Tampilkan postingan dengan label bunda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bunda. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 Agustus 2011

Huaaaaaaa....! Dan Nangis Jadi Senjata

Anda mengira bahwa Anda lebih cerdik dan pintar ketimbang balita Anda? Coba cek dulu, apakah anak-anak suka menangis dan mengamuk kalau kemauannya tidak dituruti, dan Anda akhirnya pilih mengabulkan apa yang diinginkannya?

Minggu pagi yang cerah, Alin mengajak anak-anaknya ke sebuah mal yang belum lama dibuka. "Kita lihat-lihat saja ya, nggak boleh ada yang minta ini-itu. Mama cuma mau ngajak jalan-jalan dan kalau sudah capek kita makan doi restoran terus pulang," begitu pesan Alin kepada tiga anaknya yang berusia 8,6 dan 4 tahun.

Tentu saja semua anaknya menjawab kompak, "Iya, Mama." Namun, apa yang terjadi setelah sampai di mal yang cukup ramai pada akhir pekan itu? Di sebuah toko mainan, anak-anak mengajak berhenti. Mereka bilang, "Cuma lihat-lihat, Mama."

Hampir setengah jam mereka di dalam toko itu. Alin mengajak mereka keluar, tapi si bungsu ternyata enggan pindah tokok. Dia memegang erat sebuah mainan robot yang bisa berjalan, dan meminta ibunya untuk membelikannya. melihat gelagat yang tidak baik, Alin berusaha tegas menolak permintaan itu dengan mengingatkan janji mereka sejak awal, bahwa mereka hanya melihat-lihat. Kenyataannya, si bungsu tidak peduli, dia mulai menangis sambil menghentak-hentakkan kakinya.

Ketika Alin melangkahkan kaki meninggalkan toko itu, si bungsu makin kencang menangis sambil menggelesotkan tubuhnya ke lantai. Seketika itu juga rasa malu dan panik muncul pada diri Alin. "Duh, rasanya waktu itu semua mata memandang saya dan menilai saya sebagai ibu yang tidak becus," ungkapnya.

Karena ingin segera melepaskan diri dari perasaan dipandangi semua orang itulah, Alin buru-buru membayar mainan yang digenggam anaknya dan membawa mereka cepat-cepat keluar tokok. Luar biasa cerdik, bukan, putra bungsu Alin?

Patuhi Kesepakatan
Sepintas lalu kasus semacam itu merupakan peristiwa wajar tang sehari-hari lazim terjadi pada keluarga-keluarga yang punya anak kecil. "Ah, daripada berisik dan rewel, ya sudah dituruti saja apa maunya. Capek mendengarkan anak-anak nangis," ujar Toro yang dibenarkan istrinya, Ida.

"Toh yang diminta anak-anak paling banter juga mainan atau jajanan, ngga mahal-mahal amat. Lagian, kita kerja mati-matian juga buat siapa kalau bukan buat anak," tambah Ida. meski begitu, Probondari punya pendapat yang berbeda. Ibu lima anak yang mengantongo ijazah sarjana pendidikan dari IKIP Santa Dharma Yogyakarta ini bilang, sebagai orangtuanya hendaknya kita tidak dikendalikan oleh anak. Sebaliknya, anak-anaklah yang harus mematuhi aturan yang dibuat oleh orangtua. Lebih-lebih kalau suatu kesepakatan sudah dibuat bersama antara orangtua dan anak. Semua yang bersepakat harus mematuhinya," katanya.

Dalam kasus Alin dan anak-anaknya, mereka sudah bersepakat hanya akan melihat-lihat dan tidak ada acara membeli mainan. Mereka sendirilah yang harus mematuhi kesepakatan itu. Probondari mengakui, ada kalanya anak-anak bersuaha mencederai kesepakatan yang telah dibuat. Usaha mereka antara lain dengan menawar, membujuk, mencoba mengubah kesepakatan dengan janji baru, hingga melakukan pemaksaan kepada orangtua dengan menggunakan senjata berupa tangisan.

"Orangtua harus bisa tegas. Kalau sudah sepakat hanya lihat-lihat ya sudah, hanya lihat-lihat. Kalau mengikuti perasaan, memang inginnya kita menuruti semua kemauan mereka. Apalagi kalau kita tahu bahwa kita mampu secara finansial untuk menuruti. Tapi, orangtua 'kan harus berpikir bahwa disiplin itu juga penting, demi kebaikan anak sendiri," tutur Prabandari.

Oleh karena itu, kalau ada anak yang mencoba-coba "mengancam" dengan senjata tangisan, ia tidak akan mempedulikannya. la yakin, katau anak merengek di toko dan orangtua tetap meninggalkan toko itu, biarpun tangisannya makin keras anak akan mengikuti orangtuanya keluar dari toko. "Pada saat itulah orangtua bisa kembali merengkuhnya, dan kem bali mengingatkan tentang kesepa katan yang telah mereka buat bersama. Dengan demikian anak mengeri bahwa orangtua tetap menyayanginya, tapi disiplin harus ditegakkan," tambahnya.

Sebaliknya, kalau mereka diberi pengalaman bahwa dengan menangis sampai lelah pun orangtua tetap konsisten untuk menegakkan disiplin dan mematuhi kesepakatan atau peraturan yang telah dibuat, anak akan mengerti dan berhenti mencoba-coba menggunakan senjata tangisan itu.

"Pengalaman yang menyenangkan cenderung akan diulangi, dan pengalaman yang tidak menyenangkan akan cenderung dihindari," ujar psikolog Nilam Widyarini, MSi., yang rutin mengisi rubrik Psikologi di tabloid ini.

Anak anak cukup cerdik untuk mencari celah dan menguji kele mahan orangtuanya. Sikap orang tua yang tidak konsisten, lemah, dan tidak mau repot akan mem berikan pembiasaan buruk ter hadap anak.

Dan kalau sudah begitu, sebagai orangtua jangan heran atau terkejut sendiri menyaksikan anak-anak sedemikian pandai memainkan "senjata" mereka untuk mengalahkan Anda dengan menangis, mengamuk, berguling-guling di lantai, dan lain-lain.

Kuncinya Konsisten

Apa yang sebaiknya Anda lakukan jika anak-anak menggunakan tangisan, rengekan, amukan, bahkan sampai berguling-guling di lantai sebagai "senjata" untuk mendapatkan keinginan mereka?
  • Ingatlah, bahwa Anda sedang mendidik anak-anak.
  • Buang jauh-jauh perasaan kasihan terhadap anak, atau bahkan rasa malu pada orang lain karena khawatir Anda dinilai tidak becus mengurus anak.
  • Buang jauh-jauh anggapan bahwa orang lain peduli terhadap upaya Anda mendidik anakanak.
  • Lupakan saja perasaan bahwa orang-orang tengah memperhatikan Anda dan anak Anda yang tengah merengek meminta sesuatu.
  • Tetaplah konsisten untuk menegakkan disiplin.
  • Ingatkan diri sendiri dan anak Anda, bahwa kesepakatan, janji, atau peraturan tetap harus dipatuhi.
  • Jelaskan kepada anak bahwa Anda tidak akan melanggar kesepakatan, janji, atau peraturan yang telah dibuat.
  • Jika tangisan anak makin keras, tinggalkan dia. Tak perlu khawatir, anak pasti akan mengikuti ke mana Anda pergi.
  • Jika anak telah kembali mengikuti Anda, peluklah dia dan redakan tangisnya.
  • Jelaskan kepada anak bahwa Anda tetap menyayanginya, tapi Anda ingin supaya dia tidak melanggar kesepakatan atau aturan yang telah dibuat.
Ingatkan kepada anak supaya lain kali jangan mengulangi perbuatan semacam itu karena Anda tidak akan berubah sikap.

{ Dapatkan CD terapi gelombang otak untuk Membebaskan otak Anda untuk mencapai kondisi relaksasi dan meditasi , klik link di bawah ini....}
Sumber : http://www.gelombangotak.com/meditasi_alpha_theta.htm

Kecil Pemalu, Gede Jangan Malu-Maluin

"Kenapa ya anak saya kok pemalu, sedangkan teman-temannya begitu pemberani untuk tampil?" Jika Anda termasuk orangtua yang merindukan melihat anak-anak tampil memperlihatkan kebolehannya, simak tulisan ini, karena anak Anda hanya butuh sedikit penguatan.

