Tampilkan postingan dengan label bermain. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bermain. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 Agustus 2011

BERMAIN SENDIRIAN PERLU UNTUK KECERDASAN

Tak sedikit manfaat yang bisa dipetik dari bermain soliter. Namun demikian, si batita tetap perlu didorong untuk bermain bersama sebayanya.
\Bermain adalah dunia anak, kita semua tahu itu. Namun, pernahkah memperhatikan, di usia batita anak-anak sudah memiliki pola bermain yang berbeda-beda. Tak jarang, mereka tampak asyik bermain sendirian atau soliter karena pola bermain ini memang masih mendominasi masa usia tersebut. Hanya saja, tak sedikit para orang tua yang merasa khawatir melihat batitanya lebih suka bermain sendiri daripada bersama teman sebaya, walau tak sedikit pula yang malah merasa tenang bila anaknya bermain sendiri. Daripada sampai bertengkar karena berebut mainan dengan teman sebaya, lebih baik main sendiri, begitu pikir mereka.

Saat si batita belum mau bermain bersama anak lain, Alma Nadhira, Psi., setuju jika orang tua tidak memaksanya. Menurut psikolog dari RS Fatmawati, Jakarta ini, mereka masih bersifat malu-malu atau takut-takut. Kalaupun di dekatnya ada teman sebaya, biasanya mereka tak saling terlibat. Apalagi kita tahu di usia batita ego anak masih tinggi. Dia belum mau berbagi dan masih ingin diperhatikan, sehingga bermain bersama dapat membuatnya merasa tak nyaman, misalnya jika si teman menginginkan mainan dari tangannya dan berusaha merebut.
Namun, tak tertutup kemungkinan anak usia batita pun ada yang sudah bisa bersosialisasi. Ia bisa bermain bersama dengan teman lainnya. Malah bisa jadi dia merasa kurang gembira bila tak punya teman bermain atau harus bermain sendirian.

Jadi, menurut psikolog yang disapa Dhira ini, bermain sendiri atau bersama tergantung pada masing-masing anak dan juga orang tuanya. Ada anak yang memang merasa lebih senang bermain sendiri dibanding bermain dengan temannya. Besar kemungkinan, ini karena orang tuanya tidak mendorong si anak bersosialisasi sejak dini.
Sebaliknya, ada juga anak yang malah lebih senang bermain bersama. Biasanya, ini terjadi karena orang tua cenderung mendorongnya bermain bersama anak lain sejak dini. Contohnya, orang tua yang tinggal dalam keluarga besar.

BERMAIN SOSIAL DAN NONSOSIAL
DALAM keterangannya, Dhira juga mengutip hasil penelitian ahli perkembangan bernama Mildred Parten, yang membagi dua pola bermain anak, yaitu bermain sosial dan nonsosial. Disebut bermain sosial jika dua anak atau lebih bermain bersama dan saling terlibat. Nah, pada anak batita, umumnya dijumpai pola bermain nonsosial atau tidak bermain bersama anak-anak lain. Pola nonsosial ini pun dibagi lagi ke dalam tiga hal yang lebih khusus.
1. Anoccupied play
Anak tidak benar-benar terlibat dalam kegiatan bermain, tapi hanya sebatas mengamati. Misalnya, ia melihat orang tuanya naik turun tangga, kemudian ia menirunya. Anak jadi bermain naik turun tangga itu karena dia suka, meski tanpa tujuan yang jelas.
2. Solitary play
Anak sibuk bermain sendiri, misalnya asyik bermain pasir sendiri walaupun di dekatnya ada anak lain. Kesannya memang ia tak memperhatikan lingkungan sekelilingnya, selain juga tak ada usaha untuk melakukan interaksi dengan anak lain.
3. Onlooker play
Anak mengamati anak lain dalam bermain. Anak memang belum mengenal lingkungan, tapi ia mempunyai minat bermain, walau belum saling berinteraksi. Biasanya hal ini terjadi pada anak usia 2 tahunan.

