Masih ingat masa-masa bahagia bersama kakek dan nenek dulu? Balita Anda pun bisa menikmati pengalaman serupa. Bagaimana caranya?
Bagi balita yang tinggal dekat dengan rumah kakek-nenek, biasanya tak akan timbul masalah kurang dekat atau kurang akrab di antara mereka. Tidak demikian halnya jika rumah kakek-nenek jauh. Sering ada perasaan 'asing', kadang malah takut, jika balita dipertemukan dengan kakek-neneknya. Apalagi jika sejak awal kita tidak mengenalkan sosok kakek-nenek kepada anak.
Padahal, tentu, kita tak ingin hubungan darah itu terputus. Mungkin terbersit dalam pikiran kita bagaimana cara mendekatkan si kecil dengan kakek-neneknya. Namun lagi-lagi, hambatan jarak dan waktu sering menjadi penghalang. Jarak yang terlalu jauh menyebabkan biaya untuk bertemu menjadi tinggi. Belum lagi kehidupan kota yang kadang membuat kesibukan kita sangat padat. Balita tentunya belum bisa dilepaskan bepergian sendiri, sekalipun ia termasuk mandiri.
Dalam keadaan seperti ini, kita dituntut untuk punya kreativitas tinggi. Terutama jika tak ingin hubungan antara cucu dengan kakek-neneknya terputus begitu saja. Meski ada jarak memisahkan mereka, jika memang kita tak bisa berkunjung, kita bisa menggunakan cara-cara lain untuk membuat jarak itu tidak terasa. "Bagaimanapun juga, anak harus tahu bagaimana silsilah keluarganya. Dan itu bisa diketahui dengan mengenalkannya pada orangtua dari orangtuanya," jelas Wulansari, Psi. "Apalagi jika dikaitkan dengan agama, silaturahmi antar garis keturunan darah sebaiknya jangan terputus. Jadi, orangtualah yang harus terlibat banyak, jika ingin anaknya punya hubungan yang dekat dengan kakek-neneknya."
Membangun Percaya Diri
Jika tak bisa bertemu langsung atau berkunjung sering-sering, banyak cara lain yang bisa dilakukan. Misalnya berkomunikasi lewat telepon. Cara ini cukup efektif. Luangkan waktu bersama si kecil setidaknya seminggu sekali untuk menghubungi mereka. Jika anak sudah terbiasa berkomunikasi, tentu akan timbul keinginan untuk melihat dan bertemu dengan mereka. Selain itu jika sudah kenal suara kakek-nenek, anak pasti akan bisa merasakan kehangatan dan kasih sayang mereka, walaupun terpisah jarak yang jauh.
Bisa juga dengan cara lain, misal menjemput kakek-nenek untuk bermalam selama beberapa hari di rumah kita. Menjemput kakek-nenek tak perlu kita lakukan sendiri, namun bisa meminta pertolongan saudara lain untuk melakukannya. Tak ada salahnya juga jika anak sekali-sekali dibiarkan bermalam di rumah kakek-neneknya, tanpa kita dampingi. Tentunya jika anak sudah bisa mandiri.
"Bermalam di rumah kakek-nenek tanpa didampingi orangtua bisa mendekatkan hubungan cucu dan kakek-nenek," terang psikolog dari Yayasan Kita dan Buah Hati ini. "Anak bisa belajar tentang silsilah dan latar belakang keluarga yang membuat mereka punya rasa memiliki keluarga." Kakek-nenek biasanya juga punya waktu yang lebih banyak, sehingga mereka bisa bermain bersama dan mengajari membaca atau ketrampilan lain untuk balita. Ini meningkatkan perkembangan dan ketrampilan balita. Selain membantu anak belajar lebih mandiri, kasih sayang yang diberikan kakek-nenek akan membangun rasa percaya diri anak jika berada dengan orang lain tanpa orangtuanya.
Bagi orangtua sendiri ada beberapa keuntungan yang bisa didapat. Misalnya, mendapat tips bagaimana merawat anak dengan baik. Juga, saran-saran tentang bagaimana mengasuh anak. Selain itu, menurut penelitian, kakek-nenek yang sering bertemu, bermain, dan menghabiskan waktu cucunya cenderung lebih sehat, bahagia, dan aktif. Bahkan tak terlihat bahwa mereka sudah mulai tua.
Tetapi dari semuanya yang paling penting menurut Wulansari adalah komunikasi. "Kedekatan antara cucu dengan kakek-neneknya pasti akan terjalin jika ada komunikasi di antara mereka. Karena itu bangunlah komunikasi dengan mereka sedini mungkin."
