Sering melihat, kan, si kecil tiba-tiba merebut makanan atau mainan yang sedang dipegang temannya. Tidak hanya itu, ia juga mengakui semua mainan atau benda milik temannya sebagai miliknya. Merepotkan memang.
Sebenarnya, perilaku merebut dilandasi rasa ego yang pada batita sedang tinggi-tingginya. "Anak tengah merasa segala sesuatu diciptakan untuknya," komentar Sri Razwanti Suciyati, Psi, dari Essa Consulting. "Dengan kata lain, di usia batita rasa memiliki anak sangatlah tinggi. Semua barang yang ada menjadi miliknya, bahkan kalau perlu barang milik orang lain pun diakui sebagai kepunyaannya."
Itulah, seperti dikatakan psikolog yang biasa disapa Ade ini, di usia batita anak mesti dikenalkan pada konsep kepemilikan. Bukan hanya mana benda kepunyaannya, tapi juga mana yang bukan kepunyaannya. Saat anak mengakui mainan mobil-mobilan sang teman sebagai miliknya, maka orang tua mesti mengatakan, "Ini bukan punya Adek, mainan ini kepunyaan Bobby. Punya Adek di rumah, kan?" misalnya.
Disamping itu, anak di usia ini juga sedang berkembang sifat otonominya. Otonomi merupakan sifat kemandirian yang berkaitan erat dengan eksistensi anak atau kemampuannya melakukan sesuatu. Ciri-cirinya, anak sering mengucapkan, "Aku bisa sendiri," atau, "Aku, dong, yang mengerjakan."
Otonomi juga yang menyebabkan anak ingin mencoba sesuatu tanpa mempedulikan orang lain. Saat anak-anak lain main perosotan, ia tiba-tiba menyerobot. "Di sini anak ingin membuktikan, aku juga bisa dan senang main perosotan," tambah Ade.
Terlebih di usia ini, anak juga senang bereksplorasi. Ia senang mencoba-coba sesuatu yang dirasa menarik olehnya. Saat melihat mainan temannya yang baru, anak langsung tergerak untuk mencoba dan kemudian merebutnya. Demikian pula halnya dengan makanan, apalagi jika bentuk dan warnanya juga sangat menggugah selera, maka ia tak akan segan merebutnya. Faktor lainnya, anak batita juga sangat senang meniru, sehingga bukan tidak mungkin perilaku merebut merupakan peniruan dari orang-orang di sekitarnya. Entah itu kakak, saudara, atau bahkan orang tuanya.
AJARKAN MEMINTA IZIN
Sebenarnya, meski egonya masih besar, anak sudah tahu, apakah seseorang itu senang atau tidak dengan tingkah lakunya. Saat ia merebut kue teman misalnya, ia tahu temannya marah. Namun, karena si anak tidak tahu bagaimana cara meminjam yang baik, ia mengambil jalan termudah dengan merebut benda atau makanan milik sang teman. Selain tidak tahu cara meminjam yang baik, anak juga tidak tahu bahwa merebut merupakan perbuatan yang tidak baik.
Untuk mensiasatinya, Ade menyarankan agar orang tua mengajarkan etika atau sopan santun meminjam kepada anaknya. "Usia ini anak sudah bisa diajari, karena kecakapan verbal dan perbendaharaan kata anak umur 2-3 tahun biasanya sudah mulai bertambah. Ia juga sudah bisa mengutarakan keinginannya kepada orang lain."
Sebelumnya, anak harus diajarkan konsep milik lebih dahulu. Bahwa ini benda-benda miliknya dan itu milik temannya. Setelah itu, terangkan, kalau hendak meminjam sesuatu, anak harus meminta izin. "Kalau mau pinjam, Adek harus bilang, 'Aku boleh pinjam, enggak?' atau, 'Aku pinjam, dong.'"
Anak juga mesti diajarkan untuk bergiliran saat bermain dan tidak semua keinginannya bisa dipenuhi saat itu juga. Katakan, ada orang lain yang masih memakai atau menggunakan mainan itu. Anak harus belajar menunggu hingga sang teman puas bermain. "Memang, hal itu tidak selalu mudah dilakukan. Namanya saja anak-anak. Oleh karena itu, orang tua mesti mengajarkannya secara berulang-ulang dan konsisten."
Di samping itu, orang tua juga perlu memberikan contoh sesuai dengan apa yang diajarkannya kepada anak. Saat orang tua hendak menggunakan barang orang lain hendaknya meminta izin terlebih dahulu. Dengan contoh konkret anak akan belajar, jika hendak menggunakan barang milik orang lain harus meminta izin terlebih dahulu.
