Tampilkan postingan dengan label ayah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ayah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 Agustus 2011

AKU MAU TELEPON AYAH!

Berikan kesempatan bila si batita ingin menelepon. Hal ini baik untuk meningkatkan kemampuan
berbahasanya.  
Roni yang baru berusia dua tahun suka sekali menelepon ayahnya di kantor. Kalau bicaranya banyak sih mungkin tidak apa-apa. Tapi yang terjadi, dia hanya diam saat telepon sudah tersambung. Toh, Roni tak mau cepat-cepat mengembalikan gagang telepon ke tempatnya. Ia terus mendekatkannya ke telinga, menikmati bunyi bila gagang telepon, nguuung...
Apakah perilaku seperti Roni juga di lakukan anak Anda di rumah? Kalau jawabannya "Ya", wajar saja karena perilaku ini memang akrab terjadi pada anak usia batita. Sejak usia satu tahun anak sudah bisa berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Ia juga sudah bisa memerhatikan perilaku orang yang ada di dekatnya, juga sudah bisa membedakan suara-suara yang datang dari sekelilingnya; mana suara ibu, ayah, kakak, termasuk suara yang berasal dari telepon.
 
BUNYI KHAS YANG MENARIK
Lalu kenapa anak bisa keranjingan menelepon? Pada awalnya si kecil tertarik oleh bunyi yang diperdengarkan pesawat telepon, kriiing... atau tuuut... bila diangkat gagangnya. Nah, bunyi tersebut merangsang fungsi auditorinya sehingga membuatnya terfokus pada benda tersebut. Apalagi jenis dering telepon saat ini beragam yang makin membuat anak menyukainya.
Faktor ketertarikan lain adalah pada bentuk dan warna telepon. Modelnya pun sudah bermacam-macam. Ada yang berbentuk binatang, boneka, bola, dan lainnya dengan warna-warni mencolok sehingga merangsang si batita untuk meraih dan memainkannya. Minatnya pada telepon semakin menjadi-jadi, kala dia mendapatkan pengalaman baru lewat sentuhan-sentuhan di indra perabanya.
Ini belum termasuk alasan klasik, bahwa pada usia 2 tahunan, anak sedang giat-giatnya bereksplorasi dan selalu ingin mengetahui lebih detail tentang segala hal termasuk benda bernama pesawat telepon. Yang membuatnya semakin berminat adalah perilaku orang-orang di sekelilingnya saat bertelepon. Ketika telepon berdering kita akan menghampiri dan mengangkatnya. Hal ini akan membuat anak tersadar akan keberadaan fisik telepon dan kecenderungan orang dewasa dalam memakai telepon. Jangan lupa orang-orang yang ada di lingkungan rumah merupakan role model bagi anak. Lantaran itu, apa yang kita lakukan akan menjadi contoh bagi anak. Kalau ia sering melihat kita menelepon maka wajar saja kalau ia juga ingin ikut-ikutan.

SEGERA FASILITASI
Nah, kembali pada masalah utama. Jika si kecil sering merengek-rengek mau menelepon entah menelepon ayah di kantor atau kakek-nenek yang tinggal di luar kota apa yang mesti kita lakukan? Selalu melarangnya menyentuh pesawat telepon tentu bukan hal yang bijaksana. Lebih baik beri kesempatan pada anak untuk menjajal keinginannya itu. Misalnya dengan menyambungkan telepon ke orang-orang yang dituju. Hal ini memiliki efek positif, anak dapat belajar berkomunikasi dan mandiri untuk menjawab pertanyaan sederhana.
 
Manfaat lain, di saat memencet-mencet tombol telepon dan mengangkat gagangnya sebenarnya fungsi motorik serta kinestetik anak tengah terstimulasi. Jadi jangan asal melarang si batita menelepon karena setiap pengalaman akan direkam di pusat memorinya sebagai pengayaan ilmu yang ia pelajari dari lingkungan.

Toh, kalau keinginannya ini bikin tagihan telepon melonjak, alternatif pemecahannya adalah dengan menawarkan pada si kecil telepon mainan. Dengan begitu, anak tetap memiliki kesempatan untuk memenuhi keingintahuannya. Kemampuan berbahasa, kemampuan motorik, dan kinestetiknya pun tetap terlatih. Selain itu, pada saat bermain telepon-teleponan, anak sebenarnya belajar melakukan komunikasi dua arah. Nah, di saat bertelepon sungguhan, anak akan mudah berinteraksi. Ia akan mengeluarkan memori dari pengalaman yang dipelajarinya. Anak-anak yang tidak pernah melakukan role play seperti itu, biasanya akan diam dan bingung saat bertelepon karena si lawan bicara tidak ada secara konkret di hadapannya.
 
BERBAGAI DAMPAK POSITIF
Berikut beberapa manfaat yang dapat diperoleh anak lewat aktivitas bertelepon. Orang tua perlu memahaminya agar kesempatan ini tidak terbuang percuma.

* Komunikasi sederhana
Lewat aktivitas bertelepon secara langsung anak diajarkan komunikasi secara sederhana, dengan bahasa yang sopan walaupun si pembicara tidak nampak secara konkret. Hal ini tentu sangat baik untuk mengembangkan kemampuan berkomunikasinya.
 
