Jumat, 05 Agustus 2011

Ketika anak tak punya teman

Biasanya Siska selalu ceria sepulang bermain. Tapi kali ini wajah gadis kecil berusia 8 tahun itu berurai air mata. "Meta nggak mau main lagi sama Siska, Ma..." isaknya mengadu. Masih menurut pengaduan Siska, teman-temannya yang lain pun menolak bermain bersamanya. Kasihan.

Mendengar hal itu, sang ibu diam-diam menyimpan kekuatiran. Akan terganggukah hubungan sosial putrinya?

Rasanya tak ada orangtua yang senang mendengar anaknya tak punya teman. Apalagi kalau ia mengeluhkan hal ini sambil tersedu-sedu. Padahal, pertemanan penting artinya bagi perkembangan sosialisasi anak di usia ini. Di samping perasaan sedih, kadang muncul juga perasaan tak bisa menerima. Mengapa anakku bisa tak punya teman? Apalagi jika selama ini orangtua menilai anaknya cukup supel.

Belum tentu dikucilkan. Sebelum menasihati anak, ada baiknya Anda mencari tahu dulu apa yang sesungguhnya terjadi. Mengapa teman-teman anak tak mau lagi bermain dengannya? Ada apa dengan mereka? Ada apa pula dengan anak Anda? Hindari langsung membuat kesimpulan hanya dari cerita anak. Sebab, sebuah pertengkaran kecil antara anak dan teman baiknya bisa saja membuatnya kesepian dan merasa dikucilkan dari pergaulan -– walaupun sebenarnya mereka tak berkeberatan atas kehadiran anak Anda.

Sumber terbaik untuk memperoleh informasi berimbang mengenai kasus ini adalah teman-teman anak. Mintalah mereka menceritakan kejadian yang sebenarnya, sehingga Anda tahu mengapa anak menuduh kawan-kawannya tak menyukainya dan enggan bermain bersamanya. Berdasarkan informasi tersebut, barulah Anda bisa membuat penilaian -– apakah tuduhan anak berlebihan atau tidak. Kalau hasil penilaian ternyata lebih baik daripada cerita anak (kenyataannya, ia masih punya banyak teman), Anda bisa menenangkan anak dengan memeluknya dan mengatakan, "Coba tebak apa kata teman-temanmu? Mereka senang bermain denganmu, Sayang!"

Lalu bagaimana jika anak benar-benar tak punya teman? Pertama, Anda bisa menanyakan, mengapa ia sampai mengira tak seorang pun mau menjadi temannya? Dengarkanlah seluruh penjelasan ’versi’ anak, walaupun penjelasan itu tak menjawab pertanyaan Anda dengan tepat. Adakah, misalnya, anak bercerita bahwa teman-teman menganggapnya sok pemimpin, atau menganggapnya pemarah?

Untuk mengecek kebenaran cerita anak, Anda perlu juga menyaksikan sendiri bagaimana perilaku anak saat bergaul dengan teman-temannya. Apakah ia mudah bergaul dan ramah, atau sebaliknya suka memaksa dan galak? Maukah ia berbagi? Apakah ia tak mengikuti aturan? Setelah menyaksikan sendiri cara bergaul anak, tanyalah diri Anda: bersediakah Anda bermain bersamanya, andai Anda seusia mereka?

Mengakui kekurangan anak, bagi orangtua, kadang memang berat. Tapi jika ingin situasi membaik, Anda harus jujur terhadap diri sendiri, juga anak Anda. Ini adalah langkah awal untuk membantu anak mengatasi masalah dalam pergaulan sosialnya. Langkah Anda selanjutnya? Tentu membantu anak mengatasi kekurangannya dalam menjalin hubungan sosial, misalnya:

Tak suka berbagi. Anda bisa mengajarkan cara berbagi di rumah. Mintalah anak memberikan sebagian makanannya untuk Anda, atau meminjamkan mainan kepada saudaranya. Bila anak bersedia dan mampu melakukannya dengan baik, beri pujian. Lalu yakinkan anak, bahwa dia juga bisa melakukannya pada teman-temannya.

Terlalu agresif. Anda bisa mengajarkan cara berinteraksi tanpa memaksa. Beritahu cara mengendalikan emosi. Misalnya, tak memukul teman walau sedang kesal. Mintalah agar anak mau mendengarkan ucapan teman-temannya, jangan bicara terus tanpa memberi teman kesempatan bicara.

Menarik diri. Anda bisa mengingatkan anak, bahwa dirinya menyenangkan dan punya kelebihan. Jadi, untuk apa menarik diri? Ajarkan juga cara memulai percakapan kecil dengan teman. Misalnya dengan mengatakan, "Aku suka baju kamu", atau "Kamu mau nggak main boneka sama aku?" Ajak anak berlatih bicara dengan Anda di rumah, sampai ia lancar mengucapkan kalimat pembuka percakapan.

Kasar dan berisik. Anak seusia ini mungkin belum sadar, sikap kasar dan berisik membuat teman-temannya menjauh. Bahkan mungkin anak menganggapnya baik, karena kadang mengundang gelak tawa dan keriuhan. Karenanya, bilang saja padanya bahwa perilaku seperti itu memang bisa mengundang tawa. Tapi bisa juga membuat orang terganggu.

