Tampilkan postingan dengan label makan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label makan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 Agustus 2011

Cermati Pola Makan Rumah

Ada kalanya anak susah makan juga karena pola makan keluarga. Misalnya, tak terbiasa makan teratur. Anggota keluarga makan kapan saja merasa lapar. Meski sudah waktunya makan, kalau tak lapar ya boleh-boleh saja tak makan dulu. Atau, terbiasa memberi makan bila anak tak minta. Padahal, namanya batita kalau tak diminta ia pun cenderung asyik saja dengan kebiasaannya.

Cenderung memberi anak makanan sehat melulu, juga memicu anak susah makan lho. Misalnya, si kecil minta coklat atau keripik kentang tapi Anda menyodorkan potongan wortel rebus. Alih-alih senang, anak malah menghubungkan makanan bergizi dengan rasa tak enak. Indra anak bisa menyenangi makanan bergizi yang tak enak, juga bisa menyenangi yang tak bergizi tapi enak, jika ia sudah dibiasakan sejak indra pengecapnya mulai diberi makanan tambahan yang pertama.

Atau mungkin juga Anda menetapkan aturan ganda dengan keras baik di rumah maupun di luar rumah. Ayah atau ibu boleh sarapan dengan sandwich dan kopi, eh anak sarapan sereal atau bubur saja. Padahal, batita umumnya juga ingin tahu rasa berbagi makanan di hadapannya.

Berbeda-beda dalam memberikan standar makanan pada anak juga bisa mempengaruhi selera makan anak lho. Bagi orangtua bekerja ini patut dicermati. Mungkin saja Anda ketat soal makanan, tapi pengasuh atau baby sitternya malah membiarkannya ngemil kue-kue atau bahkan makanan kering, untuk membuatnya diam. Wajar bukan bila si kecil jadi malas makan karena sudah menikmati makanan camilan yang belum tentu sehat. Jadi, bila Anda mempercayakan pengawasan si kecil pada nenek kakeknya, pengasuh atau gurunyam jelaskan aturan makanan Anda pada mereka.
(mia)


{ Dapatkan CD terapi gelombang otak untuk pria perkasa , klik link di bawah ini.......} 
Sumber : www.gelombangotak.com/pria_perkasa_penis_besar.htm

Rabu, 03 Agustus 2011

Bila Anak Ogah Makan

Memberi makan pada anak, khususnya bayi dan balita, idaklah mudah. Perilaku makan pada balita sering menjadi penyulit pelaksanaan pemberian makan, seperti meriolak makan, melepeh, memuntahkan makanan, "ngemut" atau hanya suka satu atau beberapa jenis makanan tertentu.

Kesempatan seorang ibu untuk merancang pola makan anak ada pada saat anak berusia di bawah 1 tahun. Pada usia itu, anak menjadi konsumen pasif. Kemampuan mengonsumsi, memilih dan takaran makanannya sangat bergantung pada. ibu dan pengasuhnya.

Menurut Dr. Sylvia Retnosari, Sp.A, dari RS Mitra Internasional, perlu diketahui bahwa masalah makan pada balita berbeda dengan bayi. Pada balita, telah terjadi perkembangan dalam cara mengonsumsi makanan. "Peranan mengisap di saat bayi, secara berangsur diganti dengan mengonsumsi makanan padat atau minuman di usia balita. Kelompok anak balita ini disebut konsumen semi pasif atau semi aktif," ujar Sylvia.

Pada usia balita, anak dalam fase "negativistik" yaitu menolak makan karena ke-aku-annya. Pada usia ini pula, ruang gerak balita semakin luas sehingga ia lebih mudah terpapar kuman sehingga lebih sering sakit. Akibatnya ia tidak mau makan. Untuk itu, orang tua harus waspada terhadap aktivitas si kecil.

Menurut Sylvia, sebenarnya terdapat tiga faktor penyebab kesulitan makan pada anak yaitu faktor organik, faktor nutrisi, dan faktor psikologik. Keahlian memberi.makan serta gangguan di seluruh alur pencernaan dapat pula membuat si kecil ogah membuka mulutnya. Masalah makan bisa timbul bila pemberian makanan kurang tepat, yaitu di saat si kecil dalam keadaan kenyang atau sehabis minum susu. "Seharusnya makanan diberikan dalam keadaan lapar atau haus, yaitu di saat lambung kosong," ujar Syvia.

