Perilaku pemurah sebenarnya agak kurang populer di kalangan batita. Sebagian anak cenderung bersikap pelit ketimbang bersikap pemurah, sebab ego anak di usia ini masih terhitung tinggi. Mereka menganggap semua barang sebagai miliknya.
Psikolog Anna Surti Ariani yang akrab dipanggil Nina berpendapat, kalaupun ada anak batita yang bersikap pemurah, salah satunya karena ia memang memiliki karakter pemurah. Faktor lainnya, dalam sisi perkembangan sosialnya anak merasa harus membuat senang teman-temannya. Mungkin saja bermain bersama teman-teman sangat menyenangkan buatnya. Kesenangan itu menumbuhkan rasa berbagi yang kemudian mendorongnya memberikan rewards berupa makanan atau benda miliknya. Terlebih jika anak mendapatkan juga balasan menyenangkan dari teman-temannya itu. Misal, teman-temannya jadi senang dan tertawa-tawa riang. Sikap itu menjadi penguat untuk mengulangi perbuatannya.
Boleh jadi kebiasaan ini juga timbul karena pola asuh orang tua yang selalu mengajarkan berbagi kepada anak. Saat sang ayah makan jeruk, ibu dibagi, misalnya. Perilaku tersebut kemudian "dipotret" si anak. Akibatnya, pikiran anak akan terpola, jika anak memiliki sesuatu, dia mesti membaginya kepada orang lain. Perilaku ini akan diwujudkan saat anak bertemu teman sebayanya, ia akan membagikan makanan miliknya kepada sang teman.
Masalahnya di usia ini anak-anak masih belum tahu akan konsep kepemilikan. Mana barang-barang miliknya dan mana pula barang-barang milik orang lain. Apalagi menghargai barang-barang miliknya sendiri. Hal ini bisa dilihat saat anak memberikan seluruh makanan atau mainan miliknya kepada sang teman, sementara dia sendiri tidak memiliki apa-apa. Memang hal ini akan sangat merepotkan orang tua, karena setelah itu anak akan meminta makanan yang sama kepada orang tua. Bukan tidak mungkin, jika ia akan menyerahkan lagi makanan itu kepada sang teman.
Tentu kita tak perlu memarahinya, karena anak sebenarnya hanya berpikir, benda yang ada di tangannya harus dibagi kepada anak lain, dan ia akan menerima balasan dari perilakunya tersebut. Anak tidak pernah terpikir, dirinya tidak memiliki apa-apa lagi.
BERBAGI YANG POSITIF
Menghadapi perilaku yang kelewat pemurah, psikolog dari Jagadnita Consulting ini menyarankan agar selain mengenalkan sikap berbagi, orang tua juga mengenalkan batasan-batasannya. Sikap berbagi dianggap positif jika anak bisa memberikan bagian benda atau makanan yang dimiliki tanpa merugikan dia sendiri. Saat anak memiliki dua balon, ia bisa membagikan salah satunya kepada orang lain. Jangan kedua-duanya.
Mulailah mengajarkan cara tersebut kepada anak, misalnya saat orang tua sedang memakan kue di hadapan si anak, maka orang tua bisa membagi kue tersebut menjadi dua potong lalu berikan kepada si anak seraya berkata, "Ini Ibu punya kue, Ibu potong menjadi dua, satu buat kamu dan satu lagi buat Ibu. Kamu juga kalau punya apa-apa harus berbagi dengan teman-temanmu, tapi jangan kamu berikan semuanya. Kamu juga harus kebagian."
Orang tua juga bisa memperkuat sikap mencintai diri sendiri ini dalam proporsi yang wajar. Saat anak tidak punya apa-apa lagi karena semua makanannya diberikan kepada sang teman, maka orang tua bisa berkata, "Adek sekarang enggak bisa makan kue cokelat lagi, kan, karena punyamu sudah kamu berikan semuanya. Enggak enak, kan? Coba kalau Adek hanya memberikan sebagian kue saja, Adek masih bisa menikmati kue-kue itu juga."
Di sini orang tua perlu menekankan, meski harus berbagi, anak berhak menikmati apa-apa yang dimilikinya. Terlebih jika makanan atau benda itu sangat disukai. "Anak tak perlu merengek-rengek lagi meminta barang yang sama kepada orang tua."
Selain itu, orang tua juga perlu menekankan, tidak semua barang harus bisa dinikmati bersama teman-teman. Saat anak hanya memiliki satu mobil-mobilan saja, maka ia tidak bisa memberikan mainan itu kepada temannya. Yang mungkin bisa dilakukan adalah meminjamkannya untuk sementara.