Tak sedikit orangtua penasaran, kenapa anaknya begitu pemalu sedangkan anak orang lain tidak. Setiap bertemu orang baru langsung menangis, minimal menyembunyikan wajahnya dan diam saja ketika ditanya. Sementara anak orang lain bahkan menjawab lancar apa pun yang ditanyakan kepada mereka, meski baru pertama kali bertemu.

Kadang timbul pula rasa heran karena anaknya jauh berbeda dengan diri mereka sebagai orangtua. "Ibunya rame bapaknya ramah, kok anaknya pendiam dan malu-malu," komentar seperti itu kerap terdengar.
"Mereka tak sendiri. Ada jutaan anak pemalu di dunia," ujar Ward K. Swallow, penulis buku The Shy Child. Dan tidak seperti masalah dalam perkembangan anak lainnya, sifat pemalu biasanya tidak sampai membuat orangtua cemas.

Lebih-lebih di antara unsur atau kualitas yang tercakup dalam sifat pemalu, banyak yang dianggap positif. Misalnya pendiam (tidak cerewet), santun (hormat, tidak banyak tingkah), kalem, rendah hati (tidak suka menonjolkan diri) dianggap sebagai sifat yang positif. Orangtua kadang tidak menganggapnya sebagai suatu masalah jika anaknya tergolong pemalu.

Namun, Swallow mengingatkan supaya orangtua lebih seksama mencermati sifat pemalu ini. Sebab, jika anak tidak diajari mengatasi sifatnya itu, sampai dewasa akan tumbuh sebagai penyendiri. Saat bekerja dia akan memilih bagian yang dapat menjadi tempatnya "mengasingkan diri". Biasanya para pemalu ini bahkan menikah dengan orang pertama yang dapat bergaul dengannya. Yang lebih memprihatinkan, jika dibiarkan dengan sifat pemalunya itu, mereka dapat mengalami gangguan kecemasan dan depresi, kata Swallow.

Campuran Emosi
Menurut Hyson dan Trieste, pada dasarnya perasaan malu itu muncul sebagai campuran emosi (termasuk rasa takut dan tertarik), tegang dan senang. Biasanya orang yang merasa malu berbicara pelan, ragu-ragu atau berhenti-berhenti, dan gemetaran. Pada anak yang lebih kecil ditandai dengan kegemaran mengisap jari, bertingkah malu-malu, berganti-ganti antara tersenyum dan merengut.

Mengapa seorang anak menjadi pemalu sementara yang lain tidak? Hubungan sosial yang baru merupakan penyebab paling sering yang membuat anak merasa malu. Hal ini berkaitan dengan perubahan besar pada lingkungan sosial dan tekanan akibat kompetisi yang ketat di sekolah.

Orangtua yang terlalu banyak mempertimbangkan apa yang mungkin dipikirkan orang lain tentang anaknya, dan memberikan otonomi (wewenang untuk mengatur diri sendiri) kepada anaknya kelewat kecil, juga mendorong timbulnya perasaan malu pada anak.

Sebagai contoh, mungkin tanpa sadar orangtua sering berkata,"Hush, malu, bicara jangan keras-keras, yang pelan saja!" Atau begini, "Malu dong kalau anak Mama ngga pinter." Sering juga terdengar perkataan seperti ini, "Malu, belum dandan sudah keluar rumah." Masih banyak lagi ucapan orangtua yang mampu menumbuhkan perasaan malu pada anak.

Tidak Penting
Dalam analisis yang dilakukan terhadap ribuan kliennya, Bernardo Carducci dalam bukunya, The Shyness Breakthrough, menyebutkan pada umumnya anak menjadi malu karena merasa takut apa yang dibicarakannya tidak penting. Mereka jadi merasa tidak bebas untuk mengekspresikan diri.

carducci, Direktur Shyness Research Institute, Indiana University di New Albany, AS, antara lain mengutip pernyataan salah satu mantan kliennya yang ketika kecil luar biasa pemalunya, sebagai berikut. "Saya tidak dapat mengekspresikan diri saya secara bebas, sehingga guru maupun teman sekelas seringkali salah mengerti tentang diri saya dengan menganggap perasaan malu saya sebagai tidak punya minat. Dalam banyak aktivitas sosial, saya tidak pernah menjadi bagian dari kelompok. Atau mungkin kelewat sensitif dan berpikir orang lain telah memperlakukan saya secara berbeda, karena saya merasa berbeda."

Carducci mengingatkan, perasaan malu pada anak-anak timbul bukan karena ia dilahirkan sebagai seorang pemalu, melainkan merupakan akibat atau bentukan lingkungannya. Ada kalanya orang menyebut sifat pemalu merupakan genetik, karena neneknya, ibunya, pamannya, dan banyak sanak familinya yang pemalu. Namun, itu tidak lebih dari sebuah kebiasaan atau nilai yang ditularkan secara turun temurun.

Jadi Masalah
Kapan sifat pemalu dianggap sebagai masalah dan perlu penanganan khusus? Meskipun pemalu bukan sebuah kekurangan yang mendatangkan nista, anak dapat menuai kerugian akibat sifatnya itu.

Pada umumnya anak pemalu dianggap sombong, tidak menyenangkan sebagai teman, membosankan (akibat suka menarik diri dari pergaulan), dan salah persepsi lainnya. Yang pasti ia akan kehilangan kesempatan untuk mengembangkan ketrampilan sosial karena dijauhi kawan-kawannya.

Biasanya perasaan malu itu akan hilang dengan sendirinya jika anak belajar beradaptasi di lingkungan sosial yang lebih luas. Perlahan-lahan dari sedikit demi sedikit dibiasakan bergaul dengan orang asing atau teman baru akan membuat anak tumbuh rasa percaya dirinya.

Orangtua hanya perlu melakukan tindakan lebih, misalnya membawanya berkonsultasi ke psikolog, jika anak memang kelewat terganggu dan terlalu tidak nyaman jika berada di antara orang lain. Sebab, jika dibiarkan, sampai dewasa dia akan tumbuh sebagai pribadi penyendiri, dan mengingkari kodratnya sebagai makhluk sosial. Kasihan 'kan?

T
iga Langkah Mengatasi Sifat Malu-Malu
Sebagai orangtua, Anda pasti ingin anak-anak tumbuh secara normal dan berkembang optimal. Berikut ini langkah-langkah yang disarankan Marion C. Hayson dan karen van Trieste dalam tulisan mereka berjudul The Shy Child, yang dapat Anda pertimbangkan.
  1. Kenali dan terima anak secara utuh. Caranya adalah dengan berusaha lebih sensitif terhadap apa yang menjadi minat anak dan bagaimana perasaannya. Maksudnya supaya hubungan dengan anak terbangun lebih baik, dan Anda dapat memperlihatkan bahwa Anda menghormatinya. Cara ini akan membuat anak lebih percaya diri dan berkurang sifat pemalunya.
  2. Bangun harga dirinya. Pada anak yang pemalu biasanya terdapat citra diri negatif, dan merasa bahwa dirinya tidak dapat diterima oleh lingkungan. Yakinkan kepada anak untuk memperlihatkan keterampilan sosialnya. Bantu anak untuk dapat merasa aman. Bila perlu, pergunakan hal-hal yang dianggapnya menarik untuk memudahkannya melakukan interaksi sosial.
    3     Rasa malu itu tidak selalu berarti buruk. Tidak semua anak merasa butuh untuk menjadi pusat perhatian. Beberapa unsur sifat malu, seperti sopan, rendah hati, dan pendiam bahkan dianggap sebagai hal yang positif. Oleh karena itu, sepanjang anak tak terlihat bahwa dia merasa kelewat tidak nyaman atau merasa sangat terganggu berada di antara orang lain, intervensi yang drastis dari orangtua tidak diperlukan. (Widya Saraswati)

{ Dapatkan DVD terapi gelombang otak untuk penyembuhan & kesehatan , klik link di bawah ini.....} 
Sumber : www.gelombangotak.com/mempercepat_penyembuhan_penyakit.htm

Kebiasaan Buruk Anda yang Dia Suka

Anda pasti punya kebiasaan buruk, yang mungkin kerapkali diprotes pasangan. Ssst, jangan buru-buru mengubahnya! Pasalnya, meski si dia kadang mengomel panjang-pendek dengan habit Anda itu, tapi sebenarnya mereka suka dan diam-diam menikmatinya lho!

