"Bunda, tolong ya adik dijaga. Dia selalu mau ikut main padahal belum bisa. Mainannya malah diberantakin. Tolong ya Bunda biar adik tidak merecoki aku," pinta Adi kepada ibunya sebelum bermain dengan temannya. Adi yang berusia 6 tahun merasa terganggu dengan ulah adiknya yang masih batita. Pasalnya, si adik selalu ingin mencoba atau ikut melakukan segala hal yang dikerjakan kakaknya. Akibatnya, si kakak merasa adiknya hanya merecoki melulu.
Sebenarnya, kata Dini Santiko Budi-Kurniawan, Psi., si batita tak berniat "mengganggu" kakaknya. "Itu adalah salah satu cara si batita belajar dari lingkungannya. Kebetulan sekali, ia menemukan contoh 'makhluk' dalam hal ini kakaknya yang mungkin dalam benaknya tidak jauh berbeda dari dirinya. Jadi, si batita seolah-olah menemukan dunia yang sebenarnya yang dapat ditiru. Apalagi pada masa ini, si batita memang sedang memasuki tugas perkembangan meniru," papar Psikolog di TK & KB Primagama Kemang Pratama, Bekasi ini.
Menghadapinya, lanjut Dini, orang tua tak perlu jengkel atau kesal karena semua batita yang lahir bukan sebagai anak pertama pasti akan berperilaku demikian. "Adanya seorang kakak akan menjadi contoh baginya untuk belajar melakukan dan bersikap sosial dalam lingkungan keluarga dan masyarakat."
Umumnya, ini dimulai saat batita mulai berkembang kemampuan berbahasanya. "Kira-kira saat batita berusia menjelang 2 tahun." Dengan semakin berkembangnya kemampuan berbahasa, maka tingkat intelegensi anak pun semakin berkembang.
Hal ini juga memunculkan kesadaran pada si batita terhadap dunia sekitarnya, sehingga si batita pun semakin bisa "menyadari" arti kehadiran dirinya di tengah-tengah keluarga dan benda di sekitarnya. Ia akan belajar bahwa ada sosok "mini" lain yang berperilaku sangat menarik untuk ditiru. Si batita juga bisa berpikir, apa yang dilakukan si kakak, ia pun bisa melakukannya.
BERSIKAP ADIL
Akibat ulah si batita biasanya bakal berdampak persaingan yang cukup hebat pada kakak-adik yang berselisih umur sedikit. Apalagi jika orang tua bersikap berat sebelah. Misalnya, selalu memenangkan adik atau kakaknya saja. Namun, ini tak akan terjadi bila selisih umur antara kakak-adik agak jauh. Biasanya si kakak berusaha untuk memaklumi perilaku adiknya walau sebenarnya merasa terganggu.
Jadi, bagaimana sebaiknya orang tua bersikap? "Tidak berat sebelah!" tandas Dini yang juga menjadi konsultan di Biro Konsultasi Psikologi dan Pendidikan Philemena, Bekasi, serta Biro Psikologi & SDM Violet, Jakarta. Soalnya, masing-masing anak berada dalam tahap yang menuntut dirinya untuk mampu menyelesaikan tugas perkembangannya dengan baik.
Terhadap sang kakak, orang tua bisa memberikan pengertian bahwa adiknya hanya ingin melakukan apa yang dilakukan oleh si kakak. Si adik menganggap apa yang dilakukan si kakak adalah sesuatu yang hebat. Untuk itu, alangkah baiknya bila si kakak berbesar hati memberi kesempatan kepada adiknya untuk memainkannya bersama-sama atau secara bergantian.
Sedangkan bagi si adik, orang tua juga harus bisa memberikan pengertian yang sesuai dengan bahasa seusianya bahwa ia tak harus merebut mainan kakaknya. Lebih baik menggunakannya secara bergantian. Ajaklah si batita untuk menunggu gilirannya bermain. Atau, tawarkan kepada keduanya untuk bermain bersama-sama.
Selain itu, bila orang tua mampu tak ada salahnya memberikan permainan yang serupa dengan milik kakak kepada si batita. Mintalah kepada mereka untuk bermain bersama dengan miliknya masing-masing. Atau, berilah pengertian kepada si batita untuk tidak selalu mencampuri urusan kakaknya. Ajaklah ia untuk melakukan kegiatan yang lain.
TIP-TIP BAGI ORANG TUA
1. Pahami tugas perkembangan masing-masing anak. Jangan karena lebih tua, si kakak harus selalu mengalah pada adiknya. Sebaliknya, jangan karena masih kecil, maka si adik harus dimenangkan. Masing-masing anak memiliki hak untuk bereksplorasi dan berkembang sesuai tahapannya. Dengan mengerti dan memahami akan tugas-tugas perkembangan tiap anak, orang tua diharapkan mampu bersikap adil terhadap anak-anak.2. Ajaklah kakak untuk bisa berbagi permainan dengan adiknya.Berikan pengertian sederhana kepada si kakak tentang apa sebenarnya maksud si adik. Bila perlu ciptakan suatu permainan yang bisa dilakukan bersama-sama. Atau, jika si adik ikut-ikutan mainan kakaknya, ajaklah si kakak untuk berbagi dengan si adik. Sedangkan kepada si adik, mintalah ia agar bisa bersabar dan beri tahu agar meminta izin terlebih dahulu pada kakaknya untuk bisa main bersama.
3. Jangan memarahi atau memaksa si kakak, apabila ia benar-benar sedang tidak ingin diganggu. Sebaiknya, ajaklah si batita untuk melakukan permainan atau kegiatan yang lain.
4. Gunakan selalu bahasa yang halus dan sesuai dengan tahap perkembangan anak.
***Utami Sri Rahayu. Foto: Iman/nakita
{ Dapatkan DVD terapi gelombang otak penampilan athletis , klik link di bawah ini......}
Sumber : www.gelombangotak.com/fit_berenergi.htm

Tidak ada komentar:
Posting Komentar