Tampilkan postingan dengan label kakek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kakek. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 Agustus 2011

Bunda, Kakek Kok "Tidur" Terus?

Anak balita sudah berkembang daya pikirnya. Pertanyaan seputar kematian pun mulai mereka ajukan. Orangtua sering kebingungan untuk menjawabnya, bagaimana menerangkannya dengan tepat?

Kematian seseorang adalah suatu peristiwa dalam kehidupan yang harus dihadapi. Bahkan anak-anak pun mau tidak mau pasti akan melihat peristiwa ini dalam perjalanan hidupnya. Seiring dengan perkembangannya, beberapa anak akan mengajukan apa dan bagaimana kematian itu. Untuk memudahkan pemahaman mereka, sebagian orangtua akan menerangkan bahwa si jenazah 'sedang tidur dan mungkin tidak bangun'.

Menyikapi hal ini, terjadi pro dan kontra cara menerangkan konsep kematian bagi balita. Psikolog Anak Winarini Wilman, Ph.D, berpendapat, "Kematian bagi balita sifatnya masih abstrak". Menurutnya, balita masih berada dalam tahap perkembangan kognitif konkret. Pikirannya baru bisa mengkaji hal-hal konkret seperti makan, tidur, mandi, belajar, bermain. "Dia baru mengerti kematian saat masuk sekolah, atau kira-kira usia 6 tahun. Saat itu perkembangan kognitifnya sudah masuk taraf abstrak."

Jadi menurut Dosen di Fakultas Psikologi UI ini, jika orangtua ingin mengenalkan kematian kepada balita, kaitkan saja dengan sesuatu yang konkret. "Mati itu kan ibarat 'tidur panjang'. Balita sudah tahu apa itu tidur. Jadi tentang kematian nenek, bilang saja nenek sedang tidur lama sekali, dan tidak bangun-bangun lagi," terang Winarini.

Tetapi para psikolog Barat. Dalam buku What to Expect The Toddler Years, menganjurkan orang tua berbicara jujur saja tentang kematian, meski dalam bahasa sederhana. "Kakek sangat sakit dan sekarang beliau meninggal. Kakek nggak bisa bertemu kita lagi." Kalimat ini, menurut para psikolog Barat, cukup bagi balita. Kalau anak meminta, baru kita beri penjelasan lebih terperinci.

Mungkin pendapat ini dapat diaplikasikan untuk anak yang lebih besar, atau mereka yang sudah duduk di TK. Sedangkan konsep 'sedang tidur panjang', dapat Anda gunakan untuk menerangkannya pada anak yang lebih kecil. Jadi, orangtua juga perlu mempertimbangkan sampai sejauh mana daya nalar si kecil.

Ditinggal Mati Orang Dekat
Bagi Wina, kesedihan seorang balita ditinggal mati orang atau binatang kesayangannya, akan berbeda dengan kesedihan yang dirasakan oleh orang dewasa. "Meski seorang balita kehilangan nenek, kakek, atau hewan kesayangan, dia tidak akan mengalami kesedihan seperti halnya orang dewasa," ungkapnya.

Dalam waktu yang tidak begitu lama, jika posisi yang dijalani almarhum tergantikan orang lain, dia akan lupa. Misalnya, setiap pagi ia selalu digendong neneknya. "Jika sejak neneknya meninggal peran itu cepat digantikan tante, misalnya, balita tidak akan merasa kehilangan nenek."

Tapi, cerita menjadi lain jika yang meninggal adalah ibunya. Balita akan lebih merasa kehilangan, apalagi kalau hubungan mereka dekat. Untuk itu ayah balita harus mencari sosok pengganti ibu yang sudah dikenal dan disayang balita. Sosok inilah yang mengambil alih peran ibu.

"Sosok ini bisa tante atau nenek. Jika segala kebutuhan balita terpenuhi oleh subtitute mother, lama-lama dia tidak merasa kehilangan lagi, bahkan lebih mudah melupakan," ujar Wina. Setelah itu, sebaiknya keluarga segera kembali kepada rutinitas sehari-hari, misal, balita segera kembali ke pre-school-nya. Cara ini membuat balita merasa hidupnya normal kembali dan membuat dia lebih enak.