* Mengenalkan aturan
Bertelepon adalah kebiasaan yang sudah memasyarakat. Mau tidak mau kelak anak akan mengikutinya juga. Nah, dengan keinginan ini akan mengajarkan si batita mengenai aturan yang berlaku di masyarakat secara umum sehingga lambat laun akan membuatnya menjadi terbiasa. Umpamanya, saat menyapa kita harus menggunakan kata-kata yang sopan, seperti halo, selamat pagi dan lainnya.
 
* Percaya diri
Secara tidak langsung, jawaban-jawaban yang diberikan anak saat ditanya oleh lawan bicaranya saat bertelepon akan menumbuhkan rasa percaya dirinya.

* Menjaga hubungan
Dengan bertelepon berarti kita tetap menjaga hubungan dengan anak. Si kecil juga merasa tetap diperhatikan dan merasa "aman" karena mudah berkomunikasi dengan orang tuanya.
Agar manfaat positif yang didapat anak lebih maksimal, ada beberapa hal yang mesti diperhatikan:
1. Arah pembicaraan saat bertelepon sebaiknya langsung berhubungan dengan aktivitas anak. Misalnya menanyakan kegiatan yang sedang dilakukan anak? "Sedang main apa, Sayang?"
2. Aktivitas rutin juga dapat dijadikan bahan pembicaraan. "Adek sudah makan?"
3. Pancing anak untuk mengungkapkan perasaannya saat itu; sedang senang, sedih, sebal, marah, dan lainnya.
4. Beri kesempatan padanya untuk mengungkapkan kejadian/pengalamannya hari itu sehingga kita bisa membantu memberikan pemahaman jika diperlukan.
 
GUNAKAN BAHASA SEDERHANA
Nah, agar si kecil bisa menjawab pertanyaan yang kita ajukan dengan baik, ikuti beberapa tip berikut ini:
 
* Gunakan kata sederhana
Saat mengobrol dengan si kecil, gunakan kata­kata yang sederhana karena anak batita belum terlalu memahami kalimat-kalimat panjang. Jika percakapan terlampau rumit, ia sulit menangkap makna dari pertanyaan tersebut. Walhasil, anak tidak bisa menjawab. Hal ini disebabkan koordinasi antara fungsi auditori dan perbendaharaan katanya belum mencapai perkembangan yang optimal. Pada saat ini anak belajar berbicara tanpa melihat secara konkret si penelepon. Misalnya, "Apa kabar, Sayang?"- "Baik" atau "Ini siapa?"- "Ini adek."
 
* Ulangi perkataan
Percakapan lewat telepon terkadang lebih sulit dipahami anak. Jadi, kalau perlu, ulangi pertanyaan yang kita ajukan sampai anak benar-benar memahaminya. Jangan langsung menutup pembicaraan hanya gara-gara anak tidak nyambung bicaranya karena hal ini akan membuatnya kecewa.
 
* Pertanyaan pasti
Ungkapkan jenis pertanyaan yang memiliki jawaban yang pasti. Misalnya, apakah ia sudah mandi, sudah makan, atau yang lainnya. Hindari pertanyaan dengan pilihan jawaban. Misalnya main apa hari ini.
 
* Jawaban natural
Biarkan anak mengungkapkan maksudnya secara natural dengan gaya anak sehingga ia merasa lebih relaks. Bila ia bercerita ngalor-ngidul tentang apa yang dilakukannya hari itu, ladeni saja. Biarkan anak mengungkapkannya dengan bahasa yang pas-pasan. Dengan begitu kemampuan berkomunikasinya bisa tumbuh lebih optimal karena anak merasa bebas untuk mengungkapkan pendapatnya.

* Etika bertelepon
Saat mengawali bertelepon dahulukan dengan kata-kata sapaan. Misalnya ucapkan salam, apa kabar, selamat siang, dan lainnya. Demikian pula saat menutup pembicaraan. Hal ini akan membuat anak terbiasa dengan etika bertelepon. Kelak ketika anak bisa menelepon sendiri, dia akan melakukannya dengan santun. Bukankah hal ini baik untuk citra dirinya?

* Tolakan halus
Jika kita tidak memiliki banyak waktu untuk meladeni pembicaraan anak, sudahi pembicaraan dengan bahasa yang halus. "Maaf ya, Sayang, Mama lagi banyak kerjaan. Sudah dulu ya. Nanti kita cerita lagi di rumah," misalnya. Atau buat kesepakatan dengannya kapan waktu menelepon yang tepat. Dengan demikian anak tetap merasa diperhatikan. Kesepakatan lain, anak boleh menelepon kapan saja jika ada kebutuhan atau kepentingan mendesak yang harus disampaikan. Dengan demikian anak bisa berdisiplin diri dalam menggunakan telepon. Sepakati hal ini dengan pengasuh anak, sehingga aturan yang diterapkan menjadi konsisten dan tidak membingungkan anak. Hindari langsung menghentikan telepon apalagi dengan kata-kata yang tidak ramah atau bahkan kasar karena hanya akan membuat anak merasa terabaikan.

