Adit memang beda. Ia lebih senang main sendiri di dalam kelas. Pulang sekolah, dijemput si mbak. Tak pernah halan pulang bareng teman-temannya. Kalau di rumah pun, ia lebih suka main di kamar terus, atau paling banter dengan orang belakang. Jarang sekali ia main dengan anak tetangga. Diajak main sepeda dengan teman, ia tak mau. Diajak manjat pohon jambu apalagi. Takut!
"Kamu sesekali ikut dong sama kita, main bola di lapangan," ujar Anton, teman sekelas. Adit menggeleng cepat. "Nggak mau ah. Takut kena tendang bola," ujar Adit.
"Ah, payah. Penakut lu!"
***
Karakter setiap anak memang berbeda-beda. Ada yang ekspresif dan berani seperti Anton, tapi ada pula penakut dan penuh perhitungan macam Adit. Menurut Yunita P. Sakul, Psi, penyebab anak mengalami hambatan dalam bergaul dengan teman-temannya seperti Adit, bisa terjadi karena anak tidak dilatih di rumah. "Orangtua selalu memenuhi kebutuhan anak, sehingga mereka tidak tahu bagaimana berinteraksi dengan orang lain." Akibatnya ketika duduk di sekolah dasar, saat anak harus berinteraksi dengan teman sebayanya, mereka jadi bingung dan tak mengerti apa yang harus dibicarakan saat bermain, dan tidak bisa berempati dengan orang lain. Akhirnya anak setiap kali diajak bermain atau pergi kemana selalu menolak.
Dua Faktor
Jika dilihat dari perkembangan interaksi sosialnya, pertama kali anak bergaul di lingkungan terdekatnya dulu, yakni keluarga. Jika sudah cukup baik ia akan bergaul lebih luas lagi, misalnya di TK atau preschool. Ia bermain dengan teman-temannya dan guru. Di SD anak akan belajar berinteraksi lebih luas lagi dengan teman-teman sebayanya. Sebab dalam satu kelas bisa terdiri dari satu guru dan 40 siswa. "Jadi, anak makin dituntut untuk belajar cara berinteraksi dan menyesuaikan diri."
Penyebab anak penakut, kata Yunita, karena beberapa faktor. Pertama, anak tidak merasa nyaman. Ia merasa teman-temannya tidak memperlakukannya seperti orangtuanya memperlakukan dia. Kedua, memang dari segi emosi anak belum siap untuk bergaul dengan temannya.
Konsep diri takut sendiri sudah ada sejak anak lahir, lalu berkembang ke arah baik atau buruk seiring dengan kemampuan anak mengenal diri, orangtua, dan lingkungan. "Sifat penakut bisa tumbuh sejak kecil dan semakin berkembang jika sikap orang di sekelilingnya mendukung tumbuh suburnya sifat tersebut," kata psikolog di Essa Consulting, Jakarta ini. "Misalnya, jika orang-orang di sekelilingnya suka menakut-nakuti, terlalu over protective, tidak melatih anak untuk bermain dengan teman sebayanya, atau mencela. Semua ini dapat membuat anak kehilangan sifat beraninya dan tumbuh jadi penakut."
Sifat takut sebenarnya bisa menjadi suatu hal yang positif. Rasa takut dalam batas normal bisa menjadi self-control bagi anak. Misal, anak menolak diajak bermain yang berbahaya, seperti main layangan di jalan raya yang bisa membuat ia tertabrak mobil. Atau, memanjat pohon jambu, yang bisa membuatnya terjatuh dan cedera. "Dengan adanya ada rasa takut, anak dapat menganalisa, apakah perbuatan yang dilakukan berdampak buruk nantinya. Contoh lain, ia ingin nyontek tapi takut dilihat guru atau teman. Artinya anak belajar mengendalikan diri untuk tidak nyontek."
Jadi, karena takut, anak jadi hati-hati untuk melakukan sesuatu. Hanya saja, papar Yunita, sikap penakut ini bisa berubah menjadi negatif jika proses sosialisasi anak dengan lingkungannya terganggu. Misal, karena terlalu penakut, anak tidak mau diajak kemana-mana oleh teman-teman bermainnya. Sampai-sampai guru pun susah meminta anak berbuat sesuatu, karena anak merasa takut salah, dsb. Akhirnya anak pun dikucilkan teman.
Beri Support
Bila rasa takut sudah melekat pada anak, bisakah dirubah? Menurut Yunita, rasa takut ini termasuk ketrampilan sosialisasi, jadi sangat bisa dirubah. "Syaratnya, lingkungan men-support anak supaya bisa lebih berani," tegas Yunita.
Caranya, lingkungan keluarga harus mendukung dengan cara positif, sehingga konsep negatif anak tentang diri dan lingkungannya berubah. Pertama, orangtua mesti memahami sifat anak. Bila sifatnya memang penakut, jangan memberinya cap 'penakut', 'introvert', kuper', dsb. Upayakan mengubah sifat anak secara perlahan namun pasti. Misalnya lewat cerita, atau dengan mengajaknya pergi ke tempat yang mengharuskannya bergaul dan berkomunikasi dengan orang lain. Atau sesekali mengundang kawan-kawannya ke rumah.
Selain itu, jangan membanding-bandingkan satu anak dengan anak lain atau dengan temannya. Biarkan anak tumbuh dengan kepribadiannya sendiri. Ketiga, orangtua perlu menjalin komunikasi yang hangat dengan anak. Misal, memintanya syupaya ia bercerita tentang kegiatan di sekolah, tentang kawan-kawannya, dsb.
Sebaliknya, orangtua juga menceritakan tentang kehidupannya waktu kecil dulu. "Cara ini dapat membantu anak belajar mendengarkan sekaligus berkomunikasi aktif dengan orang lain," papar Yunita. Sifat penakut ini juga bisa dikurangi dengan pola pengasuhan yang tepat. Penanganan di atas plus kesabaran orangtua, dapat mendukung anak menjadi lebih percaya diri dan berani.
Yuk, Rubah Si Penakut!
- Jangan memberikan label yang buruk pada anak. Sikap seperti itu justru mendorong sifat penakutnya makin subur
- Doronglah rasa percaya diri anak dengan memberinya kesempatan untuk melakukan hal-hal yang disukai dan dikuasainya
- Dorong anak untuk mengikuti kegiatan tertentu, misalnya menari, musik, karate, renang, dsb.
- Dukung anak bersikap tegas, berani dan terbuka dalam setiap kesempatan
{ Dapatkan CD terapi gelombang otak untuk kecerdasan,konsntrasi,daya ingat & kreatifitas ,klik link di bawah ini.......}
Sumber : www.gelombangotak.com/kecerdasan_daya_ingat.htm

Tidak ada komentar:
Posting Komentar