Terlihat tak ramah.
Latihlah anak Anda berkomunikasi secara positif. Misalnya, beri saran agar ia lebih sering tersenyum, menatap mata, dan menegakkan kepala waktu berbicara dengan teman. Ajarkan pula cara menunjukkan persetujuan atas pendapat atau sikap teman-temannya –- kalau memang ia setuju.

Tak percaya diri. Anak seusia ini mungkin belum sadar bahwa sikapnya yang serba canggung dan tak percaya diri membuat orang malas berdekatan dengannya. Untuk menumbuhkan kayakinan dan rasa percaya dirinya, ajak ia bergabung dengan kelompok kegiatan yang disukai. Apakah itu berkesenian, berolahraga atau berorganisasi.

Selamat mencoba! Semoga setelah ini anak Anda semakin disukai teman-temannya. 


{ Dapatkan CD terapi gelombang otak untuk membuka  & mempperkuat aura , klik link di bawah ini....} 
Sumber : www.gelombangotak.com/membuka_aura.htm

Kecil Pemalu, Gede Jangan Malu-Maluin

"Kenapa ya anak saya kok pemalu, sedangkan teman-temannya begitu pemberani untuk tampil?" Jika Anda termasuk orangtua yang merindukan melihat anak-anak tampil memperlihatkan kebolehannya, simak tulisan ini, karena anak Anda hanya butuh sedikit penguatan.

Tak sedikit orangtua penasaran, kenapa anaknya begitu pemalu sedangkan anak orang lain tidak. Setiap bertemu orang baru langsung menangis, minimal menyembunyikan wajahnya dan diam saja ketika ditanya. Sementara anak orang lain bahkan menjawab lancar apa pun yang ditanyakan kepada mereka, meski baru pertama kali bertemu.

Kadang timbul pula rasa heran karena anaknya jauh berbeda dengan diri mereka sebagai orangtua. "Ibunya rame bapaknya ramah, kok anaknya pendiam dan malu-malu," komentar seperti itu kerap terdengar.
"Mereka tak sendiri. Ada jutaan anak pemalu di dunia," ujar Ward K. Swallow, penulis buku The Shy Child. Dan tidak seperti masalah dalam perkembangan anak lainnya, sifat pemalu biasanya tidak sampai membuat orangtua cemas.

Lebih-lebih di antara unsur atau kualitas yang tercakup dalam sifat pemalu, banyak yang dianggap positif. Misalnya pendiam (tidak cerewet), santun (hormat, tidak banyak tingkah), kalem, rendah hati (tidak suka menonjolkan diri) dianggap sebagai sifat yang positif. Orangtua kadang tidak menganggapnya sebagai suatu masalah jika anaknya tergolong pemalu.

Namun, Swallow mengingatkan supaya orangtua lebih seksama mencermati sifat pemalu ini. Sebab, jika anak tidak diajari mengatasi sifatnya itu, sampai dewasa akan tumbuh sebagai penyendiri. Saat bekerja dia akan memilih bagian yang dapat menjadi tempatnya "mengasingkan diri". Biasanya para pemalu ini bahkan menikah dengan orang pertama yang dapat bergaul dengannya. Yang lebih memprihatinkan, jika dibiarkan dengan sifat pemalunya itu, mereka dapat mengalami gangguan kecemasan dan depresi, kata Swallow.

Campuran Emosi
Menurut Hyson dan Trieste, pada dasarnya perasaan malu itu muncul sebagai campuran emosi (termasuk rasa takut dan tertarik), tegang dan senang. Biasanya orang yang merasa malu berbicara pelan, ragu-ragu atau berhenti-berhenti, dan gemetaran. Pada anak yang lebih kecil ditandai dengan kegemaran mengisap jari, bertingkah malu-malu, berganti-ganti antara tersenyum dan merengut.

Mengapa seorang anak menjadi pemalu sementara yang lain tidak? Hubungan sosial yang baru merupakan penyebab paling sering yang membuat anak merasa malu. Hal ini berkaitan dengan perubahan besar pada lingkungan sosial dan tekanan akibat kompetisi yang ketat di sekolah.

Orangtua yang terlalu banyak mempertimbangkan apa yang mungkin dipikirkan orang lain tentang anaknya, dan memberikan otonomi (wewenang untuk mengatur diri sendiri) kepada anaknya kelewat kecil, juga mendorong timbulnya perasaan malu pada anak.

Sebagai contoh, mungkin tanpa sadar orangtua sering berkata,"Hush, malu, bicara jangan keras-keras, yang pelan saja!" Atau begini, "Malu dong kalau anak Mama ngga pinter." Sering juga terdengar perkataan seperti ini, "Malu, belum dandan sudah keluar rumah." Masih banyak lagi ucapan orangtua yang mampu menumbuhkan perasaan malu pada anak.

Tidak Penting
Dalam analisis yang dilakukan terhadap ribuan kliennya, Bernardo Carducci dalam bukunya, The Shyness Breakthrough, menyebutkan pada umumnya anak menjadi malu karena merasa takut apa yang dibicarakannya tidak penting. Mereka jadi merasa tidak bebas untuk mengekspresikan diri.

carducci, Direktur Shyness Research Institute, Indiana University di New Albany, AS, antara lain mengutip pernyataan salah satu mantan kliennya yang ketika kecil luar biasa pemalunya, sebagai berikut. "Saya tidak dapat mengekspresikan diri saya secara bebas, sehingga guru maupun teman sekelas seringkali salah mengerti tentang diri saya dengan menganggap perasaan malu saya sebagai tidak punya minat. Dalam banyak aktivitas sosial, saya tidak pernah menjadi bagian dari kelompok. Atau mungkin kelewat sensitif dan berpikir orang lain telah memperlakukan saya secara berbeda, karena saya merasa berbeda."