Pantang dalam Menjelaskan Kematian
Dalam memperkenalkan kematian pada balita, berikut ini beberapa pertimbangkan mengenai pantangan dalam membicarakan kematian dengan anak-anak Anda:
1.       Jangan samakan mati dengan tidur.
Hindari metafora seperti 'orang pergi tidur' atau 'istirahat selamanya'. Jika Anda sendiri bingung antara kematian dan tidur, mereka akan jadi takut tidur karena tidak akan bangun lagi.
2.       Jangan mengatakan seseorang yang mati pergi ke tempat amat jauh.
Anak-anak bisa penasaran mengapa orang yang pergi tidak pamitan. Anak juga akan takut bila melepas orang dewasa yang akan bepergian -- untuk dinas atau liburan - lantaran tak akan kembali lagi.
3.       Jangan katakan bahwa seseorang meninggal karena sakit.
Anak-anak pra-sekolah tak bisa membedakan antara sakit biasa dan sakit parah. Karena itu jelaskan pada anak bahwa sakit parah saja yang mengakibatkan kematian. Selain itu, kita semua bisa menderita sakit ringan, namun bisa cepat sembuh.
4.       Jangan katakan hanya orangtua yang meninggal.
Anak-anak bisa mendapati bahwa orang muda pun meninggal. Lebih baik katakan, "Sebagian besar orang berumur panjang, tapi ada juga yang tidak berumur panjang.
Ibu berharap, kamu, ibu dan ayah berusia panjang."
5.       Jangan menghindari pembicaraan tersebut.
Jika anak Anda mengajukan pertanyaan mengenai kematian, hindari godaan untuk mengatakan, "Oh, kamu tak perlu cemaskan itu sekarang." Usahakan agar anak Anda mengerti dengan cara memberi kesempatan memperbincangkan topik tersebut secara terbuka.


Mengajak Balita Melayat
1.       Sebenarnya tidak perlu mengajak balita melayat atau ke prosesi pemakaman. Acara ini tidak membawa efek positif, malah bikin dia kelelahan.
2.       Jika balita memang tidak bisa ditinggal/dititipkan, bolehlah membawanya melayat. Di sana balita mungkin bertanya ini-itu. Siapkah Anda menjawabnya? Jika Anda tengah berduka dan pikiran kurang jernih, sebaiknya tidak menjawab asal-asalan. Tunda hingga pikiran jernih kembali.
3.       Suasana di rumah almarhum nenek, seperti melihat mama pingsan, tante menangis meraung-raung, dll, merusak emosi balita. Sebaiknya jauhkan balita dari pemandangan ini.
4.       Cerita tentang almarhum yang meninggal kurang wajar (karena kecelakaan, dibunuh, bunuh diri, dan lainnya), tak baik didengar dan dimengerti balita. Sebaiknya hindari.
5.       Ada kalanya balita enggan dekat-dekat jenazah. Jika balita menolak, jangan paksa dia mendekat atau memberi ciuman terakhir. Jika dipaksa, dia bisa trauma. Lebih baik dekap, tenangkan, dan bawa balita menjauh.
6.       Jangan jadikan mayat sesuatu yang menakutkan, misal berkata, "Ih, takut tuh, ada orang mati!"
7.       Melihat orang yang dicintainya dimasukkan ke dalam tanah bisa menjadi pengalaman traumatik bagi balita.
Daripada dilibatkan dalam prosesi pemakaman, lebih baik balita dibawa berziarah setelah prosesi pemakaman selesai. Di sini kita bisa mengajaknya ikut mendoakan almarhum.

{ Dapatkan CD terapi gelombang otak untuk terapi anak hiperaktif , klik link di bawah ini.....} 
Sumber : www.gelombangotak.com/General-Brainwave_Kumpulan_Semua_Audio_gelombang_Otak.htm

Selasa, 02 Agustus 2011

Aku Sayang Kakek-Nenek!

Masih ingat masa-masa bahagia bersama kakek dan nenek dulu? Balita Anda pun bisa menikmati pengalaman serupa. Bagaimana caranya?

Bagi balita yang tinggal dekat dengan rumah kakek-nenek, biasanya tak akan timbul masalah kurang dekat atau kurang akrab di antara mereka. Tidak demikian halnya jika rumah kakek-nenek jauh. Sering ada perasaan 'asing', kadang malah takut, jika balita dipertemukan dengan kakek-neneknya. Apalagi jika sejak awal kita tidak mengenalkan sosok kakek-nenek kepada anak.

Padahal, tentu, kita tak ingin hubungan darah itu terputus. Mungkin terbersit dalam pikiran kita bagaimana cara mendekatkan si kecil dengan kakek-neneknya. Namun lagi-lagi, hambatan jarak dan waktu sering menjadi penghalang. Jarak yang terlalu jauh menyebabkan biaya untuk bertemu menjadi tinggi. Belum lagi kehidupan kota yang kadang membuat kesibukan kita sangat padat. Balita tentunya belum bisa dilepaskan bepergian sendiri, sekalipun ia termasuk mandiri.