Yang paling penting, jangan menghambat keinginan anak untuk menelepon karena akan berdampak negatif untuk perkembangannya. Dampak paling mendasar adalah anak tidak diberi kesempatan untuk bereksplorasi terhadap sesuatu yang sangat menarik perhatiannya. Kalau sudah begitu kesempatan anak untuk tumbuh lebih kreatif menjadi terhambat. Belum lagi dengan kemampuan lain, seperti kemampuan bahasa, motorik, dan kinestetiknya. Sayang sekali bila hal yang seharusnya berkembang menjadi terpasung.

HINDARI MENELEPON TERLALU LAMA

SERINGKALI tanpa sadar kita bertelepon berlama-lama. Hal ini biasanya menimbulkan reaksi pada anak. Anak akan merasa yang menjadi pusat perhatian bukanlah dirinya melainkan benda lain. Hal ini akan membuatnya berusaha mencari perhatian dengan bentuk perilaku seperti merengek, mengganggu dengan mengajak orang tua berbicara, menarik­narik orang tua untuk segera menyudahi pembicaraan, dan lain­lain.
 
Jadi, jika pembicaraan yang kita lakukan tidak terlalu penting segeralah menyudahinya. Selain untuk memberi perhatian kepada anak juga sebagai kontrol bagi kita untuk berbicara di telepon seperlunya.Toh, kalaupun ada keperluan yang mendesak sehingga kita membutuhkan waktu cukup lama untuk menelepon, minta pengasuh untuk sementara waktu mengurus si kecil agar dia merasa tidak terabaikan.
Sangat baik bila orang tua bisa mengatur jadwal bertelepon. Misalnya pada saat anak sedang tidur agar tidak terjadi gangguan, juga menghindari peniruan anak menelepon berlama-lama kelak. Bisa saja dia beranggapan kalau dia boleh bertelepon semaunya karena melihat kita sering melakukannya.
Irfan Hasuki. Foto: Iman/nakita

{ Dapatkan CD terapi gelombang otak untuk anak autis , klik link di bawah ini.......}
Sumber : www.gelombangotak.com/terapi_anak_autis.htm

Senin, 01 Agustus 2011

AJARKAN ARAH AGAR TAK SALAH LANGKAH

Konsep arah kiri-kanan, atas-bawah, maju-mundur, depan-belakang, dan lurus-belok ternyata harus diajarkan, supaya anak tidak salah menerjemahkan perintah. Berikut, langkah-langkah praktis yang dibagi Anna Surti Ariani, Psi atau Nina, dari Jagadnita Consulting, Jakarta.

KIRI-KANAN
Inilah konsep dasar yang paling mudah diajarkan pada batita. Metode pengajaran ini harus dikaitkan dengan sesuatu yang konkret, yang ada di sekitarnya atau yang sedang dia lakukan.
Langkah pengajaran yang paling mudah dengan menggunakan tangan anak itu sendiri, orang tua bisa mengatakan "Ini tangan kanan, ini tangan kiri." Lalu untuk mempraktekkannya anak bisa diajak mengenal mana kanan dan mana kiri sambil melakukan aktivitas sehari-hari, misalnya, "Adek kalau makan pakai tangan yang mana? Tangan kanan, ya," sambil menunjukkan tangan mana yang sebaiknya digunakan.
Setelah anak tidak bingung lagi, mana tangan kanan dan kirinya, ia bisa mulai dikenalkan pada konsep arah ke kanan dan ke kiri. "Ke kanan itu sama dengan tangan untuk makan, sedang ke kiri itu tangan satunya lagi."
Bisa juga konsep arah ini diajarkan sambil bepergian, misalnya sambil naik mobil anak bisa diajak menentukan, "Habis ini ke kanan atau ke kiri? Coba lihat beloknya sama dengan tangan tangan kanan atau tidak? O, enggak, berarti ini ke mana? Iya, berarti ini ke kiri."
Waktu bermain sepeda di taman kompleks pun bisa dimanfaatkan untuk mengajarkan anak tentang konsep ini. Biarkan anak yang menentukan, setelah ini mau ke kiri atau ke kanan. Tanyakan padanya, "Adek mau ke kiri atau ke kanan?" Bila ternyata apa yang dia ucapkan masih berbeda dengan arah yang dipilih, jangan segan mencobanya lagi.
Contoh dalam kehidupan sehari-hari yang bisa dikaitkan dengan konsep kiri-kanan; tangan kanan untuk bersalaman, makan, dan menggambar, sedangkan tangan kiri adalah tangan yang satunya lagi. Tentu saja konsep ini tidak berlaku untuk anak kidal.