Carducci mengingatkan, perasaan malu pada anak-anak timbul bukan karena ia dilahirkan sebagai seorang pemalu, melainkan merupakan akibat atau bentukan lingkungannya. Ada kalanya orang menyebut sifat pemalu merupakan genetik, karena neneknya, ibunya, pamannya, dan banyak sanak familinya yang pemalu. Namun, itu tidak lebih dari sebuah kebiasaan atau nilai yang ditularkan secara turun temurun.

Jadi Masalah
Kapan sifat pemalu dianggap sebagai masalah dan perlu penanganan khusus? Meskipun pemalu bukan sebuah kekurangan yang mendatangkan nista, anak dapat menuai kerugian akibat sifatnya itu.

Pada umumnya anak pemalu dianggap sombong, tidak menyenangkan sebagai teman, membosankan (akibat suka menarik diri dari pergaulan), dan salah persepsi lainnya. Yang pasti ia akan kehilangan kesempatan untuk mengembangkan ketrampilan sosial karena dijauhi kawan-kawannya.

Biasanya perasaan malu itu akan hilang dengan sendirinya jika anak belajar beradaptasi di lingkungan sosial yang lebih luas. Perlahan-lahan dari sedikit demi sedikit dibiasakan bergaul dengan orang asing atau teman baru akan membuat anak tumbuh rasa percaya dirinya.

Orangtua hanya perlu melakukan tindakan lebih, misalnya membawanya berkonsultasi ke psikolog, jika anak memang kelewat terganggu dan terlalu tidak nyaman jika berada di antara orang lain. Sebab, jika dibiarkan, sampai dewasa dia akan tumbuh sebagai pribadi penyendiri, dan mengingkari kodratnya sebagai makhluk sosial. Kasihan 'kan?

T
iga Langkah Mengatasi Sifat Malu-Malu
Sebagai orangtua, Anda pasti ingin anak-anak tumbuh secara normal dan berkembang optimal. Berikut ini langkah-langkah yang disarankan Marion C. Hayson dan karen van Trieste dalam tulisan mereka berjudul The Shy Child, yang dapat Anda pertimbangkan.
  1. Kenali dan terima anak secara utuh. Caranya adalah dengan berusaha lebih sensitif terhadap apa yang menjadi minat anak dan bagaimana perasaannya. Maksudnya supaya hubungan dengan anak terbangun lebih baik, dan Anda dapat memperlihatkan bahwa Anda menghormatinya. Cara ini akan membuat anak lebih percaya diri dan berkurang sifat pemalunya.
  2. Bangun harga dirinya. Pada anak yang pemalu biasanya terdapat citra diri negatif, dan merasa bahwa dirinya tidak dapat diterima oleh lingkungan. Yakinkan kepada anak untuk memperlihatkan keterampilan sosialnya. Bantu anak untuk dapat merasa aman. Bila perlu, pergunakan hal-hal yang dianggapnya menarik untuk memudahkannya melakukan interaksi sosial.
    3     Rasa malu itu tidak selalu berarti buruk. Tidak semua anak merasa butuh untuk menjadi pusat perhatian. Beberapa unsur sifat malu, seperti sopan, rendah hati, dan pendiam bahkan dianggap sebagai hal yang positif. Oleh karena itu, sepanjang anak tak terlihat bahwa dia merasa kelewat tidak nyaman atau merasa sangat terganggu berada di antara orang lain, intervensi yang drastis dari orangtua tidak diperlukan. (Widya Saraswati)

{ Dapatkan DVD terapi gelombang otak untuk penyembuhan & kesehatan , klik link di bawah ini.....} 
Sumber : www.gelombangotak.com/mempercepat_penyembuhan_penyakit.htm

6 KEBIASAAN BAYI YANG MASIH TERBAWA SAMPAI BATITA

Tiap tahapan perkembangan pastilah ada hal-hal baru yang dipelajari anak. Namun tak jarang kebiasaan-kebiasaan di tahap perkembangan sebelumnya masih terus terbawa. Contohnya kebiasaan-kebiasaan semasa bayi yang seringkali masih terbawa sampai anak berusia batita. Beberapa kebiasaan tersebut masih bisa dikategorikan normal, namun beberapa lainnya sudah harus diwaspadai. Seberapa jauh orang tua mencermati hal ini? "Yang terpenting, orang tua paham betul mana yang masih boleh dilakukan anak dan mana yang sebaiknya tidak," jelas Sani B. Hermawan, Psi., dari Yayasan Bina Ananda.
 