Faktor Nutrisi
Tidak jarang anak menolak makan karena tidak menyukai makanannya. Anda akan putus asa meyakinkan betapa sehat dan pentingnya makanan itu untuk proses tumbuh kembangnya.
Ada cara memperbaiki meningkatkan asupan makanan anak, yaitu:
Variasikan menu agar anak tidak cepat bosan.
  • Beri makanan padat gizi dan berenergi tinggi.
  • Sajikan dengan penampilan menarik.
  • Biasakan.makan teratur makan pada saat lapar.
  • Jangan membiasakan ngemil,
  • Pemberian vitamin atau mineral.
  • Ciptakan suasana menyenangkan.

Kelainan Organik
Selain masalah keterampilan, masalah makan dapat pula diakibatkan adanya kelainan organik pada organ dalam rongga mulut, saluran cerna, penyakit infeksi atau bukan infeksi.

Gangguan di mulut yang mengakibatkan sulit makan dapat berupa kelainan bawaan seperti bibir sumbing. Juga penyakit infeksi seperti sariawan (stomatitis), gigi berlubang, radang tenggorokan (faringitis). Kelainan neuromuskular (kelumpuhan pada langit-langit lidah) juga mengakibatkan anak sulit makan namun kelainan ini jarang terjadi.

Sariawan  
Sariawan adalah bahasa awam untuk berbagai macam benjolan yang timbul di rongga mulut. Sariawan pada balita ini sering terjadi pada bibir lidah, mukosa (tepi bagian dalam mulut) maupun tenggorokan. Penyebabnya dapat terjadi karena trauma (tergigit), atau akibat jamur (candida) dan virus.
Para ahli menduga penyebab sariawan adalah kekurangan vitamin B12 dan zat besi. Ada pula yang mengatakan bahwa sariawan terjadi akibat reaksi imunologik abnormal pada rongga mulut.

Gejala sariawan berupa sakit atau rasa terbakar selama satu sampai dua hari. Beberapa hari kemudian, timbul luka di rongga mulut. Rasa sakit dan panas pada rongga mulut yang terluka itu lah membuat si kecil sulit makan.

Karies Gigi (Gigi Berlubang)
Penyebab gigi berlubang antara lain
karena ketidakteraturan anak membersihkan giginya. Di samping itu, kebiasaan makan makanan yang manis juga bisa menjadi penyebab gigi berlubang. Pasalnya, makanan yang manis akan diubah menjadi asam, yang kemudian keasamannya ini dapat merusak komponen gigi dan menjadikan gigi berlubang.

Untuk mencegah gigi berlubang lagi, kurangi makan makanan yang manismanis seperfi permen. Sebaiknya hindarkan si kecil dari makan makanan manis selama lebih dari 30 menit. Bila si kecil tetap mengonsumsi makanan manis, sebaiknya ia diberi minum air putih untuk mengurangi keasaman di mulut.
Radang Tenggorokan (Tonsilitis atau Faringitis).

Biasanya disebabkan oleh infeksi bakteri, virus atau selesma basa. Anak akan mengeluh sakit tenggorokan atau sulit menelan.

Faktor Psikologis

Faktor psikologis juga menjadi penyebab sulit makan yang umumnya terjadi pada usia bayi sejak dilahirkan hingga usia 4 tahun. Anak enggan makan bila pemberian makan selalu disertai sikap paksaan. Bayi atau anak merasakan proses makan menjadi saat yang tidak menyenangkan sehingga dampaknya timbul rasa anti terhadap makanan.

Hubungan emosional antara ibu bayi atau anak juga sangat penting. Tiga faktor utama yang berperan dalam sulit makan, yaitu aturan makan yang ketat atau berlebihan, sifat ibu yang obsesif dan memaksa akibat overproteksi, serta respons infantil, kekanak-kanakan, terhadap sikap ibu. Salah satu sifat yang menonjol pada masa balita yaitu rasa ingin tahu sekitarnya dan mulai timbul rasa ke=aku-an, sehingga perhatian terhadap makanan berkurang dan seringkali menolak diberi makan.

Akibat
Bila si kecil tidak mau makan akibat gangguan-gangguan di atas, kata Sylvia, si kecil tidak dapat memperoleh kecukupan zat gizi sesuai kebutuhannya, baik energi maupun kebutuhan zat gizi lain. Bila berlangsung lama akan berdampak pada tumbuh kembang anak.

