Tampilkan postingan dengan label batita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label batita. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 Agustus 2011

Huaaaaaaa....! Dan Nangis Jadi Senjata

Anda mengira bahwa Anda lebih cerdik dan pintar ketimbang balita Anda? Coba cek dulu, apakah anak-anak suka menangis dan mengamuk kalau kemauannya tidak dituruti, dan Anda akhirnya pilih mengabulkan apa yang diinginkannya?

Minggu pagi yang cerah, Alin mengajak anak-anaknya ke sebuah mal yang belum lama dibuka. "Kita lihat-lihat saja ya, nggak boleh ada yang minta ini-itu. Mama cuma mau ngajak jalan-jalan dan kalau sudah capek kita makan doi restoran terus pulang," begitu pesan Alin kepada tiga anaknya yang berusia 8,6 dan 4 tahun.

Tentu saja semua anaknya menjawab kompak, "Iya, Mama." Namun, apa yang terjadi setelah sampai di mal yang cukup ramai pada akhir pekan itu? Di sebuah toko mainan, anak-anak mengajak berhenti. Mereka bilang, "Cuma lihat-lihat, Mama."

Hampir setengah jam mereka di dalam toko itu. Alin mengajak mereka keluar, tapi si bungsu ternyata enggan pindah tokok. Dia memegang erat sebuah mainan robot yang bisa berjalan, dan meminta ibunya untuk membelikannya. melihat gelagat yang tidak baik, Alin berusaha tegas menolak permintaan itu dengan mengingatkan janji mereka sejak awal, bahwa mereka hanya melihat-lihat. Kenyataannya, si bungsu tidak peduli, dia mulai menangis sambil menghentak-hentakkan kakinya.

Ketika Alin melangkahkan kaki meninggalkan toko itu, si bungsu makin kencang menangis sambil menggelesotkan tubuhnya ke lantai. Seketika itu juga rasa malu dan panik muncul pada diri Alin. "Duh, rasanya waktu itu semua mata memandang saya dan menilai saya sebagai ibu yang tidak becus," ungkapnya.

Karena ingin segera melepaskan diri dari perasaan dipandangi semua orang itulah, Alin buru-buru membayar mainan yang digenggam anaknya dan membawa mereka cepat-cepat keluar tokok. Luar biasa cerdik, bukan, putra bungsu Alin?

Patuhi Kesepakatan
Sepintas lalu kasus semacam itu merupakan peristiwa wajar tang sehari-hari lazim terjadi pada keluarga-keluarga yang punya anak kecil. "Ah, daripada berisik dan rewel, ya sudah dituruti saja apa maunya. Capek mendengarkan anak-anak nangis," ujar Toro yang dibenarkan istrinya, Ida.

"Toh yang diminta anak-anak paling banter juga mainan atau jajanan, ngga mahal-mahal amat. Lagian, kita kerja mati-matian juga buat siapa kalau bukan buat anak," tambah Ida. meski begitu, Probondari punya pendapat yang berbeda. Ibu lima anak yang mengantongo ijazah sarjana pendidikan dari IKIP Santa Dharma Yogyakarta ini bilang, sebagai orangtuanya hendaknya kita tidak dikendalikan oleh anak. Sebaliknya, anak-anaklah yang harus mematuhi aturan yang dibuat oleh orangtua. Lebih-lebih kalau suatu kesepakatan sudah dibuat bersama antara orangtua dan anak. Semua yang bersepakat harus mematuhinya," katanya.

Dalam kasus Alin dan anak-anaknya, mereka sudah bersepakat hanya akan melihat-lihat dan tidak ada acara membeli mainan. Mereka sendirilah yang harus mematuhi kesepakatan itu. Probondari mengakui, ada kalanya anak-anak bersuaha mencederai kesepakatan yang telah dibuat. Usaha mereka antara lain dengan menawar, membujuk, mencoba mengubah kesepakatan dengan janji baru, hingga melakukan pemaksaan kepada orangtua dengan menggunakan senjata berupa tangisan.

"Orangtua harus bisa tegas. Kalau sudah sepakat hanya lihat-lihat ya sudah, hanya lihat-lihat. Kalau mengikuti perasaan, memang inginnya kita menuruti semua kemauan mereka. Apalagi kalau kita tahu bahwa kita mampu secara finansial untuk menuruti. Tapi, orangtua 'kan harus berpikir bahwa disiplin itu juga penting, demi kebaikan anak sendiri," tutur Prabandari.

Oleh karena itu, kalau ada anak yang mencoba-coba "mengancam" dengan senjata tangisan, ia tidak akan mempedulikannya. la yakin, katau anak merengek di toko dan orangtua tetap meninggalkan toko itu, biarpun tangisannya makin keras anak akan mengikuti orangtuanya keluar dari toko. "Pada saat itulah orangtua bisa kembali merengkuhnya, dan kem bali mengingatkan tentang kesepa katan yang telah mereka buat bersama. Dengan demikian anak mengeri bahwa orangtua tetap menyayanginya, tapi disiplin harus ditegakkan," tambahnya.

Sebaliknya, kalau mereka diberi pengalaman bahwa dengan menangis sampai lelah pun orangtua tetap konsisten untuk menegakkan disiplin dan mematuhi kesepakatan atau peraturan yang telah dibuat, anak akan mengerti dan berhenti mencoba-coba menggunakan senjata tangisan itu.

"Pengalaman yang menyenangkan cenderung akan diulangi, dan pengalaman yang tidak menyenangkan akan cenderung dihindari," ujar psikolog Nilam Widyarini, MSi., yang rutin mengisi rubrik Psikologi di tabloid ini.

Anak anak cukup cerdik untuk mencari celah dan menguji kele mahan orangtuanya. Sikap orang tua yang tidak konsisten, lemah, dan tidak mau repot akan mem berikan pembiasaan buruk ter hadap anak.

Dan kalau sudah begitu, sebagai orangtua jangan heran atau terkejut sendiri menyaksikan anak-anak sedemikian pandai memainkan "senjata" mereka untuk mengalahkan Anda dengan menangis, mengamuk, berguling-guling di lantai, dan lain-lain.

Kuncinya Konsisten

Apa yang sebaiknya Anda lakukan jika anak-anak menggunakan tangisan, rengekan, amukan, bahkan sampai berguling-guling di lantai sebagai "senjata" untuk mendapatkan keinginan mereka?
  • Ingatlah, bahwa Anda sedang mendidik anak-anak.
  • Buang jauh-jauh perasaan kasihan terhadap anak, atau bahkan rasa malu pada orang lain karena khawatir Anda dinilai tidak becus mengurus anak.
  • Buang jauh-jauh anggapan bahwa orang lain peduli terhadap upaya Anda mendidik anakanak.
  • Lupakan saja perasaan bahwa orang-orang tengah memperhatikan Anda dan anak Anda yang tengah merengek meminta sesuatu.
  • Tetaplah konsisten untuk menegakkan disiplin.
  • Ingatkan diri sendiri dan anak Anda, bahwa kesepakatan, janji, atau peraturan tetap harus dipatuhi.
  • Jelaskan kepada anak bahwa Anda tidak akan melanggar kesepakatan, janji, atau peraturan yang telah dibuat.
  • Jika tangisan anak makin keras, tinggalkan dia. Tak perlu khawatir, anak pasti akan mengikuti ke mana Anda pergi.
  • Jika anak telah kembali mengikuti Anda, peluklah dia dan redakan tangisnya.
  • Jelaskan kepada anak bahwa Anda tetap menyayanginya, tapi Anda ingin supaya dia tidak melanggar kesepakatan atau aturan yang telah dibuat.
Ingatkan kepada anak supaya lain kali jangan mengulangi perbuatan semacam itu karena Anda tidak akan berubah sikap.

{ Dapatkan CD terapi gelombang otak untuk Membebaskan otak Anda untuk mencapai kondisi relaksasi dan meditasi , klik link di bawah ini....}
Sumber : http://www.gelombangotak.com/meditasi_alpha_theta.htm

6 KEBIASAAN BAYI YANG MASIH TERBAWA SAMPAI BATITA

Tiap tahapan perkembangan pastilah ada hal-hal baru yang dipelajari anak. Namun tak jarang kebiasaan-kebiasaan di tahap perkembangan sebelumnya masih terus terbawa. Contohnya kebiasaan-kebiasaan semasa bayi yang seringkali masih terbawa sampai anak berusia batita. Beberapa kebiasaan tersebut masih bisa dikategorikan normal, namun beberapa lainnya sudah harus diwaspadai. Seberapa jauh orang tua mencermati hal ini? "Yang terpenting, orang tua paham betul mana yang masih boleh dilakukan anak dan mana yang sebaiknya tidak," jelas Sani B. Hermawan, Psi., dari Yayasan Bina Ananda.
 