Nah, apa sajakah kebiasaan yang sebagian besar dilakukan wanita (dan disebelin pria), namun bikin pasangan kian cinta? Yuk, simak:

Berdandan
Ritual berdandan sangat kita nikmati, kadang hingga satu jam tak terasa. Tapi terbayangkah betapa sebalnya pasangan Anda menunggu Anda 'siap'? Tapi tenang, dia sadar kok Anda berdandan karena ingin tampil semenarik mungkin di hadapan pasangan dan juga orang lain. Jadi kalau dibawa ke mana-mana nggak malu-maluin. Dia sadar itu kok!

Sikap tegas Anda
Meski terkesan galak, sebagian besar pria suka pada perempuan tegas yang punya prinsip dan gampang ditebak maunya. "Saya pernah punya pacar yang amat tegas, terkesan arogan. Setiap nggak ada yang berkenan, tak segan melayangkan protes. Tapi dari situ saya jadi tahu apa maunya. Pacar yang sekarang cenderung pasif dan selalu bilang ya..ya..saja..membebek gitu. Pusing..." keluh Ido (29 tahun).

Niat Anda mendadaninya
Harus diakui, selera Anda dalam berbusana jauh lebih baik dari pasangan. Meski dia sebal jelana jeansnya yang butut itu diganti dengan yang baru, tapi di lubuk hatinya yang paling dalam dia mengakui Anda piawai memilihkan busana yang cocok untuknya. "Tapi kalau sampai diurusi sampai masalah kecil-kecil kayak kaos kaki yang nggak match sama pakaian, sebel juga sih," ujar Rendra (25 tahun).

Hobi bergosip
Perempuan mana yang tak menyukai hobi menyenangkan satu ini? Apalagi kalau Anda jenis wanita yang bisa diajak ngobrol soal apa saja, mulai gossip yang ecek-ecek hingga kasus politik terhangat. "Saya tak begitu suka baca Koran atau nonton tayangan televisi berbau gossip. Tapi bisa tahu semuanya berkat pacar yang dengan suka hati menceritakannya pada saya. Lengkap pula!" kisah Han (27 tahun).

Nah, nah, asalkan porsinya nggak kelewatan, boleh kok 'kebiasaan buruk' (anggapan bagi sebagian pria lho) diteruskan...


{ Dapatkan DVD terapi gelombang optak untuk mengatasi gangguan tidur , klik link di bawah ini.....} 
Sumber : www.gelombangotak.com/mengatasi_gangguan_tidur.htm

Kamis, 04 Agustus 2011

Iodium Supaya Anak Tak 'EO.

Kebutuhan tubuh akan mineral iodium sebenarnya kecil sekali. Tapi kalau sampai kekurangan, IQ pun jadi jongkok.

Mineral yang satu ini memang powerful. Anak-anak sampai usia 10 tahun sebenarnya hanya memerlukan 40-120 mikrogram iodium setiap hari. dengan kata lain, cuma perlu 0,00004 sampai 0,00012 gram mineral ini per hari. Nimbangnya juga susah, karena terlalu sedikit. Tapi jangan main-main dengan fungsinya. Kekurangan iodium bisa bikin anak EO (alias 'bego'), pertumbuhan terhambat, dan menderita gondok.

Mineral ini sebenarnya mudah didapat dari bahan makanan. Tapi kita memang mesti selektif.
Iodium lebih banyak terdapat pada ikan air laut dibanding air tawar. Buah dan daun juga lebih banyak mengandung iodium daripada umbi-umbian.

Hormon Tiroksin
Dari makanan, tubuh kita menyerap iodium dan menjadikannya sebagai komponen dalam kelenjar tiroid yang ada di dasar leher, dan untuk membentuk hormon tiroksin atau tetraiodotironin (T4) dan triiodotironin (T3) yang diproduksi kelenjar ini. Kedua hormon ini yang lalu beredar dalam aliran darah.

Hormon tiroksin sendiri berfungsi untuk meningkatkan laju pembakaran zat-zat makanan dalam sel-sel tubuh sehingga meningkatkan laju metabolisme, kegiatan pernafasan, dan pemindahan energi. Fungsi lain hormon ini adalah menghambat penyimpanan energi dan merubahnya menjadi panas, serta mengontrol pembentukan protein.

Kekurangan iodium membuat tingkat T4 dalam darah menurun. Sinyal ini ditangkap oleh TSH (tyroid-stimulating hormon) yang lalu memerintahkan tiroid untuk bekerja lebih keras menyerap iodium dari makanan. Akibatnya, jumlah dan ukuran sel-sel kelenjar tiroid pun membesar sehingga terjadi gondok.

Gondok sendiri terdiri dari beberapa tingkat. Dari yang tidak terlihat meski kepala ditengadahkan penuh, sampai yang gondoknya terlihat nyata di leher dan bisa dilihat dari jauh. Gondok ini banyak terjadi di daerah pegunungan, yang kadar iodium di tanahnya rendah. Kadang di satu daerah, lebih dari 10% penduduknya menderita gondok. Ini yang disebut gondok endemik.

Gondok ini dapat dicegah dengan konsumsi iodium 1 mikrogram/kilogram berat badan per hari. Untuk pencegahan jangka pendek, bisa dilakukan dengan suntikan lipiodol. Namun untuk jangka panjang, pemberian garam dengan kandungan 40 ppm (40 miligram iodium per 100 gram garam) jauh lebih baik. Namun kalau sudah terkena gondok, gondok itu tak bisa mengempis kembali meski kekurangan iodiumnya sudah ditangani. Satu-satunya jalan, dioperasi.

Kekurangan iodium selama kehamilan bisa menyebabkan anak yang dilahirkan bisu-tuli, otak kurang berkembang, keterbelakangan mental, dan kretinisme (kerdil). Kekerdilan ini baru kelihatan ketika bayi berusia beberapa bulan. Pertumbuhan bayi lambat, wajah kasar dan membengkak, perut kembung, lidah membesar, bibir tebal dan selalu dan terbuka. Bila diketahui sejak awal, kondisi ini masih bisa dinormalkan kembali.

Mudah Menguap
Pada tubuh orang dewasa yang sehat, jumlah mineral iodium dalam tubuh bisa mencapai 9-10 miligram, dengan 70-80% iodium terdapat pada kelenjar tiroid. Agar tak kekurangan iodium, orang dewasa memerlukan sekitar 150 mikrogram iodium per hari dari makanan. Ibu hamil menbutuhkan 175 mikrogram/hari, ibu menyusui perlu 200 mikrogram/hari, dan bagi anak sampai usia 10 tahun butuh 40-120 mikrogram iodium per hari. Bayi yang menyusui ASI biasanya memperoleh cukup iodium, karena ASI mengandung iodium antara 30-100 mikrogram per liter. Tentu saja, asalkan ibunya juga mengonsumsi makanan yang cukup iodium.

Iodium yang ada dalam bahan makanan gampang sekali menguap. Penggorengan dan pemanggangan menghilangkan 20-25% iodium dalam makanan. Sedangkan perebusan menurunkan kadar iodium sampai 60%. Jadi, meski di pasaran sudah banyak beredar garam beriodium, pemakaiannya mesti benar. Garam beriodium harus ditambahkan ke dalam makanan yang telah dimasak, saat hendak disajikan. Bukan ketika makanan tengah diolah, karena akhirnya iodium yang ditambahkan pun hilang kembali.

Bahan makanan yang mengandung iodium
------------------------------------------------------
Sumber ug iodium/100 gram
------------------------------------------------------
ikan laut 832
kerang-kerangan 798
telur 93
daging 50
susu 47
serealia 47
ikan air tawar 30
kacang-kacangan 30
sayuran 29
buah-buahan 18
-----------------------------------------------------


Gondok Bisa Karena Goitrogen
Selain akibat kekurangan iodium, gondok bisa juga disebabkan oleh senyawa goitrogen alias pencetus gondok. Pada bahan pangan seperti daun dan akar ubi kayu terkandung linamarin, yang oleh enzim linamarase diubah menjadi hidrogen sianida. Dalam tubuh, hidrogen sianida ini diubah menjadi tiosianat. Nah, tiosianat ini merupakan goitrogen kuat karena menghambat proses iodinasi dan pembuatan hormon tiroid. Tiosianat juga bisa melewati plasenta dan mengganggu pengangkutan iodium ke janin. Senaywa ini juga bisa masuk ke dalam air susu ibu.