ATAS-BAWAH
Atas-bawah adalah konsep sederhana yang juga harus diajarkan pada batita. Pada tahapan ini batita dijarkan bahwa ada benda yang terletak di atas dan ada juga yang di bawah. Konsep ini merupakan dasar untuk mengajarkan hal-hal yang lebih kompleks berkaitan dengan tingkatan, urutan, dan sesuatu yang lebih maupun sesuatu yang kurang.
Metode pengajaran yang mudah tentu saja harus dikaitkan dengan sesuatu yang konkret dan berkait dengan apa yang dilihat dan dilakukan tiap hari. Ajak anak untuk naik-turun tangga, "Ayo sekarang kita ke atas, setelah itu ke bawah." Dengan merasakan menaiki dan menuruni tangga, anak mengenal konsep ada bagian yang di atas dan yang di bawah.
Bisa juga dengan menyediakan rak tempat menyusun mainan yang terdiri atas dua bagian, "Adek, tolong bukunya ditaruh di atas dan bonekanya ditaruh di bawah." Tunjukkan bagian mana yang disebut atas dan mana yang disebut bawah.
Main jungkat-jungkit juga bisa menjadi ajang mengajarkan konsep atas-bawah ini. "Sekarang Adek ada di atas dan Mama di bawah." Bisa juga dengan lagu-lagu yang telah diganti syairnya untuk mengajarkan anak tentang konsep ini.
Contoh posisi atas-bawah dalam kehidupan sehari-hari yang mudah dipahami anak, misalnya; langit berada di atas, sedangkan tanah yang dia injak berada di bawah. Bisa juga dengan mencontohkan atap dan lantai rumah. 

DEPAN-BELAKANG
Konsep depan-belakang adalah konsep dasar untuk memahami hal-hal lain yang lebih kompleks, seperti maju-mundur. Bagi batita, paling mudah dengan mengenalkan apa yang bisa dia lihat tanpa memalingkan muka itu berarti depan, sedangkan apa yang berada di punggungnya berarti di belakang.
Di lain waktu, apitlah anak dari arah depan dan belakangnya, "Coba Adek lihat, Mama sekarang di depan dan Papa di belakang. Ayo sekarang, siapa yang ada di depan, Mama atau Papa?" Lakukan bergantian siapa yang ada di depan dan siapa yang di belakang. Sambil bermain, minta anak untuk terus menebak. Dengan begitu ia akan merasa gembira saat mempelajari konsep ini.
Bisa juga sambil menyusun balok mainannya. Ajak anak untuk belajar. Caranya, letakkan balok yang berwarna hijau di depan kotak mainannya, sedangkan yang merah di belakang. Ganti-ganti terus balok-balok mainan tersebut sampai anak tidak bingung lagi dengan konsep ini.
Contoh dalam kehidupan sehari-hari yang paling mudah dimengerti anak, hidungnya selalu berada di depan dan punggungnya ada di belakang. 

MAJU-MUNDUR
Konsep maju-mundur yang harus dipahami batita adalah adanya perpindahan orang atau benda dari suatu tempat ke tempat lain. Cara mengajar yang bisa digunakan sambil mengajak anak bermain, "Maju berarti melangkah ke depan, sedangkan mundur berarti melangkah ke belakang." Sambil bermain pura-pura mengendarai mobil, "Ayo mobilnya maju, bremm. Ayo sekarang mundur, bremm."
Binatang peliharaan seperti kucing juga bisa digunakan untuk mengenalkan konsep ini. "Lihat si pus kalau dikasih makan, dia akan maju, tapi kalau dikagetin, dia akan mundur." Cobalah mempraktekkan dengan memberi makanan maupun mengagetkan kucing tersebut di depan anak.
Yang paling mudah dilihat anak, ketika orang tua memasukkan dan mengeluarkan mobil dari garasi. "Kalau mobil masuk garasi berarti maju, tapi kalau mobilnya keluar, itu mundur." Tapi tentu saja, arah mobilnya jangan dibalik.
Instruksi maju-mundur penting dipahami anak bila sedang bermain di luar pagar rumah. Kala ada kendaraan yang melintas, dia mesti tahu persis, kapan harus melangkah mundur dan kapan harus melangkah maju.

LURUS-BELOK
Konsep lurus-belok sudah sedikit lebih kompleks dibanding konsep arah yang telah diajarkan sebelumnya. Konsep ini bisa dikaitkan dengan kanan-kiri maupun maju-mundur.
Metode efektif dilakukan dengan mengajaknya bermain di taman kompleks perumahan. Sambil bermain sepeda misalnya, ajak anak untuk mengenal konsep ini, "Ayo sekarang kamu maju lurus ke depan." Doronglah sepedanya lurus ke depan. Setelah itu ajak anak untuk membelokkan sepedanya, "Sekarang belok."
Atau bisa juga posisi ruangan di dalam rumah digunakan untuk mengajarkan konsep ini. "Kalau dari depan teve ke kamar Mama, itu berarti lurus." Lain waktu, katakan, "Kalau dari teve ke meja makan itu berarti belok kanan. Kalau belok kiri, berarti kamu ke arah tangga."
Yang paling mudah diingat anak tentang konsep ini, yaitu menggambar garis lurus kemudian membelokkannya. Semakin sering anak menggambar garis lurus dan kemudian membelokkannya, makin mudah ia memahami konsep ini. 