1. NGENYOT JARI, NGEMPENG DAN NGEDOT
Menurut teori psikoseksual yang dikemukakan Sigmund Freud, sejak bayi lahir sampai usia 18 bulan, anak mendapatkan kepuasaan melalui fase oral. Kepuasan itu didapat anak lewat sensasi di sekitar daerah mulutnya, baik itu berupa aktivitas makan, minum, ngedot, ngempeng, ngenyot jari dan sebagainya. Hal ini wajar karena semua anak pastilah melewati tahapan yang satu ini. Dikatakan tidak wajar bila selewat usia 18 bulan, anak masih mempertahankan kebiasaan-kebiasaan tersebut.
Upaya pencegahan tentu saja bisa dilakukan orang tua supaya anak tidak kebablasan dengan kebiasaan tersebut. Salah satunya dengan tidak membiasakan anak ngempeng dan ngenyot jari sejak bayi. Tapi kalau sudah telanjur terjadi, beberapa langkah berikut bisa dilakukan.
* Kenalkan cara minum menggunakan gelas.
* Jelaskan kebiasaannya itu dapat berakibat buruk. Seperti mengganggu pertumbuhan gigi, kuman bisa masuk ke dalam mulut kalau tangannya tidak bersih dan sebagainya.
* Mintalah anak memberikan dotnya pada anak yang kurang mampu. Atau karena sudah rusak maka minta anak untuk membuang sendiri dot-nya.
* Alihkan perhatiannya pada hal lain yang juga mendatangkan kepuasan. Contohnya dengan memperkenalkannya pada beberapa jenis mainan baru, bunyi-bunyian dan sebagainya.
* Kalau sudah diberi penjelasan, anak masih saja melanjutkan kebiasaan ngenyot jari, bisa saja orang tua mengakalinya dengan memberikan sesuatu yang pahit di jarinya. Namun lakukan hal ini sebagai upaya terakhir agar anak tidak merasa "ditipu" oleh orang tuanya sendiri.
Beberapa dampak buruk akan muncul bila anak dibiarkan lekat dengan kebiasaannya ini. Selain pertumbuhan giginya jadi tidak bagus, secara psikologis anak juga akan kehilangan rasa aman (secure feeling) bila meninggalkan kebiasaan yang sudah berubah menjadi kebutuhan ini. Padahal bila terus terbawa sampai besar, bukan tidak mungkin ia akan jadi bahan ejekan teman-temannya yang pada akhirnya akan berpengaruh pada pembentukan konsep dirinya.
 

2. NGOMPOL DAN PUP DI CELANA
Masih menurut Freud, di usia batita anak sedang memasuki fase anal. Anak akan mendapat kepuasan saat menahan BAK (buang air kecil) maupun BAB (buang air besar) sebelum melepaskannya. Untuk fase anal, sampai usia 3 tahun pun masih bisa dikategorikan wajar. Walau begitu, ketika anak sudah bisa duduk, orang tua sebaiknya mulai mengajarkan toilet training. Mungkin lebih mudah kalau diawali dengan latihan BAB di kloset, dibanding mengajari anak BAK. Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan orang tua untuk menyetop kebiasaan BAK dan BAB di celana.
* Biasakan tiap bangun pagi segera mengajak anak BAK di kamar mandi.
* Tiap 3 jam sekali dudukkan anak di kloset, meski ia terlihat tidak kebelet BAK. Begitupun menjelang tidur malam atau kala terbangun. Meski mungkin saat itu anak belum ingin BAK, kebiasaan ini bisa membantunya tidak ngompol lagi.
* Jangan terbiasa menolerir kebiasaan anak BAB di celana yang akan membuat anak mendapat kepuasan/pleasure. Bila dari mimiknya anak terlihat mau BAB, segera angkat dan dudukkan di kloset. Sebab kalau dibiarkan saja BAB di celana, lama-kelamaan anak akan merasa keenakan dan akhirnya malah tidak bisa BAB di kloset.
* Waspadai juga anak yang sudah lama tidak ngompol, tapi kemudian mendadak ngompol lagi. Mungkin saja ada masalah psikologis yang sedang dialaminya, seperti traumatic event dan sejenisnya. Tapi kalau hanya sesekali dalam jangka waktu sekian lama tak perlu dikhawatirkan karena bisa jadi anak hanya kecapekan atau mengalami mimpi buruk. Lalu bagaimana cara orang tua bisa mendeteksi adanya gangguan psikologis yang berakibat ia ngompol lagi? Salah satunya kalau selama 6 bulan terakhir anak sudah tidak ngompol lagi namun kemudian secara berturut-turut mulai ngompol lagi, besar kemungkinan ia mengalami gangguan psikologis.
* Jangan anggap remeh kebiasaan anak BAK dan BAB di celana. Sebab masalah ini akan mendatangkan serangkaian dampak buruk kalau terus terbawa sampai tahapan usia selanjutnya. Dalam pergaulannya, sosialisasinya akan terganggu karena ia akan jadi bahan ledekan teman-temannya.

3. MEMAINKAN ALAT KELAMIN

Satu lagi kebiasaan bayi yang masih terbawa sampai batita menurut teori Freud adalah kenikmatan memainkan alat kelamin. Dalam bahasa psikologinya, tahapan ini diistilahkan sebagai fase phallic. Kebiasaan ini masih dianggap normal, bahkan sampai anak berusia balita. Walau dianggap normal, orang tua sebaiknya mengarahkan anak untuk tidak melakukannya. Beri pemahaman begitu anak bisa diajak berkomunikasi. Jelaskan bahwa kebiasaannya ini bisa menyebabkan alat kelaminnya terluka, lecet, kotor, bahkan infeksi bila ada kuman masuk. Anak perlu tahu kalau area di sekitar alat kelamin itu sangat sensitif.
Kalau cara tersebut tidak berhasil, maka orang tua bisa mengalihkannya dengan kegiatan lain yang juga bisa memberikannya kepuasan. Misalnya dengan mengajak anak bermain tetabuhan dan sebagainya. Tapi yang harus diingat, orang tua jangan panik bila menemukan anak sedang melakukan kegiatan ini. Jangan marahi anak apalagi bila disertai ancaman, karena tiap anak pasti mengalami fase ini.
Menjadi masalah bila kebiasaan ini terus terbawa sampai anak besar. Selain lingkungan akan menganggapnya melakukan tindakan tak pantas, anak pun sebaiknya tahu bahwa kepuasan/kesenangannya bisa diperoleh dengan cara lain, selain dengan memainkan alat kelamin. 


4. NGECES
Ngeces atau mengeluarkan air liur tanpa kontrol lazim dilakukan bayi karena kemampuan mereka mengontrol air liur memang belum sempurna. Apalagi pada anak yang memang produksi air liurnya relatif banyak, hingga dalam tenggang waktu sebentar saja air liurnya menetes tanpa disadarinya. Kebiasaan ini masih dikategorikan wajar di usia batita awal, atau sampai usia 1,5 tahunan. Setelah usia itu, orang tua sudah harus aware karena biasanya batita di usia tersebut sudah bisa diajak berkomunikasi dan melakukan imitasi atau peniruan pada orang dewasa.
Melalui komunikasi orang tua bisa menginstruksikan anak, misalnya, "Hayo, Adek ngeces lagi ya. Coba dilap dong." Pada fase imitasi, orang tua dapat menyontohkan bagaimana menelan dan menghapus air liurnya. Melalui latihan terus-menerus, diharapkan anak bisa belajar bagaimana mengelola produksi air liurnya. Memang sih proses ini butuh waktu alias tidak bisa bersifat instan. Setelah berhasil pun, orang tua tetap harus memperhatikan dan mengingatkannya. Semisal saat anak sedang asyik melakukan sesuatu, tanpa disadari ia ngeces lagi, padahal sebelumnya kebiasaan ini sudah ditinggalkannya.
Kalau hanya sesekali ngeces karena ada sesuatu yang mengasyikkannya masih bisa dikategorikan wajar. Tapi bisa dibilang tidak wajar bila sampai usia 3 tahunan anak belum lepas dari kebiasaan ini. "Sebaiknya dicek ke dokter, siapa tahu memang ada kelainan."


5. NANGIS MINTA SESUATU
Menangis adalah suatu hal yang wajar. Namun menangis di usia batita bisa dikategorikan tidak wajar bila masih digunakan sebagai cara berkomunikasi.
Di usia 2 tahunan, anak seharusnya sudah bisa berkomunikasi dengan orang lain. Saat haus, lapar, sakit, dan sebagainya, anak seharusnya sudah bisa mengungkapkannya tanpa menangis. Jadi di usia tersebut kalau tangis masih digunakan sebagai cara untuk menarik perhatian sekelilingnya, itu dapat dikategorikan tidak wajar. Beberapa hal berikut perlu dilakukan orang tua sehubungan dengan kebiasaan anak ini:
* Tekankan pada anak untuk mengungkapkan apa yang diinginkannya, tapi tidak dengan tangis. Kalau haus, anak harus bilang haus untuk minta minum, bukannya dengan menangis atau merengek.
* Orang tua harus tegas, tangisan hanya boleh digunakan untuk mengungkapkan perasaan sedih, sakit, melepaskan emosi dan sejenisnya. Namun tangis bukan cara berkomunikasi untuk mendapatkan sesuatu seperti halnya yang dilakukan bayi.
* Konsistensi menjadi penting di sini. Sekali orang tua mengatakan tidak, besok lagi untuk tangisan yang sama orang tua harus tetap mengatakan tidak yang tentu saja harus disertai penjelasan. Sekali saja orang tua tidak konsisten, anak akan belajar memanfaatkan kesempatan dan mencari-cari celah.
* Reward dan punishment juga bisa digunakan dalam kasus ini. Bila anak sudah bisa minta sesuatu tanpa menangis, orang tua bisa melontarkan pujian. Sedangkan bila anak kembali menangis untuk minta sesuatu, anak bisa "dihukum" sesuai kesepakatan yang dibuat bersama. 