Dalam keadaan seperti ini, kita dituntut untuk punya kreativitas tinggi. Terutama jika tak ingin hubungan antara cucu dengan kakek-neneknya terputus begitu saja. Meski ada jarak memisahkan mereka, jika memang kita tak bisa berkunjung, kita bisa menggunakan cara-cara lain untuk membuat jarak itu tidak terasa. "Bagaimanapun juga, anak harus tahu bagaimana silsilah keluarganya. Dan itu bisa diketahui dengan mengenalkannya pada orangtua dari orangtuanya," jelas Wulansari, Psi. "Apalagi jika dikaitkan dengan agama, silaturahmi antar garis keturunan darah sebaiknya jangan terputus. Jadi, orangtualah yang harus terlibat banyak, jika ingin anaknya punya hubungan yang dekat dengan kakek-neneknya."

Membangun Percaya Diri
Jika tak bisa bertemu langsung atau berkunjung sering-sering, banyak cara lain yang bisa dilakukan. Misalnya berkomunikasi lewat telepon. Cara ini cukup efektif. Luangkan waktu bersama si kecil setidaknya seminggu sekali untuk menghubungi mereka. Jika anak sudah terbiasa berkomunikasi, tentu akan timbul keinginan untuk melihat dan bertemu dengan mereka. Selain itu jika sudah kenal suara kakek-nenek, anak pasti akan bisa merasakan kehangatan dan kasih sayang mereka, walaupun terpisah jarak yang jauh.

Bisa juga dengan cara lain, misal menjemput kakek-nenek untuk bermalam selama beberapa hari di rumah kita.
Menjemput kakek-nenek tak perlu kita lakukan sendiri, namun bisa meminta pertolongan saudara lain untuk melakukannya. Tak ada salahnya juga jika anak sekali-sekali dibiarkan bermalam di rumah kakek-neneknya, tanpa kita dampingi. Tentunya jika anak sudah bisa mandiri.

"Bermalam di rumah kakek-nenek tanpa didampingi orangtua bisa mendekatkan hubungan cucu dan kakek-nenek," terang psikolog dari Yayasan Kita dan Buah Hati ini. "Anak bisa belajar tentang silsilah dan latar belakang keluarga yang membuat mereka punya rasa memiliki keluarga." Kakek-nenek biasanya juga punya waktu yang lebih banyak, sehingga mereka bisa bermain bersama dan mengajari membaca atau ketrampilan lain untuk balita. Ini meningkatkan perkembangan dan ketrampilan balita. Selain membantu anak belajar lebih mandiri, kasih sayang yang diberikan kakek-nenek akan membangun rasa percaya diri anak jika berada dengan orang lain tanpa orangtuanya.

Bagi orangtua sendiri ada beberapa keuntungan yang bisa didapat. Misalnya, mendapat tips bagaimana merawat anak dengan baik. Juga, saran-saran tentang bagaimana mengasuh anak. Selain itu, menurut penelitian, kakek-nenek yang sering bertemu, bermain, dan menghabiskan waktu cucunya cenderung lebih sehat, bahagia, dan aktif. Bahkan tak terlihat bahwa mereka sudah mulai tua.

Tetapi dari semuanya yang paling penting menurut Wulansari adalah komunikasi. "Kedekatan antara cucu dengan kakek-neneknya pasti akan terjalin jika ada komunikasi di antara mereka. Karena itu bangunlah komunikasi dengan mereka sedini mungkin."

