"Maaf banget ya, kemarin aku enggak jadi datang ke arisan. Si Triwik rewel banget. Enggak mau ditinggal!" ujar Dewi. Rika yang diajak bicara, menjawab dengan jengkel "Kuno ah. Itu melulu alasannya. Ini kan acara yang sudah lama direncanakan. Lagi pula Triwik sudah gede, sudah 2 tahun. Masak sih masih sulit ditinggal?" protesnya. Kasus yang menimpa Dewi sebenarnya kerap dialami ibu-ibu lain. Jangankan ditinggal pergi untuk urusan arisan, mau ditinggal ngantor yang merupakan rutinitas sehari-hari saja, susahnya minta ampun. Perlu dibujuk ini, dibujuk itu. Kalau bujukan tak mempan, ya ujung-ujungnya dia akan menangis meratapi kepergian sang bunda. Menurut psikolog Ima Sri Rahmani, Psi., anak rewel saat ditinggal pergi memang sering terjadi sampai-sampai orang tua, terutama ibu, sering kehabisan akal menghadapi ulahnya.
Soal akar penyebab, jelas Ima, tak lain karena pada usia batita tengah berkembang apa yang disebut sebagai faktor kepercayaan dan ketidakpercayaan terhadap lingkungan. Bila faktor kepercayaan yang tumbuh dengan baik maka anak akan bercitra positif terhadap lingkungannya. Artinya, dia akan berani menghadapi lingkungan, termasuk saat ditinggal oleh orang yang lekat dengannnya. Sebaliknya, bila faktor ketidakpercayaan yang dominan muncul, ia jadi anak yang tidak merasa aman pada lingkungannya. Alhasil, ya anak jadi sering rewel karena ia mudah waswas atau takut. Tak heran kalau ia akan menangis kala ditinggal pergi ibunya.
BERBAGAI PENYEBAB KETIDAKTENANGAN
Lalu apa penyebab konkret kerewelan anak saat ditinggal pergi orang tuanya? Psikolog dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta ini menjelaskan 4 penyebabnya, yakni:
* Kelekatan berlebih
Kelekatan dengan orang tua memang dibutuhkan karena akan membuat anak merasa ada yang melindungi. Tapi terlalu lekat pun tidak baik sebab akan memunculkan efek negatif, seperti anak jadi sulit ditinggal. Menurut Ima, biasanya kelekatan yang berlebihan dikarenakan beberapa faktor, seperti:
1) Anak terlalu sering menghabiskan waktu hanya berdua orang tua saja sehingga sulit menerima sosok lain. (2) Sikap orang tua yang terlalu melindungi atau selalu menemani anak ke mana-mana. (3) Anak tidak boleh bermain dengan siapa-siapa karena takut ikut-ikutan nakal, dan lainnya. Kalau sudah begini, anak bukannya tumbuh mandiri tapi malah tidak berani berada jauh dari orang tuanya.
* Terlalu dimanja
Bukan berarti memanjakan anak dilarang lo. Boleh-boleh saja selama tidak berlebihan. Kemanjaan berlebihan biasanya karena orang tua ingin menutupi kesalahan akibat sering meninggalkan anak karena kesibukannya. Padahal anak yang terlalu dimanja bisa menjadi tidak mandiri hingga dewasa.
* Rasa Takut
Rasa takut anak bisa muncul karena berbagai sebab. Yang sering terjadi namun tidak disadari karena anak selalu "dijahili" dengan dicubiti, umpamanya, oleh orang dewasa di sekitar. Meski sebenarnya tak ada maksud buruk di balik kejahilan tersebut tapi anak akan merasa ketakutan. Bukan apa-apa, cubitan bagi orang dewasa bisa saja cermin rasa gemas tapi bagi anak merupakan sumber rasa sakit. Tak heran kalau ia selalu ingin berlindung di bawah ketiak orang tuanya karena khawatir sewaktu-waktu si jahil; bisa om, tante, atau tetangga atau siapa pun, datang. Jika tidak ada orang tuanya di rumah maka akan muncul sikap rewelnya. Rasa takut juga bisa muncul jika dalam bereksplorasi anak banyak dilarang dan ditakuti dengan kalimat-kalimat seperti, "Jangan naik tangga, nanti kamu jatuh," atau "Jangan lompat-lompat nanti kepalamu terbentur."
* Pengalaman Traumatis
Ditinggal pergi diam-diam dapat membuat anak jadi trauma. Ia merasa orang tuanya bisa "lenyap" mendadak. Setelah dicari-cari tidak ketemu sangat mungkin sikap rewelnya akan muncul. Bila esoknya anak merasa akan ditinggal kembali, sekuat tenaga ia akan menahan orang tuanya, entah dengan menangis, tantrum, atau yang lainnya.
