Selasa, 02 Agustus 2011

"AKU, KAN, SUDAH BESAR, AKU ENGGAK MAU DITUNTUN!"

Beri kelonggaran pada si batita bila ia ingin melakukan segala sesuatunya sendiri. Pahami bahwa anak usia ini sudah tak ingin dianggap sebagai anak kecil lagi.
Nisa memperlihatkan muka kesal saat ibunya bersikeras menuntunnya kala mereka berjalan-jalan di sebuah mal. Bocah batita pantas kesal karena ia sebetulnya ingin berjalan sendirian seperti kakak atau orang dewasa lainnya. Menurut Dra. Tri Iswardhani Adianto, M.Si, perilaku "sok gede" seperti itu memang biasanya muncul ketika anak menginjak usia dua tahun. Gejala tersebut menandakan sudah mulai tumbuh rasa percaya diri dan kemandirian pada si batita. Serta sudah berkembang rasa ego yang mendorongnya untuk mulai menunjukkan identitas diri.
Selain itu, batita juga mulai menyadari dirinya merupakan individu yang ingin lepas dari "ikatan" sosok otoritas, dalam hal ini orang tua. Ia selalu ingin bergerak tanpa ada yang mengatur dan mengekang. Pada usia ini, anak juga sudah mulai punya selera dan keinginan sendiri. "Jadi apa pun ingin dilakukannya sendiri," papar dosen di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia ini. 

TAHAPAN INISIATIF
Dhani, demikian ia akrab disapa, menambahkan bahwa berdasarkan tahapan perkembangan psikologi, anak batita mulai memasuki tahap inisiatif. Berikut beberapa contoh perilaku anak batita yang harus dimaklumi orang tua, di antaranya: 

* Tak mau dituntun
Misalnya, ketika orang tua mengajak si kecil berjalan-jalan ke mal, dia ingin berjalan sendiri saja. Dia mulai percaya diri bisa lepas dari kendali/pegangan orang tua. 

* Tak mau duduk bersebelahan/dipangku
Misalnya saat berada dalam kendaraan, anak biasanya ingin duduk terpisah bahkan menjauh dari orang tua. Dia tak mau bersebelahan apalagi dipangku karena di usia ini pada dirinya mulai muncul keberanian untuk "berpisah" dari orang tua. 

* Tak mau diantar
Contohnya ketika anak ingin bermain dengan temannya di rumah sebelah, dia ingin pergi sendiri. Dalam dirinya mulai tumbuh kemandirian. 

* Tak mau dibantu/ditolong
Misalnya saat makan dia tak mau lagi disuapi karena ingin makan sendiri. Tak jarang dia menolak makanan yang sudah tersaji di piring karena sebetulnya ia ingin menunjukkan dirinya mampu menuang sendiri makanannya ke piring. 

* Tak mau menghampiri kalau dipanggil
Dalam diri si batita mulai tumbuh rasa ego, hingga ia tak mau diganggu karena sedang asyik berkutat dengan sesuatu yang dikerjakannya. Berdasarkan perkembangan kognitifnya, anak usia ini biasanya menjadi "egois". 

* Tak mau dipeluk, dicium, dan digendong
Si batita merasa dirinya sudah besar tak seperti bayi lagi.

JANGAN DILARANG
Ketika anak sudah menampakkan tindakan-tindakan inisiatif, sebaiknya orang tua tidak melarang atau mendiktenya. Biarkan anak melakukan kegiatan yang disukai dan yang ingin diketahuinya. Mendikte atau melarang anak berbuat sesuatu sama saja dengan membatasi ide-ide anak. Akibatnya si batita malah tidak kreatif. 

Orang tua juga sebaiknya menghargai aktivitas anak meskipun hasilnya masih jauh dari sempurna. Selayaknya ibu/ayah memuji inisiatif anak, apa pun bentuk tindakan tersebut. Sayangnya, saat si batita ingin berjalan tanpa dituntun dan beredar ke sana-kemari, orang tua justru sering menganggap si kecil mulai bertingkah nakal. Sementara, karena perkembangan bahasanya belum baik, jadilah orang tua cuma bisa melihat aktivitasnya. Anak belum bisa menjelaskan apa maunya. "Nah, orang tua yang tak peka pasti akan mengatakan si anak bandel dan tak mau menurut."
Jika semua inisiatifnya itu dilarang dan tak dihargai, akhirnya anak akan selalu merasa bersalah karena setiap tindakan inisiatifnya terus-menerus ditegur. Apalagi kalau orang tua malah mencela, menyalahkan, atau meremehkan, anak akan tumbuh dengan perasaan rendah diri, mudah cemas, dan cenderung takut berbuat sesuatu. 

Jika perilaku anak banyak dilarang, tak heran bila kemudian aktivitasnya bakal "mati". Akibatnya, saat anak mulai tumbuh lebih besar ia hanya akan melakukan sesuatu berdasarkan perintah. Apa pun yang ingin dilakukannya selalu dibayang-bayangi sosok orang tua yang selalu memarahinya. 