SEIMBANG: MAIN SENDIRI DAN MAIN BERSAMA
MEMANG, aku Dhira, di usia batita anak belum dapat berinteraksi secara baik dengan orang lain, dan dalam bermain pun cenderung masih bermain sendiri. Namun, tak ada salahnya orang tua juga mendorong anak untuk dapat menikmati permainan bersama teman-teman sebayanya.
Selain itu, paparnya, ada suatu penelitian yang mengatakan bahwa anak yang lebih banyak bermain sendiri umumnya menggambarkan perilaku yang kurang matang. Di usia nantinya akan tampak dampaknya, semisal anak jadi kurang berempati pada orang lain, kurang bisa berbagi, dan cenderung egois. Di masa dewasanya pun anak akan mengalami kesulitan dalam bersosialisasi.
Jadi, porsi bermain sendirian dan bermain bersama harus seimbang. Apalagi, bermain bersama tetap lebih besar manfaatnya, karena dalam kesempatan itu anak dilatih menjalin komunikasi, kerja sama, dan berbagi banyak hal dengan anak lain. 

Oleh karena itu, bila anak ternyata masih suka main sendiri, hendaknya orang tua mendorong atau menyemangatinya agar mau bermain dengan anak lain. Sebaliknya, bagi anak yang terbiasa bersosialisasi dan sering bermain dengan anak-anak lain, sekali-kali ada baiknya dikondisikan untuk bermain sendiri. Tujuannya, selain untuk memperoleh manfaat juga untuk melatihnya menyesuaikan diri dengan berbagai kondisi. Bila suatu waktu dia pindah ke lingkungan yang tak banyak teman, misalnya, dia tak perlu merasa kaget ataupun sedih.
Pun, andaikata anak masih lebih suka bermain sendiri, misalnya sering mengutak-atik mainan, membuat aneka bentuk dengan lilin atau lainnya, maka jangan dicegah. Untuk seterusnya, ia jangan dipaksa atau dimarahi bila menolak tawaran bermain bersama anak lain. "Biarkan saja untuk sementara waktu, baru nanti dicoba lagi. Dengan begitu, proses sosialisasinya akan terjadi secara alamiah.

ANEKA MANFAAT BERMAIN SOLITER
MESKIPUN anak batita perlu didorong bersosialisasi, bukan berarti bermain sendiri tak ada manfaatnya. Inilah beberapa di antaranya:
* Bermain sendiri melatih kognisi atau melatih kemampuan belajar berdasarkan apa yang dialami dan diamati dari sekelilingnya.
* Saat sedang sendiri memainkan permainan yang menantang, anak memiliki kesempatan melatih konsentrasi dalam memecahkan masalah. Misalnya, saat bermain pasel anak akan berusaha memfokuskan diri menyambung kepingan­kepingan gambar agar menjadi utuh kembali.
* Saat sendirian, imajinasi anak juga bebas mengembara ke mana-mana. Hal itu dimungkinkan karena dengan bermain sendiri ia dapat melepaskan diri dari kesibukan di sekeliling mereka. Jadi anak punya kesempatan untuk berpikir dan berkhayal sebebas-bebasnya. Adakalanya anak juga perlu menikmati privasinya, bukan?
***Dedeh Kurniasih. Foto: Vitri/nakita

{ Dapatkan Buku " RAHASIA DAHSYAT TERAPI OTAK"  Plus Bonus CD , klik link di bawah ini...}
Sumber : www.gelombangotak.com/Buku_RASAIA_DAHSYAT_TERAPI_OTAK.htm

Selasa, 02 Agustus 2011

Ayo Bermain Peran!

Main dokter-dokteran, main masak-masakan adalah permainan favorit si kecil. Meski terlihat sepele, permainan ini banyak manfaatnya lho!

Lazim terlihat, bila si kecil yang mulai memasuki usia balita mulai melakukan berbagai permainan. Umumnya, anak-anak usia ini sangat asyik terlihat melakukan permainan masak-masakan, dokter-dokteran atau karakter lainnya, yang sering ia lihat atau temui dilingkungan sekitarnya. Bahkan, kadang-kadang karakter tokoh tertentu melekat padanya, misalnya, ia akan senang bila dipanggil 'Pak Dokter.'

