Jumat, 05 Agustus 2011

Kecil Pemalu, Gede Jangan Malu-Maluin

"Kenapa ya anak saya kok pemalu, sedangkan teman-temannya begitu pemberani untuk tampil?" Jika Anda termasuk orangtua yang merindukan melihat anak-anak tampil memperlihatkan kebolehannya, simak tulisan ini, karena anak Anda hanya butuh sedikit penguatan.

Tak sedikit orangtua penasaran, kenapa anaknya begitu pemalu sedangkan anak orang lain tidak. Setiap bertemu orang baru langsung menangis, minimal menyembunyikan wajahnya dan diam saja ketika ditanya. Sementara anak orang lain bahkan menjawab lancar apa pun yang ditanyakan kepada mereka, meski baru pertama kali bertemu.

Kadang timbul pula rasa heran karena anaknya jauh berbeda dengan diri mereka sebagai orangtua. "Ibunya rame bapaknya ramah, kok anaknya pendiam dan malu-malu," komentar seperti itu kerap terdengar.
"Mereka tak sendiri. Ada jutaan anak pemalu di dunia," ujar Ward K. Swallow, penulis buku The Shy Child. Dan tidak seperti masalah dalam perkembangan anak lainnya, sifat pemalu biasanya tidak sampai membuat orangtua cemas.

Lebih-lebih di antara unsur atau kualitas yang tercakup dalam sifat pemalu, banyak yang dianggap positif. Misalnya pendiam (tidak cerewet), santun (hormat, tidak banyak tingkah), kalem, rendah hati (tidak suka menonjolkan diri) dianggap sebagai sifat yang positif. Orangtua kadang tidak menganggapnya sebagai suatu masalah jika anaknya tergolong pemalu.

Namun, Swallow mengingatkan supaya orangtua lebih seksama mencermati sifat pemalu ini. Sebab, jika anak tidak diajari mengatasi sifatnya itu, sampai dewasa akan tumbuh sebagai penyendiri. Saat bekerja dia akan memilih bagian yang dapat menjadi tempatnya "mengasingkan diri". Biasanya para pemalu ini bahkan menikah dengan orang pertama yang dapat bergaul dengannya. Yang lebih memprihatinkan, jika dibiarkan dengan sifat pemalunya itu, mereka dapat mengalami gangguan kecemasan dan depresi, kata Swallow.

Campuran Emosi
Menurut Hyson dan Trieste, pada dasarnya perasaan malu itu muncul sebagai campuran emosi (termasuk rasa takut dan tertarik), tegang dan senang. Biasanya orang yang merasa malu berbicara pelan, ragu-ragu atau berhenti-berhenti, dan gemetaran. Pada anak yang lebih kecil ditandai dengan kegemaran mengisap jari, bertingkah malu-malu, berganti-ganti antara tersenyum dan merengut.

Mengapa seorang anak menjadi pemalu sementara yang lain tidak? Hubungan sosial yang baru merupakan penyebab paling sering yang membuat anak merasa malu. Hal ini berkaitan dengan perubahan besar pada lingkungan sosial dan tekanan akibat kompetisi yang ketat di sekolah.

Orangtua yang terlalu banyak mempertimbangkan apa yang mungkin dipikirkan orang lain tentang anaknya, dan memberikan otonomi (wewenang untuk mengatur diri sendiri) kepada anaknya kelewat kecil, juga mendorong timbulnya perasaan malu pada anak.

Sebagai contoh, mungkin tanpa sadar orangtua sering berkata,"Hush, malu, bicara jangan keras-keras, yang pelan saja!" Atau begini, "Malu dong kalau anak Mama ngga pinter." Sering juga terdengar perkataan seperti ini, "Malu, belum dandan sudah keluar rumah." Masih banyak lagi ucapan orangtua yang mampu menumbuhkan perasaan malu pada anak.

