Memberi makan pada anak, khususnya bayi dan balita, idaklah mudah. Perilaku makan pada balita sering menjadi penyulit pelaksanaan pemberian makan, seperti meriolak makan, melepeh, memuntahkan makanan, "ngemut" atau hanya suka satu atau beberapa jenis makanan tertentu.
Kesempatan seorang ibu untuk merancang pola makan anak ada pada saat anak berusia di bawah 1 tahun. Pada usia itu, anak menjadi konsumen pasif. Kemampuan mengonsumsi, memilih dan takaran makanannya sangat bergantung pada. ibu dan pengasuhnya.
Menurut Dr. Sylvia Retnosari, Sp.A, dari RS Mitra Internasional, perlu diketahui bahwa masalah makan pada balita berbeda dengan bayi. Pada balita, telah terjadi perkembangan dalam cara mengonsumsi makanan. "Peranan mengisap di saat bayi, secara berangsur diganti dengan mengonsumsi makanan padat atau minuman di usia balita. Kelompok anak balita ini disebut konsumen semi pasif atau semi aktif," ujar Sylvia.
Pada usia balita, anak dalam fase "negativistik" yaitu menolak makan karena ke-aku-annya. Pada usia ini pula, ruang gerak balita semakin luas sehingga ia lebih mudah terpapar kuman sehingga lebih sering sakit. Akibatnya ia tidak mau makan. Untuk itu, orang tua harus waspada terhadap aktivitas si kecil.
Menurut Sylvia, sebenarnya terdapat tiga faktor penyebab kesulitan makan pada anak yaitu faktor organik, faktor nutrisi, dan faktor psikologik. Keahlian memberi.makan serta gangguan di seluruh alur pencernaan dapat pula membuat si kecil ogah membuka mulutnya. Masalah makan bisa timbul bila pemberian makanan kurang tepat, yaitu di saat si kecil dalam keadaan kenyang atau sehabis minum susu. "Seharusnya makanan diberikan dalam keadaan lapar atau haus, yaitu di saat lambung kosong," ujar Syvia.
Faktor Nutrisi
Tidak jarang anak menolak makan karena tidak menyukai makanannya. Anda akan putus asa meyakinkan betapa sehat dan pentingnya makanan itu untuk proses tumbuh kembangnya.
Ada cara memperbaiki meningkatkan asupan makanan anak, yaitu:
Kesempatan seorang ibu untuk merancang pola makan anak ada pada saat anak berusia di bawah 1 tahun. Pada usia itu, anak menjadi konsumen pasif. Kemampuan mengonsumsi, memilih dan takaran makanannya sangat bergantung pada. ibu dan pengasuhnya.
Menurut Dr. Sylvia Retnosari, Sp.A, dari RS Mitra Internasional, perlu diketahui bahwa masalah makan pada balita berbeda dengan bayi. Pada balita, telah terjadi perkembangan dalam cara mengonsumsi makanan. "Peranan mengisap di saat bayi, secara berangsur diganti dengan mengonsumsi makanan padat atau minuman di usia balita. Kelompok anak balita ini disebut konsumen semi pasif atau semi aktif," ujar Sylvia.
Pada usia balita, anak dalam fase "negativistik" yaitu menolak makan karena ke-aku-annya. Pada usia ini pula, ruang gerak balita semakin luas sehingga ia lebih mudah terpapar kuman sehingga lebih sering sakit. Akibatnya ia tidak mau makan. Untuk itu, orang tua harus waspada terhadap aktivitas si kecil.
Menurut Sylvia, sebenarnya terdapat tiga faktor penyebab kesulitan makan pada anak yaitu faktor organik, faktor nutrisi, dan faktor psikologik. Keahlian memberi.makan serta gangguan di seluruh alur pencernaan dapat pula membuat si kecil ogah membuka mulutnya. Masalah makan bisa timbul bila pemberian makanan kurang tepat, yaitu di saat si kecil dalam keadaan kenyang atau sehabis minum susu. "Seharusnya makanan diberikan dalam keadaan lapar atau haus, yaitu di saat lambung kosong," ujar Syvia.
Faktor Nutrisi
Tidak jarang anak menolak makan karena tidak menyukai makanannya. Anda akan putus asa meyakinkan betapa sehat dan pentingnya makanan itu untuk proses tumbuh kembangnya.
Ada cara memperbaiki meningkatkan asupan makanan anak, yaitu:
Variasikan menu agar anak tidak cepat bosan.
- Beri makanan padat gizi dan berenergi tinggi.
- Sajikan dengan penampilan menarik.
- Biasakan.makan teratur makan pada saat lapar.
- Jangan membiasakan ngemil,
- Pemberian vitamin atau mineral.
- Ciptakan suasana menyenangkan.
