harus merawat si kecil sendirian sementara waktu. Mungkin saja, pada masa-masa ini, anak justru jadi rewel.
Tari mengimbau orang tua untuk tidak keburu frustrasi karena mungkin saja anak menemukan perbedaan sikap antara orang tua dengan pengasuhnya dulu. Memasuki fase batita, anak sudah bisa membedakan mana yang biasa dikerjakan oleh pengasuh dan mana yang biasa dikerjakan oleh orang tua. Jika untuk mandi, makan, pakai baju, dan sebagainya si kecil biasa ditolong pengasuh, maka anak akan menurut karena memang sehari-hari ia melakukannya dengan pengasuh.
Nah jika anak menolak orang tua ketika mendampinginya melakukan rutinitas, mungkin penyebabnya adalah cara atau pendekatan ayah dan ibu yang berbeda dari pengasuhnya dulu. Mungkin perintah kita dirasa terlalu keras oleh anak, atau mungkin ia berpikir bahwa orang tua adalah tempat untuk bermanja-manja bukan sebagai orang yang menyuruh-nyuruhnya.
Coba kalau orang tua, yang karena punya banyak urusan, bersikap buru-buru, "Ayo, beresin mainannya! Habis itu kamu mandi! Makan!" misalnya. "Ini kan merupakan perubahan peran yang membuat anak berpikir kalau Mamanya tidak asyik lagi. Hal ini juga yang terkadang memicu anak berubah perilakunya dan tidak patuh pada orang tuanya."
***Irfan Hasuki. Foto: Iman/nakita

{ Dapatkan CD terapi gelombang otak untuk mengaktifkan kembali hormon pertumbuhan , klik link di bawah ini.....} 
Sumber : http://www.gelombangotak.com/menambah_tinggi_badan.htm

Tidak ada komentar:

Posting Komentar