Duh, senangnya kalau punya balita yang mandiri. Bisa sikat gigi sendiri, mandi sendiri, atau tidur sendiri. Apalagi kalau ia malah mau membantu kita ikut membereskan urusan-urusan rumah yang remeh. Entah merapikan mainan, menaruh sepatu di raknya, membuang sampah, dan lain sebagainnya. Tapi, apa iya, balita bisa dilatih supaya semandiri itu?
"Biasanya, anak yang sejak dini sudah dibiasakan melakukan beberapa hal sendiri akan terbiasa melakukannya," tutur Juliati Tarigan, Psi. "selain itu ia juga cenderung lebih bisa dimintai bantuan, karena ia merasa perbuatan itu berharga dan dihargai orang lain." Sebaliknya, jika anak terbiasa dilayani sejak kecil, entah akibat orangtua memanjakan atau tidak melatihnya mandiri, maka jangankan menolong orang lain, melakukan pekerjaannya untuk dirinya sendiri pun ia akan malas.
Menerapkan prinsip 'saling bantu' dalam keluarga memang hal yang biasa ditemukan, Namun untuk menerapkannya orangtua tak bisa mengharapkannya terjadi begitu saja tanpa contoh dan bantuan dari orangtua sendiri. Selain harus rajin memberitahu kepada anak mengapa menolong orang lain itu diperlukan, orangtua juga sebaiknya mencontohkan bagaimana perilaku terseut. Misalnya saja saat ada pengemis. Sebaiknya orangtua jangan mengatakan pada anak untuk tidak memberi karena pengemis itu malas.
"Sebaliknya, ajarkan padanya untuk memberi, disertai penjelasan dalam bahasa anak-anak, bahwa selain dirinya ada orang lain yang perlu ditolong," tutur psikolog yang akrab dipanggil Julie ini. "Sehingga anak punya empati terhadap orang lain dan lingkungan sekitarnya."
Sesuaikan Usia
Untuk membuat anak bisa menolong orang lain, langkah pertama yang bisa orangtua lakukan adalah membuat anak terbiasa melakukan pekerjaan yang bisa dilakukannya sendiri. Misalnya, saat bermain dengan mainan. Biarkan anak mengambil mainannya. Kemudian minta si kecil untuk membereskan mainan itu sendiri, setelah tidak dipergunakan.
Awalnya tentu orangtua harus membantu, misalnya membereskan mainan itu bersama-sama. Kemudian tingkatkan permintaan kita supaya ia memberesi mainannya sendiri tanpa bantuan. Apapun hasilnya, entah itu rapi atau berantakan, pujilah si kecil. "Dengan begitu, anak akan merasa dihargai dan tidak akan merasa keberatan jika diminta melakukan sesuatu untuk dirinya sendiri."
Seandainya anak sudah terbiasa membereskan mainannya sendiri, kita bisa mengajarinya hal-hal lain, yang disesuaikan dengan usia dan kemampuannya. Misalnya saat makan, kita bisa meminta tolong pada si kecil untuk mengambilkan botol sambal atau saus tomat. Bisa juga hal-hal lain seperti mengambil, memakai, dan mengembalikan sepatu ke tempatnya sendiri tanpa bantuan orang lain. "Kalau perlu, larang pengasuhnya atau siapa saja membantu si kecil mengerjakan sendiri hal-hal yang remeh itu," ungkap psikolog lulusan Universitas Indonesia ini.
Perlu Sabar
Untuk mengajari agar balita mandiri serta mau membantu orang lain, diperlukan kreativitas orangtua, agar anak tak merasa selalu disuruh dan diatur. Ada cukup banyak cara untuk melakukannya. Misalnya kita bisa menyisihkan waktu pada akhir pekan untuk membersihkan rumah bersama-sama atau berkebun. Biarkan balita membantu sebisanya. Jangan memarahinya jika hasil pekerjaanya tidak sesuai dengan keinginan kita. Yakinkan si kecil bahwa apapun yang dikerjakannya akan dihargai oleh orang lain. Dengan begitu, anak akan tetap bersemangat melakukan berbagai kegiatan yang diberikan padanya.

"Kesabaran tentu jadi salah satu kuncinya. Sebab dengan kemampuan balita yang terbatas, tak jarang orangtua harus mengulangi lagi pekerjaan yang diulangi anak," kata Julie. "Jangan sampai anak dikiritik atau dicemooh. Sebaiknya beritahu bagaimana cara mengerjakan sesuatu dengan baik dan benar."
Terkadang balita juga merasa ia sudah bisa melakukan hal yang dilakukan oleh kakaknya, sehingga ia ingin mengerjakan hal yang sama. meski kita tahu balita belum bisa melakukannya, biarkan ia melakukannya. Ini agar ia tahu bahwa ia memang belum bisa. Bagi anak sendiri, meski tak bisa melakukan, ia akan merasa puas dan tidak merasa dibedakan dari kakaknya. Sebab tak jarang anak merasa pembedaan aktivitas berarti terjadi pembedaan kasih sayang. Padahal maksud orangtua baik, menyesuaikan kemampuan anak dengan tugas yang diberikan. Karenanya pikirkan masak-masak tugas apa yang akan diberikan pada anak. "Tentunya, sepanjang yang tidak mengandung bahaya seperti menggunakan senjata tajam, alat-alat listrik, dan sebagainya."
Bagi balita yang memiliki saudara, mungkin tak ada masalah dalam melakukan tugas bersama-sama. Sebaliknya bagi anak tunggal tentu berbeda. Pasalnya, sebagai orangtua kita hanya mengurus kebutuhan satu anak saja. Sehingga sangat mungkin anak diperlakukan bagai raja, serba dilayani, bahkan tak pernah dibiasakan melakukan hal-hal remeh sendiri.
"Bagi anak tunggal, sebaiknya sering-sering diajak berkunjung ke tempat saudara sepupunya. Dengan begitu ia akan terlatih untuk berbagi, entah itu mainan, makanan, atau apapun. Atau masukan ia ke preschool agar bisa bersosialisasi dengan anak-anak lain sehingga tidak tumbuh jadi anak yang egois."
Pendek kata, jika ingin mengajari balita untuk bisa membantu orang lain, gunakan cara yang menyenangkan, agar ajkaran orangtua mengena dan diikuti anak. Tak perlu menuntut anak untuk bisa melakukan segalanya sendiri. Apalagi kemudian anak sampai merasa dirinya selalu disuruh-suruh dan komplain ke orangtua.
Jika terjadi yang seperti ini, ajaklah anak berbincang-bincang. Tanyakan apa alasannya. Seandainya anak bisa memberikan jawaban yang bisa diterima nalar, sebaiknya orangtua mengkaji. Siapa tahu apa yang dikatakan si kecil benar. Selain itu, jangan menghakimi jika anak tak menurut atau tak mau melakukan tugas yang kita berikan. Bisa saja saat kita memintanya melakukan sesuatu, mood anak sedang tidak baik. "Jangan memaksakan kalau momennya tidak tepat," saran Julie. Dengan memahami kondisi balita, membuat balita mandiri dan suka menolong akan bisa berlangsung dengan baik.(alfa)
{ Dapatkan CD terapi gelombang otak untuk membuka dan memperkuat aura anda , klik link di bawah ini......}
Sumber : www.gelombangotak.com/membuka_aura.htm

Tidak ada komentar:
Posting Komentar