Goitrogen juga terdapat pada sayuran kubis, kale, lobak, dan mustard. Senyawa glukosinolat dalam sayuran ini oleh enzim mirosinase diubat menjadi senyawa aglukon yang oleh tubuh juga diubah menjadi tiosianat.
(TG)


{ Dapatkan CD terapi gelombang otak untuk meningkatkan percaya diri , klik link di bawah ini.....} 
Sumber : www.gelombangotak.com/meningkatkan_percaya_diri.htm

Imperialis Cilik

Duh, si kecil maunya menguasai segala sesuatu untuk dirinya sendiri. Rasanya hanya ia seorang yang punya hak. Perlu diajari tentang hak meski usianya masih dini.

"Ini punyaku, kakak gak boleh!" teriak Reza ngotot sambil memeluk dua buah mainan dengan ketatnya.
Lain waktu ia marah ketika melihat ibu memberi kue
sama kakak. "Kakak gak boleh, gak boleh. Untuk ade semua!"

Anda mungkin geleng-geleng kepala, kok si kecil jadi seperti imperialis cilik. Semua mau dikuasainya. Adakalanya tak perduli bahwa seperti dirinaya orang lain pun memiliki hak yang sama. Apa perlu mengajarkan soal hak ini pada si cilik?

Terlalu dini untuk mengharapkan batita kita mampu menghargai hak orang lain. Sebab, kekuasaan kerajaan yang ada di dunia ini tidak ada artinya bagi anak batita. Matahari terbit dan tenggelam serta dunia berputar pun mereka benar-benar tak peduli. Teman bermain, orang tua, nenek dan kakek, pengasuh bahkan hewan pelihaaan-semuanya seakan ada untuk kepentingan dirinya saja. Keinginan mereka segunung, kebutuhan mereka tidak dapat ditawar, perasaan mereka adalah satu-satunya yang perlu diperhitungkan.

Tahap Perkembangan Otonomi
Tak usah kaget melihat batita Anda mengeluarkan sikap yang mau menang sendiri, tak peduli dengan hak orang lain. Karena sesungguhnya pada fase usia seperti itu anak sedang mengalami perkembangan mental. Menurut Miranda Zarfiel, psikolog, anak usia 2-3 tahun yang semula (usia 0-2 tahun) dalam fase trush, fase aman karena orangtua selalu berada di sampingnya, melindungi, membantunya bahkan membiarkannya bermain dengan benda yang disukainya sepuasanya, kini memasuki fase perkembangan otonomi.

Fase perkembangan otonomi ini merupakan sikap anak agar orang lain mengakui 'keakuanya'. Anak merasa bahwa semua hal harus dalam kendali dirinya dan orang lain harus memahami dan menghargainya. Anak akan sangat marah bila keinginannya dilarang oleh orang tuanya karena dirinya berpikir ia sudah 'dewasa' dan mampu melakukan sendiri segala sesuatu.

Adakalanya anak begitu ego dalam kesehariannya, sama sekali tidak mau berbagi, tidak mau menghargai orang lain atau bahkan sedikit 'tidak' memiliki rasa kasih terhadap orang lain. Akibatnya bisa ditebak, dia jadi jarang ditemani oleh teman bermainnya. Jika demikian yang terjadi menurut Miranda tak bisa lepas dari fase perkembangan emosional anak sebelumnya yakni 'trush'.

Anak yang melalui masa trushnya dengan cukup baik, kata Miranda, biasanya energi anak tidak terlalu besar untuk menunjukkan energi 'keakuannya'. Anak sudah terpuaskan oleh pemahaman bahwa dirinya percaya dengan keadaan sekelilingnya. Dengan demikian ketika anak memasuki tahap otonomi dia tidak terlalu overacting atau menjelma menjadi 'imperialis kecil' .

Hilang sendirinya
Fase ini juga disebut Miranda sebagai fase kritis. Karena dalam tahap ini anak sudah menunjukkan kemampuan dirinya berbuat sesuatu. Merasa dirinya mampu untuk makan sendiri, sudah mampu untuk menyisir sendiri, mampu untuk memilih warna dan jenis pakaian sendiri bahkan merasa berhak mengatur barang-barang milik orang di sekitarnya.

Semua anak usia 2 - 3 tahunan akan mengalaminya. Hanya kekuatan masing-masing yang berbeda. Jadi tidak usah cemas terhadap perkembangan emosi seperti ini. Sebab, akan hilang di atas usia 5 tahunan. "Tetapi hilang tidaknya tentu membutuhkan pemahaman serta campur tangan sekelilingnya."

Campur tangan berarti memberi anak pemahaman bukan pemaksaan. Koperatif terhadap sikap anak bukan maunya orangtua sendiri, sehingga alih-alih anak menurut malah bertengkar. Termasuk juga sportif tak membenarkan anak melulu tapi perlu juga membenarkan kakak atau temannya jika mereka lebih benar, akan membuat anak lolos melewati tahap ini dengan baik. Hasilnya bahkan mungkin membanggakan. Misalnya, anak akan memiliki sifat terpuji, mandiri, bijak, dan murah hati. Sebaliknya, bila anak melalui masa tersebut tanpa penanganan yang baik, akibatnya anak menjadi otoriter dan sangat egois.

Jelaskan Hak, Perlu

Salah satu hal yang harus dipelajari oleh'imperialis kecil' ini adalah bahwa orang lain juga mempunyai hak. Tak terlalu dini? "Tak ada yang terlalu dini jika penjelasannya tepat. Semakin besar usia anak dan baru dikenalkan justru dapat membuatnya lebih sulit dikendalikan karena sikap imperialisnya mungkin sudah 'menetap' atau jadi kebiasaan," kata Miranda.

Bila anak sedang berebut mainan dengan kakak atau temannya, meski mobil-mobilan itu bukan miliknya, hanya ia yang pertama memainkanya, orangtua harus menunjukkan sikap sportif. Katakan hal sebenarnya dan minta padanya untuk meminta izin terlebih dahulu karena ingin meminjamnya. Bila pun anak sudah belajar meminjam, tapi temannya tidak memberi lantas anak menangis, tak perlu Anda sewot. Kata Miranda, menangis juga proses belajar mendidik anak perihal bagaimana rasanya ditolak, sebagaimana ia tahu rasa senang jika diberi pinjaman mainan.

Orang tua juga perlu mengajarkan anak bagaimana cara memberi pinjaman mainan pada teman, atau bahkan memberi dalam arti sesungguhnya. Orang tua pun tidak boleh egois dengan memberi pelajaran instan berupa pemaksaan anak 'murah hati' pada temannya. Ketika terjadi rebutan mainan walaupun mainan itu milik anak kita, Anda harus meminta izin anak sebelum memberikan.

Jadi, mengajarkan hak orang lain harus dimulai dengan mengajarkan hak anak sendiri. Seperti minta ijin akan meminjamkan mainan milik anak pada temannya. Kata Miranda, ini adalah pelajaran berat yang membutuhkan waktu bertahun-tahun. Tetapi mulailah sekarang saat anak menunjukkan otonominya agar perilaku itu tak menjadi kebiasaan yang menetap. Atau, Anda akan lebih pusing karenanya.