1. NGENYOT JARI, NGEMPENG DAN NGEDOT
Menurut teori psikoseksual yang dikemukakan Sigmund Freud, sejak bayi lahir sampai usia 18 bulan, anak mendapatkan kepuasaan melalui fase oral. Kepuasan itu didapat anak lewat sensasi di sekitar daerah mulutnya, baik itu berupa aktivitas makan, minum, ngedot, ngempeng, ngenyot jari dan sebagainya. Hal ini wajar karena semua anak pastilah melewati tahapan yang satu ini. Dikatakan tidak wajar bila selewat usia 18 bulan, anak masih mempertahankan kebiasaan-kebiasaan tersebut.
Upaya pencegahan tentu saja bisa dilakukan orang tua supaya anak tidak kebablasan dengan kebiasaan tersebut. Salah satunya dengan tidak membiasakan anak ngempeng dan ngenyot jari sejak bayi. Tapi kalau sudah telanjur terjadi, beberapa langkah berikut bisa dilakukan.
* Kenalkan cara minum menggunakan gelas.
* Jelaskan kebiasaannya itu dapat berakibat buruk. Seperti mengganggu pertumbuhan gigi, kuman bisa masuk ke dalam mulut kalau tangannya tidak bersih dan sebagainya.
* Mintalah anak memberikan dotnya pada anak yang kurang mampu. Atau karena sudah rusak maka minta anak untuk membuang sendiri dot-nya.
* Alihkan perhatiannya pada hal lain yang juga mendatangkan kepuasan. Contohnya dengan memperkenalkannya pada beberapa jenis mainan baru, bunyi-bunyian dan sebagainya.
* Kalau sudah diberi penjelasan, anak masih saja melanjutkan kebiasaan ngenyot jari, bisa saja orang tua mengakalinya dengan memberikan sesuatu yang pahit di jarinya. Namun lakukan hal ini sebagai upaya terakhir agar anak tidak merasa "ditipu" oleh orang tuanya sendiri.
Beberapa dampak buruk akan muncul bila anak dibiarkan lekat dengan kebiasaannya ini. Selain pertumbuhan giginya jadi tidak bagus, secara psikologis anak juga akan kehilangan rasa aman (secure feeling) bila meninggalkan kebiasaan yang sudah berubah menjadi kebutuhan ini. Padahal bila terus terbawa sampai besar, bukan tidak mungkin ia akan jadi bahan ejekan teman-temannya yang pada akhirnya akan berpengaruh pada pembentukan konsep dirinya.
 

2. NGOMPOL DAN PUP DI CELANA
Masih menurut Freud, di usia batita anak sedang memasuki fase anal. Anak akan mendapat kepuasan saat menahan BAK (buang air kecil) maupun BAB (buang air besar) sebelum melepaskannya. Untuk fase anal, sampai usia 3 tahun pun masih bisa dikategorikan wajar. Walau begitu, ketika anak sudah bisa duduk, orang tua sebaiknya mulai mengajarkan toilet training. Mungkin lebih mudah kalau diawali dengan latihan BAB di kloset, dibanding mengajari anak BAK. Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan orang tua untuk menyetop kebiasaan BAK dan BAB di celana.
* Biasakan tiap bangun pagi segera mengajak anak BAK di kamar mandi.
* Tiap 3 jam sekali dudukkan anak di kloset, meski ia terlihat tidak kebelet BAK. Begitupun menjelang tidur malam atau kala terbangun. Meski mungkin saat itu anak belum ingin BAK, kebiasaan ini bisa membantunya tidak ngompol lagi.
* Jangan terbiasa menolerir kebiasaan anak BAB di celana yang akan membuat anak mendapat kepuasan/pleasure. Bila dari mimiknya anak terlihat mau BAB, segera angkat dan dudukkan di kloset. Sebab kalau dibiarkan saja BAB di celana, lama-kelamaan anak akan merasa keenakan dan akhirnya malah tidak bisa BAB di kloset.
* Waspadai juga anak yang sudah lama tidak ngompol, tapi kemudian mendadak ngompol lagi. Mungkin saja ada masalah psikologis yang sedang dialaminya, seperti traumatic event dan sejenisnya. Tapi kalau hanya sesekali dalam jangka waktu sekian lama tak perlu dikhawatirkan karena bisa jadi anak hanya kecapekan atau mengalami mimpi buruk. Lalu bagaimana cara orang tua bisa mendeteksi adanya gangguan psikologis yang berakibat ia ngompol lagi? Salah satunya kalau selama 6 bulan terakhir anak sudah tidak ngompol lagi namun kemudian secara berturut-turut mulai ngompol lagi, besar kemungkinan ia mengalami gangguan psikologis.
* Jangan anggap remeh kebiasaan anak BAK dan BAB di celana. Sebab masalah ini akan mendatangkan serangkaian dampak buruk kalau terus terbawa sampai tahapan usia selanjutnya. Dalam pergaulannya, sosialisasinya akan terganggu karena ia akan jadi bahan ledekan teman-temannya.

3. MEMAINKAN ALAT KELAMIN

Satu lagi kebiasaan bayi yang masih terbawa sampai batita menurut teori Freud adalah kenikmatan memainkan alat kelamin. Dalam bahasa psikologinya, tahapan ini diistilahkan sebagai fase phallic. Kebiasaan ini masih dianggap normal, bahkan sampai anak berusia balita. Walau dianggap normal, orang tua sebaiknya mengarahkan anak untuk tidak melakukannya. Beri pemahaman begitu anak bisa diajak berkomunikasi. Jelaskan bahwa kebiasaannya ini bisa menyebabkan alat kelaminnya terluka, lecet, kotor, bahkan infeksi bila ada kuman masuk. Anak perlu tahu kalau area di sekitar alat kelamin itu sangat sensitif.
Kalau cara tersebut tidak berhasil, maka orang tua bisa mengalihkannya dengan kegiatan lain yang juga bisa memberikannya kepuasan. Misalnya dengan mengajak anak bermain tetabuhan dan sebagainya. Tapi yang harus diingat, orang tua jangan panik bila menemukan anak sedang melakukan kegiatan ini. Jangan marahi anak apalagi bila disertai ancaman, karena tiap anak pasti mengalami fase ini.
Menjadi masalah bila kebiasaan ini terus terbawa sampai anak besar. Selain lingkungan akan menganggapnya melakukan tindakan tak pantas, anak pun sebaiknya tahu bahwa kepuasan/kesenangannya bisa diperoleh dengan cara lain, selain dengan memainkan alat kelamin. 