Permainan yang kerap dilakukan si kecil bersama teman-temannya ini, di kenal dengan nama 'bermain peran' (role playing), yaitu permainan meniru kegiatan atau pekerjaan orang dewasa. "Permainan ini sangat bagus untuk anak-anak, sebab di usia balita, kemampuan berfantasi, kognitif, emosi, dan sosialisasi anak tengah berkembang," terang Dra. Johana Rosalina K, M.A.,. "Apalagi permainan ini juga akan mengasah dan mengembangkan seluruh kemampuannya," lanjut Dosen Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya Jakarta ini.

Segudang Manfaat
Menurut Johana, ada banyak manfaat yang bisa didapatkan oleh si kecil melalui permainan peran. "Namanya saja bermain peran, maka dalam permainan ini mereka akan meniru dan berfantasi dengan peran yang tengah mereka mainkan." Dengan bermanfantasi dan menirukan kegiatan peran tersebut, secara tak langsung kemampuan kognitifnya pun terasah.

Dari apa yang pernah mereka lihat atau juga pengalaman mereka pada satu bidang peran tertentu, lalu mereka praktekkan pada permainan ini, akan lebih mengasah kemampuan mengingat dan analisisnya terhadap lingkungan disekitarnya. Misalnya, ia akan tahu kalau dokter itu membantu menyembuhkan orang yang sakit, polisi membantu menangkap orang jahat dan lainnya.

Oleh karena itu, bagi Johana, akan sangat penting bila orangtua mampu memperkenalkan si kecil tentang berbagai macam profesi yang ada dilingkungannya. "Berikan kesempatan yang seluas-luasnya bagi balita untuk melakukan pengamatan, sebab pada usia ini, kemampuan observasi dan mengingat mereka sangat kuat," jelasnya.

Hanya saja, ada baiknya orangtua tidak begitu saja melepaskan pengamatan si kecil. "Karena mereka merupakan pengamat yang kuat, usahakan untuk memperlihatkan hal-hal yang positif baginya." Dengan membatasi pengamatan si kecil pada hal-hal yang positif, diharapkan ia mampu mengadopsi sikap dan tingkah laku yang positif pula.

"Karenanya, pemantauan orangtua akan informasi yang masuk dan di lihat oleh si kecil sangat penting. Sehingga persepsinya terhadap lingkungan juga tidak salah." Begitu juga pandangan orangtua pada profesi tertentu, sebaiknya juga bersifat positif. "Jangan karena orangtua tidak suka akan profesi tertentu, maka si kecil pun ikut terbawa persepsi yang sama dengan orangtuanya."

Nah, untuk lebih mengetahui tentang berbagai manfaat bermain peran pada si kecil, berikut ini Johana memberikan beberapa aspek yang mengasah kemampuan si kecil melalui bermain peran:
1.       Kemampuan Sosial
Sambil bermain, si kecil juga ikut belajar berbagi, belajar mengantri atau bergiliran, dan berkomunikasi dengan teman-temannya. Ia pun mulai belajar untuk bekerja sama dengan orang lain.
2.       Kemampuan Mengelola Emosi
Kemampuan ini termasuk untuk memahami perasaan takut, kecewa, sedih, marah dan cemburu. Melalui imajinasi yang dibangunnya sendiri, ia belajar mengelola dan memahami perasaan-perasaan tersebut. Misalnya, ketika ia melakukan permainan yang melibatkan perasaan, ia jadi mulai belajar untuk berempati dengan perasaan orang lain.
3.       Kreativitas
Dalam dunia khayalan, si kecil bisa jadi apa saja dan melakukan apa saja. Bahkan, semakin sering ia melakukan permainan peran, akan semakin besar daya kreativitasnya terasah.
4.       Disiplin
Saat bermain peran, biasanya ia mengambil peraturan dan pola hidupnya sehari-hari. Misalnya, saat ia bermain peran sebagai orangtua yang menidurkan anaknya, ia akan bersikap dan mengatakan seperti apa yang ia sering dilakukan dan dikatakan oleh orangtuanya. Sehingga secara tak langsung, ia pun membangun kedisiplinan dan keteraturan pada dirinya sendiri.
5.       Keluwesan
Saat bermain peran, secara tidak langsung si kecil mulai belajar untuk mengatasi rasa takut dan hal-hal yang sebelumnya berbeda bagi mereka. Bila memang orangtua ingin mengatasi rasa takut ataupun trauma tertentu yang dialami si kecil, dampingilah saat ia bermain peran tersebut. Dengan bimbingan dan perumpamaan ini, diharapkan rasa takut atau trauma si kecil akan lebih berkurang.

