Anak Anda suka membanding-bandingkan bonekanya dengan boneka temannya yang dianggapnya lebih baik? Atau bahkan membandingkan Anda dengan mama si Tia yang dianggapnya lebih pengertian dan 'lebih baik hati' karena selalu mengantar Tia ke sekolah? Sampai ia benar-benar menginginkan 'mama lain'.
"Mama, aku mau dong boneka kayak punya Irma. Bagus deh! Rambutnya panjang dan bisa bunyi. Beli ya, Ma," pinta Nina (4) memelas seraya memegangi lengan kanan Mamanya yang sedang membaca koran. Mendengar rengekan anak pertamanya itu, Hanum (32) menghentikan bacaannya lalu mengangkat tubuh mungil Nina dan memangkunya sambil berkata, "Lho, kamu kan udah Mama belikan boneka cantik. Bajunya banyak dan bisa diganti-ganti. Rambutnya juga panjang, sama kayak punya Irma." Namun, Nina tetap saja merengek minta dibelikan boneka mirip kepunyaan Irma, anak tetangganya.
Hal seperti di atas sering terjadi. Anak membanding-bandingkan dengan milik orang lain yang dianggapnya lebih baik. Tak kalah menyedihkan adalah bila anak juga membanding-bandingkan orangtuanya dengan orangtua teman-temannya. "Mama kok enggak pernah nganterin aku ke sekolah? Enggak kayak Mamanya Ira suka nganterin sekolah, terus dibawain kue. Aku mau ganti mama aja deh!" protes Fahri.
Duh, sedihnya mendengar penuturan polosnya itu. Tentu, Anda jadi berpikir mengapa hal itu bisa terjadi? Apakah ini ada kaitannya dengan cara mengasuh atau mendidik anak, sehingga anak selalu iri jika yang ia miliki tidak sama dengan milik orang lain?
Ibu yang Bekerja
Seorang tokoh psikologi bernama Piaget menjelaskan, pada konsep perkembangan kognitif, balita berada dalam fase pra operasional. Ini terjadi karena balita berusia 0-5 tahun belum banyak diperkenalkan dengan dunia luar. Anak-anak di usia ini hanya intens berinteraksi dengan lingkungan keluarganya saja. Jadi, ketika ia melihat 'dunia luar' wajar dong, jika kemudian ia membandingkan dengan miliknya.
Anak membandingkan mamanya dengan mama anak lain, berangkat dari persepsi bahwa mama yang ideal dan baik bagi Fahri atau Nina, adalah mama yang selalu mengantar jemput sekolah. Ini biasanya terjadi bagi anak-anak yang mamanya bekerja. Karena kesempatan untuk mengantar jemput sekolah sang anak tak mungkin dilakukan setiap hari.
SEdangkan ibu yang tidak bekerja memiliki cukup waktu untuk tidak sekedar mengurus persiapan anak sebelum sekolah, tapi juga mengantar dan menjemputnya sekolah. Bahkan kadang-kadang menungguinya di sekitar sekolah, hingga anaknya pulang. Bagi seorang anak yang masih hanya memiliki pengalaman, 'lebih aman dan nyaman jika selali dekat mama' maka ketika melihat temannya selalu diantar jemput sang mama, dalam hati ia berkata, 'aduh, senangnya kalau mama bisa antar jemput sekolah setiap hari.'
Bahkan lebih ekstrim lagi jika ia beranggapan bahwa mama yang selalu mengantar jemput sekolah adalah mama yang cinta dan sayang pada anaknya. Kemudian muncul pertanyaan dalam benaknya 'Apakah mama gak sayang sama aku, kok gak mau anterin sekolah sih?'
Masa Bergantung Pada Ibu
Jangan dulu gusar atau bersedih hati jika anak Anda yang masih balita menganggap dirinya sudah tidak dicintai atau disayangi, hanya karena Anda tidak mengantarkannya ke sekolah. Karena setiap hari Anda tidak mengantarkannya sekolah, si kecil tidak percaya, jika Anda sangat menyayanginya. Yang ia tahu, orangtua yang mau setiap hari mengantarnya ke sekolah.
Dalam masa tahapan perekembangan balita, terdapat masa dimana kepercayaan harus ditanamkan. Anak sampai pada masa 'konflik' antara percaya dan tidak percaya. Bayi yang baru lahir harus berhadapan dengan dunia luar, tidak lagi tenang dan merasa aman seperti ketika ia masih berada dalam kandungan ibunya. Karena ketidakberdayaannya itu maka ia masih sangat bergantung pada ibunya. Sebab dunianya adalah ibunya.
Pada masa-masa ini, sikap seorang ibu terhadap anaknya akan sangat menentukan perkembangan kepribadiannya. Jika anak merasa disayang, diterima dengan hangat dan diasuh dengan segenap kesabaran, ia akan bahwa dunia ini menyenangkan.
Pada masa ini diri anak belum muncul. Ia masih melihat dirinya sebagai bagian dari ibunya. Ia belum memisahkan diri dari lingkungannya. Kepercayaan dan rasa memiliki berkembang lewat pemenuhan kebutuhannya. Ketika ia butuh untuk diantar jemput sekolah oleh sang ibu, keinginannya untuk dicintai dan disayangi terpenuhi.
Beralih dari masa bergantung pada ibu dan masa kemandirian dengan membawa anak masuk ke bangku sekolah, memang tidak mudah. Apalagi jika dengan 'terpaksa' anak benar-benar di lepas dari 'pangkuan ibunya' karena sang ibu bekerja, sementara si anak harus masuk sekolah. Di mana tanpa perintah tertulis anak harus siap mandiri.
Maka untuk ibu yang bekerja, perlu sedikit demi sedikit memberikan pengertian pada anak si anak, misalnya, "Meskipun tidak mengantar jemput sekolah setiap hari, tapi mama tetap sayang sama adik." Kemudian juga jelaskan mengapa Anda perlu bekerja. Kendati penjelasan Anda tidak bisa langsung saat itu juga dimengerti oleh si kecil, mudah-mudahan semakin lama ia akan mengerti juga. Fase praoperasional ini akan berhenti dengan sendirinya ketika anak memasuki usia 6 tahun. Yang penting selain penjelasan sederhana, Anda perlu mendukungnya dengan sikap dan perilaku yang dapat meyakinkan si kecil bahwa dirinya dicintai dan disayangi. Maka, tidak perlu iri dengan teman lain yang setiap hari diantar sekolah mamanya. (Indri/Anna F)
{ Dapatkan CD terapi gelombang otak untuk anak hiperaktif , klik link di bawah ini.....}
Sumber : www.gelombangotak.com/anak_hiperaktif.htm
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar