Anak balita sudah berkembang daya pikirnya. Pertanyaan seputar kematian pun mulai mereka ajukan. Orangtua sering kebingungan untuk menjawabnya, bagaimana menerangkannya dengan tepat?
Kematian seseorang adalah suatu peristiwa dalam kehidupan yang harus dihadapi. Bahkan anak-anak pun mau tidak mau pasti akan melihat peristiwa ini dalam perjalanan hidupnya. Seiring dengan perkembangannya, beberapa anak akan mengajukan apa dan bagaimana kematian itu. Untuk memudahkan pemahaman mereka, sebagian orangtua akan menerangkan bahwa si jenazah 'sedang tidur dan mungkin tidak bangun'.
Menyikapi hal ini, terjadi pro dan kontra cara menerangkan konsep kematian bagi balita. Psikolog Anak Winarini Wilman, Ph.D, berpendapat, "Kematian bagi balita sifatnya masih abstrak". Menurutnya, balita masih berada dalam tahap perkembangan kognitif konkret. Pikirannya baru bisa mengkaji hal-hal konkret seperti makan, tidur, mandi, belajar, bermain. "Dia baru mengerti kematian saat masuk sekolah, atau kira-kira usia 6 tahun. Saat itu perkembangan kognitifnya sudah masuk taraf abstrak."
Jadi menurut Dosen di Fakultas Psikologi UI ini, jika orangtua ingin mengenalkan kematian kepada balita, kaitkan saja dengan sesuatu yang konkret. "Mati itu kan ibarat 'tidur panjang'. Balita sudah tahu apa itu tidur. Jadi tentang kematian nenek, bilang saja nenek sedang tidur lama sekali, dan tidak bangun-bangun lagi," terang Winarini.
Tetapi para psikolog Barat. Dalam buku What to Expect The Toddler Years, menganjurkan orang tua berbicara jujur saja tentang kematian, meski dalam bahasa sederhana. "Kakek sangat sakit dan sekarang beliau meninggal. Kakek nggak bisa bertemu kita lagi." Kalimat ini, menurut para psikolog Barat, cukup bagi balita. Kalau anak meminta, baru kita beri penjelasan lebih terperinci.
Mungkin pendapat ini dapat diaplikasikan untuk anak yang lebih besar, atau mereka yang sudah duduk di TK. Sedangkan konsep 'sedang tidur panjang', dapat Anda gunakan untuk menerangkannya pada anak yang lebih kecil. Jadi, orangtua juga perlu mempertimbangkan sampai sejauh mana daya nalar si kecil.
Ditinggal Mati Orang Dekat
Bagi Wina, kesedihan seorang balita ditinggal mati orang atau binatang kesayangannya, akan berbeda dengan kesedihan yang dirasakan oleh orang dewasa. "Meski seorang balita kehilangan nenek, kakek, atau hewan kesayangan, dia tidak akan mengalami kesedihan seperti halnya orang dewasa," ungkapnya.
Dalam waktu yang tidak begitu lama, jika posisi yang dijalani almarhum tergantikan orang lain, dia akan lupa. Misalnya, setiap pagi ia selalu digendong neneknya. "Jika sejak neneknya meninggal peran itu cepat digantikan tante, misalnya, balita tidak akan merasa kehilangan nenek."
Tapi, cerita menjadi lain jika yang meninggal adalah ibunya. Balita akan lebih merasa kehilangan, apalagi kalau hubungan mereka dekat. Untuk itu ayah balita harus mencari sosok pengganti ibu yang sudah dikenal dan disayang balita. Sosok inilah yang mengambil alih peran ibu.
"Sosok ini bisa tante atau nenek. Jika segala kebutuhan balita terpenuhi oleh subtitute mother, lama-lama dia tidak merasa kehilangan lagi, bahkan lebih mudah melupakan," ujar Wina. Setelah itu, sebaiknya keluarga segera kembali kepada rutinitas sehari-hari, misal, balita segera kembali ke pre-school-nya. Cara ini membuat balita merasa hidupnya normal kembali dan membuat dia lebih enak.
Pantang dalam Menjelaskan Kematian
Dalam memperkenalkan kematian pada balita, berikut ini beberapa pertimbangkan mengenai pantangan dalam membicarakan kematian dengan anak-anak Anda:
Kematian seseorang adalah suatu peristiwa dalam kehidupan yang harus dihadapi. Bahkan anak-anak pun mau tidak mau pasti akan melihat peristiwa ini dalam perjalanan hidupnya. Seiring dengan perkembangannya, beberapa anak akan mengajukan apa dan bagaimana kematian itu. Untuk memudahkan pemahaman mereka, sebagian orangtua akan menerangkan bahwa si jenazah 'sedang tidur dan mungkin tidak bangun'.
Menyikapi hal ini, terjadi pro dan kontra cara menerangkan konsep kematian bagi balita. Psikolog Anak Winarini Wilman, Ph.D, berpendapat, "Kematian bagi balita sifatnya masih abstrak". Menurutnya, balita masih berada dalam tahap perkembangan kognitif konkret. Pikirannya baru bisa mengkaji hal-hal konkret seperti makan, tidur, mandi, belajar, bermain. "Dia baru mengerti kematian saat masuk sekolah, atau kira-kira usia 6 tahun. Saat itu perkembangan kognitifnya sudah masuk taraf abstrak."
Jadi menurut Dosen di Fakultas Psikologi UI ini, jika orangtua ingin mengenalkan kematian kepada balita, kaitkan saja dengan sesuatu yang konkret. "Mati itu kan ibarat 'tidur panjang'. Balita sudah tahu apa itu tidur. Jadi tentang kematian nenek, bilang saja nenek sedang tidur lama sekali, dan tidak bangun-bangun lagi," terang Winarini.
Tetapi para psikolog Barat. Dalam buku What to Expect The Toddler Years, menganjurkan orang tua berbicara jujur saja tentang kematian, meski dalam bahasa sederhana. "Kakek sangat sakit dan sekarang beliau meninggal. Kakek nggak bisa bertemu kita lagi." Kalimat ini, menurut para psikolog Barat, cukup bagi balita. Kalau anak meminta, baru kita beri penjelasan lebih terperinci.
Mungkin pendapat ini dapat diaplikasikan untuk anak yang lebih besar, atau mereka yang sudah duduk di TK. Sedangkan konsep 'sedang tidur panjang', dapat Anda gunakan untuk menerangkannya pada anak yang lebih kecil. Jadi, orangtua juga perlu mempertimbangkan sampai sejauh mana daya nalar si kecil.
Ditinggal Mati Orang Dekat
Bagi Wina, kesedihan seorang balita ditinggal mati orang atau binatang kesayangannya, akan berbeda dengan kesedihan yang dirasakan oleh orang dewasa. "Meski seorang balita kehilangan nenek, kakek, atau hewan kesayangan, dia tidak akan mengalami kesedihan seperti halnya orang dewasa," ungkapnya.
Dalam waktu yang tidak begitu lama, jika posisi yang dijalani almarhum tergantikan orang lain, dia akan lupa. Misalnya, setiap pagi ia selalu digendong neneknya. "Jika sejak neneknya meninggal peran itu cepat digantikan tante, misalnya, balita tidak akan merasa kehilangan nenek."
Tapi, cerita menjadi lain jika yang meninggal adalah ibunya. Balita akan lebih merasa kehilangan, apalagi kalau hubungan mereka dekat. Untuk itu ayah balita harus mencari sosok pengganti ibu yang sudah dikenal dan disayang balita. Sosok inilah yang mengambil alih peran ibu.
"Sosok ini bisa tante atau nenek. Jika segala kebutuhan balita terpenuhi oleh subtitute mother, lama-lama dia tidak merasa kehilangan lagi, bahkan lebih mudah melupakan," ujar Wina. Setelah itu, sebaiknya keluarga segera kembali kepada rutinitas sehari-hari, misal, balita segera kembali ke pre-school-nya. Cara ini membuat balita merasa hidupnya normal kembali dan membuat dia lebih enak.
Pantang dalam Menjelaskan Kematian
Dalam memperkenalkan kematian pada balita, berikut ini beberapa pertimbangkan mengenai pantangan dalam membicarakan kematian dengan anak-anak Anda:
1. Jangan samakan mati dengan tidur.
Hindari metafora seperti 'orang pergi tidur' atau 'istirahat selamanya'. Jika Anda sendiri bingung antara kematian dan tidur, mereka akan jadi takut tidur karena tidak akan bangun lagi.
Hindari metafora seperti 'orang pergi tidur' atau 'istirahat selamanya'. Jika Anda sendiri bingung antara kematian dan tidur, mereka akan jadi takut tidur karena tidak akan bangun lagi.