Permainan Peran Bagi Si Kecil
Bermain peran, selain sebuah keasyikan tersendiri bagi si kecil, ternyata juga sangat membantu mengasah kemampuannya. Saat si kecil mulai asyik melakukan permainan ini, ada baiknya orangtua memberikan sarana dan fasilitas yang mendukungnya. Berikut ini berbagai permainan yang bisa Anda berikan pada si kecil yang mulai bermain peran:
1.       Permainan Miniatur
Jika si kecil mempunyai mobil-mobilan kecil atau mainan kebun binatang yang lengkap dengan sekelompok miniatur binatangnya. Cobalah untuk melengkapi permainan itu, misalnya dengan memberikannya ide untuk membuat kandang atau jalan raya sendiri. Atau memberikan si upik perabotan rumah miniatur lengkap dengan boneka orang-orangannya. Dengan permainan-permainan tersebut, sudah pasti si kecil akan mulai berkhayal dan membuat sebuah adegan dengan berbagai macam perlengkapan tersebut.
2.       Alat-alat Rumah Tangga Mainan
Pekerjaan rumah bagi orangtua, mungkin membosankan. Namun tidak untuk si kecil. Mereka akan sangat mudah untuk melihat, mengerti lalu mengimitasi apa yang Anda kerjakan. Baik saat membersihkan rumah atau saat di dapur - ia pun akan bertingkah layaknya orang dewasa. Meskipun kesenangan si kecil ini mungkin akan merepotkan Anda, karena ia juga ingin mempunyai peralatan yang dipakai Anda. Cobalah untuk mencarikan berbagai mainan peralatan rumah tangga yang hampir mirip dengan apa yang Anda miliki.
3.       Mainan Berkarakter Tokoh Kartun
Boneka atau robot-robotan yang mirip dengan karakter tokoh kartun atau film anak-anak tertentu, biasanya juga akan sangat menarik bagi si kecil. Cobalah memberikan mereka boneka/robot tokoh favoritnya, dan biarkan ia bermain peran dengan adegan seperti yang mereka lihat. Jangan melarang, meskipun dalam 'adegan' tersebut berupa peperangan atau perkelahian - sebab mereka tengah mengidentikkan dengan realitas yang ada.
Kostum Peran Tertentu
Anak-anak akan sangat senang, bila saat ia bermain peran tertentu, ia juga bisa melengkapinya dengan kostum dari peran yang ia mainkan. Misalnya, menggunakan seragam militer saat bermain perang-perangan, menggunakan jas putih saat bermain dokter-dokteran dan lain.


{ Dapatkan DVD terapi gelombang otak untuk Membantu dan mempercepat penyembuhan, menjaga kesehatan tubuh, meningkatkan fungsi kekebalan , klik link di bawah ini.....}
Sumber : www.gelombangotak.com/mempercepat_penyembuhan_penyakit.htm

"BREM...BREM..DIN..DIN...," ASYIKNYA MAIN DI MOBIL!

Mobil dapat menjadi ruang bereksplorasi yang menyenangkan.
Kalau si kecil senang bermain di dalam mobil, kita tak perlu melarangnya. Toh, paling lama betahnya hanya sekitar 30 menit. Bahkan ada anak yang hanya tahan dua atau lima menit saja main di dalam mobil, selanjutnya bosan. Mau tahu apa yang membuat anak batita senang main di mobil?
 