6. KELEKATAN YANG BERLEBIHAN
Kelekatan bayi dengan orang tuanya, terutama ibu adalah suatu hal yang wajar. Di usia ini anak belum bisa menerima keberadaan orang lain karena tidak aman (insecure) bila tidak bersama orang tua, atau significant other seperti pengasuh, kakek-nenek, om-tante yang sering dilihatnya.
Menurut teori Erik Erikson, pada masa ini sedang terbentuk trust and distrust terhadap lingkungan. Namun bila kelekatan ini terus dibawa sampai batita, menjadi tidak wajar lagi. Saat anak sudah bisa berkomunikasi dengan orang lain, maka pada saat itu pula anak mestinya sudah belajar bahwa lingkungannya itu tidak hanya orang tua, pengasuh dan kakek/neneknya, melainkan ada juga orang lain di luar mereka.
Anak yang mempunyai kelekatan berlebihan dengan orang tuanya, akan "takut" berhadapan dengan orang lain. Padahal ini seharusnya tidak terjadi. Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan orang tua untuk menyiasatinya:
* Mulai kenalkan anak pada lingkungan yang lebih luas, bahwa dunia ini tidak hanya berisi orang tua dan significant other lainnya.
* Ajak anak bermain tanpa perlu ada attachment langsung.
* Ajarkan anak untuk memberikan salam pada orang-orang yang ditemuinya. Dengan begitu anak bisa melihat bahwa orang lain pun tidak "berbahaya" baginya.
* Minta anak menjawab pertanyaan orang lain yang diajukan padanya agar akan tumbuh perasaan trust.
* Bisa juga sesekali anak ditinggal untuk waktu yang agak lama. Dengan begitu anak akan belajar, kalaupun ditinggal orang tuanya, pasti nanti akan kembali lagi.
Bila dibiarkan saja, kelekatan yang berlebihan akan merusak kemampuan sosialisasi anak. Anak jadi tidak berani bergaul dengan lingkungan yang lebih luas dan ke depannya kehidupan sosialnya pun akan terganggu.
TIPS UNTUK ORANG TUA
Beberapa hal berikut disarankan Sani sehubungan dengan kebiasaan bayi yang masih terbawa sampai batita.
* Begitu orang tua tahu batasan usia dimana anak harusnya sudah mulai belajar hal-hal tertentu, harusnya orang tua mulai aware. Makin dini usia anak saat diajarkan, makin kecil kemungkinan kebiasaan tersebut terbawa sampai batita.
* Konsistensi adalah kunci dalam mengajarkan segala sesuatu pada anak. Sekali orang tua mengambil sikap A, seharusnya sikap itu dipertahankan saat menghadapi keadaan yang sama.
* Beri penguatan kala anak berhasil melakukan perilaku yang diajarkan. Bila perlu beri reward atau pujian, sehingga anak merasa yakin bahwa perbuatannya benar.
* Jangan bosan memberi penjelasan mengapa ia harus melakukan ini dan itu. Jangan hanya sekali memberitahu, setelahnya hanya mengatakan, "Kemarin Mama sudah bilang. Adek kok enggak ngerti juga?" Ingat kemampuan anak usia ini mengingat sesuatu masih terbatas.
* Orang tua harus yakin dengan dirinya sendiri bahwa apa yang diajarkannya pada anak akan mendatangkan manfaat. Ingat, orang tua adalah fasilitator yang membentuk tingkah laku anak.
***Marfuah Panji Astuti. Foto: Iman/nakita

{ Dapatkan CD terapi gelombang otak untuk menambah tinggi badan , klik link di bawah ini......} 
Sumber : www.gelombangotak.com/menambah_tinggi_badan.htm

Kebiasaan Buruk Anda yang Dia Suka

Anda pasti punya kebiasaan buruk, yang mungkin kerapkali diprotes pasangan. Ssst, jangan buru-buru mengubahnya! Pasalnya, meski si dia kadang mengomel panjang-pendek dengan habit Anda itu, tapi sebenarnya mereka suka dan diam-diam menikmatinya lho!

Nah, apa sajakah kebiasaan yang sebagian besar dilakukan wanita (dan disebelin pria), namun bikin pasangan kian cinta? Yuk, simak:

Berdandan
Ritual berdandan sangat kita nikmati, kadang hingga satu jam tak terasa. Tapi terbayangkah betapa sebalnya pasangan Anda menunggu Anda 'siap'? Tapi tenang, dia sadar kok Anda berdandan karena ingin tampil semenarik mungkin di hadapan pasangan dan juga orang lain. Jadi kalau dibawa ke mana-mana nggak malu-maluin. Dia sadar itu kok!

Sikap tegas Anda
Meski terkesan galak, sebagian besar pria suka pada perempuan tegas yang punya prinsip dan gampang ditebak maunya. "Saya pernah punya pacar yang amat tegas, terkesan arogan. Setiap nggak ada yang berkenan, tak segan melayangkan protes. Tapi dari situ saya jadi tahu apa maunya. Pacar yang sekarang cenderung pasif dan selalu bilang ya..ya..saja..membebek gitu. Pusing..." keluh Ido (29 tahun).

Niat Anda mendadaninya
Harus diakui, selera Anda dalam berbusana jauh lebih baik dari pasangan. Meski dia sebal jelana jeansnya yang butut itu diganti dengan yang baru, tapi di lubuk hatinya yang paling dalam dia mengakui Anda piawai memilihkan busana yang cocok untuknya. "Tapi kalau sampai diurusi sampai masalah kecil-kecil kayak kaos kaki yang nggak match sama pakaian, sebel juga sih," ujar Rendra (25 tahun).

Hobi bergosip
Perempuan mana yang tak menyukai hobi menyenangkan satu ini? Apalagi kalau Anda jenis wanita yang bisa diajak ngobrol soal apa saja, mulai gossip yang ecek-ecek hingga kasus politik terhangat. "Saya tak begitu suka baca Koran atau nonton tayangan televisi berbau gossip. Tapi bisa tahu semuanya berkat pacar yang dengan suka hati menceritakannya pada saya. Lengkap pula!" kisah Han (27 tahun).

Nah, nah, asalkan porsinya nggak kelewatan, boleh kok 'kebiasaan buruk' (anggapan bagi sebagian pria lho) diteruskan...


{ Dapatkan DVD terapi gelombang optak untuk mengatasi gangguan tidur , klik link di bawah ini.....} 
Sumber : www.gelombangotak.com/mengatasi_gangguan_tidur.htm

Kamis, 04 Agustus 2011

Enaknya Bukuku

maunya membiasakan anak suka buku sejak bayi. Eh, di tangan mungilnya buku gambar warna-warni itu digigit-gigit, dirobek, dsb. Mungkinkah mengenalkan buku pada bayi?

Di tangan si kecil buku gambar mungil basah lembar demi lembarnya. Maklum si kecil menggigitnya hingga air liurnya membasahi lembaran-lembaran buku. Biarpun Anda singkirkan bukunya, tetap saja diambil lalu digigit lagi. Bila tak menggigitnya, ampuun... lembaran buku itu dirobek-robek!

Tak ada orang yang bisa 'melahap' buku secepat anak batita. Sayangnya perilakunya bukan berdasarkan kesukaan atau kecintaan akan buku bacaan, tapi karena si kecil ingin tahu rasanya atau tangannya ingin mencoba-coba apa yang bisa dilakukannya.

Pada usia sekitar 1 tahunan tentu jangan harap si kecil akan duduk anteng sambil membuka buku-buku yang Anda sediakan untuknya. Bila toh anteng, itu karena tangan dan mulutnya 'sibuk' merobek lalu memasukkan ke mulutnya.

Tapi, bukan berarti Anda harus menjauhkan buku darinya. Sebab, mengenal bahkan akrab dengan buku sejak bayi, sangat besar manfaatnya. Bukan membaca bukunya lho, tapi membuat anak akrab, senang melihat gambar di buku, dan akhirnya diharapkan tumbuh minatnya untuk membaca.
Selain itu, buat bayi Anda yang penting adalah unsur stimulusnya, terutama untuk komunikasi. Dengan melihat buku, akan merangsang matanya untuk melihat, dan dari penglihatan itu merangsang keingintahuan bayi lalu berusaha berkomentar dalam bentuk ocehan.

Tapi, tetap sayang kalau buku-buku berharga itu dirobek-robek si kecil. Benar. Karena itu untuk melindungi buku-buku Anda sekaligus juga menumbuhkan minat si kecil akan (membaca) buku, Anda bisa melakukan beberapa hal ini:

Bukan Buku yang Mudah Rusak
Hindari buku-buku tipis. Saat anak masih berusia bulanan - 2 tahunan, buku-bukunya adalah buku dengan sampul tebal dengan lembar-lembar halaman karton yang cukup tebal sehingga tak mudah digigit dan dirobek anak. Selain itu, lembaran buku yang tebal memudahkan anak membalik-balik halaman dengan jari-jari kecilnya.

Larang Merusak Secara Konsisten
Terapkan anak untuk tidak merobek apapun jenis kertas di depannya. Jika Anda membolehkan anak merobek kertas koran, majalah bekas, dsb., tapi melarangnya merobek buku, anak bisa jadi bingung. Ingat bayi tak bisa membedakan mana kertas yang masih terpakai dan mana yang boleh didaur ulang. Karena itu tetapkan anak tak boleh merobek kertas atau buku apapun, apalagi mengunyahnya karena kertasnya bisa jadi beracun.


Alihkan Minat Merusaknya,/b>
Jika minat anak memang tidak pada buku, alihkan pada kegiatan lain di mana ia mendapat kepuasan. Atau bila ia mulai menggigit-gigit buku tanyakan apakah ia lapar.

Simpan Buku yang Mudah Rusak
Simpanlah buku yang mudah rusak (tipis misalnya) di rak yang lebih tinggi agar tak mudah diambil anak. Tetapi jangan sama sekali menyingkirkan dari bahan bacaan anak-anak. Anda bisa memberikannya lagi saat periode menggigit dan merusak (karena ingin tahunya) berlalu, biasanya di usia 2 tahunan.

Alihkan Minat Menjadi Minat Melihat
Jangan memberi kesan bahwa membaca itu terlarang baginya, hanya minat merusaknya saja yang harus 'dikendalikan'. Jadi, ketika ia merusaknya jangan memarahinya, sebaiknya mintalah dengan baik-baik. Atau katakan, "yuk kita lihat sama-sama," duduklah bersamanya, buka buku dan tunjukkan gambar-gambar di dalamnya. Bacakan dengan keras dengan cara yang menarik untuk menarik perhatiannya.