Pengalaman traumatis juga bisa datang karena anak mendapat perlakuan buruk dari orang lain saat orang tuanya tidak berada di rumah. Misalnya, sikap pengasuh yang kasar dan sering memarahi anak. Namun karena anak batita masih sulit mengungkapkannya dengan jelas, umumnya dia hanya menunjukkan sikap keengganan kala ditinggal orang tuanya.
CARA MENGATASI
Namun berbagai permasalahan tadi bukan tanpa solusi. Ima menyodorkan berbagai kiat yang dapat membuat si kecil bisa lebih tenang kala ditinggal di rumah bersama pengasuh atau keluarga lain. Berikut caranya:
* Komunikasi
Bila setiap hari ibu atau ayah harus meninggalkan anak di rumah untuk pergi ke kantor, umpamanya, cobalah mengomunikasikan hal ini. "Mama harus ke kantor untuk cari uang. Uangnya untuk beli susu dan mainan buat Adek. Jadi Adek di rumah sama Mbak, ya!" Komunikasi seperti ini selain dapat membuat anak mengerti tujuan orang tuanya bekerja, juga dapat membuat anak secara mental lebih siap kala ditinggal pergi orang tuanya. Dari situ, kepribadian positifnya bisa tumbuh; anak menjadi lebih percaya diri, tidak mudah takut, tidak mudah menangis, dan lainnya.
Tak hanya kepada anak, komunikasi juga penting dilakukan pada pengasuh atau orang lain yang menggantikan pengasuhan selama orang tua pergi. Misalnya dengan memberitahukan hal-hal apa saja yang perlu dilakukan kala kita tidak berada di rumah. Hal ini penting diketahui pengasuh untuk mengantisipasi kalau-kalau si batita rewel.
* Tumbuhkan Keberanian
Jangan sekali-kali menakut-nakuti anak tanpa jelas maksudnya. Misal, "Awas, kalau Adek enggak mau makan nanti hantunya datang. Hiiiii!" Ancaman ini akan memunculkan persepsi negatif anak terhadap lingkungannya. Tak mustahil ia akan mempercayai kalau hantu itu benar-benar ada sehingga selalu merasa ketakutan. Jangankan ketika orang tuanya pergi, meskipun orang tuanya ada di rumah pun ketakutan sering muncul.
Jadi alangkah baiknya jika orang tua mau menumbuhkan keberanian anak. Saat ada suara petir, contohnya, kita bisa katakan, "Itu suara petir, Adek enggak perlu takut karena kita kan di dalam rumah. Jadi aman!" Atau untuk mengatasi ketakutan anak akan gelap bisa dengan perkataan "Sekarang gelap karena sudah malam. Tuhan menciptakan gelap bukan supaya Adek takut tapi karena Adek diminta untuk bobok!"
* Pergi baik-baik
Ketenangan tumbuh dari peristiwa yang menyenangkan. Jadi jangan sekali-kali orang tua pergi dengan cara sembunyi-sembunyi atau berbohong. Hal ini malah akan membuat anak merasa tidak tenang karena sering dibohongi. Selanjutnya muncul kekecewaan yang akan memicu kerewelan anak saat orang tuanya tidak ada di rumah.
Sebaiknya, kepergian kita harus diketahui anak sambil memberikan berbagai penjelasan. Misalnya, "Ibu pergi kerja dulu ya buat cari uang untuk beli mainan susu Adek. Nanti siang Ibu telepon!" Dengan pendekatan seperti ini setidaknya membuat anak merasa lebih tenteram karena orang tuanya pergi demi kepentingannya juga.
* Alihkan perhatian
Bila agak sulit, cobalah untuk mengalihkan perhatian anak dengan memberinya kegiatan, menggambar misalnya. Libatkan diri sebentar. Ketika perhatian si kecil sudah terfokus pada kegiatannya, barulah kita bisa pergi sambil mengatakan, "Sekarang Adek menggambar. Ibu mau pergi dulu sebentar." Pilihlah kegiatan yang pada saat itu benar-benar disukai anak dan hindari yang membuatnya cepat bosan karena tidak akan berhasil untuk mengalihkan perhatiannya.
Jika anak masih saja sulit ditinggal bahkan sikap tantrumnya semakin menjadi-jadi, Ima menyarankan orang tua memenuhi keinginan anak untuk tetap bersamanya. Tentu, sambil ia diberikan penjelasan. "Di usia ini anak sudah mulai bisa memahami kalimat-kalimat sederhana yang kita berikan. Berikan pengertian secara perlahan, sebagai persiapan untuk kepergian kita esok."
* Telepon
Saat jauh dari anak usahakan untuk menghubunginya lewat telepon. Cobalah untuk menanyakan kondisinya, apakah sudah makan, tidur, pipis, atau lainnya. Dengan mendengar suara orang tuanya lewat telepon, anak akan merasa bahwa mereka tidak berada jauh darinya dan tetap menyayanginya.