Cara Mengatasi
Mengatasi kesulitan makan amat individual sifatnya, berbeda antara satu anak dengan anak lainnya. Yang pertama, Anda harus mengetahui faktor penyebabnya. Apabila karena gangguan di mulut maka kita mengobati kelainan tersebut. Untuk sariawan bisa digunakan obat sariawan.

Namun demikian, tegas Sylvia, pencegahan gangguan penyebab si kecil tak mau makan; merupakan hal yang sangat penting agar tidak terjadi kesulitan atau masalah makan. Caranya, praktikkan pemberian makan pada bayi secara benar dan bertahap sesuai perkembangan keterampilan makan. Selain itu, ajarkan anak makan dengan cara sehat dan gizi seimbang.


{ Dapatkan DVD terapi gelombang otak untuk menghilangkan kecanduan dan kebiasaan buruk , klik link di bawah ini.....} 
Sumber : www.gelombangotak.com/menghilangkan_kecanduan_alkohol_merokok.htm

Sabtu, 30 Juli 2011

8 PENYEBAB SI KECIL MULAI SULIT MAKAN

Senangnya hati setiap orang tua kala melihat bayinya yang masih berusia 5-7 bulan menyantap bubur susu maupun bubur saringnya dengan lahap. Begitu juga saat si kecil sudah mulai diperkenalkan dengan nasi tim yang diblender. "Pintar anak Bunda. Makannya hebat, jagoan deh," begitu puji si ibu setiap kali bayinya yang berusia 9-10 bulan menyantap bersih isi mangkuk berupa tim lengkap dengan lauk ayam, kacang hijau, wortel dan bayam atau kangkung.
Namun begitu menginjak usia 11-12 bulan dan seterusnya hingga usia 3 tahunan, kebahagiaan semacam itu ada yang tinggal kenangan. Si kecil yang tadinya lahap makan kini mendadak susah makan. "Wah, jangan tanya deh gimana susahnya nyuapin anak seumur ini. Bisa masuk lima suap saja, sudah hebat!" Nada bicara semacam ini bukan dicari-cari lo, melainkan "ungkapan tulus" mayoritas orang tua. Sesabar apa pun orang tua atau pengasuh menyuapinya, acara makan seakan menjadi ajang "pertengkaran". Ada saja ulahnya. Dari yang selalu menolak makan dengan menutup rapat mulutnya, sampai menyembur-nyemburkan atau melepeh kembali makanan yang sudah berhasil masuk ke mulutnya. 


Hal ini tentu saja membuat orang tua waswas. Terlebih sebagai akibatnya berat badan si kecil susah sekali naik. Padahal di usia ini anak justru perlu mendapat asupan gizi lebih banyak dibanding saat bayi. Pasalnya, daya jelajah anak semakin luas mengingat dia sudah bisa berjalan. Otaknya pun "lapar" untuk mendapatkan berbagai masukan mengenai hal-hal baru melalui berbagai stimulasi.
Akan tetapi, papar dr. Nuraini Irma Susanti Sp.A., keadaan seperti ini seakan diputarbalikkan oleh aneka mitos yang banyak diyakini masyarakat. Seperti, "Kalau anak mau jalan, biasanya memang susah makan. Wajar aja kalau badannya jadi kurus." Atau, "Enggak usah cemas, itu tandanya anak mau pintar."
 

ALASAN MENOLAK MAKANAN
Biasanya, kata dokter yang berpraktek di RSUP Fatmawati, Jakarta Selatan ini, anak mulai mendapat makanan tambahan dan susu pendamping ASI di usia 6-7 bulan. Semakin bertambah usianya, seperti saat memasuki usia 9 bulan, maka porsi makannya harus lebih besar dibanding ASI. Biasanya, anak mendapat tiga jenis makanan dalam satu hari, yakni makanan padat, susu tambahan pendamping ASI, maupun ASI itu sendiri. Dalam menjalani kebiasaan baru ini, bisa saja anak mengalami hal-hal yang membuatnya enggan menyantap makanan. Inilah alasannya:


1. Tak pernah benar-benar lapar
Tak heran jika makanan yang terdiri atas tiga kali makanan utama dan dua kali makanan selingan membuatnya kenyang. Jadi ketika waktu makan yang berikutnya tiba, ia belum benar-benar lapar. Ditambah lagi rutinitas makan dan minum susu yang bisa membuat anak bosan. Hal seperti ini akan terbawa terus hingga masa batita awal. Namun orang tua sering lupa dan menganggap perilaku menolak atau melepehkan makanan sebagai masalah besar. 