Awalnya Membaca Gambar
Buat bayi yang menarik dari buku adalah gambarnya. Apalagi di usia 1-2 tahun rasa ingin tahu mulai tampak. Dia mulai memperhatikan benda-benda di sekitarnya. Saat bicara, dia mulai menanyakan benda-benda tersebut. Orang tua sebaiknya memberitahukan nama benda atau bentuk yang ditanyakan anak, tanpa harus memberitahukan bagaimana penulisannya. Pendekatan seperti itu penting, karena awalnya mereka hanya dapat membaca gambar.

Setelah itu, terutama mulai usia 2 tahunan Anda bisa mencoba mengenalkannya huruf. Tapi, Anda harus melihat perkembangan bahasa anak. Bila kemampuan bahasanya bagus, Anda bisa memperlihatkan buku bergambar sambil menunjukkan kata-katanya, seperti tulisan apel, ayam, ibu, ayah, dsb. Bila anak belum berminat, bahkan meski usianya 4 tahun sekalipun, bila belum berminat baca, tak perlu dipaksa. Beri saja dulu gambar, misalnya, gambar rumah, ibu, bapak, dsb, yang ada tulisan di bawahnya. Kemudian tukar gambar itu ke tempat lain dan minta anak menunjukkan kata yang tepat untuk gambar tersebut.

Untuk merangsang minat anak akan buku (dan membacanya), gunakan teknik pendekatan yang tepat. Yaitu dengan pengenalan huruf atau sintesa dan pengenalan kata. Misalnya ada buah apel yang di bawahnya ada tulisan 'ini buah apel'. Nah, copot tulisan tersebut dan acak kata-katanya. Mintalah anak memasangkannya lagi. Bila anak memasangkan kata-katanya salah atau terbalik, biarkan saja. Nanti dia akan mengingat-ingat kembali kalimat yang benar tadi.

Selain itu, untuk mengajak anak tertarik pada gambar atau tulisan sebaiknya dilakukan dengan sabar. Konsentrasi anak pada sebuah kegiatan hanya bertahan sekitar 5-15 menit. Jadi jika mengajaknya bermain gambar, paling lama ya 15 menit. Setelah itu orang tua harus mengalihkan perhatian anak pada kegiatan lain dulu.

Memilih Buku buat Anak
Buku anak wow buanyak sekali. Sampai bingung memilihnya? Tak perlu bingung, sebab ada panduannya kok.

Usia 0-2 Tahun
Beri mereka buku yang tak mudah robek. Kertasnya pun tidak mudah melukai jari. Tema-tema di buku tersebut sederhana saja dengan gambar besar-besar dan tulisan sedikit. Halamannya jangan terlalu tebal, cukup 8-10 halaman.

Usia 2-3 Tahun
Anak mulai diberi buku-buku yang memuat tentang konsep tertentu. Misalnya, apa itu dokter gigi, kebun bunga, bertanam padi, dsb. Anak juga bisa diberi buku-buku tentang bagaimana cara sesuatu terjadi. Misalnya, bagaimana menanak nasi, membuat rumah, membuat baju, dsb. Gambar masih harus menonjol, namun sudah bisa diberikan kata yang agak panjang.

Usia 3-4 Tahun
Anak usia ini biasanya sudah masuk TK. Karena itu sudah bisa diberikan buku dongeng seperti Cinderella, cerita rakyat, dsb. Untuk mengasah imajinasi, boleh juga anak dirangsang membuat cerita sendiri. Jika Anda mahir menggambar, cobalah membuat satu atau serangkaian gambar. Lalu minta anak untuk membuat ceritanya. Anak-anak usia ini sedang senang-senangnya berimajinasi.

Usia 5 Tahun
Anak sudah cukup 'besar' untuk berkenalan dengan huruf, bahkan ada yang sudah ada yang pandai membaca. Rasa ingin tahunya pun semakin berkembang. Baginya sudah bisa diberikan buku-buku yang sedikit rumit dan panjang. Misalnya cerita tentang asal-usul. Mereka juga sudah bisa diajak melihat-lihat ensiklopedi anak-anak, yang umumnya bersampul tebal, memuat informasi singkat dengan gambar-gambar yang menarik.


{ Dapatkan DVD terapi gelombang otak untuk peningkat daya seks wanita , klik link di bawah ini......} 
Sumber : www.gelombangotak.com/peningkat_daya_seks_wanita.htm

Rabu, 03 Agustus 2011

Bolehkah Pakai Kalkulator?

Kalkulator bisa menjadi alat bantu, bisa juga membuat otak tumpul. Kapan waktu yang tepat membolehkan anak memakai alat canggih ini?

"Ma... aku pusing nih. Banyak banget PR matematikanya! Hitungannya banyak lagi. Boleh nggak, aku pakai kalkulator biar ngerjainnya cepat?" pinta Anggia (10 tahun).
"Lho, kamu kan baru kelas 4, belum boleh pakai kalkulator. Nanti otak kamu jadi tumpul kalau ngitung pakai kalkulator," jelas Samira (35 tahun).
"Yaah, Mama kuno deh. Teman-teman kalau di rumah boleh sama mamanya pakai kalkulator," sungut Angia.


***

Penggunaan alat bantu seperti kakulator sampai sekarang masih jadi bahan pertentangan. Banyak orangtua serta sekolah yang melarang muridnya membawa alat itu ke dalam kelas. Tapi ada juga yang mengizinkan. Menurut pihak yang tidak mengizinkan, mereka mengatakan kalkulator bisa berdampak negatif, misalnya anak jadi malas, dan bikin otak jadi tumpul. Anak jadi tidak berlatih berpikir dengan otaknya. Apa-apa tinggal pencet tombol kalkulator. Perhitungan penjumlahan, perkalian, pembagian, akar, pecahan, persentasi, langsung tampak di layar tanpa harus memutar otak lebih keras.

Henny Eunike Wirawan, psikolog di Universitas Tarumanagara Jakarta mengatakan, pengajaran matematika bagi kelas 1-3 baru sebatas pengenalan konsep, terutama untuk anak kelas 1. Kemudian, barulah anak diajarkan untuk memahami konsep, selanjutnya mengaplikasikan konsep. Karena itu untuk tahap awal, anak harus benar-benar kenal segala hal yang berkaitan dengan angka. Termasuk operasi matematika seperti tambah, kurang, kali, dan bagi. "Supaya bisa menguasai konsep dasar, anak harus mengerjakan sendiri tugas-tugasnya dengan cara manual, tanpa alat bantu."

Cara pengenalan secara manual ini menurut Henny lebih efektif daripada menggunakan alat bantu. Sebab kalau memakai alat bantu, anak akan dengan mudah mengalami ketergantungan dengan benda tersebut. Khususnya kalkulator. "Tanpa kalkulator, bisa-bisa anak tidak mampu mengerjakan tugasnya. Kalaupun bisa, tentunya sangat lambat, karena mereka tidak terbiasa melakukan perhitungan sederhana sekalipun. Dengan begitu potensi logika matematika anak menjadi tumpul, karena penggunaan alat bantu yang sebenarnya belum pada waktunya digunakan."

Di samping itu, terang Henny, penggunaan kalkulator di usia dini cenderung mendorong anak tidak terbiasa teliti dalam bekerja. "Kalkulator bisa saja membuat anak tidak mengerti konsep matematika. Akibatnya malah jadi tidak bisa matematika."

Tak Akan Gaptek
Jika ditilik dari segi positifnya, kalkulator bisa mempercepat proses kerja dan menghemat kertas hitung. "Anak tidak perlu menggunakan kertas coret-coretan dan berlama-lama mengerjakan tugas. Efeknya, lebih banyak kegiatan di luar mengerjakan PR yang bisa dilakukan anak," papar Pembantu Dekan III Fakultas Psikologi ini.

Namun lanjut Henny, ada baiknya kalkulator digunakan oleh anak yang lebih besar. Misal untuk anak kelas 1 SLTP atau lebih. "Anak yang lebih dewasa sudah mengenal rumus yang akan digunakan dan aplikasinya pada hitungan tertentu. Jadi penggunaan kalkulator benar-benar sebagai alat bantu, bukan sarana utama. Anak sendirilah yang menentukan perhitungan seperti apa yang harus dijalankannya."

Dalam perkuliahan sekalipun, tanpa mengerti proses perhitungan secara manual, kalkulator secanggih apapun tak ada gunanya. "Mahasiswa sekalipun mesti mengerti apa yang harus dilakukannya. Barulah, kalkulator digunakan untuk membantu proses perhitungan itu."

Mengenai kekhawatiran orangtua bahwa kalau anak tak dikenalkan kalkulator, anak jadi gaptek (gagap teknologi), Henny membantahnya. "Tak perlu khawatir si kecil dikatakan gaptek. Kecanggihan kalkulator bisa dipelajari dalam waktu cepat, asalkan hal-hal yang mendasar sudah dikuasai dengan baik."

Sempoa, Boleh Nggak?
Sempoa sudah ada jauh sebelum kalkulator ada. Hanya saja, baru mulai populer lagi belakangan ini. Penggunaan sempoa pada prinsipnya membantu anak untuk menyeimbangkan otak kiri dan kanan, agar kedua belahan otak berfungsi secara optimal.