4. NGECES
Ngeces atau mengeluarkan air liur tanpa kontrol lazim dilakukan bayi karena kemampuan mereka mengontrol air liur memang belum sempurna. Apalagi pada anak yang memang produksi air liurnya relatif banyak, hingga dalam tenggang waktu sebentar saja air liurnya menetes tanpa disadarinya. Kebiasaan ini masih dikategorikan wajar di usia batita awal, atau sampai usia 1,5 tahunan. Setelah usia itu, orang tua sudah harus aware karena biasanya batita di usia tersebut sudah bisa diajak berkomunikasi dan melakukan imitasi atau peniruan pada orang dewasa.
Melalui komunikasi orang tua bisa menginstruksikan anak, misalnya, "Hayo, Adek ngeces lagi ya. Coba dilap dong." Pada fase imitasi, orang tua dapat menyontohkan bagaimana menelan dan menghapus air liurnya. Melalui latihan terus-menerus, diharapkan anak bisa belajar bagaimana mengelola produksi air liurnya. Memang sih proses ini butuh waktu alias tidak bisa bersifat instan. Setelah berhasil pun, orang tua tetap harus memperhatikan dan mengingatkannya. Semisal saat anak sedang asyik melakukan sesuatu, tanpa disadari ia ngeces lagi, padahal sebelumnya kebiasaan ini sudah ditinggalkannya.
Kalau hanya sesekali ngeces karena ada sesuatu yang mengasyikkannya masih bisa dikategorikan wajar. Tapi bisa dibilang tidak wajar bila sampai usia 3 tahunan anak belum lepas dari kebiasaan ini. "Sebaiknya dicek ke dokter, siapa tahu memang ada kelainan."


5. NANGIS MINTA SESUATU
Menangis adalah suatu hal yang wajar. Namun menangis di usia batita bisa dikategorikan tidak wajar bila masih digunakan sebagai cara berkomunikasi.
Di usia 2 tahunan, anak seharusnya sudah bisa berkomunikasi dengan orang lain. Saat haus, lapar, sakit, dan sebagainya, anak seharusnya sudah bisa mengungkapkannya tanpa menangis. Jadi di usia tersebut kalau tangis masih digunakan sebagai cara untuk menarik perhatian sekelilingnya, itu dapat dikategorikan tidak wajar. Beberapa hal berikut perlu dilakukan orang tua sehubungan dengan kebiasaan anak ini:
* Tekankan pada anak untuk mengungkapkan apa yang diinginkannya, tapi tidak dengan tangis. Kalau haus, anak harus bilang haus untuk minta minum, bukannya dengan menangis atau merengek.
* Orang tua harus tegas, tangisan hanya boleh digunakan untuk mengungkapkan perasaan sedih, sakit, melepaskan emosi dan sejenisnya. Namun tangis bukan cara berkomunikasi untuk mendapatkan sesuatu seperti halnya yang dilakukan bayi.
* Konsistensi menjadi penting di sini. Sekali orang tua mengatakan tidak, besok lagi untuk tangisan yang sama orang tua harus tetap mengatakan tidak yang tentu saja harus disertai penjelasan. Sekali saja orang tua tidak konsisten, anak akan belajar memanfaatkan kesempatan dan mencari-cari celah.
* Reward dan punishment juga bisa digunakan dalam kasus ini. Bila anak sudah bisa minta sesuatu tanpa menangis, orang tua bisa melontarkan pujian. Sedangkan bila anak kembali menangis untuk minta sesuatu, anak bisa "dihukum" sesuai kesepakatan yang dibuat bersama. 