BILA TIDAK SEGERA BISA
Seperti yang dikatakan Nina, konsep ini mulai bisa diajarkan pada anak usia 1,5-2 tahun, walaupun kata-kata seperti kiri-kanan, atas-bawah, depan-belakang, dan sebagainya sudah ia dengar sejak masih bayi. Mengapa perlu diajarkan? Karena berkaitan dengan kehidupan sosial sehari-hari di mana arah sering dijadikan sebagai petunjuk. Dengan memahaminya anak tidak akan salah menerjemahkan permintaan atau perintah yang dia dengar.
Jangan putus asa bila anak tidak segera bisa memahami konsep-konsep dasar arah walaupun sudah diajarkan puluhan kali. Orang tua harus sabar dengan terus mencari metode pengajaran sekreatif mungkin.
Kalau hanya sesekali salah menerjemahkan perintah, misalnya diminta ke kanan, anak malah ke kiri, itu masih dalam kategori wajar. Namanya juga masih belajar. Anak baru bisa dikategorikan tidak normal dan harus segera dikonsultasikan ke ahli bila sampai memasuki usia sekolah belum juga menguasai konsep dasar ini. Bisa jadi ada kelainan di otaknya yang menyebabkan anak tidak bisa segera memahami konsep arah.
Bila ada kemajuan yang berarti padanya, jangan segan memberikan pujian. "Adek pintar, ya, sudah bisa ke atas dan ke bawah." Tidak ada salahnya untuk sesekali memberikan hadiah, bukan yang berwujud barang, tapi pelukan dan ciuman sayang. 

KAITANNYA DENGAN MULTIPLE INTELLIGENCE
Pemahamanan tentang konsep arah, menurut Nina, ternyata berubungan dengan multiple intelligence yang dimiliki anak-anak.
Kemudahan mengusai arah secara benar ada hubungan dengan kecerdasan visual spasial. Makin cepat anak memahami, makin berbakat pula dia dalam melakukan kegiatan yang memerlukan kemampuan visual spasial.
Kemampuan anak dalam menganalisa arah juga menunjukkan bakat dalam bidang logika matematis. Analisa yang dihasilkannya berdasarkan sesuatu yang dia pahami dari awal sampai akhir dari seluruh rangkaian konsep yang dia terima.
Kecepatan memahami konsep arah juga berhubungan dengan kecerdasan linguistik atau berbahasa. Jika ia menyerap berbagai kosakata baru dan memahami maksudnya, ini menunjukkan kecerdasan linguistiknya cukup tinggi. 

TIPS UNTUK ORANG TUA
Lebih lanjut Nina mengingatkan kita akan hal-hal yang perlu dilakukan selama mengajarkan konsep arah. Di antaranya:
1. Konsep dasar ini harus diajarkan, walaupun mungkin saja anak bisa dengan sendirinya setelah mendengarkan instruksi dari orang lain. Yang paling baik, stimulus diberikan orang tuanya.
2. Orang tua harus sabar dan tidak bosan mengulang-ulang pengenalan konsep ini.
3. Cari bahan sekreatif mungkin, sehingga anak tertarik untuk mengikutinya.
4. Sesekali aplikasikan metode pengajaran tersebut di tempat yang berbeda, misalnya di taman bermain, di rumah nenek dan sebagainya.
5. Jangan cepat marah bila anak tak kunjung paham, karena bisa membuat anak menjadi trauma untuk mempelajarinya lebih lanjut.
6. Bila mood anak sedang bagus, ini adalah waktu yang paling efektif untuk segera memberinya pelajaran.
7. Jangan langsung mengkritik bila anak melakukan kesalahan. Ulangi perintah yang diinginkan sambil menunjukkan bagaimana yang benar.
  ***Marfuah Panji Astuti. Foto: Vitri/nakita

{ Dapatkan Buku " RAHASIA DAHSYAT TERAPI OTAK"  Plus Bonus CD, klik link di bawah ini...}
Sumber : www.gelombangotak.com/Buku_RASAIA_DAHSYAT_TERAPI_OTAK.htm

Ah,Penakut Lu!

Rasa takut sebenarnya penting untuk self-control anak. Tapi kalau apa-apa serba takut, anak bisa dikucilkan dari pergaulan, lho.

Adit memang beda. Ia lebih senang main sendiri di dalam kelas. Pulang sekolah, dijemput si mbak. Tak pernah halan pulang bareng teman-temannya. Kalau di rumah pun, ia lebih suka main di kamar terus, atau paling banter dengan orang belakang. Jarang sekali ia main dengan anak tetangga. Diajak main sepeda dengan teman, ia tak mau. Diajak manjat pohon jambu apalagi. Takut!

"Kamu sesekali ikut dong sama kita, main bola di lapangan," ujar Anton, teman sekelas. Adit menggeleng cepat. "Nggak mau ah. Takut kena tendang bola," ujar Adit.
"Ah, payah. Penakut lu!"


***

Karakter setiap anak memang berbeda-beda. Ada yang ekspresif dan berani seperti Anton, tapi ada pula penakut dan penuh perhitungan macam Adit. Menurut Yunita P. Sakul, Psi, penyebab anak mengalami hambatan dalam bergaul dengan teman-temannya seperti Adit, bisa terjadi karena anak tidak dilatih di rumah. "Orangtua selalu memenuhi kebutuhan anak, sehingga mereka tidak tahu bagaimana berinteraksi dengan orang lain." Akibatnya ketika duduk di sekolah dasar, saat anak harus berinteraksi dengan teman sebayanya, mereka jadi bingung dan tak mengerti apa yang harus dibicarakan saat bermain, dan tidak bisa berempati dengan orang lain. Akhirnya anak setiap kali diajak bermain atau pergi kemana selalu menolak.