Tapi menurut Henny, seandainya mau digunakan sebagai alat bantu berhitung, seyogyanya penggunaan sempoa dipertimbangkan kembali. Sebab fungsi sempoa mirip kalkulator. "Kecuali kalau si anak sudah sangat menguasai sempoa, sehingga bisa melakukan perhitungan cara sempoa cukup dengan menggunakan jari tangan. "Jadi, metodenya yang diadaptasi, tanpa perlu membawa alatnya ke dalam kelas."
(Esi)

{ Dapatkan DVD kumpulan semua audio gelombang otak ,klik link di bawah ini......} 
Sumber : www.gelombangotak.com/General-Brainwave_Kumpulan_Semua_Audio_gelombang_Otak.htm

BILA SI BATITA MERECOKI KAKAK

Merecoki kakak adalah salah satu cara belajarnya.
"Bunda, tolong ya adik dijaga. Dia selalu mau ikut main padahal belum bisa. Mainannya malah diberantakin. Tolong ya Bunda biar adik tidak merecoki aku," pinta Adi kepada ibunya sebelum bermain dengan temannya. Adi yang berusia 6 tahun merasa terganggu dengan ulah adiknya yang masih batita. Pasalnya, si adik selalu ingin mencoba atau ikut melakukan segala hal yang dikerjakan kakaknya. Akibatnya, si kakak merasa adiknya hanya merecoki melulu.
 
Sebenarnya, kata Dini Santiko Budi-Kurniawan, Psi., si batita tak berniat "mengganggu" kakaknya. "Itu adalah salah satu cara si batita belajar dari lingkungannya. Kebetulan sekali, ia menemukan contoh 'makhluk' dalam hal ini kakaknya yang mungkin dalam benaknya tidak jauh berbeda dari dirinya. Jadi, si batita seolah-olah menemukan dunia yang sebenarnya yang dapat ditiru. Apalagi pada masa ini, si batita memang sedang memasuki tugas perkembangan meniru," papar Psikolog di TK & KB Primagama Kemang Pratama, Bekasi ini.
Menghadapinya, lanjut Dini, orang tua tak perlu jengkel atau kesal karena semua batita yang lahir bukan sebagai anak pertama pasti akan berperilaku demikian. "Adanya seorang kakak akan menjadi contoh baginya untuk belajar melakukan dan bersikap sosial dalam lingkungan keluarga dan masyarakat."

Umumnya, ini dimulai saat batita mulai berkembang kemampuan berbahasanya. "Kira-kira saat batita berusia menjelang 2 tahun." Dengan semakin berkembangnya kemampuan berbahasa, maka tingkat intelegensi anak pun semakin berkembang.
Hal ini juga memunculkan kesadaran pada si batita terhadap dunia sekitarnya, sehingga si batita pun semakin bisa "menyadari" arti kehadiran dirinya di tengah-tengah keluarga dan benda di sekitarnya. Ia akan belajar bahwa ada sosok "mini" lain yang berperilaku sangat menarik untuk ditiru. Si batita juga bisa berpikir, apa yang dilakukan si kakak, ia pun bisa melakukannya.

BERSIKAP ADIL
Akibat ulah si batita biasanya bakal berdampak persaingan yang cukup hebat pada kakak-adik yang berselisih umur sedikit. Apalagi jika orang tua bersikap berat sebelah. Misalnya, selalu memenangkan adik atau kakaknya saja. Namun, ini tak akan terjadi bila selisih umur antara kakak-adik agak jauh. Biasanya si kakak berusaha untuk memaklumi perilaku adiknya walau sebenarnya merasa terganggu.
Jadi, bagaimana sebaiknya orang tua bersikap? "Tidak berat sebelah!" tandas Dini yang juga menjadi konsultan di Biro Konsultasi Psikologi dan Pendidikan Philemena, Bekasi, serta Biro Psikologi & SDM Violet, Jakarta. Soalnya, masing-masing anak berada dalam tahap yang menuntut dirinya untuk mampu menyelesaikan tugas perkembangannya dengan baik.

Terhadap sang kakak, orang tua bisa memberikan pengertian bahwa adiknya hanya ingin melakukan apa yang dilakukan oleh si kakak. Si adik menganggap apa yang dilakukan si kakak adalah sesuatu yang hebat. Untuk itu, alangkah baiknya bila si kakak berbesar hati memberi kesempatan kepada adiknya untuk memainkannya bersama-sama atau secara bergantian.
Sedangkan bagi si adik, orang tua juga harus bisa memberikan pengertian yang sesuai dengan bahasa seusianya bahwa ia tak harus merebut mainan kakaknya. Lebih baik menggunakannya secara bergantian. Ajaklah si batita untuk menunggu gilirannya bermain. Atau, tawarkan kepada keduanya untuk bermain bersama-sama.
Selain itu, bila orang tua mampu tak ada salahnya memberikan permainan yang serupa dengan milik kakak kepada si batita. Mintalah kepada mereka untuk bermain bersama dengan miliknya masing-masing. Atau, berilah pengertian kepada si batita untuk tidak selalu mencampuri urusan kakaknya. Ajaklah ia untuk melakukan kegiatan yang lain.

TIP-TIP BAGI ORANG TUA

1. Pahami tugas perkembangan masing-masing anak. Jangan karena lebih tua, si kakak harus selalu mengalah pada adiknya. Sebaliknya, jangan karena masih kecil, maka si adik harus dimenangkan. Masing-masing anak memiliki hak untuk bereksplorasi dan berkembang sesuai tahapannya. Dengan mengerti dan memahami akan tugas-tugas perkembangan tiap anak, orang tua diharapkan mampu bersikap adil terhadap anak-anak.
2. Ajaklah kakak untuk bisa berbagi permainan dengan adiknya.Berikan pengertian sederhana kepada si kakak tentang apa sebenarnya maksud si adik. Bila perlu ciptakan suatu permainan yang bisa dilakukan bersama-sama. Atau, jika si adik ikut-ikutan mainan kakaknya, ajaklah si kakak untuk berbagi dengan si adik. Sedangkan kepada si adik, mintalah ia agar bisa bersabar dan beri tahu agar meminta izin terlebih dahulu pada kakaknya untuk bisa main bersama.
3. Jangan memarahi atau memaksa si kakak, apabila ia benar-benar sedang tidak ingin diganggu. Sebaiknya, ajaklah si batita untuk melakukan permainan atau kegiatan yang lain.
4. Gunakan selalu bahasa yang halus dan sesuai dengan tahap perkembangan anak.
***Utami Sri Rahayu. Foto: Iman/nakita

{ Dapatkan DVD terapi gelombang otak  penampilan athletis , klik link di bawah ini......}
Sumber : www.gelombangotak.com/fit_berenergi.htm

Bermaknanya Sentuhan Anda

Sentuhan sungguh ajaib. Bukan hanya bagi dua insan dewasa lain jenis, bagi bayi pun sangat bermakna. Sentuhan Anda ekspresi kasih sayang dan cinta. Lebih dari itu menjadi stimulus bagi perkembangan syaraf-syarafnya.

Apa yang Anda lakukan bila buah hati Anda tiba-tiba menangis keras. Sudah pasti Anda segera mengangkatnya, memeluknya, lalu mendekatkan ke payudara Anda atau botol susunya. Tangisnya memang berhenti. Tapi, jangan heran bila sejurus kemudian ia bisa menangis lagi. Bayi kecil Anda memang tak hanya membutuhkan makanan atau minuman saja, lebih dari itu ia membutuhkan sentuhan Anda.

Cobalah angkat, lekatkan di dada, ayun-ayun badannya dengan lembut sambil tangan Anda mengelusnya disertai nyanyian lirih yang menenangkan. Apa yang terjadi? Niscaya-bila tak ada sesuatu yang menyakitinya seperti gigitan semut, perutnya kolik, atau popoknya basah-ia menjadi tenang, nyaman, matanya berbinar cerah. Itu menandakan bayi sangat sangat membutuhkan sentuhan Anda.

Kebutuhan Khusus
Sentuhan adalah ekspresi kasih sayang. Buat bayi itu adalah kebutuhannya yang utama. Hingga 3 bulan pertama usianya bayi memiliki kebutuhan khusus yang harus dipenuhi. Yakni, kehangatan dan rasa aman. Kehangatan dan rasa aman itu diperoleh bayi bukan semata ia mendapat makanan yang cukup, pakaian atau kebersihan saja, tetapi lebih dari itu diperoleh melalui skin to skin contact atau kontak kulit, yakni sentuhan.

Bayi-bayi berasal dari rahim yang hangat, nyaman dan tenang. Ketika lahir ia mendapati dunia asing yang 'panas', bising, dsb. Sehingga, timbul rasa tak aman dan ketakutan. Ia mendapatkan kenyamanan bila didekatkan di dada ibu, atau lewat disusui. Kedua hal tersebut membuatnya berada dekat dengan jantung. Sebab suara jantung ibulah yang menjadi 'teman karibnya' selama berada dalam rahim ibu.

Skin to skin contact itu secara psikologis menumbuhkan rasa percaya bayi pada Anda awalnya, lalu pada lingkungan yang lebih luas pada akhirnya. Bahwa ia aman, dunia ini menyenangkan, dsb. Karena itu, menyentuh si kecil, membelainya, memeluk, menciumnya, menjadi sebuah kegiatan yang berarti.

Bayi juga memiliki kebutuhan akan keterikatan atau bonding yang harus dipenuhi. Bila ia mendapatkan sentuhan, belaian, ciuman hangat, keterikatan dengan Anda, ibunya, akan berkembang. Begitupula bila seluruh anggota keluarga mengekspresikan kasih sayang itu dengan skin to skin contact, keterikatan pun akan timbul secara alamiah.

Tingkatkan Refleks
Bayi-bayi lahir ke dunia dengan dibekali reflek. Refleks merupakan gerakan yang terjadi secara otomatis. Seperti, gerakan menghisap, reflek menggenggam dan reflek menghentak serta refleks otot leher. Refleks menghisap misalnya, ketika dalam kandungan bayi tak makan lewat mulutnya. Tapi begitu lahir secara otomatis mulut kecilnya bergerak-gerak seakan mencari makanan. Bila didekatkan ke payudara pelan tapi pasti ia akan menghisapnya dengan mantap.