2. Mulai punya selera terhadap rasa
Yang juga kerap terlupakan, di usia batita ini rasa ingin tahu anak sudah semakin besar. Ia sudah punya selera tersendiri terhadap makanan. Itulah kenapa makanan anak usia ini tidak boleh disamakan dengan makanan bayi yang tawar. Tidak ada salahnya memberikan rasa-rasa tertentu yang dia sukai ke dalam makanannya, seperti garam dan gula. Apa citarasa yang disukai anak, tugas orang tualah untuk menemukannya.


3. Bosan tekstur yang halus dan campur aduk
Rasa bosan bisa juga muncul dari tekstur. Bukan mustahil anak bosan atau sudah merasa mual dengan makanan lunak dan campur aduk seperti makanannya semasa bayi. Dengan demikian orang tua mesti cerdik dalam menyiasati olahan dan penyajian makanan. Variasikan sedemikian rupa agar anak tetap suka makan, misalnya dengan memisah-misahkan lauknya dan memblender berasnya saja lebih dulu sebelum diolah.


4. Munculnya sikap negativistik
Sikap negativistik yang menjadi ciri usia batita antara lain ditandai dengan sikap penolakan terhadap rutinitas yang selama ini wajib dijalani anak. Namun, lantaran khawatir kecukupan gizi anak tidak terpenuhi, orang tua biasanya makin keras memaksa anaknya makan. Padahal cara ini justru harus dihindari.
Asal tahu saja, semakin dipaksa anak usia ini justru akan makin ngotot melakukan perlawanan sebagai wujud negativistiknya. Realisasinya apalagi kalau bukan penolakan terhadap makanan. Bisa dimaklumi kalau ada orang yang sampai dewasa emoh makan nasi atau sama sekali tak menyentuh daging. Bisa jadi sewaktu masih kecil yang bersangkutan sempat mengalami trauma akibat perlakuan orang tuanya yang selalu memberinya makan secara paksa.


5. Mulai cari perhatian
Cari perhatian biasanya ditunjukkan dengan mudahnya anak melahap makanannya saat disuapi pengasuh sementara selagi disuapi orang tuanya malah jual mahal.


6. Mulai eksplorasi ke mana-mana
Ketika sudah mahir berjalan, anak akan lebih mengutamakan kegiatan eksplorasi ketimbang acara makan. Lihat saja cara bermainnya yang disertai gerakan berjalan, memanjat, atau berlari seolah tidak pernah lelah. Tak heran jika acara makan dianggapnya sebagai kegiatan buang-buang waktu, apalagi kalau diminta duduk diam.
 

7. Sedang sakit
Tidak mau makan yang disebabkan alasan medis biasanya disertai ciri-ciri badan lemas, sering demam, bolak-balik diare, berat badannya tak bergerak naik atau malah mengalami penurunan, dan adanya perubahan tingkah laku. Kalau semula anak terlihat aktif, riang dan "cerewet", maka di kala sakit ia lebih suka diam dan terlihat malas-malasan.
Kalau anak menunjukkan gejala seperti itu, tentu harus segera diperiksakan ke dokter. Sebab dilihat dari indikasinya, besar kemungkinan problema sulit makan ini disebabkan radang tenggorok, lambung terganggu, atau malah kena vlek paru-paru, bahkan TBC.
 

8. Kebanyakan diberi camilan manis dan gurih
Bisa juga anak tampak lemas tapi tidak memperlihatkan gejala sakit. Yang seperti ini, menurut Nuraini, boleh jadi akibat tidak tercukupinya asupan kalori dari makanan padat. Anak yang sulit makan seperti ini biasanya punya kebiasaan makan yang salah. Semisal, belum apa-apa anak sudah dijejali susu, permen, cokelat, atau snack yang mengandung MSG. "Sekalipun mengenyangkan, makanan seperti ini jelas-jelas tidak bisa memenuhi angka kecukupan gizi si kecil. Karena sudah merasa kenyang, jangan salahkan bila ia cenderung menolak makanan padat."
 