6. KELEKATAN YANG BERLEBIHAN
Kelekatan bayi dengan orang tuanya, terutama ibu adalah suatu hal yang wajar. Di usia ini anak belum bisa menerima keberadaan orang lain karena tidak aman (insecure) bila tidak bersama orang tua, atau significant other seperti pengasuh, kakek-nenek, om-tante yang sering dilihatnya.
Menurut teori Erik Erikson, pada masa ini sedang terbentuk trust and distrust terhadap lingkungan. Namun bila kelekatan ini terus dibawa sampai batita, menjadi tidak wajar lagi. Saat anak sudah bisa berkomunikasi dengan orang lain, maka pada saat itu pula anak mestinya sudah belajar bahwa lingkungannya itu tidak hanya orang tua, pengasuh dan kakek/neneknya, melainkan ada juga orang lain di luar mereka.
Anak yang mempunyai kelekatan berlebihan dengan orang tuanya, akan "takut" berhadapan dengan orang lain. Padahal ini seharusnya tidak terjadi. Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan orang tua untuk menyiasatinya:
* Mulai kenalkan anak pada lingkungan yang lebih luas, bahwa dunia ini tidak hanya berisi orang tua dan significant other lainnya.
* Ajak anak bermain tanpa perlu ada attachment langsung.
* Ajarkan anak untuk memberikan salam pada orang-orang yang ditemuinya. Dengan begitu anak bisa melihat bahwa orang lain pun tidak "berbahaya" baginya.
* Minta anak menjawab pertanyaan orang lain yang diajukan padanya agar akan tumbuh perasaan trust.
* Bisa juga sesekali anak ditinggal untuk waktu yang agak lama. Dengan begitu anak akan belajar, kalaupun ditinggal orang tuanya, pasti nanti akan kembali lagi.
Bila dibiarkan saja, kelekatan yang berlebihan akan merusak kemampuan sosialisasi anak. Anak jadi tidak berani bergaul dengan lingkungan yang lebih luas dan ke depannya kehidupan sosialnya pun akan terganggu.
TIPS UNTUK ORANG TUA
Beberapa hal berikut disarankan Sani sehubungan dengan kebiasaan bayi yang masih terbawa sampai batita.
* Begitu orang tua tahu batasan usia dimana anak harusnya sudah mulai belajar hal-hal tertentu, harusnya orang tua mulai aware. Makin dini usia anak saat diajarkan, makin kecil kemungkinan kebiasaan tersebut terbawa sampai batita.
* Konsistensi adalah kunci dalam mengajarkan segala sesuatu pada anak. Sekali orang tua mengambil sikap A, seharusnya sikap itu dipertahankan saat menghadapi keadaan yang sama.
* Beri penguatan kala anak berhasil melakukan perilaku yang diajarkan. Bila perlu beri reward atau pujian, sehingga anak merasa yakin bahwa perbuatannya benar.
* Jangan bosan memberi penjelasan mengapa ia harus melakukan ini dan itu. Jangan hanya sekali memberitahu, setelahnya hanya mengatakan, "Kemarin Mama sudah bilang. Adek kok enggak ngerti juga?" Ingat kemampuan anak usia ini mengingat sesuatu masih terbatas.
* Orang tua harus yakin dengan dirinya sendiri bahwa apa yang diajarkannya pada anak akan mendatangkan manfaat. Ingat, orang tua adalah fasilitator yang membentuk tingkah laku anak.
***Marfuah Panji Astuti. Foto: Iman/nakita

{ Dapatkan CD terapi gelombang otak untuk menambah tinggi badan , klik link di bawah ini......} 
Sumber : www.gelombangotak.com/menambah_tinggi_badan.htm

Kebiasaan Buruk Anda yang Dia Suka

Anda pasti punya kebiasaan buruk, yang mungkin kerapkali diprotes pasangan. Ssst, jangan buru-buru mengubahnya! Pasalnya, meski si dia kadang mengomel panjang-pendek dengan habit Anda itu, tapi sebenarnya mereka suka dan diam-diam menikmatinya lho!

Nah, apa sajakah kebiasaan yang sebagian besar dilakukan wanita (dan disebelin pria), namun bikin pasangan kian cinta? Yuk, simak:

Berdandan
Ritual berdandan sangat kita nikmati, kadang hingga satu jam tak terasa. Tapi terbayangkah betapa sebalnya pasangan Anda menunggu Anda 'siap'? Tapi tenang, dia sadar kok Anda berdandan karena ingin tampil semenarik mungkin di hadapan pasangan dan juga orang lain. Jadi kalau dibawa ke mana-mana nggak malu-maluin. Dia sadar itu kok!

Sikap tegas Anda
Meski terkesan galak, sebagian besar pria suka pada perempuan tegas yang punya prinsip dan gampang ditebak maunya. "Saya pernah punya pacar yang amat tegas, terkesan arogan. Setiap nggak ada yang berkenan, tak segan melayangkan protes. Tapi dari situ saya jadi tahu apa maunya. Pacar yang sekarang cenderung pasif dan selalu bilang ya..ya..saja..membebek gitu. Pusing..." keluh Ido (29 tahun).

Niat Anda mendadaninya
Harus diakui, selera Anda dalam berbusana jauh lebih baik dari pasangan. Meski dia sebal jelana jeansnya yang butut itu diganti dengan yang baru, tapi di lubuk hatinya yang paling dalam dia mengakui Anda piawai memilihkan busana yang cocok untuknya. "Tapi kalau sampai diurusi sampai masalah kecil-kecil kayak kaos kaki yang nggak match sama pakaian, sebel juga sih," ujar Rendra (25 tahun).

Hobi bergosip
Perempuan mana yang tak menyukai hobi menyenangkan satu ini? Apalagi kalau Anda jenis wanita yang bisa diajak ngobrol soal apa saja, mulai gossip yang ecek-ecek hingga kasus politik terhangat. "Saya tak begitu suka baca Koran atau nonton tayangan televisi berbau gossip. Tapi bisa tahu semuanya berkat pacar yang dengan suka hati menceritakannya pada saya. Lengkap pula!" kisah Han (27 tahun).

Nah, nah, asalkan porsinya nggak kelewatan, boleh kok 'kebiasaan buruk' (anggapan bagi sebagian pria lho) diteruskan...