Meski sudah otomatis, reflek ini berkembang melalui latihan. Sentuhan Anda adalah salah satunya. Cobalah usap-usap telapak tangannya, ia akan menggenggam jemari Anda kuat-kuat. Atau berikan mainan terbuat dari karet. Ini akan melatih otot-otot tangannya.

Beberapa reflek lain yang tidak otomatis juga harus dirangsang dengan latihan dan sentuhan. Misalnya bila Anda memegang ketiaknya, mendirikannya, seakan ia melakukan gerakan berjalan. Sentuhan, sangat bermakna buat bayi.

Sebuah Bukti Dahsyatnya Sentuhan
Steve Bidulph, seorang terapi keluarga dari Amerika, menceritakan keadaan setelah Perang Dunia kedua berakhir. Ketika itu, Eropa porak poranda, ribuan anak menjadi yatim piatu, dan banyak dari mereka dimasukkan dalam lembaga pemerintah dan militer.

Swiss yang terhindar dari perang dunia mengirim para petugas kesehatan untuk ikut menangani korban perang. Seorang dokter ditugasi khusus untuk melihat perawatan pada anak-anak yatim piatu. Di beberapa tempat ia melihat rumah sakit darurat militer, di mana anak-anak, bayi-bayi ditempatkan pada boks bayi dari stainless steel, ruangan bersih, diberi susu khusus oleh jururawat berseragam putih bersih.

Di tempat lain, puluhan anak-anak ditinggalkan di desa-desa di Eropa. Akhirnya dirawat oleh orang-orang desa di antara domba-domba, anak-anak anjing, dengan susu domba dan bubur dapur umum. Apa yang terjadi? Dokter Swiss itu melihat anak-anak korban itu tumbuh sehat dibanding anak-anak yang dirawat di rumah sakit-rumah sakit. Ukuran yang dipakai dokter Swiss itu kata Bidulph sangat sederhana, angka kematian bayi. Ketika epidemi melanda seluruh Eropa, banyak anak-anak termasuk yang tinggal di rumah sakit dengan perawatan bersih itu meninggal, anak-anak di desa-desa tersebut terhindar dari kematian.

Dokter Swiss itu menemukan-hal yang dipercayai ibu-ibu tua tapi tak didengar karena mereka perempuan-- bahwa untuk hidup bayi membutuhkan kasih sayang. Bayi-bayi di rumah sakit itu mendapat segalanya kecuali belaian dan kasih sayang. Bayi-bayi di desa itu mendapat banyak belaian, melihat berbagai macam hal, mendapat perhatian yang wajar. Pendek kata mereka hidup lebih baik.

Dokter Swiss itu tak menyebut kata kasih sayang, karena konon menggusarkan para ilmuwan. Tapi menjelaskannya, yang terpenting katanya, kontak kulit ke kulit dari dua atau tiga orang tertentu dalam frekuensi tinggi. Atau melakukan gerakan yang lembut tetapi mantap. Misalnya digendong, dipangku, dipeluk, diayun, dan diisi dengan menyanyi, bercakap-cakap dsb.

Bayi Tak Suka Disentuh
Memeluk atau mencium bayi adalah ekspresi kasih sayang orangtua. Tetapi ada bayi lho yang tak suka dipelak-peluk.

Memang tak semua bayi suka diperlakukan demikian. Yakni sering dipeluk atau dicium. Bahkan bersikap kaku, menyikut atau berteriak marah bila dipeluk, seakan ia menolak Anda.

Tetapi, kata Robert B. McCall, Ph.D. dan Virginia W. Pomeranz, M.D., keduanya spesialis kesehatan anak, bukan berarti ia menolak Anda. Tetapi bayi-bayi lahir dengan kepribadian dan kepekaan yang berbeda.
Artinya, tegas mereka, bila hal ini terjadi pada buah hati Anda, berarti si kecil membutuhkan penyesuaian diri. Caranya tentu berbeda bagi setiap ibu. Beberapa hal ini bisa Anda coba
  • Jangan memaksakan diri tapi juga jangan menyerah. Setiap ada kesempatan dan ketika sedang bergembira, tertawa-tawa, rangkullah ia, lama-lama anak akan terbiasa.
  • Ketahui yang disukai dan tak disukainya, selalu mencari apa yang menyenangkannya serta bagaimana kepribadiannya, ini dapat mengembangkan kasih sayang. Jangan heran bila pada akhirnya meski ia tumbuh jadi remaja, bila mendapat kesulitan ia akan datang merangkul Anda.
Kembangkan keakraban dengan cara berbeda. Bermain bersama, ikut bersibuk-sibuk dengan kesibukan anak,akan mengembangkan keakraban tidak dengan cara pelukan atau ciuman.

{ Dapatkan DVD terapi gelombang otak untuk melakukan perubahan dari diri sendiri , klik link di bawah ini.....}
Sumber : www.gelombangotak.com/Merubah_diri_hipnotis.htm

BERMAIN SENDIRIAN PERLU UNTUK KECERDASAN

Tak sedikit manfaat yang bisa dipetik dari bermain soliter. Namun demikian, si batita tetap perlu didorong untuk bermain bersama sebayanya.
\Bermain adalah dunia anak, kita semua tahu itu. Namun, pernahkah memperhatikan, di usia batita anak-anak sudah memiliki pola bermain yang berbeda-beda. Tak jarang, mereka tampak asyik bermain sendirian atau soliter karena pola bermain ini memang masih mendominasi masa usia tersebut. Hanya saja, tak sedikit para orang tua yang merasa khawatir melihat batitanya lebih suka bermain sendiri daripada bersama teman sebaya, walau tak sedikit pula yang malah merasa tenang bila anaknya bermain sendiri. Daripada sampai bertengkar karena berebut mainan dengan teman sebaya, lebih baik main sendiri, begitu pikir mereka.

Saat si batita belum mau bermain bersama anak lain, Alma Nadhira, Psi., setuju jika orang tua tidak memaksanya. Menurut psikolog dari RS Fatmawati, Jakarta ini, mereka masih bersifat malu-malu atau takut-takut. Kalaupun di dekatnya ada teman sebaya, biasanya mereka tak saling terlibat. Apalagi kita tahu di usia batita ego anak masih tinggi. Dia belum mau berbagi dan masih ingin diperhatikan, sehingga bermain bersama dapat membuatnya merasa tak nyaman, misalnya jika si teman menginginkan mainan dari tangannya dan berusaha merebut.
Namun, tak tertutup kemungkinan anak usia batita pun ada yang sudah bisa bersosialisasi. Ia bisa bermain bersama dengan teman lainnya. Malah bisa jadi dia merasa kurang gembira bila tak punya teman bermain atau harus bermain sendirian.

Jadi, menurut psikolog yang disapa Dhira ini, bermain sendiri atau bersama tergantung pada masing-masing anak dan juga orang tuanya. Ada anak yang memang merasa lebih senang bermain sendiri dibanding bermain dengan temannya. Besar kemungkinan, ini karena orang tuanya tidak mendorong si anak bersosialisasi sejak dini.
Sebaliknya, ada juga anak yang malah lebih senang bermain bersama. Biasanya, ini terjadi karena orang tua cenderung mendorongnya bermain bersama anak lain sejak dini. Contohnya, orang tua yang tinggal dalam keluarga besar.

BERMAIN SOSIAL DAN NONSOSIAL
DALAM keterangannya, Dhira juga mengutip hasil penelitian ahli perkembangan bernama Mildred Parten, yang membagi dua pola bermain anak, yaitu bermain sosial dan nonsosial. Disebut bermain sosial jika dua anak atau lebih bermain bersama dan saling terlibat. Nah, pada anak batita, umumnya dijumpai pola bermain nonsosial atau tidak bermain bersama anak-anak lain. Pola nonsosial ini pun dibagi lagi ke dalam tiga hal yang lebih khusus.
1. Anoccupied play
Anak tidak benar-benar terlibat dalam kegiatan bermain, tapi hanya sebatas mengamati. Misalnya, ia melihat orang tuanya naik turun tangga, kemudian ia menirunya. Anak jadi bermain naik turun tangga itu karena dia suka, meski tanpa tujuan yang jelas.
2. Solitary play
Anak sibuk bermain sendiri, misalnya asyik bermain pasir sendiri walaupun di dekatnya ada anak lain. Kesannya memang ia tak memperhatikan lingkungan sekelilingnya, selain juga tak ada usaha untuk melakukan interaksi dengan anak lain.
3. Onlooker play
Anak mengamati anak lain dalam bermain. Anak memang belum mengenal lingkungan, tapi ia mempunyai minat bermain, walau belum saling berinteraksi. Biasanya hal ini terjadi pada anak usia 2 tahunan.

SEIMBANG: MAIN SENDIRI DAN MAIN BERSAMA
MEMANG, aku Dhira, di usia batita anak belum dapat berinteraksi secara baik dengan orang lain, dan dalam bermain pun cenderung masih bermain sendiri. Namun, tak ada salahnya orang tua juga mendorong anak untuk dapat menikmati permainan bersama teman-teman sebayanya.
Selain itu, paparnya, ada suatu penelitian yang mengatakan bahwa anak yang lebih banyak bermain sendiri umumnya menggambarkan perilaku yang kurang matang. Di usia nantinya akan tampak dampaknya, semisal anak jadi kurang berempati pada orang lain, kurang bisa berbagi, dan cenderung egois. Di masa dewasanya pun anak akan mengalami kesulitan dalam bersosialisasi.
Jadi, porsi bermain sendirian dan bermain bersama harus seimbang. Apalagi, bermain bersama tetap lebih besar manfaatnya, karena dalam kesempatan itu anak dilatih menjalin komunikasi, kerja sama, dan berbagi banyak hal dengan anak lain. 