* Tertarik pada hal baru
Anak-anak biasanya tertarik pada interior maupun instrumen di dalam mobil. Terutama tombol-tombol di bagian dasbor dan tuas-tuas di sekitar kemudi. Baginya semua itu "unik", tak terkecuali susunan kursi dan kompartemen untuk menyimpan kaset, CD, dan lain-lain. Sangat mungkin ia kemudian mengutak-utik semua itu; membongkar isi laci, memutar-mutar kemudi, naik-turun kursi, dan sebagainya.

* Ada benda kesayangan
Bisa juga anak betah di dalam mobil karena di situ ada benda yang disenanginya. Apakah itu bantal, boneka, atau hiasan gantung di kaca spion.
 
* Suasana menyenangkan
Jika mesin mobil dan AC-nya dinyalakan, suasana dalam mobil tambah menyenangkan baginya. Apalagi kalau lagu kesukaannya diputar dan aroma segar dari pengharum mobil merebak, itu semua membuat anak nyaman bermain di mobil.

* Aman
Alasan "keamanan" seringkali juga membuat anak betah berada di dalam mobil yang sedang berhenti. Ratih Andjayani Ibrahim, Psi., MM., menyontohkan pengalamannya sendiri.
Saat itu, ibu dua anak ini bersama para buah hatinya naik kapal feri, "Anak saya lebih memilih berada di dalam mobil karena kalau keluar dia akan bertemu banyak orang dengan berbagai macam karakter. Dengan situasi seperti ini, si kecil bisa bertahan di dalam mobil tidak hanya sampai 30 menit tapi satu jam atau lebih."
Yang perlu diperhatikan, lanjut psikolog dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia ini, usahakan kenyamanan anak agar tetap terjaga, entah dengan memutarkan lagu-lagu kesukaannya, menceritakan hal-hal menarik, memberi mainan, dan sebagainya.
 
* Ada suara mesin
Tak jarang, anak suka berada di dalam mobil hanya karena tertarik mendengarkan deru mesinnya. Namun "suara deru" yang disukai adalah yang terdengar halus dan konstan bukan yang keras atau kasar.
 
NUANSA BERBEDA
Eksplorasi yang dilakukan si kecil di dalam mobil pada dasarnya sama saja dengan eksplorasinya terhadap rak dapur atau laci pakaian, hanya saja nuansanya berbeda. Oleh karena itu, jika anak menunjukkan ketertarikan bermain di dalam mobil, tunjukkan perhatian kita. Manfaatnya, anak bisa lebih kaya dalam mengenal situasi maupun kondisi di sekelilingnya.

Penting bagi anak untuk selalu didampingi saat berada di dalam mobil, baik dengan mesin menyala ataupun mati. Walau ruangan mobil biasanya tak seberapa luas, tapi tetap ada risiko yang mengancam anak. Selain bisa terjatuh dari kursi, anak-anak juga bisa mencabut tombol pemantik api yang tengah dalam posisi menyala. Lagi pula, meninggalkan anak sendirian di dalam mobil sangat tidak bijaksana karena ada kemungkinan anak terkunci di dalam.
 
Tenaga listrik pada mobil juga bisa dihambur-hamburkan olehnya saat berkali-kali menyalakan lampu mobil, memutar-mutar kunci kontak ke posisi "on" atau membunyikan klakson berkali-kali. Anak batita yang cukup besar mungkin malah mencoba-coba menstarter mobil. Walau kemungkinannya kecil, tapi tetap perlu menjadi perhatian orang tua.
Nah bagaimana, Anda siap menemani si kecil?
***Irfan Hasuki. Foto: Iman/nakita

{ Dapatkan DVD terapi gelombang otak untuk mengatasi gangguan tidur , klik link di bawah ini....} 
Sumber : www.gelombangotak.com/mengatasi_gangguan_tidur.htm