{ Dapatkan DVD terapi gelombang optak untuk mengatasi gangguan tidur , klik link di bawah ini.....} 
Sumber : www.gelombangotak.com/mengatasi_gangguan_tidur.htm

Kamis, 04 Agustus 2011

Jangan Menahan Anak Tuk Berkreatifitas

Sebagai orang tua pastilah senang jika melihat anaknya itu ceria, sehat, pintar dan kreatif. Karena pada dasarnya orang tua akan membantu sang buah hati dalam hal menumbuhkan sisi kreatifitasnya. Dan orang tua selalu berkeinginan agar anaknya itu selalu memiliki kelebihan dibandingkan dengan anak-anak yang lainnya.

Oleh sebab itu berikut ini beberapa cara yang dapat Anda tempuh agar buah hati tercinta Anda dapat menjadi anak yang kreatif, sehingga dapat membanggakan kedua orang tuanya.

Pertama, berikan lingkungan yang memungkinkan agar si anak dapat mengeksplorasi dan bermain tanpa adanya rasa pengekangan dari orang tua yang tidak beralasan. Sehingga dengan cara tersebut, sang anak dapat lebih berpikir kreatif.

Kedua, Memilih media. Tanpa perlu menghabiskan banyak uang, media yang digunakan bisa seperti kertas, alat tulis, gambar dan lain-lain. Anak-anak dapat menjadi produktif dan imaginatif jika mereka sendiri mampu memilih, mengatur, menyusun dan mengaturnya kembali media tersebut.

Ketiga, terimalah ide yang diajukan dari si anak walaupun itu tidak biasa. Sebab dengan menghargai usaha mereka maka dengan itu si anak akan mengetahui bahwa anda percaya atas kemampuan mereka untuk melakukan pekerjaan itu dengan baik. Dan biarkan si anak memiliki kebebasan, tanggung jawab dan siap dengan konsekuensi dari pemikirannya.

Keempat, gunakan masalah yang biasa terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Lalu dorong si anak untuk memiliki ide baru dan yang tidak biasa. Orang tua harus mendengarkan pertanyaan dari mereka dan minta penjelasan mengenai pengamatannya. Klarifikasi apa yang telah anak-anak amati dengan mengulang apa yang telah anda dengar dan tanyai lebih jauh mengenai pengalamannya.

Kelima, anak-anak membutuhkan waktu panjang dan tidak diburu-buru untuk mengeksplorasi dan melakukan pekerjaan terbaik mereka. Sebagai orang tua sebaiknya berikan waktu untuk mengeksplorasi semua kemungkinan, berpindah dari ide popular ke ide yang lebih orisinil.

Keenam, anak sulit berkreatif tanpa adanya inspirasi yang kongkrit. Sebab mereka lebih senang menggambar pada objek langsung menurut rasa atau memorinya. Dan memori ini dapat menjadi lebih mudah dijangkau melalui persiapan dan provikasi orang dewasa.

Ketujuh, lebih tekankan mereka pada prosesnya bukan dari hasilnya. Biarkan anak merasa santai dan menikmati proses kreativitas. Anak yang secara langsung dihadapkan pada hasil berakibat akan hilangnya kepercayan dirinya. Sebab spontanitas sangat penting bagi perkembangan mereka untuk berpikir kreatif.

Kedelapan, berhati-hatilah terhadap rintangan dari kreativitas. Berikan penghargaan ketika mereka tidak mengharapkan penghargaan, mereka akan lebih kreatif dan menikmati proses tersebut. Perhatikan memberi tekanan, karena beberapa bukti menujukan bahwa tekanan dapat menurunkan kreativitas.


{ Dapatkan CD terapi gelombang otak untuk mengatasi stress & marah , klik link di bawah ini.......} 
Sumber : www.gelombangotak.com/mengatasi_stress_dan_marah.htm

Iodium Supaya Anak Tak 'EO.

Kebutuhan tubuh akan mineral iodium sebenarnya kecil sekali. Tapi kalau sampai kekurangan, IQ pun jadi jongkok.

Mineral yang satu ini memang powerful. Anak-anak sampai usia 10 tahun sebenarnya hanya memerlukan 40-120 mikrogram iodium setiap hari. dengan kata lain, cuma perlu 0,00004 sampai 0,00012 gram mineral ini per hari. Nimbangnya juga susah, karena terlalu sedikit. Tapi jangan main-main dengan fungsinya. Kekurangan iodium bisa bikin anak EO (alias 'bego'), pertumbuhan terhambat, dan menderita gondok.

Mineral ini sebenarnya mudah didapat dari bahan makanan. Tapi kita memang mesti selektif.
Iodium lebih banyak terdapat pada ikan air laut dibanding air tawar. Buah dan daun juga lebih banyak mengandung iodium daripada umbi-umbian.

Hormon Tiroksin
Dari makanan, tubuh kita menyerap iodium dan menjadikannya sebagai komponen dalam kelenjar tiroid yang ada di dasar leher, dan untuk membentuk hormon tiroksin atau tetraiodotironin (T4) dan triiodotironin (T3) yang diproduksi kelenjar ini. Kedua hormon ini yang lalu beredar dalam aliran darah.

Hormon tiroksin sendiri berfungsi untuk meningkatkan laju pembakaran zat-zat makanan dalam sel-sel tubuh sehingga meningkatkan laju metabolisme, kegiatan pernafasan, dan pemindahan energi. Fungsi lain hormon ini adalah menghambat penyimpanan energi dan merubahnya menjadi panas, serta mengontrol pembentukan protein.