Yuk, memahami hak orang lain!
  • Jangan bertindak sebagai martir. Memang sebagian tugas dari menjadi orang tua adalah mendahulukan kebutuhan anak di depan kebutuhan sendiri. Tapi hal demikian tak selamanya. Jika Anda selalu dan selamanya melakukan hal ini tidak mustahil akan terjadi dua hal yang tidak diinginkan. Pertama, membuat Anda dibebani dan akhirnya merasa dendam. Kedua, memperkuat dan memperpanjang sikap 'imperialis' anak. Akibatnya? Anak tidak keluar dari tahap perkembangan ini, bahkan sebaliknya batita yang egois akan tumbuh menjadi anak yang sangat manja. Tak ada salahnya mempertahankan hak Anda sebagai orang tua untuk hal-hal 'privasi' misalkan, membebaskan kamar Anda dari mainan anak atau hak untuk tetap membaca buku favorit Anda.
  • Jangan hanya menuntut hak Anda, tapi juga jelaskan. Dari pada berkata 'mama tidak bisa bermain sekarang karena sedang membaca buku', lebih baik jelaskan bahwa, membaca buku adalah kegiatan yang menyenangkan bagi mama sama seperti kamu menyenangi permainan balok atau boneka. Dengan penjelasan ini membuat anak tahu bahwa Anda dan orang lain juga mempunyai kebutuhan dan perasaan yang sama persis dengan dia sendiri.
  • Hargai hak anak. Kebanyakan orang tua ingin 'membina kebesaran jiwa' anak dengan cara mendahului hak teman bermainnya. Tanpa seijinnya tak jarang Anda memberikan permainan anak pada teman bermainnya, atau bahkan memihak anak lain ketika terjadi perebutan mainan. Sayangnya, cara ini tak mengajarkan kemurahan hati anak, yang timbul malah anak menjadi egois. Anak merasa haknya selalu diabaikan atau terancam dengan demikian ia menjadi kokoh dan bertahan untuk tidak berbagi, tidak mau bekerja sama. Sikap menghargai hak anak juga harus dipertahankan ketika adik barunya sudah muncul. Tidak adil jika ia selalu dituntut untuk mengalah 'karena ia lebih besar'. Karena, bukan tak mungkin pelampiasannya adalah adu fisik atau 'menyakiti' adik bayinya. Lebih runyam kan?
  • Hargai perasaan anak. Anak tidak akan belajar menghargai perasaan orang lain jika perasaannya sendiri tidak pernah dihargai. Jika Anda mempermalukannya di depan teman-temannya atau orang dewasa lainnya dengan "Oh kamu nakal sekali, kok kamu bisa sih menumpahkan susu seperti ini?", atau tak memperdulikan pendapatnya, "sudah kamu ikuti kata mama saja." Maka, jangan heran bila anak Anda pun akan melakukan hal sama dengan Anda.
Berikanlah contoh yang baik. kata-kata tidak akan berpengaruh besar jika sikap Anda tidak sama dengan 'nasihat' yang Anda berikan. Misalnya, Anda melarang anak melakukan sesuatu, terapkan juga pada seluruh anggota keluarga termasuk Anda sendiri. Anak tetap anak-anak. Bila ia melihat kakak, ayah atau Om Tante melakukan sedang ia tidak, tentu ia akan mengambil kesimpulan "boleh" bila ia menginginkannya. 

{ Dapatkan CD terapi gelombang otak untuk menambah nafsu makan anak2 & dewasa , klik link di bawah ini.......} 
Sumber : www.gelombangotak.com/menambah_nafsu_makan_anak.htm

Rabu, 03 Agustus 2011

"Bunda, Ulang Tahunku Dirayakan Dong?

Hari ulang tahun adalah saat yang ditunggu si kecil. Apalagi, bila sebelumnya Anda sudah menjanjikannya sebuah pesta yang meriah. Hati-hati lho, pesta ulang tahun berlebihan berdampak buruk untuk perkembangan kepribadiannya.

Saat ini pesta ulang dengan tema tertentu sedang trend. Ada tema Putri Cinderella, Robot, mobil balap, dan tema-tema dongeng lainnya. Tentu saja, benang merah dari aneka pesta itu adalah mewah, meriah, banyak makanan lezat dan thanks gift yang mahal. Dengan dalih ' semua itu kan demi anak', kadang-kadang orangtua tidak memikirkan efek psikologis bagi si kecil.

Memang pesta ulang tahun yang meriah dan mewah, terkesan membuat anak bahagia dan senang. Namun, karena terlalu sibuk memikirkan 'bagaimana pesta harus berjalan sukses', orangtua jarang memperhatikan apakah si kecil benar-benar enjoy dengan pesta tersebut atau tidak. Seringkali terjadi tuan rumah cilik merasa asing di pestanya sendiri.

Wajar, Tapi...
Menurut Agustina Untari Psi, konsultan psikologi di Pusat Edukasi Prasekolah, Putik, menyelenggarakan pesta ulang tahun anak, apapun bentuknya adalah hal yang wajar, namun, bila terlalu berlebihan, dikhawatirkan malah akan berdampak buruk pada perkembangan emosional si kecil. Bukan hanya pada yang berulang tahun, tetapi juga pada teman-teman yang diundang ke pesta tersebut.

Bila Anda sudah membiasakannya untuk selalu berpesta saat ulang tahun, bisa jadi ia akan tumbuh menjadi pribadi yang boros dan penuntut. Bagaimana tidak boros, untuk menyelenggarakan pesta tentu saja Anda harus menyiapkan segala macam pernik-pernik pesta, dari kue tart, pengisi acara pesta sampai thanks gift, yang harganya lumayan mahal. Belum lagi bila ia selalu menuntut supaya pestanya lebih seru dari pesta temannya.

Anak-anak yang sering diundang ke pesta ulang tahun, memang sering menuntut orangtuanya untuk mengadakan pesta yang sama meriahnya. Tidak hanya dari si kecil, kadang-kadang orangtua pun tidak mau kalah gengsi untuk mengadakan pesta yang lebih meriah. "Pesta yang diadakan dengan alasan inilah yang berdampak buruk buat anak," tegas Agustina.

Sebelum Pesta Dimulai
Memang, orangtua mana sih yang tidak ingin melihat anak bahagia saat berulang tahun. Namun, ingat lho, kebahagiaan dari sudut pandang si kecil seringkali berbeda dari sudut pandang Anda. Misalnya, saat pesta kejutan yang Anda adakan ternyata hanya mengundang orang-orang yang tidak dikenalnya, semeriah apapun pestanya, sudah pasti ia merasa tidak bahagia.

Untuk itu, sebelum mengadakan pesta untuk si kecil, pastikan bahwa hari lahirnya benar-benar akan dirayakan. Beri pengertian padanya bawah pesta kali ini diadakan karena kebetulan ayah dan ibu punya rejeki lebih. Hal ini sekaligus mengajarkannya bahwa tidak setiap tahun pestanya akan semeriah sekarang.

Selain itu, sejak anak sudah dapat menikmati pesta ulang tahun, tanamkan padanya makna ulang tahun yang sebenarnya. Kalimat seperti, "Ulang tahun, berarti, usia Adik bertambah 1 tahun, jadi makin besar. Sebentar lagi Adik masuk TK lho!" membuatnya lebih mengerti arti ulang tahun. Kemudian, beri pengertian padanya konsekwensi menjadi seorang anak yang sudah 'lebih besar', misalnya, harus lebih sayang pada adik.

Pesta yang Berkesan
Membuat pesta ulang tahun yang spesial bagi si kecil tidak harus mahal dan mewah. Acara ini pun bisa berkesan meskipun hanya dirayakan oleh ayah dan ibu saja. Kehadiran kedua orang terdekat inilah yang paling penting saat ulang tahun anak. Semeriah apapun pestanya, tidak artinya bagi si kecil bila orang tercintanya tidak ada.

Namun, jika Anda dan suami memutuskan untuk tetap mengadakan pesta, usahakan untuk tidak bermewah-mewah. Yang penting buatlah suasana yang menyenangkan. Pilih dengan cermat siapa yang diundang, isi acaranya dengan permainan interaktif, dan sesuaikan hidangannya dengan selera anak-anak. Menyajikan sate kambing di pesta anak, misalnya, patut Anda hindari.

Sebaiknya tidak mengundang orang yang 'asing' bagi si kecil. Namun, bila si 'orang asing' itu seusia dengannya, hal itu jadi pengecualian. Teman-teman baru yang dikenalnya saat pesta membuat interaksi sosialnya berkembang. Namun, usahakan mereka berinteraksi secara langsung, misalnya, saling berkenalan, tidak hanya sebatas tamu dan tuan rumah saja, Buat suatu permainan yang melibatkan seluruh tamu pesta.

Bila anak terlihat tidak antusias di pestanya sendiri, sering menyendiri, atau cemberut saja, tandanya ia tidak bahagia. Cari tahu hal yang menjadi penyebabnya. Bila, ia tidak suka dengan suasana pestanya, biarkan ia memilih kegiatan yang menyenangkan. Selain itu, lihat juga apakah baju pestanya membuatnya tidak nyaman. Pada pesta dengan tema tertentu, kadang-kadang membuat si kecil memakai kostum sesuai tema yang belum tentu nyaman.

Namun, yang terpenting dari semua itu adalah kebersamaan keluarga. Bila Anda berasal dari keluarga besar, lebih baik rayakan bersama mereka saja. Selain membuatnya lebih mengenal kerabat dekatnya, ia pun dapat tetap merayakan pestanya.
Selamat pesta!