8 Tips Dekatkan Balita dan Kakek-Nenek
  1. Kenalkan sedini mungkin
    Kenalkan anak sedini mungkin dengan kakek-neneknya, agar anak menyadari bahwa selain orangtuanya, masih ada anggota keluarga lain, kakek-nenek.
  2. Seringlah berkunjung
    Jika rumah kakek-nenek dekat, kunjungilah secara teratur bersama anak, agar mereka terbiasa berhubungan dengan kakek-neneknya. Jika cukup jauh, rencanakan dan sisihkan waktu untuk mengunjungi mereka, misal satu bulan sekali. Jadikan acara ini program tetap keluarga. Mintalah kakek-nenek untuk berkunjung ke rumah juga, jika memungkinkan.
  3. Gunakan teknologi
    Teknologi membuat balita lebih mudah berhubungan dengan kakek-nenek, meski dipisahkan oleh jarak. Gunakan telepon, atau jika ada, e-mail. Kirimkan foto atau VCD si kecil ketika ia sedang melakukan kegiatan yang disenanginya. Bisa juga, mainkan rekaman cerita ninabobo dari kakek atau nenek sebelum anak tidur.
  4. Tulis surat
    Kalau si kecil suka menerima surat atau kartupos, kirimilah sekotak kartupos dan perangko kepada kakek-nenek. Minta mereka mengirim surat atau kartupos itu secara teratur kepada anak. Dorong juga anak untuk menulis surat atau membuat gambar untuk dikirimkan secara teratur kepada kakek-nenek.
  5. Letakkan foto kakek-nenek
    Kenalkan anak pada kakek-neneknya dengan meletakkan foto kakek-nenek di ruang tamu atau keluarga, sehingga anak bisa melihatnya dengan jelas. Jika ada, letakkan juga album foto keluarga di tempat yang mudah dijangkau. Ceritakan tentang kakek-nenek kepada anak di waktu-waktu tertentu, misal mengenai kehidupan yang kini dijalani, hobi mereka, makanan kesenangan, atau film favorit.
  6. Buat Silsilah
    Anak biasanya suka belajar mengenai nenek moyang atau kerabat mereka. Mintalah kakek-nenek bercerita mengenai keluarga mereka waktu masih kanak-kanak. Minta juga untuk menggambarkan silsilah atau pohon keluarga kepada si kecil, agar anak tahu latar belakang keluarga dan perjalanan hidup atau sejarah keluarga.
  7. Mengingat hari istimewa
    Ajari anak mengingat hari istimewa kakek-neneknya. Misal kapan mereka berulang tahun, ulang tahun pernikahan, dsb. Dengan cara seperti ini anak belajar menghargai sebuah peristiwa bersejarah dalam keluarga.
  8. Ajarkan ketrampilan
    Biasanya kakek atau nenek punya ketrampilan khusus, misal membuat origami, ukiran kayu, membatik, membuat wadah ketupat, bordir, dsb. Mereka pasti mau mewariskan ketrampilan itu kepada cucunya. Berikan waktu dan alat-alat yang anak perlukan untuk belajar ketrampilan itu dari kakek-nenek.
  9. Ajak ke pertemuan keluarga
    Jika memungkinkan, ajak anak ikut serta dalam acara kumpul-kumpul atau arisan keluarga, supaya ia lebih dekat dengan kakek-nenek dan kerabat lainnya.

Beri Toleransi
Meski menginginkan si kecil dekat dengan kakek-nenek, pola asuh yang diterapkan keduanya kadang sering berbeda dengan pola asuh yang kita terapkan. Kadang membuat aturan yang kita terapkan mengenai hal-hal tertentu mentah kembali.

Biasanya, karena senang dengan kehadiran cucunya, kakek-nenek cenderung lebih longgar dalam hal apa saja. Entah itu tentang peraturan atau makanan. Bahkan tak jarang, di rumah kakek-nenek anak bebas melakukan apa saja atau makan apa saja. Sementara jika di rumah sendiri tidak demikian. Apalagi jika kehadiran itu hanya saat-saat liburan saja.

"Orangtua memang harus mengantisipasinya. Katakan pada kakek-nenek untuk tidak membiarkan anak melakukan atau makan semaunya," tutur Wulansari, Psi. "Tetapi harus disertai penjelasan apa sebabnya. Cara menjelaskannya jangan seperti menggurui." Selain itu juga kita bisa mengingatkan anak agar tak bersikap semaunya saat di rumah kakek-nenek. Ingatkan bahwa itu hanya 'selingan' dan tak bisa dilakukan setiap hari. Jadi anak akan terbiasa bersikap seperti yang telah kita ajarkan. Begitu juga dalam hal disiplin yang biasa diterapkan di rumah.

Yang perlu diingat, apapun yang dilakukan kakek-nenek pada cucunya, semua itu merupakan wujud rasa kasih sayang mereka. Meski tak selalu sesuai dengan pola asuh kita, tak ada salahnya jika sesekali memberikan toleransi. Terutama untuk menunjukkan bahwa bagaimanapun juga kakek-nenek punya tempat dalam keluarga dan masih dihargai. (Alfa/berbagai sumber)


{ Dapatkan CD terapi gelombang otak untuk menarik cinta lawan jenis anda , klik link di bawah ini....} 
Sumber : www.gelombangotak.com/Menarik lawan jenis.htm