berbahasanya.
Roni yang baru berusia dua tahun suka sekali menelepon ayahnya di kantor. Kalau bicaranya banyak sih mungkin tidak apa-apa. Tapi yang terjadi, dia hanya diam saat telepon sudah tersambung. Toh, Roni tak mau cepat-cepat mengembalikan gagang telepon ke tempatnya. Ia terus mendekatkannya ke telinga, menikmati bunyi bila gagang telepon, nguuung...
Apakah perilaku seperti Roni juga di lakukan anak Anda di rumah? Kalau jawabannya "Ya", wajar saja karena perilaku ini memang akrab terjadi pada anak usia batita. Sejak usia satu tahun anak sudah bisa berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Ia juga sudah bisa memerhatikan perilaku orang yang ada di dekatnya, juga sudah bisa membedakan suara-suara yang datang dari sekelilingnya; mana suara ibu, ayah, kakak, termasuk suara yang berasal dari telepon.
BUNYI KHAS YANG MENARIK
Lalu kenapa anak bisa keranjingan menelepon? Pada awalnya si kecil tertarik oleh bunyi yang diperdengarkan pesawat telepon, kriiing... atau tuuut... bila diangkat gagangnya. Nah, bunyi tersebut merangsang fungsi auditorinya sehingga membuatnya terfokus pada benda tersebut. Apalagi jenis dering telepon saat ini beragam yang makin membuat anak menyukainya.
Faktor ketertarikan lain adalah pada bentuk dan warna telepon. Modelnya pun sudah bermacam-macam. Ada yang berbentuk binatang, boneka, bola, dan lainnya dengan warna-warni mencolok sehingga merangsang si batita untuk meraih dan memainkannya. Minatnya pada telepon semakin menjadi-jadi, kala dia mendapatkan pengalaman baru lewat sentuhan-sentuhan di indra perabanya.
Ini belum termasuk alasan klasik, bahwa pada usia 2 tahunan, anak sedang giat-giatnya bereksplorasi dan selalu ingin mengetahui lebih detail tentang segala hal termasuk benda bernama pesawat telepon. Yang membuatnya semakin berminat adalah perilaku orang-orang di sekelilingnya saat bertelepon. Ketika telepon berdering kita akan menghampiri dan mengangkatnya. Hal ini akan membuat anak tersadar akan keberadaan fisik telepon dan kecenderungan orang dewasa dalam memakai telepon. Jangan lupa orang-orang yang ada di lingkungan rumah merupakan role model bagi anak. Lantaran itu, apa yang kita lakukan akan menjadi contoh bagi anak. Kalau ia sering melihat kita menelepon maka wajar saja kalau ia juga ingin ikut-ikutan.
SEGERA FASILITASI
Nah, kembali pada masalah utama. Jika si kecil sering merengek-rengek mau menelepon entah menelepon ayah di kantor atau kakek-nenek yang tinggal di luar kota apa yang mesti kita lakukan? Selalu melarangnya menyentuh pesawat telepon tentu bukan hal yang bijaksana. Lebih baik beri kesempatan pada anak untuk menjajal keinginannya itu. Misalnya dengan menyambungkan telepon ke orang-orang yang dituju. Hal ini memiliki efek positif, anak dapat belajar berkomunikasi dan mandiri untuk menjawab pertanyaan sederhana.
Manfaat lain, di saat memencet-mencet tombol telepon dan mengangkat gagangnya sebenarnya fungsi motorik serta kinestetik anak tengah terstimulasi. Jadi jangan asal melarang si batita menelepon karena setiap pengalaman akan direkam di pusat memorinya sebagai pengayaan ilmu yang ia pelajari dari lingkungan.