8 Tips Dekatkan Balita dan Kakek-Nenek
Bagi balita yang tinggal dekat dengan rumah kakek-nenek, biasanya tak akan timbul masalah kurang dekat atau kurang akrab di antara mereka. Tidak demikian halnya jika rumah kakek-nenek jauh. Sering ada perasaan 'asing', kadang malah takut, jika balita dipertemukan dengan kakek-neneknya. Apalagi jika sejak awal kita tidak mengenalkan sosok kakek-nenek kepada anak.
Padahal, tentu, kita tak ingin hubungan darah itu terputus. Mungkin terbersit dalam pikiran kita bagaimana cara mendekatkan si kecil dengan kakek-neneknya. Namun lagi-lagi, hambatan jarak dan waktu sering menjadi penghalang. Jarak yang terlalu jauh menyebabkan biaya untuk bertemu menjadi tinggi. Belum lagi kehidupan kota yang kadang membuat kesibukan kita sangat padat. Balita tentunya belum bisa dilepaskan bepergian sendiri, sekalipun ia termasuk mandiri.
Dalam keadaan seperti ini, kita dituntut untuk punya kreativitas tinggi. Terutama jika tak ingin hubungan antara cucu dengan kakek-neneknya terputus begitu saja. Meski ada jarak memisahkan mereka, jika memang kita tak bisa berkunjung, kita bisa menggunakan cara-cara lain untuk membuat jarak itu tidak terasa. "Bagaimanapun juga, anak harus tahu bagaimana silsilah keluarganya. Dan itu bisa diketahui dengan mengenalkannya pada orangtua dari orangtuanya," jelas Wulansari, Psi. "Apalagi jika dikaitkan dengan agama, silaturahmi antar garis keturunan darah sebaiknya jangan terputus. Jadi, orangtualah yang harus terlibat banyak, jika ingin anaknya punya hubungan yang dekat dengan kakek-neneknya."
Membangun Percaya Diri
Jika tak bisa bertemu langsung atau berkunjung sering-sering, banyak cara lain yang bisa dilakukan. Misalnya berkomunikasi lewat telepon. Cara ini cukup efektif. Luangkan waktu bersama si kecil setidaknya seminggu sekali untuk menghubungi mereka. Jika anak sudah terbiasa berkomunikasi, tentu akan timbul keinginan untuk melihat dan bertemu dengan mereka. Selain itu jika sudah kenal suara kakek-nenek, anak pasti akan bisa merasakan kehangatan dan kasih sayang mereka, walaupun terpisah jarak yang jauh.
Bisa juga dengan cara lain, misal menjemput kakek-nenek untuk bermalam selama beberapa hari di rumah kita. Menjemput kakek-nenek tak perlu kita lakukan sendiri, namun bisa meminta pertolongan saudara lain untuk melakukannya. Tak ada salahnya juga jika anak sekali-sekali dibiarkan bermalam di rumah kakek-neneknya, tanpa kita dampingi. Tentunya jika anak sudah bisa mandiri.
"Bermalam di rumah kakek-nenek tanpa didampingi orangtua bisa mendekatkan hubungan cucu dan kakek-nenek," terang psikolog dari Yayasan Kita dan Buah Hati ini. "Anak bisa belajar tentang silsilah dan latar belakang keluarga yang membuat mereka punya rasa memiliki keluarga." Kakek-nenek biasanya juga punya waktu yang lebih banyak, sehingga mereka bisa bermain bersama dan mengajari membaca atau ketrampilan lain untuk balita. Ini meningkatkan perkembangan dan ketrampilan balita. Selain membantu anak belajar lebih mandiri, kasih sayang yang diberikan kakek-nenek akan membangun rasa percaya diri anak jika berada dengan orang lain tanpa orangtuanya.
Bagi orangtua sendiri ada beberapa keuntungan yang bisa didapat. Misalnya, mendapat tips bagaimana merawat anak dengan baik. Juga, saran-saran tentang bagaimana mengasuh anak. Selain itu, menurut penelitian, kakek-nenek yang sering bertemu, bermain, dan menghabiskan waktu cucunya cenderung lebih sehat, bahagia, dan aktif. Bahkan tak terlihat bahwa mereka sudah mulai tua.
Tetapi dari semuanya yang paling penting menurut Wulansari adalah komunikasi. "Kedekatan antara cucu dengan kakek-neneknya pasti akan terjalin jika ada komunikasi di antara mereka. Karena itu bangunlah komunikasi dengan mereka sedini mungkin."