Kelainan Organik
Selain masalah keterampilan, masalah makan dapat pula diakibatkan adanya kelainan organik pada organ dalam rongga mulut, saluran cerna, penyakit infeksi atau bukan infeksi.
Gangguan di mulut yang mengakibatkan sulit makan dapat berupa kelainan bawaan seperti bibir sumbing. Juga penyakit infeksi seperti sariawan (stomatitis), gigi berlubang, radang tenggorokan (faringitis). Kelainan neuromuskular (kelumpuhan pada langit-langit lidah) juga mengakibatkan anak sulit makan namun kelainan ini jarang terjadi.
Sariawan
Sariawan adalah bahasa awam untuk berbagai macam benjolan yang timbul di rongga mulut. Sariawan pada balita ini sering terjadi pada bibir lidah, mukosa (tepi bagian dalam mulut) maupun tenggorokan. Penyebabnya dapat terjadi karena trauma (tergigit), atau akibat jamur (candida) dan virus.
Para ahli menduga penyebab sariawan adalah kekurangan vitamin B12 dan zat besi. Ada pula yang mengatakan bahwa sariawan terjadi akibat reaksi imunologik abnormal pada rongga mulut.
Gejala sariawan berupa sakit atau rasa terbakar selama satu sampai dua hari. Beberapa hari kemudian, timbul luka di rongga mulut. Rasa sakit dan panas pada rongga mulut yang terluka itu lah membuat si kecil sulit makan.
Karies Gigi (Gigi Berlubang)
Penyebab gigi berlubang antara lain
karena ketidakteraturan anak membersihkan giginya. Di samping itu, kebiasaan makan makanan yang manis juga bisa menjadi penyebab gigi berlubang. Pasalnya, makanan yang manis akan diubah menjadi asam, yang kemudian keasamannya ini dapat merusak komponen gigi dan menjadikan gigi berlubang.
Untuk mencegah gigi berlubang lagi, kurangi makan makanan yang manismanis seperfi permen. Sebaiknya hindarkan si kecil dari makan makanan manis selama lebih dari 30 menit. Bila si kecil tetap mengonsumsi makanan manis, sebaiknya ia diberi minum air putih untuk mengurangi keasaman di mulut.
Radang Tenggorokan (Tonsilitis atau Faringitis).
Biasanya disebabkan oleh infeksi bakteri, virus atau selesma basa. Anak akan mengeluh sakit tenggorokan atau sulit menelan.
Faktor Psikologis
Faktor psikologis juga menjadi penyebab sulit makan yang umumnya terjadi pada usia bayi sejak dilahirkan hingga usia 4 tahun. Anak enggan makan bila pemberian makan selalu disertai sikap paksaan. Bayi atau anak merasakan proses makan menjadi saat yang tidak menyenangkan sehingga dampaknya timbul rasa anti terhadap makanan.
Hubungan emosional antara ibu bayi atau anak juga sangat penting. Tiga faktor utama yang berperan dalam sulit makan, yaitu aturan makan yang ketat atau berlebihan, sifat ibu yang obsesif dan memaksa akibat overproteksi, serta respons infantil, kekanak-kanakan, terhadap sikap ibu. Salah satu sifat yang menonjol pada masa balita yaitu rasa ingin tahu sekitarnya dan mulai timbul rasa ke=aku-an, sehingga perhatian terhadap makanan berkurang dan seringkali menolak diberi makan.
Akibat
Bila si kecil tidak mau makan akibat gangguan-gangguan di atas, kata Sylvia, si kecil tidak dapat memperoleh kecukupan zat gizi sesuai kebutuhannya, baik energi maupun kebutuhan zat gizi lain. Bila berlangsung lama akan berdampak pada tumbuh kembang anak.
Cara Mengatasi
Mengatasi kesulitan makan amat individual sifatnya, berbeda antara satu anak dengan anak lainnya. Yang pertama, Anda harus mengetahui faktor penyebabnya. Apabila karena gangguan di mulut maka kita mengobati kelainan tersebut. Untuk sariawan bisa digunakan obat sariawan.
Namun demikian, tegas Sylvia, pencegahan gangguan penyebab si kecil tak mau makan; merupakan hal yang sangat penting agar tidak terjadi kesulitan atau masalah makan. Caranya, praktikkan pemberian makan pada bayi secara benar dan bertahap sesuai perkembangan keterampilan makan. Selain itu, ajarkan anak makan dengan cara sehat dan gizi seimbang.
{ Dapatkan DVD terapi gelombang otak untuk menghilangkan kecanduan dan kebiasaan buruk , klik link di bawah ini.....}
Sumber : www.gelombangotak.com/menghilangkan_kecanduan_alkohol_merokok.htm

Tidak ada komentar:
Posting Komentar