Toh, kalau keinginannya ini bikin tagihan telepon melonjak, alternatif pemecahannya adalah dengan menawarkan pada si kecil telepon mainan. Dengan begitu, anak tetap memiliki kesempatan untuk memenuhi keingintahuannya. Kemampuan berbahasa, kemampuan motorik, dan kinestetiknya pun tetap terlatih. Selain itu, pada saat bermain telepon-teleponan, anak sebenarnya belajar melakukan komunikasi dua arah. Nah, di saat bertelepon sungguhan, anak akan mudah berinteraksi. Ia akan mengeluarkan memori dari pengalaman yang dipelajarinya. Anak-anak yang tidak pernah melakukan role play seperti itu, biasanya akan diam dan bingung saat bertelepon karena si lawan bicara tidak ada secara konkret di hadapannya.
BERBAGAI DAMPAK POSITIF
Berikut beberapa manfaat yang dapat diperoleh anak lewat aktivitas bertelepon. Orang tua perlu memahaminya agar kesempatan ini tidak terbuang percuma.
* Komunikasi sederhana
Lewat aktivitas bertelepon secara langsung anak diajarkan komunikasi secara sederhana, dengan bahasa yang sopan walaupun si pembicara tidak nampak secara konkret. Hal ini tentu sangat baik untuk mengembangkan kemampuan berkomunikasinya.
* Mengenalkan aturan
Bertelepon adalah kebiasaan yang sudah memasyarakat. Mau tidak mau kelak anak akan mengikutinya juga. Nah, dengan keinginan ini akan mengajarkan si batita mengenai aturan yang berlaku di masyarakat secara umum sehingga lambat laun akan membuatnya menjadi terbiasa. Umpamanya, saat menyapa kita harus menggunakan kata-kata yang sopan, seperti halo, selamat pagi dan lainnya.
* Percaya diri
Secara tidak langsung, jawaban-jawaban yang diberikan anak saat ditanya oleh lawan bicaranya saat bertelepon akan menumbuhkan rasa percaya dirinya.
* Menjaga hubungan
Dengan bertelepon berarti kita tetap menjaga hubungan dengan anak. Si kecil juga merasa tetap diperhatikan dan merasa "aman" karena mudah berkomunikasi dengan orang tuanya.
Agar manfaat positif yang didapat anak lebih maksimal, ada beberapa hal yang mesti diperhatikan:
1. Arah pembicaraan saat bertelepon sebaiknya langsung berhubungan dengan aktivitas anak. Misalnya menanyakan kegiatan yang sedang dilakukan anak? "Sedang main apa, Sayang?"
2. Aktivitas rutin juga dapat dijadikan bahan pembicaraan. "Adek sudah makan?"
3. Pancing anak untuk mengungkapkan perasaannya saat itu; sedang senang, sedih, sebal, marah, dan lainnya.
4. Beri kesempatan padanya untuk mengungkapkan kejadian/pengalamannya hari itu sehingga kita bisa membantu memberikan pemahaman jika diperlukan.
GUNAKAN BAHASA SEDERHANA
Nah, agar si kecil bisa menjawab pertanyaan yang kita ajukan dengan baik, ikuti beberapa tip berikut ini:
* Gunakan kata sederhana
Saat mengobrol dengan si kecil, gunakan katakata yang sederhana karena anak batita belum terlalu memahami kalimat-kalimat panjang. Jika percakapan terlampau rumit, ia sulit menangkap makna dari pertanyaan tersebut. Walhasil, anak tidak bisa menjawab. Hal ini disebabkan koordinasi antara fungsi auditori dan perbendaharaan katanya belum mencapai perkembangan yang optimal. Pada saat ini anak belajar berbicara tanpa melihat secara konkret si penelepon. Misalnya, "Apa kabar, Sayang?"- "Baik" atau "Ini siapa?"- "Ini adek."
* Ulangi perkataan
Percakapan lewat telepon terkadang lebih sulit dipahami anak. Jadi, kalau perlu, ulangi pertanyaan yang kita ajukan sampai anak benar-benar memahaminya. Jangan langsung menutup pembicaraan hanya gara-gara anak tidak nyambung bicaranya karena hal ini akan membuatnya kecewa.
* Pertanyaan pasti
Ungkapkan jenis pertanyaan yang memiliki jawaban yang pasti. Misalnya, apakah ia sudah mandi, sudah makan, atau yang lainnya. Hindari pertanyaan dengan pilihan jawaban. Misalnya main apa hari ini.
* Jawaban natural
Biarkan anak mengungkapkan maksudnya secara natural dengan gaya anak sehingga ia merasa lebih relaks. Bila ia bercerita ngalor-ngidul tentang apa yang dilakukannya hari itu, ladeni saja. Biarkan anak mengungkapkannya dengan bahasa yang pas-pasan. Dengan begitu kemampuan berkomunikasinya bisa tumbuh lebih optimal karena anak merasa bebas untuk mengungkapkan pendapatnya.
* Etika bertelepon
Saat mengawali bertelepon dahulukan dengan kata-kata sapaan. Misalnya ucapkan salam, apa kabar, selamat siang, dan lainnya. Demikian pula saat menutup pembicaraan. Hal ini akan membuat anak terbiasa dengan etika bertelepon. Kelak ketika anak bisa menelepon sendiri, dia akan melakukannya dengan santun. Bukankah hal ini baik untuk citra dirinya?
* Tolakan halus
Jika kita tidak memiliki banyak waktu untuk meladeni pembicaraan anak, sudahi pembicaraan dengan bahasa yang halus. "Maaf ya, Sayang, Mama lagi banyak kerjaan. Sudah dulu ya. Nanti kita cerita lagi di rumah," misalnya. Atau buat kesepakatan dengannya kapan waktu menelepon yang tepat. Dengan demikian anak tetap merasa diperhatikan. Kesepakatan lain, anak boleh menelepon kapan saja jika ada kebutuhan atau kepentingan mendesak yang harus disampaikan. Dengan demikian anak bisa berdisiplin diri dalam menggunakan telepon. Sepakati hal ini dengan pengasuh anak, sehingga aturan yang diterapkan menjadi konsisten dan tidak membingungkan anak. Hindari langsung menghentikan telepon apalagi dengan kata-kata yang tidak ramah atau bahkan kasar karena hanya akan membuat anak merasa terabaikan.
Yang paling penting, jangan menghambat keinginan anak untuk menelepon karena akan berdampak negatif untuk perkembangannya. Dampak paling mendasar adalah anak tidak diberi kesempatan untuk bereksplorasi terhadap sesuatu yang sangat menarik perhatiannya. Kalau sudah begitu kesempatan anak untuk tumbuh lebih kreatif menjadi terhambat. Belum lagi dengan kemampuan lain, seperti kemampuan bahasa, motorik, dan kinestetiknya. Sayang sekali bila hal yang seharusnya berkembang menjadi terpasung.
HINDARI MENELEPON TERLALU LAMA
SERINGKALI tanpa sadar kita bertelepon berlama-lama. Hal ini biasanya menimbulkan reaksi pada anak. Anak akan merasa yang menjadi pusat perhatian bukanlah dirinya melainkan benda lain. Hal ini akan membuatnya berusaha mencari perhatian dengan bentuk perilaku seperti merengek, mengganggu dengan mengajak orang tua berbicara, menariknarik orang tua untuk segera menyudahi pembicaraan, dan lainlain.Jadi, jika pembicaraan yang kita lakukan tidak terlalu penting segeralah menyudahinya. Selain untuk memberi perhatian kepada anak juga sebagai kontrol bagi kita untuk berbicara di telepon seperlunya.Toh, kalaupun ada keperluan yang mendesak sehingga kita membutuhkan waktu cukup lama untuk menelepon, minta pengasuh untuk sementara waktu mengurus si kecil agar dia merasa tidak terabaikan.
Sangat baik bila orang tua bisa mengatur jadwal bertelepon. Misalnya pada saat anak sedang tidur agar tidak terjadi gangguan, juga menghindari peniruan anak menelepon berlama-lama kelak. Bisa saja dia beranggapan kalau dia boleh bertelepon semaunya karena melihat kita sering melakukannya.
Irfan Hasuki. Foto: Iman/nakita
{ Dapatkan CD terapi gelombang otak untuk anak autis , klik link di bawah ini.......}
Sumber : www.gelombangotak.com/terapi_anak_autis.htm

Tidak ada komentar:
Posting Komentar