Dua Faktor
Jika dilihat dari perkembangan interaksi sosialnya, pertama kali anak bergaul di lingkungan terdekatnya dulu, yakni keluarga. Jika sudah cukup baik ia akan bergaul lebih luas lagi, misalnya di TK atau preschool. Ia bermain dengan teman-temannya dan guru. Di SD anak akan belajar berinteraksi lebih luas lagi dengan teman-teman sebayanya. Sebab dalam satu kelas bisa terdiri dari satu guru dan 40 siswa. "Jadi, anak makin dituntut untuk belajar cara berinteraksi dan menyesuaikan diri."

Penyebab anak penakut, kata Yunita, karena beberapa faktor. Pertama, anak tidak merasa nyaman. Ia merasa teman-temannya tidak memperlakukannya seperti orangtuanya memperlakukan dia. Kedua, memang dari segi emosi anak belum siap untuk bergaul dengan temannya.

Konsep diri takut sendiri sudah ada sejak anak lahir, lalu berkembang ke arah baik atau buruk seiring dengan kemampuan anak mengenal diri, orangtua, dan lingkungan. "Sifat penakut bisa tumbuh sejak kecil dan semakin berkembang jika sikap orang di sekelilingnya mendukung tumbuh suburnya sifat tersebut," kata psikolog di Essa Consulting, Jakarta ini. "Misalnya, jika orang-orang di sekelilingnya suka menakut-nakuti, terlalu over protective, tidak melatih anak untuk bermain dengan teman sebayanya, atau mencela. Semua ini dapat membuat anak kehilangan sifat beraninya dan tumbuh jadi penakut."

Sifat takut sebenarnya bisa menjadi suatu hal yang positif. Rasa takut dalam batas normal bisa menjadi self-control bagi anak. Misal, anak menolak diajak bermain yang berbahaya, seperti main layangan di jalan raya yang bisa membuat ia tertabrak mobil. Atau, memanjat pohon jambu, yang bisa membuatnya terjatuh dan cedera. "Dengan adanya ada rasa takut, anak dapat menganalisa, apakah perbuatan yang dilakukan berdampak buruk nantinya. Contoh lain, ia ingin nyontek tapi takut dilihat guru atau teman. Artinya anak belajar mengendalikan diri untuk tidak nyontek."

Jadi, karena takut, anak jadi hati-hati untuk melakukan sesuatu. Hanya saja, papar Yunita, sikap penakut ini bisa berubah menjadi negatif jika proses sosialisasi anak dengan lingkungannya terganggu. Misal, karena terlalu penakut, anak tidak mau diajak kemana-mana oleh teman-teman bermainnya. Sampai-sampai guru pun susah meminta anak berbuat sesuatu, karena anak merasa takut salah, dsb. Akhirnya anak pun dikucilkan teman.

Beri Support
Bila rasa takut sudah melekat pada anak, bisakah dirubah? Menurut Yunita, rasa takut ini termasuk ketrampilan sosialisasi, jadi sangat bisa dirubah. "Syaratnya, lingkungan men-support anak supaya bisa lebih berani," tegas Yunita.

Caranya, lingkungan keluarga harus mendukung dengan cara positif, sehingga konsep negatif anak tentang diri dan lingkungannya berubah. Pertama, orangtua mesti memahami sifat anak. Bila sifatnya memang penakut, jangan memberinya cap 'penakut', 'introvert', kuper', dsb. Upayakan mengubah sifat anak secara perlahan namun pasti. Misalnya lewat cerita, atau dengan mengajaknya pergi ke tempat yang mengharuskannya bergaul dan berkomunikasi dengan orang lain. Atau sesekali mengundang kawan-kawannya ke rumah.

Selain itu, jangan membanding-bandingkan satu anak dengan anak lain atau dengan temannya. Biarkan anak tumbuh dengan kepribadiannya sendiri. Ketiga, orangtua perlu menjalin komunikasi yang hangat dengan anak. Misal, memintanya syupaya ia bercerita tentang kegiatan di sekolah, tentang kawan-kawannya, dsb.

Sebaliknya, orangtua juga menceritakan tentang kehidupannya waktu kecil dulu. "Cara ini dapat membantu anak belajar mendengarkan sekaligus berkomunikasi aktif dengan orang lain," papar Yunita. Sifat penakut ini juga bisa dikurangi dengan pola pengasuhan yang tepat. Penanganan di atas plus kesabaran orangtua, dapat mendukung anak menjadi lebih percaya diri dan berani.

Yuk, Rubah Si Penakut!
  1. Jangan memberikan label yang buruk pada anak. Sikap seperti itu justru mendorong sifat penakutnya makin subur
  2. Doronglah rasa percaya diri anak dengan memberinya kesempatan untuk melakukan hal-hal yang disukai dan dikuasainya
  3. Dorong anak untuk mengikuti kegiatan tertentu, misalnya menari, musik, karate, renang, dsb.
  4. Dukung anak bersikap tegas, berani dan terbuka dalam setiap kesempatan
Ciptakan suasana keluarga yang hangat dan terbuka. Dengan begitu anak merasa bahwa ia dicintai dan diterima apa adanya. Perasaan dicintai dan diterima membuat anak mudah mengekspresikan perasaan dan lambat laun dapat menangani perasaan sensitif dan takutnya.