8 Tips Dekatkan Balita dan Kakek-Nenek
- Kenalkan sedini mungkin
Kenalkan anak sedini mungkin dengan kakek-neneknya, agar anak menyadari bahwa selain orangtuanya, masih ada anggota keluarga lain, kakek-nenek. - Seringlah berkunjung
Jika rumah kakek-nenek dekat, kunjungilah secara teratur bersama anak, agar mereka terbiasa berhubungan dengan kakek-neneknya. Jika cukup jauh, rencanakan dan sisihkan waktu untuk mengunjungi mereka, misal satu bulan sekali. Jadikan acara ini program tetap keluarga. Mintalah kakek-nenek untuk berkunjung ke rumah juga, jika memungkinkan. - Gunakan teknologi
Teknologi membuat balita lebih mudah berhubungan dengan kakek-nenek, meski dipisahkan oleh jarak. Gunakan telepon, atau jika ada, e-mail. Kirimkan foto atau VCD si kecil ketika ia sedang melakukan kegiatan yang disenanginya. Bisa juga, mainkan rekaman cerita ninabobo dari kakek atau nenek sebelum anak tidur. - Tulis surat
Kalau si kecil suka menerima surat atau kartupos, kirimilah sekotak kartupos dan perangko kepada kakek-nenek. Minta mereka mengirim surat atau kartupos itu secara teratur kepada anak. Dorong juga anak untuk menulis surat atau membuat gambar untuk dikirimkan secara teratur kepada kakek-nenek. - Letakkan foto kakek-nenek
Kenalkan anak pada kakek-neneknya dengan meletakkan foto kakek-nenek di ruang tamu atau keluarga, sehingga anak bisa melihatnya dengan jelas. Jika ada, letakkan juga album foto keluarga di tempat yang mudah dijangkau. Ceritakan tentang kakek-nenek kepada anak di waktu-waktu tertentu, misal mengenai kehidupan yang kini dijalani, hobi mereka, makanan kesenangan, atau film favorit. - Buat Silsilah
Anak biasanya suka belajar mengenai nenek moyang atau kerabat mereka. Mintalah kakek-nenek bercerita mengenai keluarga mereka waktu masih kanak-kanak. Minta juga untuk menggambarkan silsilah atau pohon keluarga kepada si kecil, agar anak tahu latar belakang keluarga dan perjalanan hidup atau sejarah keluarga. - Mengingat hari istimewa
Ajari anak mengingat hari istimewa kakek-neneknya. Misal kapan mereka berulang tahun, ulang tahun pernikahan, dsb. Dengan cara seperti ini anak belajar menghargai sebuah peristiwa bersejarah dalam keluarga. - Ajarkan ketrampilan
Biasanya kakek atau nenek punya ketrampilan khusus, misal membuat origami, ukiran kayu, membatik, membuat wadah ketupat, bordir, dsb. Mereka pasti mau mewariskan ketrampilan itu kepada cucunya. Berikan waktu dan alat-alat yang anak perlukan untuk belajar ketrampilan itu dari kakek-nenek. - Ajak ke pertemuan keluarga
Jika memungkinkan, ajak anak ikut serta dalam acara kumpul-kumpul atau arisan keluarga, supaya ia lebih dekat dengan kakek-nenek dan kerabat lainnya.
Beri Toleransi
Meski menginginkan si kecil dekat dengan kakek-nenek, pola asuh yang diterapkan keduanya kadang sering berbeda dengan pola asuh yang kita terapkan. Kadang membuat aturan yang kita terapkan mengenai hal-hal tertentu mentah kembali.
Biasanya, karena senang dengan kehadiran cucunya, kakek-nenek cenderung lebih longgar dalam hal apa saja. Entah itu tentang peraturan atau makanan. Bahkan tak jarang, di rumah kakek-nenek anak bebas melakukan apa saja atau makan apa saja. Sementara jika di rumah sendiri tidak demikian. Apalagi jika kehadiran itu hanya saat-saat liburan saja.
"Orangtua memang harus mengantisipasinya. Katakan pada kakek-nenek untuk tidak membiarkan anak melakukan atau makan semaunya," tutur Wulansari, Psi. "Tetapi harus disertai penjelasan apa sebabnya. Cara menjelaskannya jangan seperti menggurui." Selain itu juga kita bisa mengingatkan anak agar tak bersikap semaunya saat di rumah kakek-nenek. Ingatkan bahwa itu hanya 'selingan' dan tak bisa dilakukan setiap hari. Jadi anak akan terbiasa bersikap seperti yang telah kita ajarkan. Begitu juga dalam hal disiplin yang biasa diterapkan di rumah.
Yang perlu diingat, apapun yang dilakukan kakek-nenek pada cucunya, semua itu merupakan wujud rasa kasih sayang mereka. Meski tak selalu sesuai dengan pola asuh kita, tak ada salahnya jika sesekali memberikan toleransi. Terutama untuk menunjukkan bahwa bagaimanapun juga kakek-nenek punya tempat dalam keluarga dan masih dihargai. (Alfa/berbagai sumber)
{ Dapatkan CD terapi gelombang otak untuk menarik cinta lawan jenis anda , klik link di bawah ini....}
Sumber : www.gelombangotak.com/Menarik lawan jenis.htm

Tidak ada komentar:
Posting Komentar