JANGAN MEMBENTAK DAN MEMBERI LABEL
Jika si kecil ketahuan merebut mainan temannya, maka orang tua harus langsung bereaksi. Katakan, "Hei, kamu jangan lakukan itu, Dek." Dekati anak, lalu ambil dan kembalikan benda yang sudah direbutnya. Jika ia mulai menangis, biarkan saja. Katakan padanya, "Kamu enggak boleh berbuat seperti itu. Kalaupun mau, kamu harus minta izin lebih dulu sama temanmu."
Orang tua harus melakukan hal itu meski si anak belum tentu mengerti dan memahami apa yang diucapkan kepadanya. Yang penting anak jadi mengerti, perbuatan merebut itu tidak baik. Akan lebih baik lagi jika ia disuruh meminta maaf kepada sang teman tadi. Perasaan sang teman yang marah bisa sedikit terobati oleh permintaan maaf itu. Selanjutnya, ajari bagaimana cara meminjam yang baik.
Jika si anak dan temannya sama-sama ngotot ingin menguasai mainan itu, maka orang tua mesti mencari jalan tengah dengan mengambil mainannya. Beri mereka time out dengan cara mengizinkan bermain dengan mainan itu secara bergiliran.
Namun, Ade mengingatkan, orang tua hendaknya tidak membentak si anak, karena bisa membuat anak kaget dan berdampak kurang baik terhadap perkembangan mentalnya. Selain itu, orang tua juga hendaknya tidak memberikan label kepada si anak, seperti anak nakal atau anak badung. "Anak yang diberi label bandel, dan diperlakukan seperti anak bandel, akan menjadi bandel."
Daripada memberikan label, lebih baik berikan respons spesifik terhadap perilaku anak, bukan terhadap kepribadiannya. Misalnya, saat ia merebut mainan temannya, katakan, "Dek, merebut mainan orang lain itu salah, tidak boleh begitu." Jangan katakan, "Adek, kamu bandel sekali, sih, merebut mainan temanmu." Dengan begitu, tanpa harus merasa dirinya jelek, anak tahu bahwa kelakuannya salah. Akhirnya, ia termotivasi untuk tidak mengulangi perbuatan itu.
Sebaliknya, jika anak dibiarkan terbiasa merebut mainan milik temannya, maka anak akan terbiasa mendominasi sesuatu yang menjadi minatnya. Jika ia menginginkan sesuatu, maka harus dikabulkan saat itu juga. Jika tidak, anak akan melampiaskan kekesalannya dengan temper tantrum atau menangis seraya berguling-guling di lantai.
Akhirnya, ia tidak pernah bisa mengontrol keinginannya dan tidak peduli dampak yang ditimbulkan sikapnya. Sifat seperti ini jelas akan sangat merepotkan orang tua, bukan?
Jika kebiasaan ini terus-menerus dilakukan, maka sosialisasi anak juga akan terganggu, karena teman-temannya akan menjauh. Kebiasaan ini bukan tidak mungkin akan terus menetap hingga anak beranjak dewasa. "Tak heran jika banyak remaja berbuat nekat saat keinginannya tidak terpenuhi."
TIPS AGAR ANAK MAU BERBAGI
Saat mengawasi anak-anak bermain, Ade menyarankan, orang tua hendaknya memperhatikan tips di bawah ini: 1. Saat anak kita ingin merebut mainan temannya
Ego anak masih tinggi, jadi jangan harapkan anak usia ini dapat berbagi mainan dengan murah hati dan manis. Ketika terjadi perebutan mainan atau makanan, pisahkan mereka untuk sementara waktu. Ajari mereka untuk menghargai barang milik temannya. Jika tidak bisa, pisahkan anak beberapa saat untuk bermain sendiri.
2. Saat anak lain hendak merebut mainan si kecil
Pisahkan dan biarkan untuk sementara waktu hingga mereka bisa bermain sendiri. Ajari si kecil untuk berbagi dengan temannya. "Kasihan, dia mau main mobil-mobilan kepunyaannmu, biarkan dia main sebentar, ya." Atau, jika si kecil tidak mau berbagi, jangan perlihatkan mainannya ke teman-teman.
***Saeful Imam. Foto: Iman/nakita
{ Dapatkan CD terapi gelombang otak untuk anak autis , klik link di bawah ini.....}
Sumber : www.gelombangotak.com/terapi_anak_autis.htm

Tidak ada komentar:
Posting Komentar