* Perhatikan kebutuhan anak
Sebelum meninggalkan anak, persiapkan segala kebutuhannya; mulai dari makanan kesukaan, mainan, pakaian, hingga alat-alat pendukung aktivitas lainnya. Jadikan pengasuh kepanjangan tangan orang tua dalam menyediakan berbagai kebutuhan anak. Jika segala keperluannya tersedia dengan baik, anak jadi merasa nyaman. "Untuk itu, kita harus memberikan jadwal day to day, kapan harus makan, tidur, main, dan lain-lain, kepada pengasuh sehingga kebutuhan anak akan cepat tercukupi," jelas Ima.
DIMULAI SEJAK BAYI
Kepercayaan anak pada lingkungannya harus dimulai sejak ia masih bayi sehingga saat tumbuh besar, anak akan menjadi sosok yang percaya diri, termasuk tidak rewel kala ditinggal pergi oleh orang-orang yang lekat dengannya. "Di masa bayi berbagai persiapan harus dilakukan oleh ibu maupun ayah agar anak sudah punya modal untuk menghadapi kemandiriannya kelak," tandas Ima.* Ibu
Rasa percaya diri anak terhadap lingkungan dimulai dari kasih sayang ibu. Kepercayaan awal anak diperoleh sejak dari dalam kandungan maupun saat menyusu ASI. Namun ibu perlu menyadari kalau anak juga harus mengenal sosok selain dirinya seperti ayah, kakek, nenek, om atau tante, juga pengasuhnya. Bila sejak bayi anak sudah dikenalkan dengan berbagai sosok tersebut, keberaniannya menghadapi lingkungannya lebih mudah dibangun. Oleh karena itulah kebanyakan anak yang hidup di lingkungan keluarga yang cukup besar lebih mudah untuk ditinggal di rumah.
* Ayah
Sebuah penelitian mengungkap ayah yang banyak berinteraksi dengan anaknya akan membuat si anak lebih berani menghadapi orang asing. Lantaran itu, diharapkan sejak usia bayi, ayah sudah menjalin kelekatan dengan si kecil. Mulai melakukan peran sebagai ibu, seperti membuatkan susu, menggantikan pakaian, memandikan, sampai bermain dengan anak. Dengan adanya interaksi, anak menjadi lekat dengan sang ayah. Dalam perkembangannya anak menjadi tak mudah takut pada orang asing dan tak terlalu lengket pada ibu karena anak sudah mengenal dua sosok yang berbeda.
***Irfan Hasuki. Foto: Dok. nakita
{ dapatkan CD terapi gelombang otak untuk membuka dan memperkuat aura anda, klik link di bawah ini.......}
Sumber : www.gelombangotak.com/membuka_aura.htm

kalau udah besarr sihc iya bisa dgn cara baik2 tapi gmna dgn bayi yg baru umur 3-7 bln???
BalasHapusSaya malah bingung,, awalnya sih baik2saja tiap saya pergi dia dengan senangnya melambaikan tangan namun diumurnya yg sudah 4thn ini dan kmrn libur lebaran cukup lama saat waktunya saya masuk kerja lagi anak malah jadi rewel tiap saya mau kerja. Harus bagaimana ya?
BalasHapusSama bun, anak saya juga udah 4 y 6 m malah makin susah ditinggal kerja, kenapa ya??
HapusAnk sya umur 5 tahun susah untk sya tinggal saat disekolah .. Tapi saat sya berangkt krja,malah bisa sya tinggal.. Bagaimana cara nya agar bisa di tggal sudah berbagai cara jga tetap ga maj di tinggal ??
BalasHapusAnak sy jg begitu mba. Setiap ditinggal di sekolah selalu menangis. Tp menangis hanya 5 menit setelah itu langsung berkegitan dan bermain dengan temannya. Tp setiap baru sampai sekolah pasti nangis walau hanya 5 menit. Kalau anak mba gmn?
HapusAdik saya kalau kamping selalu nangis ingin pulang karena kangen mamah katanya padahal siang sampai sore baik baik saja jadi setiap kamping selalu pulang jadi tidak sampai tidur bareng teman teman nya adik saya berumur 13 tahun selalu bareng dengan mamah kemana mana jadi harus gimana ya untuk mengatasinya supaya tidak menangis lagi?
BalasHapusAdik saya kalau kamping selalu nangis ingin pulang karena kangen mamah katanya padahal siang sampai sore baik baik saja jadi setiap kamping selalu pulang jadi tidak sampai tidur bareng teman teman nya adik saya berumur 13 tahun selalu bareng dengan mamah kemana mana jadi harus gimana ya untuk mengatasinya supaya tidak menangis lagi?
BalasHapusponakan sy rewelnya ktrlaluan smpe² risih dengernya tiap pagi siang sore mlm klo lg nnton TV tiap detiknya manggil² "Mamah ksni Mamah ksni" truuus sblm Mmh nya dtg. apa² hrs diturutin klo enga nangisnya tantrum & rewelnya duuuuh bkin pusing. Didktinpun untk mnggntikn peran asuh ortu nya gabisa.. just Mamah and Mamah.
BalasHapussolusinya gmna yah?