Tidak Penting
Dalam analisis yang dilakukan terhadap ribuan kliennya, Bernardo Carducci dalam bukunya, The Shyness Breakthrough, menyebutkan pada umumnya anak menjadi malu karena merasa takut apa yang dibicarakannya tidak penting. Mereka jadi merasa tidak bebas untuk mengekspresikan diri.

carducci, Direktur Shyness Research Institute, Indiana University di New Albany, AS, antara lain mengutip pernyataan salah satu mantan kliennya yang ketika kecil luar biasa pemalunya, sebagai berikut. "Saya tidak dapat mengekspresikan diri saya secara bebas, sehingga guru maupun teman sekelas seringkali salah mengerti tentang diri saya dengan menganggap perasaan malu saya sebagai tidak punya minat. Dalam banyak aktivitas sosial, saya tidak pernah menjadi bagian dari kelompok. Atau mungkin kelewat sensitif dan berpikir orang lain telah memperlakukan saya secara berbeda, karena saya merasa berbeda."

Carducci mengingatkan, perasaan malu pada anak-anak timbul bukan karena ia dilahirkan sebagai seorang pemalu, melainkan merupakan akibat atau bentukan lingkungannya. Ada kalanya orang menyebut sifat pemalu merupakan genetik, karena neneknya, ibunya, pamannya, dan banyak sanak familinya yang pemalu. Namun, itu tidak lebih dari sebuah kebiasaan atau nilai yang ditularkan secara turun temurun.

Jadi Masalah
Kapan sifat pemalu dianggap sebagai masalah dan perlu penanganan khusus? Meskipun pemalu bukan sebuah kekurangan yang mendatangkan nista, anak dapat menuai kerugian akibat sifatnya itu.

Pada umumnya anak pemalu dianggap sombong, tidak menyenangkan sebagai teman, membosankan (akibat suka menarik diri dari pergaulan), dan salah persepsi lainnya. Yang pasti ia akan kehilangan kesempatan untuk mengembangkan ketrampilan sosial karena dijauhi kawan-kawannya.

Biasanya perasaan malu itu akan hilang dengan sendirinya jika anak belajar beradaptasi di lingkungan sosial yang lebih luas. Perlahan-lahan dari sedikit demi sedikit dibiasakan bergaul dengan orang asing atau teman baru akan membuat anak tumbuh rasa percaya dirinya.

Orangtua hanya perlu melakukan tindakan lebih, misalnya membawanya berkonsultasi ke psikolog, jika anak memang kelewat terganggu dan terlalu tidak nyaman jika berada di antara orang lain. Sebab, jika dibiarkan, sampai dewasa dia akan tumbuh sebagai pribadi penyendiri, dan mengingkari kodratnya sebagai makhluk sosial. Kasihan 'kan?

T
iga Langkah Mengatasi Sifat Malu-Malu
Sebagai orangtua, Anda pasti ingin anak-anak tumbuh secara normal dan berkembang optimal. Berikut ini langkah-langkah yang disarankan Marion C. Hayson dan karen van Trieste dalam tulisan mereka berjudul The Shy Child, yang dapat Anda pertimbangkan.
  1. Kenali dan terima anak secara utuh. Caranya adalah dengan berusaha lebih sensitif terhadap apa yang menjadi minat anak dan bagaimana perasaannya. Maksudnya supaya hubungan dengan anak terbangun lebih baik, dan Anda dapat memperlihatkan bahwa Anda menghormatinya. Cara ini akan membuat anak lebih percaya diri dan berkurang sifat pemalunya.
  2. Bangun harga dirinya. Pada anak yang pemalu biasanya terdapat citra diri negatif, dan merasa bahwa dirinya tidak dapat diterima oleh lingkungan. Yakinkan kepada anak untuk memperlihatkan keterampilan sosialnya. Bantu anak untuk dapat merasa aman. Bila perlu, pergunakan hal-hal yang dianggapnya menarik untuk memudahkannya melakukan interaksi sosial.
    3     Rasa malu itu tidak selalu berarti buruk. Tidak semua anak merasa butuh untuk menjadi pusat perhatian. Beberapa unsur sifat malu, seperti sopan, rendah hati, dan pendiam bahkan dianggap sebagai hal yang positif. Oleh karena itu, sepanjang anak tak terlihat bahwa dia merasa kelewat tidak nyaman atau merasa sangat terganggu berada di antara orang lain, intervensi yang drastis dari orangtua tidak diperlukan. (Widya Saraswati)

{ Dapatkan DVD terapi gelombang otak untuk penyembuhan & kesehatan , klik link di bawah ini.....} 
Sumber : www.gelombangotak.com/mempercepat_penyembuhan_penyakit.htm

Tidak ada komentar:

Posting Komentar