{ Dapatkan CD terapi gelombang otak untuk kecerdasan,konsntrasi,daya ingat & kreatifitas ,klik link di bawah ini.......} 
Sumber : www.gelombangotak.com/kecerdasan_daya_ingat.htm

AGAR SI KECIL PAHAM MAKSUD AYAH IBU

Ternyata anak lebih banyak berkomunikasi secara nonverbal ketimbang verbal. Saat berkomunikasi dengan mereka gunakan gerakan dan ekspresi tubuh.
Bukan hal mudah untuk berkomunikasi secara efektif dengan anak. Komunikasi merupakan penyampaian pesan dari seseorang kepada orang lain, baik secara verbal (kata-kata) maupun nonverbal (gerak atau simbol). Komunikasi dikatakan efektif bila pesan itu bisa dipahami oleh penerima. Komunikasi yang tidak efektif ditandai dengan pesan yang tidak nyambung, atau si penerima salah memahami pesan itu. Kasandra Oemarjadi, Psi., dari biro konsultasi Kasandra Persona Prawacana, mengatakan ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan dalam hal berkomunikasi dengan anak batita: 

KEMAMPUAN USIA BATITA
Kemampuan berbicara merupakan keterampilan mental-motorik. Dengan kata lain, bicara tidak hanya melibatkan fungsi otot bicara dan sekumpulan bunyi saja, tapi juga melibatkan fungsi mental yaitu memahami arti dari bunyi yang dihasilkan. Inilah berbagai kemampuan berkomuikasi yang ditunjukkan anak batita: 

* Bicara membeo. Jika anak usia ini sering meniru kata yang diucapkan orang dewasa atau anak lain seperti halnya seekor burung beo, itu karena ia baru bisa meniru bunyi tapi belum memiliki kemampuan mental komunikasi.

* Paham benda dan fungsinya baru secara konkret. Misalnya gelas untuk minum atau pulpen untuk menulis. Ia belum bisa memahami kata-kata abstrak seperti tanggung jawab atau stres. 

* Perbendaharaan kata terbatas. Anak batita awal atau pertengahan (12-18 bulan) malah mungkin belum bisa berkata-kata sama sekali. Itulah sebabnya, komunikasi yang kerap dilakukan anak usia ini bersifat nonverbal. 

* Berperilaku tak terduga. Keterbatasan si batita berkomunikasi secara verbal memunculkan banyak perilaku tak disangka-sangka. Misalnya melakukan protes dengan cara mengganggu orang tuanya yang sedang membaca koran karena sibuk sendiri dan tidak memperhatikan dirinya.

* Daya tangkapnya belum sebaik anak prasekolah atau sekolah. Tak heran banyak anak bingung saat mendapat larangan maupun perintah yang merupakan pertanda ia belum mengerti secara utuh ucapan orang tuanya. 
* Meski sudah bisa bicara, bukan berarti sudah paham benar arti dan penggunaan kata-kata. Contohnya, "bola" bukan sebagai bola yang bentuknya bulat saja, melainkan untuk semua mainannya. Atau menyebut "teh" untuk semua minuman.

* Hanya bisa menangkap pesan-pesan singkat. Agar anak tidak bingung, orang tua harus membatasi diri pada ungkapan "ya" sebagai tanda setuju dan "tidak" sebagai larangan. 

AGAR PESAN SAMPAI
 
* Hindari intonasi bernada rendah atau meninggi.
Bicaralah secara jelas dan tegas tapi tidak membentak. Nada rendah boleh dipakai jika memang maksudnya menyuruh anak tidak berisik. Lakukanlah pengulangan terhadap isi pesan sampai anak paham.

* Barengi dengan ekspresi wajah.
Ini berfungsi sebagai penegas dari pesan itu. Seperti mata berbinar dan mulut lebar tanda gembira, atau tampang cemberut sebagai ungkapan keberatan terhadap perilaku negatif anak.

* Manfaatkan gerakan tubuh.
Contohnya, dinginnya kulkas bisa dijelaskan dengan pura-pura menggigil. Lalu pedasnya sambal dengan menjulurkan lidah sambil berkata "Huhah...huhah."

* Gunakan bantuan tangan.
Peragaan dengan tangan salah satunya bermanfaat untuk mengenalkan bentuk pada anak. Seperti mempertemukan ujung telunjuk dan jempol di tangan kanan dan kiri untuk menunjukkan bentuk bundar. Minta anak supaya meniru gerakan-gerakan tersebut. 

* Sejajarkan posisi tubuh.
Posisi tubuh orang dewasa yang sejajar dengan tinggi anak membuatnya mudah menerima pesan. Itu karena ia dapat melihat gerakan bibir dan mimik wajah orang tuanya. Caranya, dengan berjongkok atau condongkan badan ke depan.

* Tatap mata anak.
Tatapan mata dengan pandangan kasih membuat anak merasa diperhatikan yang memudahkannya menyampaikan sesuatu. Cara lain adalah merangkul atau menggendongnya. Sentuhan hangat semacam ini akan membuat anak merasa aman dan nyaman, sehingga ia pun terbantu menyerap pesan orang tuanya. 