KIAT KREATIF MENGATASINYA  


Nuraini mengakui bahwa mengatasi batita yang susah makan memang bukan masalah gampang. "Makanya saya selalu mengingatkan orang tua pasien untuk senantiasa bersabar dan kreatif." Mencoba bersabar memang tidak mudah karena umumnya orang tua lebih gampang kesal dan putus asa menghadapi si kecil yang tidak lagi kooperatif. Beberapa tips berikut bisa dicoba untuk diterapkan di rumah:
* Sebelum memberi makan, cicipi dulu makanan tersebut. Kalau menurut kita tidak enak, ya jangan paksa anak menikmatinya.
* Kombinasikan rasa asin dan gurih dari lauk pauk secara pas dengan rasa asam dan manis dari buah-buahan. Ini semata-mata supaya makanan tersebut enak untuk dicecap, harum ketika dicium, dan menggugah selera.
* Variasikan hidangan setiap kali makan, baik dari pilihan bahan makanannya maupun penyajiannya.
* Begitu juga pilihan peralatan makan. Manfaatkan bentuk, gambar dan warna-warna menarik kesukaan anak. Sementara penyajiannya bisa diakali dengan tampilan yang lucu dan menarik seperti hiasan dari tomat, wortel, sayur atau irisan telur di atasnya.
* Soal lauk pauknya, berikan seperti apa yang dimakan anggota keluarga lainnya. Jangan membatasi dengan hanya memberinya olahan hati ayam, wortel dan bayam. Kacang merah yang ditumbuk, sup kacang hijau atau kacang polong sah-sah saja dicampur dengan ikan, daging sapi atau ayam maupun telur. Yang harus diberikan secara terbatas dan hati-hati sebetulnya hanyalah jenis lauk pauk yang mengundang alergi seperti ikan laut, udang, dan telur.
* Bangun pula suasana makan yang menyenangkan. Bila perlu libatkan anak. Kalau anak suka makan sambil diiringi musik, why not? Kalau anak bisa lahap sambil main mobil-mobilan, ya tidak apa-apa. "Asalkan lambut laun seiring dengan bertambahnya usia, anak harus digiring untuk tahu bahwa di sini dan begini, lo, cara makan yang baik itu."
* Yang juga sering terjadi, gara-gara tidak mau makan, orang tua lantas "menggenjot" anaknya dengan asupan susu lebih banyak. Padahal pola seperti ini justru hanya akan membunuh nafsu makannya. Bagaimana pun, makanan padat penting bagi anak. Terutama sebagai latihan dan pembelajaran mengunyah sampai menelan makanan tanpa tersedak. "Tidak mungkin sampai dewasa ia hanya mengandalkan susu sebagai makanannya." Malahan, pemberian susu sebaiknya dikurangi secara bertahap.
* Hindari atau setidaknya kurangi pemberian makanan "alternatif" yang mengenyangkan seperti cokelat, dan sejenisnya. Kalau asupan karbohidratnya memang dianggap kurang, misalnya karena si anak tak suka nasi, berikanlah makanan alternatif yang kandungan zat gizinya setara. Bisa roti, makaroni, jagung, dan lain-lain.
* Berikan tambahan vitamin atau suplemen makanan yang dapat menutupi kekurangan zat gizi tertentu akibat ia sulit makan. Jangan lupa, konsultasikan dulu dengan dokter yang bisa menilai kebutuhan anak. Harus diingat bahwa vitamin/zat gizi yang terdapat dalam sumber nabati maupun hewani yang fresh jauh lebih baik dari vitamin/zat gizi sejenis yang didapat dari suplemen.


PERKEMBANGAN OTAK DAN FISIK


Nuraini menyangkal pendapat yang mengatakan perkembangan anak usia ini secara fisik memang sedang surut, sementara perkembangan otaknya meningkat pesat. "Yang benar, perkembangan otak dan fisik berjalan seiring. Untuk mendapatkan stimulasi, anak perlu eksplorasi dan agar bisa bereksplorasi ia memerlukan makanan berenerji yang bisa diandalkan untuk menghasilkan tenaga. Jadi, tipis kemungkinan anak bisa semakin pintar kalau fisiknya loyo."
***Gazali Solahuddin. Foto: Dok. nakita

{ Dapatkan CD terapi gelombang otak untuk menarik cinta lawan jenis , klik link di bawah ini.......} 
Sumber : www.gelombangotak.com/Menarik lawan jenis.htm