Pesta Asik Buat Si Kecil
1.       Undang orang-orang atau teman yang ia kenal dengan baik.
Jangan mengundang teman Anda bila tidak mempunyai anak sebayanya. Selain mereka jadi tidak nyaman, si kecil Anda pun akan menunjukan reaksi yang tidak menyenangkan.
2.       Buat permainan yang melibatkan semua tamu.
Seringkali pengisi acara atau MC hanya melibatkan anak-anak tertentu saja dalam permainan.
Bila ini terjadi, segeralah minta ia mengubah sistem permainan.
3.       Buat dekorasi pesta dengan bahan yang ringan dan berwarna-warni.
Dekorasi yang terbuat dari bahan berat, seperti logam, besi, atau kayu beresiko melukai bila terjatuh atau ditabrak anak jika mereka berlarian. Ingat lho, anak balita biasanya sangat aktif mengeksplorasi lingkungannya. Pilih yang terbuat dari stereoform atau plastik.


{ Dapatkan CD terapi gelombang otak untuk menarik cinta lawan jenis ,klik link di bawah ini.....} 
Sumber : www.gelombangotak.com/Menarik lawan jenis.htm 

"BUNDA, SEMUA INI PUNYAKU!"

Rasa ego yang tinggi membuat si batita kerap merebut sesuatu milik orang lain. Pengawasan dan pengarahan orang tua sangat diperlukan untuk mengatasinya.
Sering melihat, kan, si kecil tiba-tiba merebut makanan atau mainan yang sedang dipegang temannya. Tidak hanya itu, ia juga mengakui semua mainan atau benda milik temannya sebagai miliknya. Merepotkan memang.
Sebenarnya, perilaku merebut dilandasi rasa ego yang pada batita sedang tinggi-tingginya. "Anak tengah merasa segala sesuatu diciptakan untuknya," komentar Sri Razwanti Suciyati, Psi, dari Essa Consulting. "Dengan kata lain, di usia batita rasa memiliki anak sangatlah tinggi. Semua barang yang ada menjadi miliknya, bahkan kalau perlu barang milik orang lain pun diakui sebagai kepunyaannya." 

Itulah, seperti dikatakan psikolog yang biasa disapa Ade ini, di usia batita anak mesti dikenalkan pada konsep kepemilikan. Bukan hanya mana benda kepunyaannya, tapi juga mana yang bukan kepunyaannya. Saat anak mengakui mainan mobil-mobilan sang teman sebagai miliknya, maka orang tua mesti mengatakan, "Ini bukan punya Adek, mainan ini kepunyaan Bobby. Punya Adek di rumah, kan?" misalnya.
Disamping itu, anak di usia ini juga sedang berkembang sifat otonominya. Otonomi merupakan sifat kemandirian yang berkaitan erat dengan eksistensi anak atau kemampuannya melakukan sesuatu. Ciri-cirinya, anak sering mengucapkan, "Aku bisa sendiri," atau, "Aku, dong, yang mengerjakan."
Otonomi juga yang menyebabkan anak ingin mencoba sesuatu tanpa mempedulikan orang lain. Saat anak-anak lain main perosotan, ia tiba-tiba menyerobot. "Di sini anak ingin membuktikan, aku juga bisa dan senang main perosotan," tambah Ade. 

Terlebih di usia ini, anak juga senang bereksplorasi. Ia senang mencoba-coba sesuatu yang dirasa menarik olehnya. Saat melihat mainan temannya yang baru, anak langsung tergerak untuk mencoba dan kemudian merebutnya. Demikian pula halnya dengan makanan, apalagi jika bentuk dan warnanya juga sangat menggugah selera, maka ia tak akan segan merebutnya. Faktor lainnya, anak batita juga sangat senang meniru, sehingga bukan tidak mungkin perilaku merebut merupakan peniruan dari orang-orang di sekitarnya. Entah itu kakak, saudara, atau bahkan orang tuanya. 

AJARKAN MEMINTA IZIN
Sebenarnya, meski egonya masih besar, anak sudah tahu, apakah seseorang itu senang atau tidak dengan tingkah lakunya. Saat ia merebut kue teman misalnya, ia tahu temannya marah. Namun, karena si anak tidak tahu bagaimana cara meminjam yang baik, ia mengambil jalan termudah dengan merebut benda atau makanan milik sang teman. Selain tidak tahu cara meminjam yang baik, anak juga tidak tahu bahwa merebut merupakan perbuatan yang tidak baik.
Untuk mensiasatinya, Ade menyarankan agar orang tua mengajarkan etika atau sopan santun meminjam kepada anaknya. "Usia ini anak sudah bisa diajari, karena kecakapan verbal dan perbendaharaan kata anak umur 2-3 tahun biasanya sudah mulai bertambah. Ia juga sudah bisa mengutarakan keinginannya kepada orang lain." 

Sebelumnya, anak harus diajarkan konsep milik lebih dahulu. Bahwa ini benda-benda miliknya dan itu milik temannya. Setelah itu, terangkan, kalau hendak meminjam sesuatu, anak harus meminta izin. "Kalau mau pinjam, Adek harus bilang, 'Aku boleh pinjam, enggak?' atau, 'Aku pinjam, dong.'"
Anak juga mesti diajarkan untuk bergiliran saat bermain dan tidak semua keinginannya bisa dipenuhi saat itu juga. Katakan, ada orang lain yang masih memakai atau menggunakan mainan itu. Anak harus belajar menunggu hingga sang teman puas bermain. "Memang, hal itu tidak selalu mudah dilakukan. Namanya saja anak-anak. Oleh karena itu, orang tua mesti mengajarkannya secara berulang-ulang dan konsisten."
Di samping itu, orang tua juga perlu memberikan contoh sesuai dengan apa yang diajarkannya kepada anak. Saat orang tua hendak menggunakan barang orang lain hendaknya meminta izin terlebih dahulu. Dengan contoh konkret anak akan belajar, jika hendak menggunakan barang milik orang lain harus meminta izin terlebih dahulu. 

JANGAN MEMBENTAK DAN MEMBERI LABEL
Jika si kecil ketahuan merebut mainan temannya, maka orang tua harus langsung bereaksi. Katakan, "Hei, kamu jangan lakukan itu, Dek." Dekati anak, lalu ambil dan kembalikan benda yang sudah direbutnya. Jika ia mulai menangis, biarkan saja. Katakan padanya, "Kamu enggak boleh berbuat seperti itu. Kalaupun mau, kamu harus minta izin lebih dulu sama temanmu."
Orang tua harus melakukan hal itu meski si anak belum tentu mengerti dan memahami apa yang diucapkan kepadanya. Yang penting anak jadi mengerti, perbuatan merebut itu tidak baik. Akan lebih baik lagi jika ia disuruh meminta maaf kepada sang teman tadi. Perasaan sang teman yang marah bisa sedikit terobati oleh permintaan maaf itu. Selanjutnya, ajari bagaimana cara meminjam yang baik. 

Jika si anak dan temannya sama-sama ngotot ingin menguasai mainan itu, maka orang tua mesti mencari jalan tengah dengan mengambil mainannya. Beri mereka time out dengan cara mengizinkan bermain dengan mainan itu secara bergiliran.
Namun, Ade mengingatkan, orang tua hendaknya tidak membentak si anak, karena bisa membuat anak kaget dan berdampak kurang baik terhadap perkembangan mentalnya. Selain itu, orang tua juga hendaknya tidak memberikan label kepada si anak, seperti anak nakal atau anak badung. "Anak yang diberi label bandel, dan diperlakukan seperti anak bandel, akan menjadi bandel." 

