Biasanya Siska selalu ceria sepulang bermain. Tapi kali ini wajah gadis kecil berusia 8 tahun itu berurai air mata. "Meta nggak mau main lagi sama Siska, Ma..." isaknya mengadu. Masih menurut pengaduan Siska, teman-temannya yang lain pun menolak bermain bersamanya. Kasihan.
Mendengar hal itu, sang ibu diam-diam menyimpan kekuatiran. Akan terganggukah hubungan sosial putrinya?
Rasanya tak ada orangtua yang senang mendengar anaknya tak punya teman. Apalagi kalau ia mengeluhkan hal ini sambil tersedu-sedu. Padahal, pertemanan penting artinya bagi perkembangan sosialisasi anak di usia ini. Di samping perasaan sedih, kadang muncul juga perasaan tak bisa menerima. Mengapa anakku bisa tak punya teman? Apalagi jika selama ini orangtua menilai anaknya cukup supel.
Belum tentu dikucilkan. Sebelum menasihati anak, ada baiknya Anda mencari tahu dulu apa yang sesungguhnya terjadi. Mengapa teman-teman anak tak mau lagi bermain dengannya? Ada apa dengan mereka? Ada apa pula dengan anak Anda? Hindari langsung membuat kesimpulan hanya dari cerita anak. Sebab, sebuah pertengkaran kecil antara anak dan teman baiknya bisa saja membuatnya kesepian dan merasa dikucilkan dari pergaulan -– walaupun sebenarnya mereka tak berkeberatan atas kehadiran anak Anda.
Sumber terbaik untuk memperoleh informasi berimbang mengenai kasus ini adalah teman-teman anak. Mintalah mereka menceritakan kejadian yang sebenarnya, sehingga Anda tahu mengapa anak menuduh kawan-kawannya tak menyukainya dan enggan bermain bersamanya. Berdasarkan informasi tersebut, barulah Anda bisa membuat penilaian -– apakah tuduhan anak berlebihan atau tidak. Kalau hasil penilaian ternyata lebih baik daripada cerita anak (kenyataannya, ia masih punya banyak teman), Anda bisa menenangkan anak dengan memeluknya dan mengatakan, "Coba tebak apa kata teman-temanmu? Mereka senang bermain denganmu, Sayang!"
Lalu bagaimana jika anak benar-benar tak punya teman? Pertama, Anda bisa menanyakan, mengapa ia sampai mengira tak seorang pun mau menjadi temannya? Dengarkanlah seluruh penjelasan ’versi’ anak, walaupun penjelasan itu tak menjawab pertanyaan Anda dengan tepat. Adakah, misalnya, anak bercerita bahwa teman-teman menganggapnya sok pemimpin, atau menganggapnya pemarah?
Untuk mengecek kebenaran cerita anak, Anda perlu juga menyaksikan sendiri bagaimana perilaku anak saat bergaul dengan teman-temannya. Apakah ia mudah bergaul dan ramah, atau sebaliknya suka memaksa dan galak? Maukah ia berbagi? Apakah ia tak mengikuti aturan? Setelah menyaksikan sendiri cara bergaul anak, tanyalah diri Anda: bersediakah Anda bermain bersamanya, andai Anda seusia mereka?
Mengakui kekurangan anak, bagi orangtua, kadang memang berat. Tapi jika ingin situasi membaik, Anda harus jujur terhadap diri sendiri, juga anak Anda. Ini adalah langkah awal untuk membantu anak mengatasi masalah dalam pergaulan sosialnya. Langkah Anda selanjutnya? Tentu membantu anak mengatasi kekurangannya dalam menjalin hubungan sosial, misalnya:
Tak suka berbagi. Anda bisa mengajarkan cara berbagi di rumah. Mintalah anak memberikan sebagian makanannya untuk Anda, atau meminjamkan mainan kepada saudaranya. Bila anak bersedia dan mampu melakukannya dengan baik, beri pujian. Lalu yakinkan anak, bahwa dia juga bisa melakukannya pada teman-temannya.
Terlalu agresif. Anda bisa mengajarkan cara berinteraksi tanpa memaksa. Beritahu cara mengendalikan emosi. Misalnya, tak memukul teman walau sedang kesal. Mintalah agar anak mau mendengarkan ucapan teman-temannya, jangan bicara terus tanpa memberi teman kesempatan bicara.
Menarik diri. Anda bisa mengingatkan anak, bahwa dirinya menyenangkan dan punya kelebihan. Jadi, untuk apa menarik diri? Ajarkan juga cara memulai percakapan kecil dengan teman. Misalnya dengan mengatakan, "Aku suka baju kamu", atau "Kamu mau nggak main boneka sama aku?" Ajak anak berlatih bicara dengan Anda di rumah, sampai ia lancar mengucapkan kalimat pembuka percakapan.
Kasar dan berisik. Anak seusia ini mungkin belum sadar, sikap kasar dan berisik membuat teman-temannya menjauh. Bahkan mungkin anak menganggapnya baik, karena kadang mengundang gelak tawa dan keriuhan. Karenanya, bilang saja padanya bahwa perilaku seperti itu memang bisa mengundang tawa. Tapi bisa juga membuat orang terganggu.
Terlihat tak ramah. Latihlah anak Anda berkomunikasi secara positif. Misalnya, beri saran agar ia lebih sering tersenyum, menatap mata, dan menegakkan kepala waktu berbicara dengan teman. Ajarkan pula cara menunjukkan persetujuan atas pendapat atau sikap teman-temannya –- kalau memang ia setuju.
Tak percaya diri. Anak seusia ini mungkin belum sadar bahwa sikapnya yang serba canggung dan tak percaya diri membuat orang malas berdekatan dengannya. Untuk menumbuhkan kayakinan dan rasa percaya dirinya, ajak ia bergabung dengan kelompok kegiatan yang disukai. Apakah itu berkesenian, berolahraga atau berorganisasi.
Selamat mencoba! Semoga setelah ini anak Anda semakin disukai teman-temannya.
{ Dapatkan CD terapi gelombang otak untuk membuka & mempperkuat aura , klik link di bawah ini....}
Sumber : www.gelombangotak.com/membuka_aura.htm
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar