Anak gemuk dan montok, "tampak" sehat. Orangtua pun ramai-ramai menggemukkan batitanya. Apa bedanya gemuk padat dengan gombyor?
Anak gemuk memang bikin gemas; pipi tembemnya, dagunya yang berlipat, wajah yang bundar, badan yang gendut, dan kaki bergelang-gelang. Banyak orangtua berusaha menggemukkan anaknya agar memiliki Si Montok Menggemaskan ini. Lagipula, kalau anak gemuk, "tampaknya" dia lebih sehat daripada kalau kurus.
Sayangnya, ternyata anggapan ini keliru "berat". Karena, menurut Dr, Hindra Irawan Satari Sp.A di RSCM, anak gemuk, apalagi yang kelebihan berat badannya mencapai 20% dari BB ideal sesuai usia, jenis kelamin, dan tinggi badan, sebenarnya kurang sehat karena rawan obesitas (gemuk berlebihan) dan mudah terserang penyakit degeneratif seperti jantung, diabetes, stroke, asam urat, dll. "Nah, kalau sejak batita anak sudah memiliki ciri-ciri bakal gemuk, semestinya orangtua waspada karena saat dewasa dia akan lebih rentan lagi terhadap ancaman obesitas dan penyakit degeneratif," tutur dokter yang akrab disapa Hingky.
Sedang, menurut Anna Ngatmira, ahli gizi Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, sebenarnya ukuran anak gemuk tidak hanya bisa dilihat dari bentuk badan. "Pipi yang tembem, dagu berlipat, perut bulat, siku dan paha berlekuk pada batita memang ciri khas. Jadi, tidak selalu merupakan tanda kegemukan," jelasnya. Jadi, coba cermati dulu Pak, Bu, apakah batita Anda tergolong gemuk atau tidak.
Tak Ada Gemuk yang Sehat
Menurut Hingky, ada dua tipe gemuk, gemuk padat dan gombyor. Namun, baik anak berbadan gemuk padat atau gombyor, menurutnya sama tidak sehatnya. Karena, mereka sama-sama kelebihan berat badan akibat asupan makan yang tidak serasi dan seimbang dengan berat dan tinggi badan. "Gemuk gombyor terjadi karena cairan di dalam tubuh anak lebih banyak dari lemak. Mungkin karena anak lebih banyak makan gula, protein, dan cairan. Sedang anak yang memiliki bandan gemuk padat lebih banyak memiliki lemak di dalam tubuhnya," terang Hingky.
Hingky menegaskan, sebaiknya orangtua tidak termakan asumsi yang mengatakan anak gemuk itu sehat, subur, atau berstatus sosial baik, seperti yang pernah berlaku di masyarakat tempo dulu. "'Gemuk sudah tidak trend. Entah itu gemuk padat atau gombyor, sebaiknya dihindari. Kalau saat ini berat badan anak sudah berlebihan sehingga kegemukan, cepat tinjau lagi pola makannya," tegas Hingky.
Apakah meninjau kembali pola makan anak berarti menyuruhnya berdiet? Menurut Anna, tidak persis demikian. "Jangan sekali-kali menerapkan diet seperti yang dilakukan orang dewasa pada anak. Yang penting, bagaimana mengembalikan pola makan mereka menjadi normal dan tidak berlebihan," tegasnya.
Dia melanjutkan, program yang diberikan ahli gizi bagi anak pun tidak bertujuan mengurangi berat badan anak. Melainkan, untuk memperlambat kecepatan pertambahan berat badannya.
Sedang, di dalam Panduan Pengasuhan Batita What to Expect The Toddler Years, disebutkan, bila anak kegemukan, pengaturan kebiasaan makan penting dilakukan. Terutama untuk asupan lemak dan kolesterol. Ini karena, pembentukan plak (akibat kelebihan lemak dan kolesterol) yang menyumbat pembuluh darah sudah dimulai sejak kanak-kanak. Sebaiknya, orangtua mengurangi konsumsi lemak dan kolesterol pada saat anak-anak berumur dua tahun. Meski demikian, tidak secara drastis atau tanpa lemak sama sekali. Karena, anak tetap membutuhkan lemak untuk tumbuh baik secara fisik maupun intelektual.
Rekomendasi terbaru dari Akademi Ilmu Kesehatan Anak di AS berkaitan dengan konsumsi lemak dan kolesterol anak-anak batita adalah memakan makanan yang bervariasi dengan jumlah kalori yang cukup untuk pertumbuhan normal, mendapatkan kurang dari 30% kebutuhan total kalorinya dari lemak (10% dari lemak jenuh; susu dan produk, daging, telur, kelapa, minyak kelapa, minyak sawit. 2-% dari lemak tak jenuh; minyak jagung, minyak kedelai, minyak biji bunga matahari, minyak zaitun, yang dianggap sebagai lemak terbaik untuk kesehatan jantung).
Lalu, anak mendaparkan kurang dari 300 miligram kolesterol per harinya (kolesterol hanya ditemukan dalam produk hewan seperti telur, daging unggas, susu full cream, keju dan produk susu lainnya), makanan anak harus mengandung banyak bijian utuh yang kaya serat dan mengenyangkan (buah, sayuran, oat, kacang-kacangan).
Kalau Telanjur Gemuk
Taiching: Jika Si Kecil sudah tergolong gemuk, mulailah mengoreksi kebiasaan makannya. Bukan hanya yang berhubungan dengan apa yang masuk ke mulut, tetapi juga faktor-faktor lain.
Anak gemuk memang bikin gemas; pipi tembemnya, dagunya yang berlipat, wajah yang bundar, badan yang gendut, dan kaki bergelang-gelang. Banyak orangtua berusaha menggemukkan anaknya agar memiliki Si Montok Menggemaskan ini. Lagipula, kalau anak gemuk, "tampaknya" dia lebih sehat daripada kalau kurus.
Sayangnya, ternyata anggapan ini keliru "berat". Karena, menurut Dr, Hindra Irawan Satari Sp.A di RSCM, anak gemuk, apalagi yang kelebihan berat badannya mencapai 20% dari BB ideal sesuai usia, jenis kelamin, dan tinggi badan, sebenarnya kurang sehat karena rawan obesitas (gemuk berlebihan) dan mudah terserang penyakit degeneratif seperti jantung, diabetes, stroke, asam urat, dll. "Nah, kalau sejak batita anak sudah memiliki ciri-ciri bakal gemuk, semestinya orangtua waspada karena saat dewasa dia akan lebih rentan lagi terhadap ancaman obesitas dan penyakit degeneratif," tutur dokter yang akrab disapa Hingky.
Sedang, menurut Anna Ngatmira, ahli gizi Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, sebenarnya ukuran anak gemuk tidak hanya bisa dilihat dari bentuk badan. "Pipi yang tembem, dagu berlipat, perut bulat, siku dan paha berlekuk pada batita memang ciri khas. Jadi, tidak selalu merupakan tanda kegemukan," jelasnya. Jadi, coba cermati dulu Pak, Bu, apakah batita Anda tergolong gemuk atau tidak.
Tak Ada Gemuk yang Sehat
Menurut Hingky, ada dua tipe gemuk, gemuk padat dan gombyor. Namun, baik anak berbadan gemuk padat atau gombyor, menurutnya sama tidak sehatnya. Karena, mereka sama-sama kelebihan berat badan akibat asupan makan yang tidak serasi dan seimbang dengan berat dan tinggi badan. "Gemuk gombyor terjadi karena cairan di dalam tubuh anak lebih banyak dari lemak. Mungkin karena anak lebih banyak makan gula, protein, dan cairan. Sedang anak yang memiliki bandan gemuk padat lebih banyak memiliki lemak di dalam tubuhnya," terang Hingky.
Hingky menegaskan, sebaiknya orangtua tidak termakan asumsi yang mengatakan anak gemuk itu sehat, subur, atau berstatus sosial baik, seperti yang pernah berlaku di masyarakat tempo dulu. "'Gemuk sudah tidak trend. Entah itu gemuk padat atau gombyor, sebaiknya dihindari. Kalau saat ini berat badan anak sudah berlebihan sehingga kegemukan, cepat tinjau lagi pola makannya," tegas Hingky.
Apakah meninjau kembali pola makan anak berarti menyuruhnya berdiet? Menurut Anna, tidak persis demikian. "Jangan sekali-kali menerapkan diet seperti yang dilakukan orang dewasa pada anak. Yang penting, bagaimana mengembalikan pola makan mereka menjadi normal dan tidak berlebihan," tegasnya.
Dia melanjutkan, program yang diberikan ahli gizi bagi anak pun tidak bertujuan mengurangi berat badan anak. Melainkan, untuk memperlambat kecepatan pertambahan berat badannya.
Sedang, di dalam Panduan Pengasuhan Batita What to Expect The Toddler Years, disebutkan, bila anak kegemukan, pengaturan kebiasaan makan penting dilakukan. Terutama untuk asupan lemak dan kolesterol. Ini karena, pembentukan plak (akibat kelebihan lemak dan kolesterol) yang menyumbat pembuluh darah sudah dimulai sejak kanak-kanak. Sebaiknya, orangtua mengurangi konsumsi lemak dan kolesterol pada saat anak-anak berumur dua tahun. Meski demikian, tidak secara drastis atau tanpa lemak sama sekali. Karena, anak tetap membutuhkan lemak untuk tumbuh baik secara fisik maupun intelektual.
Rekomendasi terbaru dari Akademi Ilmu Kesehatan Anak di AS berkaitan dengan konsumsi lemak dan kolesterol anak-anak batita adalah memakan makanan yang bervariasi dengan jumlah kalori yang cukup untuk pertumbuhan normal, mendapatkan kurang dari 30% kebutuhan total kalorinya dari lemak (10% dari lemak jenuh; susu dan produk, daging, telur, kelapa, minyak kelapa, minyak sawit. 2-% dari lemak tak jenuh; minyak jagung, minyak kedelai, minyak biji bunga matahari, minyak zaitun, yang dianggap sebagai lemak terbaik untuk kesehatan jantung).
Lalu, anak mendaparkan kurang dari 300 miligram kolesterol per harinya (kolesterol hanya ditemukan dalam produk hewan seperti telur, daging unggas, susu full cream, keju dan produk susu lainnya), makanan anak harus mengandung banyak bijian utuh yang kaya serat dan mengenyangkan (buah, sayuran, oat, kacang-kacangan).
Kalau Telanjur Gemuk
Taiching: Jika Si Kecil sudah tergolong gemuk, mulailah mengoreksi kebiasaan makannya. Bukan hanya yang berhubungan dengan apa yang masuk ke mulut, tetapi juga faktor-faktor lain.
1. Apa yang dimakan anak. Coba cermati menu anak satu minggu. Kalau perlu, buatlah food diary. Apakah terlalu banyak daging? Apakah cukup mengkonsumsi sayuran dan kacang-kacangan? Apakah camilannya berkalori tinggi (donat, biskuit manis, hamburger)? Jika ingin anak tidak menjadi gemuk, ganti camilan dengan yang padat gizi seperti bubur kacang hijau atau kroket sayuran. Selain itu, perhatikan porsinya.
2. Seberapa banyak anak minum. Batita sering menelan kalori yang tidak dibutuhkan dari minuman berkalori tinggi seperti sirup atau es cendol. Ini, membuatnya gemuk. Bila ingin memastikan anak cukup minum tanpa kuatir gemuk, beri ia air putih. Kalau dia sudah minum cukup susu, tukar susu "pengantar tidurnya" dengan air putih.
3. Kapan anak makan. Terlalu banyak "perhentian" atau snack time tidak baik karena menghilangkan selera untuk jam makan yang berkualitas. Selain itu, camilan berlebih, apalagi yang kosong gizinya seperti permen, biskuit manis, atau keripik kentang, mencetus kegemukan.
4. Bagaimana makan anak. Anak yang makan disuapi sering mendapat makan lebih dari yang dibutuhkan. Jangan selalu memaksa anak menghabiskan makanan di piring. Biarkan ia makan sesuai kebutuhan dan "panggilan" tubuhnya.
5. Mengapa anak makan. Hanya satu alasan makan yang baik, yaitu karena lapar. Bukan karena sumber kenyamanan, pereda ketegangan, pengganti perhatian, pelarian kebosanan, atau hiburan. Beri si kecil makanan hanya buat menghilangkan rasa lapar, bukan untuk alasan lain. Bila ia rewel atau menangis, jangan "menyumpalnya" dengan makanan. Lebih baik menggantinya dengan kata-kata hiburan, pelukan, dan ciuman.
6. Seberapa banyak aktifitas anak atau olahraga yang ia lakukan. Semakin aktif anak, semakin terhindar dari gemuk meski mungkin makannya sedikit lebih. Karena batita belum berolahraga secara intensif, ajak ia bermain. Utamakan permainan yang banyak menggunakan motorik, misal, melempar bola, lari, lempar, lompat, bersepeda. Ini melepas energi berlebih di tubuhnya.
7. Seberapa banyak anak nonton TV. Anak yang banyak nonton TV cenderung lebih gemuk karena tidak terjadi pembakaran kalori saat ia duduk diam. Apalagi jika nonton TV sambil ngemil.
Anak disebut gemuk jika berat badannya (BB) 20% atau lebih di atas angka rata-rata untuk usia, jenis kelamin, dan tinggi badan. Misal, anak Anda berusia 3 tahun. Untuk anak laki-laki dengan tinggi rata-rata 96,5 cm, berat idealnya 15 kg. Anak perempuan dengan tinggi 95,6 cm, berat idealnya 14 kg. Jadi, disebut kegemukan jika beratnya 18 kg (laki-laki) atau 16,8 kg (perempuan). Atau secara umum, lebih 3,5 kg dari berat standar.
{ Dapatkan CD terapi gelombang otak untuk menurunkan berat badan , klik link di bawah ini......}
Sumber : www.gelombangotak.com/menurunkan_berat_badan.htm

Tidak ada komentar:
Posting Komentar