2. Jangan mengatakan seseorang yang mati pergi ke tempat amat jauh.
Anak-anak bisa penasaran mengapa orang yang pergi tidak pamitan. Anak juga akan takut bila melepas orang dewasa yang akan bepergian -- untuk dinas atau liburan - lantaran tak akan kembali lagi.
Anak-anak bisa penasaran mengapa orang yang pergi tidak pamitan. Anak juga akan takut bila melepas orang dewasa yang akan bepergian -- untuk dinas atau liburan - lantaran tak akan kembali lagi.
3. Jangan katakan bahwa seseorang meninggal karena sakit.
Anak-anak pra-sekolah tak bisa membedakan antara sakit biasa dan sakit parah. Karena itu jelaskan pada anak bahwa sakit parah saja yang mengakibatkan kematian. Selain itu, kita semua bisa menderita sakit ringan, namun bisa cepat sembuh.
Anak-anak pra-sekolah tak bisa membedakan antara sakit biasa dan sakit parah. Karena itu jelaskan pada anak bahwa sakit parah saja yang mengakibatkan kematian. Selain itu, kita semua bisa menderita sakit ringan, namun bisa cepat sembuh.
4. Jangan katakan hanya orangtua yang meninggal.
Anak-anak bisa mendapati bahwa orang muda pun meninggal. Lebih baik katakan, "Sebagian besar orang berumur panjang, tapi ada juga yang tidak berumur panjang. Ibu berharap, kamu, ibu dan ayah berusia panjang."
Anak-anak bisa mendapati bahwa orang muda pun meninggal. Lebih baik katakan, "Sebagian besar orang berumur panjang, tapi ada juga yang tidak berumur panjang. Ibu berharap, kamu, ibu dan ayah berusia panjang."
5. Jangan menghindari pembicaraan tersebut.
Jika anak Anda mengajukan pertanyaan mengenai kematian, hindari godaan untuk mengatakan, "Oh, kamu tak perlu cemaskan itu sekarang." Usahakan agar anak Anda mengerti dengan cara memberi kesempatan memperbincangkan topik tersebut secara terbuka.
Jika anak Anda mengajukan pertanyaan mengenai kematian, hindari godaan untuk mengatakan, "Oh, kamu tak perlu cemaskan itu sekarang." Usahakan agar anak Anda mengerti dengan cara memberi kesempatan memperbincangkan topik tersebut secara terbuka.
Mengajak Balita Melayat
1. Sebenarnya tidak perlu mengajak balita melayat atau ke prosesi pemakaman. Acara ini tidak membawa efek positif, malah bikin dia kelelahan.
2. Jika balita memang tidak bisa ditinggal/dititipkan, bolehlah membawanya melayat. Di sana balita mungkin bertanya ini-itu. Siapkah Anda menjawabnya? Jika Anda tengah berduka dan pikiran kurang jernih, sebaiknya tidak menjawab asal-asalan. Tunda hingga pikiran jernih kembali.
3. Suasana di rumah almarhum nenek, seperti melihat mama pingsan, tante menangis meraung-raung, dll, merusak emosi balita. Sebaiknya jauhkan balita dari pemandangan ini.
4. Cerita tentang almarhum yang meninggal kurang wajar (karena kecelakaan, dibunuh, bunuh diri, dan lainnya), tak baik didengar dan dimengerti balita. Sebaiknya hindari.
5. Ada kalanya balita enggan dekat-dekat jenazah. Jika balita menolak, jangan paksa dia mendekat atau memberi ciuman terakhir. Jika dipaksa, dia bisa trauma. Lebih baik dekap, tenangkan, dan bawa balita menjauh.
6. Jangan jadikan mayat sesuatu yang menakutkan, misal berkata, "Ih, takut tuh, ada orang mati!"
7. Melihat orang yang dicintainya dimasukkan ke dalam tanah bisa menjadi pengalaman traumatik bagi balita.
Daripada dilibatkan dalam prosesi pemakaman, lebih baik balita dibawa berziarah setelah prosesi pemakaman selesai. Di sini kita bisa mengajaknya ikut mendoakan almarhum.{ Dapatkan CD terapi gelombang otak untuk terapi anak hiperaktif , klik link di bawah ini.....}
Sumber : www.gelombangotak.com/General-Brainwave_Kumpulan_Semua_Audio_gelombang_Otak.htm

Tidak ada komentar:
Posting Komentar