Oleh karena itu, bila anak ternyata masih suka main sendiri, hendaknya orang tua mendorong atau menyemangatinya agar mau bermain dengan anak lain. Sebaliknya, bagi anak yang terbiasa bersosialisasi dan sering bermain dengan anak-anak lain, sekali-kali ada baiknya dikondisikan untuk bermain sendiri. Tujuannya, selain untuk memperoleh manfaat juga untuk melatihnya menyesuaikan diri dengan berbagai kondisi. Bila suatu waktu dia pindah ke lingkungan yang tak banyak teman, misalnya, dia tak perlu merasa kaget ataupun sedih.
Pun, andaikata anak masih lebih suka bermain sendiri, misalnya sering mengutak-atik mainan, membuat aneka bentuk dengan lilin atau lainnya, maka jangan dicegah. Untuk seterusnya, ia jangan dipaksa atau dimarahi bila menolak tawaran bermain bersama anak lain. "Biarkan saja untuk sementara waktu, baru nanti dicoba lagi. Dengan begitu, proses sosialisasinya akan terjadi secara alamiah.

ANEKA MANFAAT BERMAIN SOLITER
MESKIPUN anak batita perlu didorong bersosialisasi, bukan berarti bermain sendiri tak ada manfaatnya. Inilah beberapa di antaranya:
* Bermain sendiri melatih kognisi atau melatih kemampuan belajar berdasarkan apa yang dialami dan diamati dari sekelilingnya.
* Saat sedang sendiri memainkan permainan yang menantang, anak memiliki kesempatan melatih konsentrasi dalam memecahkan masalah. Misalnya, saat bermain pasel anak akan berusaha memfokuskan diri menyambung kepingan­kepingan gambar agar menjadi utuh kembali.
* Saat sendirian, imajinasi anak juga bebas mengembara ke mana-mana. Hal itu dimungkinkan karena dengan bermain sendiri ia dapat melepaskan diri dari kesibukan di sekeliling mereka. Jadi anak punya kesempatan untuk berpikir dan berkhayal sebebas-bebasnya. Adakalanya anak juga perlu menikmati privasinya, bukan?
***Dedeh Kurniasih. Foto: Vitri/nakita

{ Dapatkan Buku " RAHASIA DAHSYAT TERAPI OTAK"  Plus Bonus CD , klik link di bawah ini...}
Sumber : www.gelombangotak.com/Buku_RASAIA_DAHSYAT_TERAPI_OTAK.htm

BELAJAR MENGENAL IDENTITAS

"Adek, siapa namanya?" "Caca." "Rumah Adek di mana?" "Binta(r)o." "Papanya siapa?" "...."
Bangga, kan, kalu si kecil bisa menjelaskan identitas dirinya? Dari namanya sampai di mana rumahnya. Bagi si kecil sendiri, rasa percaya dirinya bakal bertambah saat ia mampu menjelaskan identitasnya. Kelak, ia pun akan lebih mudah bersosialisasi. Disamping itu, dengan mengetahui identitasnya, ia pun akan merasa bangga bahwa dirinya sama dengan teman-teman yang lain. Sama-sama memiliki ayah, ibu, kakak atau adik, sekaligus juga menimbulkan rasa aman dalam dirinya, karena batita umumnya tak ingin berbeda dari teman-temannya. Pemahamannya tentang anggota keluarga, tentunya juga dapat menumbuhkan ikatan emosional dengan keluarga.
 
Bukan cuma itu. Anak usia batita memiliki rasa ingin tahu yang besar. Nah, dengan kita mengenalkan identitasnya, rasa ingin tahu anak tentang keluarganya cukup terpenuhi. Tak kalah penting, pengenalan identitas diri bermanfaat untuk keselamatan anak. Mungkin saja, saat bepergian ke tempat umum, si kecil terlepas dari genggaman ayah atau ibu. Nah, bila anak telah mengenal identitasnya, ini akan lebih memudahkan bagi orang yang menemukannya untuk mencari orang tuanya.

Waktu yang paling tepat untuk mengenalkan identitas adalah ketika anak sudah lancar berbicara dan memahami percakapan. Dengan harapan tak
terjadi kesalahpahaman saat ditanya. Biasanya memasuki usia batita akhir, kira-kira 2 atau 3 tahun, anak sudah memiliki kemampuan berbahasa yang baik. Bahkan bisa lebih cepat lagi bila anak memiliki kemampuan berbahasa lebih awal.
Nah, coba perhatikan, apakah si kecil sudah siap untuk belajar mengenal identitasnya? Bila ya, segeralah mulai. Tetapi sebelumnya, mari simak panduan di samping ini!
 
PANDUAN MENGENALKAN IDENTITAS
* Kenalkan identitas wajib
Identitas yang wajib dikenalkan kepada anak adalah nama dirinya, nama orang tua, alamat rumah dan taman bermainnya (kalau ada).
* Lakukan secara bertahap
Untuk tahap awal, yang diperkenalkan adalah nama panggilan, bukan nama lengkap baik untuk dirinya sendiri maupun orang tua. Begitu pula dengan alamat rumah.
Jangan buru-buru memperkenalkan anak dengan nama dan alamat lengkap berikut nomor teleponnya. Daya ingat si batita masih terbatas dan kemampuannya dalam menghafal angka juga umumnya belum terlalu baik.
Setelah perkembangan kognitifnya bertambah dan kemampuan berbahasanya semakin baik, barulah pengenalan identitas dapat ditingkatkan. Mulailah dengan pengenalan nama lengkapnya, nama lengkap orang tua dan alamat lengkap rumah.
Pengenalan identitas sangat berhubungan dengan kemampuan berbahasa atau penguasaan dan pemahaman kosakata. Semakin bagus kemampuan berbahasa dan penguasaan kosakatanya, maka anak akan lebih mampu mengungkapkan identitasnya.
* Jangan bosan mengulang-ulang
Karena daya ingat di usia batita masih terbatas, maka pengulangan menjadi penting. Pilihlah waktu yang santai, saat si batita sedang tidak rewel. Bila perlu, lakukan sambil bermain atau ciptakan lagu khusus yang
mampu menampung nama-nama sederhana yang mudah diingat. "Pengenalan melalui lagu bisa menjadi cara yang efektif karena anak batita tengah memasuki tahapan perkembangan meniru. Lagu umumnya lebih mudah ditiru dan diikuti. Jadi, jangan bosan untuk mengulang-ulang.
* Harus ekstrasabar
Tak usah menyalahkan jika si batita keliru atau belum jelas menyebut identitasnya. Rasa bersalah bisa berdampak ia jadi takut mencoba lagi. Kesalahan bakal sering terjadi lantaran daya ingatnya yang terbatas dan organ bicaranya belum terlalu sempurna. Umumnya, anak batita pada tahap awal hanya mampu mengucapkan kalimat pendek yang terdiri atas 3 sampai 4 kata.
* Berikan dukungan
Bila anak merasa didukung, maka ia akan dengan senang hati memperbaiki kesalahannya. Respons yang baik dari lingkungan juga akan membuat anak merasa nyaman dalam belajar mengenal identitasnya. Hal ini memudahkan anak dalam memahami materi yang diberikan.
Kadang muncul perasaan waswas pada orang tua bila mengenalkan identitas yang lengkap pada buah hatinya. Apalagi si batita belum mampu membedakan antara orang yang berniat baik atau jahat. Walau begitu, orang tua tak perlu merasa takut. Yang penting, berikan kepastian kepada si batita tentang siapa saja yang boleh diberi tahu mengenai identitasnya, yaitu kerabat, kenalan orang tua, dan petugas berseragam seperti satpam atau polisi. Sampaikan dengan kalimat sederhana yang mudah dipahami oleh anak.
***Utami Sri Rahayu. Ilustrator: Pugoeh

{ Dapatkan CD terapi gelombang otak untuk kecerdasan, konsentrasi, daya ingat & kreativitas , klik link di bawah ini....}
Sumber : www.gelombangotak.com/kecerdasan_daya_ingat.htm

BATITA JUGA BUTUH TEMPAT CURHAT

Memberi anak kesempatan mengekspresikan perasaannya berarti kita memberi bekal keterampilan mengelola emosinya.
"Hore, Bunda pulang! Lisa kangen banget, lo, sama Bunda," celoteh seorang bocah 3 tahun dengan riangnya sambil menggayutkan diri menyambut ibunya yang baru pulang kerja.
Di usia batita, anak memang cenderung ekspresif atau spontan dalam mengungkapkan isi hati dan perasaannya. Ungkapan yang muncul dari bibirnya bisa amat beragam, entah itu menunjukkan rasa gembira, sedih, kecewa atau takut. Asal tahu saja, kemampuan anak mengekspresikan isi hatinya di masa tumbuh kembang ikut membentuk kepribadiannya kelak. 
 
Itulah mengapa, seperti dikatakan Rahmi Dahnan, Psi., dari Yayasan Kita dan Buah Hati, orang tua harus bisa menstimulasi anak mereka agar mampu bersikap ekspresif. Yang tak kalah penting, limpahan kasih sayang dan perhatian orang tua secara langsung akan mempengaruhi kemampuan anak mengekspresikan dirinya. "Coba saja perhatikan," ujar Rahmi, "Anak yang bisa secara ekspresif mengungkapkan isi hatinya, biasanya memiliki ikatan emosional yang kuat dengan orang tuanya."
Menurut Rahmi, kemampuan berekspresi pada anak tergantung pada beberapa faktor, di antaranya:
* Faktor intelegensi
Anak yang memiliki intelegensi tinggi dapat dengan mudah mengekspresikan emosinya.
* Kondisi fisik
Anak dengan kondisi fisik yang prima dan sehat tentu lebih mudah mengekspresikan isi hati dan jalan pikirannya.
* Pola komunikasi di rumah
Pola komunikasi yang baik di rumah akan mendorong anak untuk lebih ekspresif. Sebaliknya, orang tua yang cenderung selalu menyalahkan setiap emosi negatif berarti memposisikan anaknya untuk tidak berani mengekspresikan perasaannya. Berikan perhatian dan pujian pada perilaku positifnya, agar anak juga belajar bersikap ekspresif secara positif. 