Jangan lupa, berikan pujian jika anak sudah bisa melakukan kegiatan berbagi yang positif, baik dengan teman maupun saudaranya. Tunjukkan pujian secara spesifik kepada perilaku positif anak, misal, "Aduh, kamu baik sekali mau membagi kue itu dengan kakakmu." Dengan begitu anak akan lebih terdorong untuk melakukannya lagi.
KELEWAT PELIT
Kecemasan juga mungkin melanda orang tua yang anak batitanya pelit minta ampun. Sebetulnya, seperti dikatakan Nina, normal dan wajar saja jika anak berperilaku pelit. Selain karena egonya sedang berkembang, ia juga ingin diakui eksistensinya. Akibatnya, anak lebih mementingkan diri sendiri yang ditunjukkan dengan perilaku pelit.
Ego anak biasanya akan berangsur-angsur turun seiring dengan bertambahnya usia. Itulah sebabnya, Nina bilang, perilaku pelit jangan terlalu dirisaukan. Tak perlu berkecil hati melihat anak-anak lain yang sudah bisa berbagi dengan teman-temannya. Yang penting, berikan pola asuh yang tepat untuk membentuk karakter dan perilaku anak yang positif.
Dengan pola asuh yang tepat, orang tua bisa menekan rasa ego anak hingga tidak bertambah liar. Caranya, dengan mengajarkan berbagi kepada anak-anak. Saat anak-anak memiliki makanan, ajarkan anak untuk membaginya, misal katakan pada anak, "Bagi kuenya, dong." Saat anak membagi kue tersebut berilah pujian kepada anak itu. Selain itu, orang tua juga perlu memberikan contoh konkret. Saat sedang makan kue, orang tua bisa mengambil sebagian kue itu dan diberikan kepada si kecil.
Lebih dari itu, orang tua juga perlu mengajarkan sikap berbagi yang tidak hanya bersifat fisik. Misalnya, main secara bergiliran dan minta izin sebelum meminjam. Secara tidak langsung hal ini mengajarkan bahwa setiap keinginannya tidak selalu bisa dikabulkan saat itu juga.
PEREMPUAN LEBIH PEMURAH?
"Sebenarnya karakter anak tidak membedakan jender," ungkap Nina. Baik anak laki-laki maupun perempuan sebenarnya bisa saja memiliki sifat pemurah, tergantung karakternya masing-masing. Namun demikian, perlu diingat, karakter seseorang juga tidak hanya dipengaruhi oleh bawaan lahir, tapi juga oleh lingkungan dan pola asuh. Budaya Timur umumnya cenderung memperlakukan seorang perempuan dengan lembut. Sementara laki-laki cenderung lebih keras. Perempuan boleh menangis, sedangkan laki-laki tidak boleh menangis. Saat terjadi sesuatu pada anak perempuan, orang tua langsung memberikan bantuan.
Nah, pola asuh tersebut secara tidak langsung ikut membentuk karakter si anak. Itulah mengapa, anak-anak perempuan umumnya lebih peka terhadap lingkungan, termasuk teman-temannya. Ia lebih mudah memahami perasaan orang lain. Saat hendak bergaul, misalnya, anak perempuan akan mencoba mencari cara agar bisa diterima secara baik-baik oleh temannya. Salah satunya dengan mengembangkan sikap berbagi itu.
Namun, hal itu tidaklah mutlak, anak laki-laki pun bisa saja sangat pemurah jika pola asuh orang tua dan lingkungannya menguatkan perilaku itu.
TAK KIKIR TERHADAP ORANG DEWASA
Ada juga anak-anak yang pelit terhadap teman seusianya, tapi sangat pemurah kepada anak-anak yang lebih tua atau orang dewasa. Hal ini, ungkap Nina, karena anak sendiri sebenarnya sudah punya rasa kompetisi di antara teman-temannya. Tak heran bila ia pun jadi bersikap pelit terhadap teman-temannya. Lain halnya dengan orang-orang dewasa, anakanak menganggap mereka bukan lagi kompetitornya ataupun ancaman buat dirinya. Faktor lainnya adalah faktor kedekatan itu sendiri, boleh jadi anak-anak begitu pemurah karena orang-orang yang memintanya memiliki hubungan yang erat dengan si kecil. Tak heran, jika anak begitu baik kepada ibu, ayah, kakek atau neneknya. Sebaliknya, dengan orang-orang yang lebih tua yang tidak memiliki hubungan dekat, anak akan sulit untuk berbagi. "Banyak kasus anak yang enggan berbagi dengan sang kakak yang usianya lebih tua."
***Saeful Imam. Foto: Ferdi/nakita
{ Dapatkan CD terapi gelombang otak untuk mencapai kondisi relaksasi & meditasi , klik link di bawah ini.......}
Sumber : www.gelombangotak.com/meditasi_alpha_theta.htm

Tidak ada komentar:
Posting Komentar