DORONGAN ORANG TUA
Dhani menyarankan agar orang tua sebaiknya selalu memberikan kesempatan kepada anak untuk berinisiatif. Kalaupun yang dilakukan belum sempurna, hendaknya tetaplah memberi dorongan, mempercayai apa yang dilakukannya. Langkah-langkah ini amat penting agar tumbuh rasa percaya dirinya.
Orang tua juga semestinya memperhatikan minat, keinginan, atau pendapat anak dengan penuh kasih sayang sekaligus menciptakan rasa aman dan nyaman ketika beraktivitas. Selain itu, berikan contoh konkret agar anak mencoba dan berani berkreasi. Jangan lupa berikan pujian tulus saat anak mampu menghasilkan kreasi tertentu. Berikan koreksi bila ia tidak melakukannya dengan baik atau berbuat kesalahan. Namun, bukan berupa hukuman, lo.
Doronglah anak untuk selalu melakukan kegiatan positif tanpa mengharapkan si batita bisa mengerjakan sesuatu secara sempurna. Yang penting, menurut Dhani, jangan hanya dilihat hasilnya, melainkan proses dan niatnya berinisiatif. Tentu saja tindakan inisiatifnya harus tetap diarahkan agar tidak malah melenceng. 

Dhani pun mengingatkan agar orang tua menghindari sikap overprotektif, semisal dengan melarang anak berbuat ini dan itu. Akibatnya, anak selalu merasa serbasalah. Ketika dia mau berinisiatif atau hendak melakukan sesuatu, akhirnya tak jadi dan malah dipendam saja. "Anak jadi takut berekspresi dan kehilangan spontanitasnya."
Orang tua sebaiknya menghargai setiap inisiatif yang dilakukan anak. Jika tadinya perilakunya tak terarah, dengan bimbingan yang benar anak justru bisa membantu meringankan pekerjaan orang tuanya di rumah. Di sinilah pentingnya sikap orang tua untuk pintar-pintar mengarahkan sang anak. 

Berikan pula kesempatan pada anak untuk melakukan apa yang diinginkannya, tentunya dengan pengawasan. Anak memang sebaiknya dilatih untuk mengasah keterampilannya. Misalnya dia sudah ingin berjalan tanpa dituntun, berikan kesempatan untuk itu. "Yang penting arahkan dan awasi sambil tetap memberinya kebebasan supaya inisiatifnya tak mati."
Anak yang sudah bisa berinisiatif menandakan dirinya mulai mandiri. Dia merasa bisa melakukan sesuatu sendiri. Jika rasa ingin tahunya menggebu, biarkan dia mengeskplorasi segala sesuatu yang ingin diketahuinya, selama hal itu tak berbahaya. Selain itu, anak juga sudah merasa besar dan tak mau diperlakukan seperti "anak kecil" atau bayi lagi. 

JANGAN BERLEBIHAN
Dhani yakin, ekspresi sayang yang berlebihan justru bisa melemahkan anak. "Kalau baik hati memang bagus, tapi kalau lemah hati malah jadi enggak bagus. Anak bisa cengeng, manja dan tak mau lepas dari orang tua." Akibatnya, anak memiliki ketergantungan berlebih pada orang tuanya. Misalnya, untuk berjalan ke suatu tempat mesti ditemani ibu/ayah.
Anak yang masih diperlakukan seperti bayi atau segala sesuatunya disediakan dan dibantu, justru bisa terhambat perkembangannya. Pada si anak jadi tak tumbuh kemandiriannya. Sementara ia juga merasa tidak dihargai sebagai anak yang sudah "besar".
***Hilman Hilmansyah. Foto: Ferdi/nakita
TAHAP PERKEMBANGAN
Erik Erikson, seorang pakar teori psikososial membedakan tahap perkembangan pada bayi dan batita sebagai berikut:
* Trust vs Mistrust (usia 0-1 tahun)
Tahap awal adalah tahap pengembangan rasa percaya diri. Mereka sangat membutuhkan sentuhan dan pelukan. Untuk mengembangkan rasa percaya dirinya, stimulasi dilakukan terhadap pancaindranya.
* Mandiri vs Malu/Ragu-ragu (usia 2-3 tahun)
Tahap ini bisa dikatakan sebagai masa pemberontakan anak atau bisa disebut masa "nakal". Namun, kenakalannya itu tidak bisa dicegah begitu saja, karena ini adalah tahap dimana anak sedang mengembangkan kemampuan motorik (fisik) dan mental (kognitif). Untuk itu justru diperlukan dorongan orang tua dalam memberikan sarana dan prasarana dalam mengembangkan kemampuan motorik dan mentalnya. 

{ Dapatkan DVD kumpulan semua audio gelombang otak , klik link di bawah ini.....} 
Sumber : www.gelombangotak.com/General-Brainwave_Kumpulan_Semua_Audio_gelombang_Otak.htm

Tidak ada komentar:

Posting Komentar