* Hindari aksesori menyeramkan.
Kalau anak takut saat bertatap muka dengan orang dewasa, bukan tidak mungkin penyebabnya adalah penampilan si orang dewasa yang di mata anak sangat menyeramkan. Misalnya karena memakai kacamata berbingkai lebar, aksesori metal yang besar, topi lebar, dan sebagainya. 

* Gunakan alat bantu. 
Anak usia ini masih berpikir konkret. Penggunaan alat bantu sesekali bisa digunakan. Contohnya, tunjukkan bilah gunting yang tajam kala menjelaskan gunting bisa melukai tangannya. Anak bisa mengasosiasikan guntingan kertas sebagai bukti konkret dari tajamnya gunting dan kemungkinannya melukai tangan. 

KESALAHAN DAN HAMBATAN
 
* Waktu Bertemu Sedikit
Kesibukan orang tua bekerja kerap menyulitkannya untuk meluangkan waktu berkomunikasi dengan anak. Apalagi bila jarak rumah dan tempat kerja relatif jauh ditambah hambatan lalu lintas di mana-mana, mau tidak mau berangkat harus pagi-pagi sekali dan pulang larut malam. Akibatnya, anak enggan berkomunikasi dan sulit sekali mengembangkan keterampilan berbahasanya.

* Terlambat Mengajak Bicara
Banyak orang tua menaruh sikap kurang peduli dengan perlunya menjalin komunikasi sejak awal kehadiran anak. Padahal anggapan bahwa anak baru bisa diajak berkomunikasi kalau sudah pandai bicara jelas keliru. Wajar saja jika suatu saat anak berdiam diri karena marah pada orang tuanya dan butuh tanggapan segera.

* Pengenalan 2 Benda Sekaligus
Contohnya mengenalkan sendok dan garpu sekaligus. Anak akan bingung, mana yang sendok dan mana yang garpu. Akibatnya, bukan tidak mungkin anak akan menyebutnya terbolak-balik, sendok jadi garpu dan sebaliknya.

* Salah Melafalkan Kata 
Sering kan, orang tua malah ikut-ikutan jadi anak kecil dengan melafalkan kata tertentu secara salah. Misalnya, "susu" dibilang "cucu", "motor" dibilang "motol", dan sebagainya. Yang benar, sekalipun anak menyebut "susu" dengan "cucu", orang tua tetaplah konsisten menyebut "susu" agar anak tahu bagaimana pengucapan yang benar dan menirunya.
***Saeful Imam. Ilustrator: Pugoeh

{ Dapatkan DVD terapi gelombang otak untuk membantu mempercepat penyembuhan penyakit , klik link di bawah ini.....}
Sumber : www.gelombangotak.com/mempercepat_penyembuhan_penyakit.htm

Kamis, 21 Juli 2011

Pesan Sang Ayah

Dahulu kala ada 2 orang kakak beradik. Sebelum ayah mereka meninggal , ia berpesan 2 hal :
1.    Jangan penah menagih utang kepada orang yang berutang pada mu dan
2.    Jika pergi dari rumah ke toko jangan sampai muka mu terkena sinar matahari
Waktu berjalan terus. Dan kenyataan terjadi bahwa beberapa tahun setelah ayahnya meninggal anak yang sulung bertambah kaya sedangkan yang bungsu menjadi semakin miskin. Ibunya yang masih hidup menanyakan hal itu kepada mereka. Jawab anak yang bungsu: ini karena saya mengikuti pesan ayah. Ayah berpesan bahwa saya tidak boleh menagih utang kepada orang yang berutang pada ku, dan akibat nya modal ku susut karena orang yang berutang pada ku tidak membayar sementara aku tidak boleh menagih. Juga ayah berpesan supaya kalau saya pergi atau pulang dari rumah ke toko dan sebaliknya tidak boleh terkena matahari. Akibatnya saya harus naik becak atau andong. Sebetulnya dengan jalan kaki saja cukup, tetapi karena pesan ayah demikian, akibatnya pengeluaran ku bertambah.
Kepada anak sulung yang bertambah kaya, ibunya pun bertanya hal yang sama. Jawab anak sulung: ini semua karena saya menepati pesan ayah. Karena ayah berpesan supaya saya tidak menagih kepada orang yang berutang kepada saya, saya tidak memberikan pinjaman kepada orang lain sehingga modal tidak susut. Ayah juga berpesan agar jika saya berangkat ke toko atau pulang dari toko saya tidak boleh terkena sinar matahari. Dengan demikian saya berangkat ke toko sebelum matahari terbit dan pulang sesudah matahari terbenam. Akibatnya toko saya buka sebelum toko lain buka dan tutup jauh sesudah toko lain tutup. Dengan kebiasaan seperti itu, orang akhirnya tahu dan toko ku lebih laris karena mempunyai jam kerja yang lebih lama.

{ Dapaykan DVD terapi gelombang otak untuk melakukan perubahan dari diri sendiri , klik link di bawah ini.......}
Sumber : www.gelombangotak.com/Merubah_diri_hipnotis.htm