SARANA BELAJAR
Kemampuan mengekspresikan diri pada seorang anak tentu saja didapat melalui proses pembelajaran, di antaranya melalui berbagai sarana berikut.
* Meniru
Ini yang paling sering terjadi. Anak yang kerap melihat ayah/ibunya menggebrak meja atau membanting pintu saat sedang marah, besar kemungkinan akan menunjukkan ekspresi yang sama ketika ia merasakan hal yang kurang lebih sama. "Bahkan, dalam mengungkapkan emosinya, anak usia batita 100% akan meniru orang tuanya," ungkap Rahmi.
Oleh karena itulah, orang tua mesti pandai-pandai membawa diri sekaligus menjadi model yang baik bagi anaknya. Celakanya, orang tua lebih sering mengomentari hal-hal negatif pada diri anak dengan cara mencela atau memarahi, sementara hal-hal positif yang dilakukannya malah jarang ditanggapi. Jika perasaan negatif lebih banyak diapresiasikan, niscaya anak pun cenderung mengungkapkan ekspresi negatifnya. Padahal anak juga pasti senang dan menunjukkan ekspresi gembira bila ayah dan ibu menanggapi perilaku positifnya. 

Yang juga penting untuk diperhatikan adalah ekspresi negatif yang cenderung muncul saat konflik melanda rumah tangga. Anak terlihat gampang murung dan sedih. Bahkan dalam jangka panjang, bukan tidak mungkin ia tumbuh menjadi anak yang rendah diri, tertutup dan pemalu. "Sedapat mungkin hindari pertikaian rumah tangga," anjur Rahmi. Kalaupun tak terhindarkan, cobalah belajar mengelola konflik agar setiap perbuatan orang tua tetap menjadi contoh yang baik bagi anaknya.
* Mengetahui reaksi seseorang
Jika reaksi seseorang sesuai dengan yang diinginkannya, maka anak akan cenderung melakukan hal sama untuk mendapatkan reaksi tersebut. Contohnya, ketika permintaan anak tidak dikabulkan, dia akan menunjukkan ekspresi kecewa dengan cara menangis. Dengan aksi seperti itu, orang tua umumnya akan memberikan apa yang diinginkan anak. Keberhasilan ini tentu akan diingat anak. Di kemudian hari, jika anak menginginkan sesuatu dan tidak ditanggapi, dia akan menangis lagi agar permintaannya dikabulkan.
* Mendapatkan reaksi seseorang
Jika reaksi yang muncul ternyata bertentangan dengan keinginannya, maka dia akan mencoba menunjukkan ekspresi lain semata-mata agar keinginannya bisa terpenuhi. Contohnya, ketika anak merasa tidak senang karena ditinggal pergi oleh ayah dan ibunya ke kantor, maka ia akan menangis. Nah, ketika orang tua tak menanggapi ungkapan hatinya itu, di kemudian hari, anak berusaha menunjukkan ekspresi dalam bentuk lain. Ia tidak menangis lagi, tapi merengek ingin digendong dan dipeluk. 

KENALI ANEKA BENTUK EKSPRESI ANAK
Menurut Rahmi, ungkapan ekspresi pada anak-anak secara garis besar dibagi menjadi tiga, yakni:
1. Ekspresi untuk menunjukkan rasa senang
Ungkapan rasa gembira terpancar dari wajah anak dalam bentuk senyuman atau malah gelak tawa sambil melonjak-lonjak kegirangan. Biasanya, anak senang ketika mendapatkan hadiah atau berhasil mencapai sesuatu yang diusahakannya. Orang tua mesti menunjukkan reaksi positif ketika anak mengungkapkan rasa senangnya, sehingga ia merasa dihargai dan diperhatikan.
2. Ekspresi untuk menunjukkan rasa takut
Biasanya anak takut ditinggal dan berpisah dengan orang tuanya. Jika ayah dan ibunya hendak berangkat kerja, anak biasanya menangis sebagai ekspresi ketidaknyamanannya saat merasa kehilangan atau ditinggal orang tuanya. Untuk menanggulangi hal ini, orang tua sebaiknya memahami perasaan anak dengan cara menerima sekaligus menghargainya. Caranya, sebelum pergi luangkan waktu sejenak untuk memeluk dan menemaninya hingga anak merasa nyaman. Jangan sampai orang tua berangkat kerja dengan membohongi atau sembunyi-sembunyi. Kalau ini yang dilakukan, jangan salahkan bila anak kehilangan kepercayaannya pada orang tua.
3. Ekspresi untuk menunjukkan rasa marah
Ungkapan kemarahan pada anak bisa beragam makna dan caranya. Ada yang mengekspresikannya dengan cara menangis, mengomel, berteriak dan memukul-mukul. Apa pun bentuknya, itu semua merupakan ungkapan ketidaksukaan/kemarahan yang tak jarang muncul begitu saja tanpa orang tua bisa tahu pasti apa penyebabnya.
Untuk bisa meredam ekspresi anak selagi marah, orang tua harus bisa memahami emosinya. Carilah sumber kemarahan tersebut. Biasanya anak menunjukkan emosi negatif seperti itu di saat tak mendapatkan sesuatu yang diinginkannya. Toh, meski dalam situasi marah, anak sebetulnya dapat diajak bicara. Jangan mengira upaya mengajaknya bicara akan sia-sia. Sebagai langkah awal, dekati dan dekaplah dia dengan penuh kasih sayang. Jika sudah mulai tenang emosinya, bukalah pembicaraan dengan nada lembut. 

DAMPAK MERUGIKAN
Bila kemampuan berekspresi seorang anak tidak dirangsang dan tidak muncul di usia ini, kemungkinan besar ia akan mengalami berbagai hambatan berikut:
* Sulit mengungkapkan isi hati dan jalan pikirannya, sehingga orang lain pun tidak bisa memahami apa keinginan dan kebutuhannya.
* Susah bersosialisasi karena anak tak mampu mengapresiasikan perasaannya kepada lingkungan, terutama teman-teman sebaya saat ia masuk dunia prasekolah dan sekolah.
* Tak memiliki kepercayaan diri dan cenderung pasif dalam menanggapi sesuatu.
Agar anak tak terimbas dampak merugikan tadi, Rahmi menyarankan sederet upaya berikut begitu orang tua menyadari anaknya kurang ekspresif.
* Mengenali emosi anak sekaligus mengidentifikasi perasaan-perasaannya. Pengenalan ini memungkinkan orang tua segera menyadari perubahan emosi yang ditunjukkan anak.
* Membangun emosi positif anak dengan cara menjalin komunikasi efektif, disamping berusaha menyelami perasaan dan pengalamannya. Buka jalur komunikasi yang positif, jangan sampai anak dikuasai perasaan cemas yang tidak menentu, semisal, "Kalau aku begini, Mama marah enggak?"
* Bersikap peka terhadap perasaan anak. Jadilah pendengar yang baik, bukan sekadar mendengar apa yang dikatakannya, melainkan mengamati emosi-emosinya yang muncul.
* Tunjukkan empati pada anak, terutama kesediaan untuk membantu mengatasi perasaan-perasaan negatifnya, seperti sedih, marah dan takut. Dengan empati kita, anak merasa mendapatkan dukungan untuk kemudian memiliki keberanian mengekspresikan isi hatinya.
* Mengenali emosi positif sekaligus emosi negatifnya berarti membuka peluang untuk menjalin keakraban dengan anak. Bantulah anak mengenali dan memahami emosinya sendiri. Kehangatan sikap, keterbukaan, dan teladan dari orang tua memungkinkan anak mengasah kecerdasan emosionalnya.
* Ciptakan zona nyaman bagi anak untuk bebas berekspresi, sehingga anak percaya ayah dan ibunya tak akan marah terhadap apa pun yang dia katakan atau lakukan.
* Jangan pernah mengabaikan atau meremehkan emosi-emosi negatif anak. Orang tua memang mesti kritis terhadap ungkapan anak, tapi bukan berarti memarahinya, lo. Perasaan diterima membuat anak mampu membangun kepercayaan pada orang tuanya. Yang tak kalah penting, cari tahu apa penyebab munculnya ekspresi negatif tersebut.
* Bimbing anak untuk mengelola perasaannya. Latih anak membangun emosi positif untuk meredam emosi negatifnya.
* Ajarkan anak memecahkan masalah, termasuk membantunya mempelajari keterampilan mendengarkan dan menganalisis masalah secara sederhana.
* Batita yang mendapat stimulasi dari orang tuanya untuk bersikap ekspresif, biasanya lebih mampu mengendalikan emosinya dibanding anak-anak yang tak dilatih sama sekali. Kelak mereka pun akan lebih terampil mengelola kondisi emosionalnya alias memiliki tingkat kecerdasan emosional yang lebih tinggi. Berbekal kemampuan ini, mereka lebih gampang berkenalan dan menjalin hubungan baik dengan orang lain karena kemampuannya memahami orang lain.
* Mereka yang terbiasa ekspresif secara positif umumnya akan lebih terampil pula menenangkan diri kala dilanda kesedihan maupun kemarahan. Mereka juga akan lebih mudah memfokuskan perhatiannya pada suatu hal.  
***Hilman Hilmansyah. Foto: Vitri/nakita 


{ Dapatkan CD terapi gelombang otak untuk mencapai kondisi relaksasi dan meditasi , klik link di bawah ini.....}
Sumber : www.gelombangotak.com/meditasi_alpha_theta.htm