Daripada memberikan label, lebih baik berikan respons spesifik terhadap perilaku anak, bukan terhadap kepribadiannya. Misalnya, saat ia merebut mainan temannya, katakan, "Dek, merebut mainan orang lain itu salah, tidak boleh begitu." Jangan katakan, "Adek, kamu bandel sekali, sih, merebut mainan temanmu." Dengan begitu, tanpa harus merasa dirinya jelek, anak tahu bahwa kelakuannya salah. Akhirnya, ia termotivasi untuk tidak mengulangi perbuatan itu.
Sebaliknya, jika anak dibiarkan terbiasa merebut mainan milik temannya, maka anak akan terbiasa mendominasi sesuatu yang menjadi minatnya. Jika ia menginginkan sesuatu, maka harus dikabulkan saat itu juga. Jika tidak, anak akan melampiaskan kekesalannya dengan temper tantrum atau menangis seraya berguling-guling di lantai. 
Akhirnya, ia tidak pernah bisa mengontrol keinginannya dan tidak peduli dampak yang ditimbulkan sikapnya. Sifat seperti ini jelas akan sangat merepotkan orang tua, bukan?
Jika kebiasaan ini terus-menerus dilakukan, maka sosialisasi anak juga akan terganggu, karena teman-temannya akan menjauh. Kebiasaan ini bukan tidak mungkin akan terus menetap hingga anak beranjak dewasa. "Tak heran jika banyak remaja berbuat nekat saat keinginannya tidak terpenuhi."
TIPS AGAR ANAK MAU BERBAGI
Saat mengawasi anak-anak bermain, Ade menyarankan, orang tua hendaknya memperhatikan tips di bawah ini:
1. Saat anak kita ingin merebut mainan temannya
Ego anak masih tinggi, jadi jangan harapkan anak usia ini dapat berbagi mainan dengan murah hati dan manis. Ketika terjadi perebutan mainan atau makanan, pisahkan mereka untuk sementara waktu. Ajari mereka untuk menghargai barang milik temannya. Jika tidak bisa, pisahkan anak beberapa saat untuk bermain sendiri.
2. Saat anak lain hendak merebut mainan si kecil
Pisahkan dan biarkan untuk sementara waktu hingga mereka bisa bermain sendiri. Ajari si kecil untuk berbagi dengan temannya. "Kasihan, dia mau main mobil-mobilan kepunyaannmu, biarkan dia main sebentar, ya." Atau, jika si kecil tidak mau berbagi, jangan perlihatkan mainannya ke teman-teman.
***Saeful Imam. Foto: Iman/nakita 

{ Dapatkan CD terapi gelombang otak untuk anak autis , klik link di bawah ini.....} 
Sumber : www.gelombangotak.com/terapi_anak_autis.htm

Bunda, Kakek Kok "Tidur" Terus?

Anak balita sudah berkembang daya pikirnya. Pertanyaan seputar kematian pun mulai mereka ajukan. Orangtua sering kebingungan untuk menjawabnya, bagaimana menerangkannya dengan tepat?

Kematian seseorang adalah suatu peristiwa dalam kehidupan yang harus dihadapi. Bahkan anak-anak pun mau tidak mau pasti akan melihat peristiwa ini dalam perjalanan hidupnya. Seiring dengan perkembangannya, beberapa anak akan mengajukan apa dan bagaimana kematian itu. Untuk memudahkan pemahaman mereka, sebagian orangtua akan menerangkan bahwa si jenazah 'sedang tidur dan mungkin tidak bangun'.

Menyikapi hal ini, terjadi pro dan kontra cara menerangkan konsep kematian bagi balita. Psikolog Anak Winarini Wilman, Ph.D, berpendapat, "Kematian bagi balita sifatnya masih abstrak". Menurutnya, balita masih berada dalam tahap perkembangan kognitif konkret. Pikirannya baru bisa mengkaji hal-hal konkret seperti makan, tidur, mandi, belajar, bermain. "Dia baru mengerti kematian saat masuk sekolah, atau kira-kira usia 6 tahun. Saat itu perkembangan kognitifnya sudah masuk taraf abstrak."

Jadi menurut Dosen di Fakultas Psikologi UI ini, jika orangtua ingin mengenalkan kematian kepada balita, kaitkan saja dengan sesuatu yang konkret. "Mati itu kan ibarat 'tidur panjang'. Balita sudah tahu apa itu tidur. Jadi tentang kematian nenek, bilang saja nenek sedang tidur lama sekali, dan tidak bangun-bangun lagi," terang Winarini.

Tetapi para psikolog Barat. Dalam buku What to Expect The Toddler Years, menganjurkan orang tua berbicara jujur saja tentang kematian, meski dalam bahasa sederhana. "Kakek sangat sakit dan sekarang beliau meninggal. Kakek nggak bisa bertemu kita lagi." Kalimat ini, menurut para psikolog Barat, cukup bagi balita. Kalau anak meminta, baru kita beri penjelasan lebih terperinci.

Mungkin pendapat ini dapat diaplikasikan untuk anak yang lebih besar, atau mereka yang sudah duduk di TK. Sedangkan konsep 'sedang tidur panjang', dapat Anda gunakan untuk menerangkannya pada anak yang lebih kecil. Jadi, orangtua juga perlu mempertimbangkan sampai sejauh mana daya nalar si kecil.

Ditinggal Mati Orang Dekat
Bagi Wina, kesedihan seorang balita ditinggal mati orang atau binatang kesayangannya, akan berbeda dengan kesedihan yang dirasakan oleh orang dewasa. "Meski seorang balita kehilangan nenek, kakek, atau hewan kesayangan, dia tidak akan mengalami kesedihan seperti halnya orang dewasa," ungkapnya.

Dalam waktu yang tidak begitu lama, jika posisi yang dijalani almarhum tergantikan orang lain, dia akan lupa. Misalnya, setiap pagi ia selalu digendong neneknya. "Jika sejak neneknya meninggal peran itu cepat digantikan tante, misalnya, balita tidak akan merasa kehilangan nenek."

Tapi, cerita menjadi lain jika yang meninggal adalah ibunya. Balita akan lebih merasa kehilangan, apalagi kalau hubungan mereka dekat. Untuk itu ayah balita harus mencari sosok pengganti ibu yang sudah dikenal dan disayang balita. Sosok inilah yang mengambil alih peran ibu.

"Sosok ini bisa tante atau nenek. Jika segala kebutuhan balita terpenuhi oleh subtitute mother, lama-lama dia tidak merasa kehilangan lagi, bahkan lebih mudah melupakan," ujar Wina. Setelah itu, sebaiknya keluarga segera kembali kepada rutinitas sehari-hari, misal, balita segera kembali ke pre-school-nya. Cara ini membuat balita merasa hidupnya normal kembali dan membuat dia lebih enak.

Pantang dalam Menjelaskan Kematian
Dalam memperkenalkan kematian pada balita, berikut ini beberapa pertimbangkan mengenai pantangan dalam membicarakan kematian dengan anak-anak Anda:
1.       Jangan samakan mati dengan tidur.
Hindari metafora seperti 'orang pergi tidur' atau 'istirahat selamanya'. Jika Anda sendiri bingung antara kematian dan tidur, mereka akan jadi takut tidur karena tidak akan bangun lagi.
2.       Jangan mengatakan seseorang yang mati pergi ke tempat amat jauh.
Anak-anak bisa penasaran mengapa orang yang pergi tidak pamitan. Anak juga akan takut bila melepas orang dewasa yang akan bepergian -- untuk dinas atau liburan - lantaran tak akan kembali lagi.
3.       Jangan katakan bahwa seseorang meninggal karena sakit.
Anak-anak pra-sekolah tak bisa membedakan antara sakit biasa dan sakit parah. Karena itu jelaskan pada anak bahwa sakit parah saja yang mengakibatkan kematian. Selain itu, kita semua bisa menderita sakit ringan, namun bisa cepat sembuh.
4.       Jangan katakan hanya orangtua yang meninggal.
Anak-anak bisa mendapati bahwa orang muda pun meninggal. Lebih baik katakan, "Sebagian besar orang berumur panjang, tapi ada juga yang tidak berumur panjang.
Ibu berharap, kamu, ibu dan ayah berusia panjang."
5.       Jangan menghindari pembicaraan tersebut.
Jika anak Anda mengajukan pertanyaan mengenai kematian, hindari godaan untuk mengatakan, "Oh, kamu tak perlu cemaskan itu sekarang." Usahakan agar anak Anda mengerti dengan cara memberi kesempatan memperbincangkan topik tersebut secara terbuka.


Mengajak Balita Melayat
1.       Sebenarnya tidak perlu mengajak balita melayat atau ke prosesi pemakaman. Acara ini tidak membawa efek positif, malah bikin dia kelelahan.
2.       Jika balita memang tidak bisa ditinggal/dititipkan, bolehlah membawanya melayat. Di sana balita mungkin bertanya ini-itu. Siapkah Anda menjawabnya? Jika Anda tengah berduka dan pikiran kurang jernih, sebaiknya tidak menjawab asal-asalan. Tunda hingga pikiran jernih kembali.
3.       Suasana di rumah almarhum nenek, seperti melihat mama pingsan, tante menangis meraung-raung, dll, merusak emosi balita. Sebaiknya jauhkan balita dari pemandangan ini.
4.       Cerita tentang almarhum yang meninggal kurang wajar (karena kecelakaan, dibunuh, bunuh diri, dan lainnya), tak baik didengar dan dimengerti balita. Sebaiknya hindari.
5.       Ada kalanya balita enggan dekat-dekat jenazah. Jika balita menolak, jangan paksa dia mendekat atau memberi ciuman terakhir. Jika dipaksa, dia bisa trauma. Lebih baik dekap, tenangkan, dan bawa balita menjauh.
6.       Jangan jadikan mayat sesuatu yang menakutkan, misal berkata, "Ih, takut tuh, ada orang mati!"
7.       Melihat orang yang dicintainya dimasukkan ke dalam tanah bisa menjadi pengalaman traumatik bagi balita.
Daripada dilibatkan dalam prosesi pemakaman, lebih baik balita dibawa berziarah setelah prosesi pemakaman selesai. Di sini kita bisa mengajaknya ikut mendoakan almarhum.

{ Dapatkan CD terapi gelombang otak untuk terapi anak hiperaktif , klik link di bawah ini.....} 
Sumber : www.gelombangotak.com/General-Brainwave_Kumpulan_Semua_Audio_gelombang_Otak.htm

Senin, 01 Agustus 2011

"AKU ENGGAK MAU PAKAI BAJU!"

Betapapun sulitnya memakaikan baju pada si batita, hindari pemaksaan.
"Cepat dong pakai bajunya Sayang. Mama kan mau kerja," ujar seorang ibu pada anak batitanya. Bukannya menurut, si kecil malah berlari keluar. Si ibu makin mangkel. Akhirnya, dia menarik si anak masuk ke dalam rumah dan memakaikan baju dengan paksa. Memang ada saja ulah si batita yang di luar harapan. Salah satunya sulit dipakaikan baju. Pada situasi yang tidak menguntungkan, karena orang tua sedang terburu-buru pergi ke kantor katakanlah, pemaksaan terkadang tak terhindarkan. Padahal tindakan tersebut, meskipun akhirnya membuat anak menurut, secara psikologis tidak dianjurkan.
Lebih baik, cari tahu apa yang menjadi penyebab si kecil tak mau dipakaikan baju. Tanyakan kenapa dia tidak mau pakai baju. Jawaban atau isyarat si kecil bisa dijadikan landasan mengatasi masalah.

* Baju tidak nyaman
Dapat saja bajunya kekecilan atau terbuat dari bahan yang tidak nyaman, menimbulkan rasa gatal atau gerah. Kalau sudah begitu, wajar kalau anak malas memakainya. Penolakan yang lebih "hebat" bisa terjadi pada anak yang memiliki kulit sensitif karena ia bukan saja tidak merasa nyaman namun juga merasa tersiksa kala mengenakannya.
Lantaran itu, kenyamanan merupakan syarat penting dalam memilih baju bagi si kecil. Jangan gara-gara harga murah, kita langsung membeli tanpa memperhitungkan faktor lain. Baju dari bahan katun adalah alternatif yang baik.

* Perilaku negativistik
Mungkin saja anak tidak memiliki alasan. Ini berarti si kecil sedang ingin menunjukkan kemandirian, ingin menunjukkan bahwa sayalah yang punya kontrol pada diri saya sendiri. Apapun yang saya lakukan berdasarkan apa yang saya mau. Inilah yang disebut dengan fase negativistik atau fase otonomi diri yang biasa terjadi pada masa batita.
Menghadapi perilaku ini, orang tua perlu bersabar. Coba jelaskan gunanya memakai baju. "Baju itu kan untuk melindungi tubuh Adek dari panas matahari, kalau Adek enggak mau pakai baju nanti kepanasan dong," misalnya.
Biasanya penjelasan yang sederhana dan secara terus menerus akan mengubah perilakunya, dari tidak mau menjadi mau.
 
* Meniru
Jika anak sering melihat orang di sekitar rumah tidak memakai baju, bisa saja ia menirunya. Katakanlah, si kakak hobi mengenakan celana pendek dengan bertelanjang dada. Karena batita masih senang sekali meniru, ia bisa saja berpikir "Wah enak kali ya kalau cuma pakai celana pendek kayak Kakak," misalnya.
Atasi dengan penjelasan mengapa si kakak melakukan hal itu. "Kakak merasa gerah sehabis pulang sekolah. Jadi untuk sementara enggak pakai baju dulu. Adek gerah tidak? Tidak kan." Selanjutnya, mau tak mau "si pemberi contoh" harus mengubah perilakunya, terutama bila di depan si kecil. Kalaupun ingin bertelanjang dada sesekali hendaknya tidak terlalu lama atau tidak sambil melakukan sesuatu.
 
* Ingin mendapat perhatian
Sewaktu anak kabur kala dipakaikan baju lalu kita mengejarnya, bisa jadi ia menikmati momen tersebut karena merasa diperhatikan. Apalagi bagi si kecil yang jarang memiliki kesempatan bermain bersama orang tuanya, saat-saat seperti itulah dijadikan kesempatan untuk mendapat perhatian. Sayang banyak orang tua yang tidak menyadari sehingga naik pitam dan justru memarahinya.
Sebaiknya, ladeni saja apa yang diinginkan anak. Sebenarnya ia mau memakai baju tapi perlu dibujuk. Hubungan erat yang terjalin antara orang tua dan anak ­ seperti saat bermain kejar-kejaran seperti itu- akan memengaruhi pertumbuhan kepribadiannya secara positif. Tentu waktu kejar-kejarannya perlu dibatasi. Jangan sampai anak terlalu lama tidak mengenakan baju.
 
* Ingin buru-buru main
Karena tidak sabar untuk segera bermain, seusai mandi bisa saja anak langsung berlari untuk bergabung bersama teman sebayanya. Dia juga memiliki kekhawatiran kalau terlalu lama memakai baju, teman-teman akan keburu pergi.
Kalau sudah begitu, berilah penjelasan simpel. "Adek kalau mau main harus pakai baju dulu. Kalau digigit semut bagaimana?"
Bila perlu, pakaikan bajunya di dekat teman-temannya yang sedang bermain untuk menunjukkan dia tidak akan ditinggal pergi. Katakan, "Malu lo kalau tidak pakai baju. Yang lain saja pakai baju, masa Adek sendiri yang enggak pakai baju."
 
BERI PILIHAN
Kalaupun upaya-upaya tersebut belum berhasil, tetap hindari pemaksaan. Apalagi menggunakan tindakan-tindakan kasar. Biarkan saja ia telanjang sejenak. Saat anak sudah merasa tidak nyaman karena bertelanjang, baru bujuk ia kembali untuk memakai baju.
Kiat lain yang diberikan adalah dengan memberikan kesempatan pada anak untuk memilih pakaian yang ingin dikenakan. Hal ini terutama cocok untuk kasus si kecil yang negativistik karena dengan begitu ia merasa dihargai. Tawarkan secara langsung, "Baju mana yang ingin Adek pakai?" sambil menunjukkan baju-baju yang ada di lemari. Hindari kalimat, "Yuk pakai baju. Pilih sendiri di lemari!" Kalimat seperti ini tidak efektif karena anak batita masih perlu pengarahan yang lebih konkret.
Bisa juga, si kecil tinggal menentukan pilihan dari beberapa alternatif baju yang sebelumnya telah kita siapkan. Hal ini dapat menghindari risiko "salah pilih". Di sore hari, katakanlah, baju daster akan lebih nyaman ketimbang baju terbuka karena menjelang malam umumnya udara akan lebih dingin.
 
Cara-cara tadi, lanjut Vera, secara tidak langsung dapat merangsang kecerdasan anak dalam menentukan keputusan. Menentukan keputusan kan harus melalui proses berpikir sehingga otak anak pun ikut bekerja. Meskipun sangat sederhana namun hal ini sangat baik untuk perkembangan kecerdasannya.
Yang lebih penting, anak merasa dihargai. Dari situ diharapkan pertumbuhan kepribadian si kecil menjadi positif dan memiliki kepercayaan diri yang lebih tinggi.
*** Irfan Hasuki. Foto: Iman/nakita

{ Dapatkan DVD terapi gelombang otak untuk menghilangkan kecanduaan & kebiasaan buruk , klik link di bawah ini.....} 
Sumber : www.gelombangotak.com/menghilangkan_kecanduan_alkohol_merokok.htm