Kekurangan iodium membuat tingkat T4 dalam darah menurun. Sinyal ini ditangkap oleh TSH (tyroid-stimulating hormon) yang lalu memerintahkan tiroid untuk bekerja lebih keras menyerap iodium dari makanan. Akibatnya, jumlah dan ukuran sel-sel kelenjar tiroid pun membesar sehingga terjadi gondok.

Gondok sendiri terdiri dari beberapa tingkat. Dari yang tidak terlihat meski kepala ditengadahkan penuh, sampai yang gondoknya terlihat nyata di leher dan bisa dilihat dari jauh. Gondok ini banyak terjadi di daerah pegunungan, yang kadar iodium di tanahnya rendah. Kadang di satu daerah, lebih dari 10% penduduknya menderita gondok. Ini yang disebut gondok endemik.

Gondok ini dapat dicegah dengan konsumsi iodium 1 mikrogram/kilogram berat badan per hari. Untuk pencegahan jangka pendek, bisa dilakukan dengan suntikan lipiodol. Namun untuk jangka panjang, pemberian garam dengan kandungan 40 ppm (40 miligram iodium per 100 gram garam) jauh lebih baik. Namun kalau sudah terkena gondok, gondok itu tak bisa mengempis kembali meski kekurangan iodiumnya sudah ditangani. Satu-satunya jalan, dioperasi.

Kekurangan iodium selama kehamilan bisa menyebabkan anak yang dilahirkan bisu-tuli, otak kurang berkembang, keterbelakangan mental, dan kretinisme (kerdil). Kekerdilan ini baru kelihatan ketika bayi berusia beberapa bulan. Pertumbuhan bayi lambat, wajah kasar dan membengkak, perut kembung, lidah membesar, bibir tebal dan selalu dan terbuka. Bila diketahui sejak awal, kondisi ini masih bisa dinormalkan kembali.

Mudah Menguap
Pada tubuh orang dewasa yang sehat, jumlah mineral iodium dalam tubuh bisa mencapai 9-10 miligram, dengan 70-80% iodium terdapat pada kelenjar tiroid. Agar tak kekurangan iodium, orang dewasa memerlukan sekitar 150 mikrogram iodium per hari dari makanan. Ibu hamil menbutuhkan 175 mikrogram/hari, ibu menyusui perlu 200 mikrogram/hari, dan bagi anak sampai usia 10 tahun butuh 40-120 mikrogram iodium per hari. Bayi yang menyusui ASI biasanya memperoleh cukup iodium, karena ASI mengandung iodium antara 30-100 mikrogram per liter. Tentu saja, asalkan ibunya juga mengonsumsi makanan yang cukup iodium.

Iodium yang ada dalam bahan makanan gampang sekali menguap. Penggorengan dan pemanggangan menghilangkan 20-25% iodium dalam makanan. Sedangkan perebusan menurunkan kadar iodium sampai 60%. Jadi, meski di pasaran sudah banyak beredar garam beriodium, pemakaiannya mesti benar. Garam beriodium harus ditambahkan ke dalam makanan yang telah dimasak, saat hendak disajikan. Bukan ketika makanan tengah diolah, karena akhirnya iodium yang ditambahkan pun hilang kembali.

Bahan makanan yang mengandung iodium
------------------------------------------------------
Sumber ug iodium/100 gram
------------------------------------------------------
ikan laut 832
kerang-kerangan 798
telur 93
daging 50
susu 47
serealia 47
ikan air tawar 30
kacang-kacangan 30
sayuran 29
buah-buahan 18
-----------------------------------------------------


Gondok Bisa Karena Goitrogen
Selain akibat kekurangan iodium, gondok bisa juga disebabkan oleh senyawa goitrogen alias pencetus gondok. Pada bahan pangan seperti daun dan akar ubi kayu terkandung linamarin, yang oleh enzim linamarase diubah menjadi hidrogen sianida. Dalam tubuh, hidrogen sianida ini diubah menjadi tiosianat. Nah, tiosianat ini merupakan goitrogen kuat karena menghambat proses iodinasi dan pembuatan hormon tiroid. Tiosianat juga bisa melewati plasenta dan mengganggu pengangkutan iodium ke janin. Senaywa ini juga bisa masuk ke dalam air susu ibu.

Goitrogen juga terdapat pada sayuran kubis, kale, lobak, dan mustard. Senyawa glukosinolat dalam sayuran ini oleh enzim mirosinase diubat menjadi senyawa aglukon yang oleh tubuh juga diubah menjadi tiosianat.
(TG)


{ Dapatkan CD terapi gelombang otak untuk meningkatkan percaya diri , klik link di bawah ini.....} 
Sumber : www.gelombangotak.com/meningkatkan_percaya_diri.htm

Imperialis Cilik

Duh, si kecil maunya menguasai segala sesuatu untuk dirinya sendiri. Rasanya hanya ia seorang yang punya hak. Perlu diajari tentang hak meski usianya masih dini.

"Ini punyaku, kakak gak boleh!" teriak Reza ngotot sambil memeluk dua buah mainan dengan ketatnya.
Lain waktu ia marah ketika melihat ibu memberi kue
sama kakak. "Kakak gak boleh, gak boleh. Untuk ade semua!"

Anda mungkin geleng-geleng kepala, kok si kecil jadi seperti imperialis cilik. Semua mau dikuasainya. Adakalanya tak perduli bahwa seperti dirinaya orang lain pun memiliki hak yang sama. Apa perlu mengajarkan soal hak ini pada si cilik?

Terlalu dini untuk mengharapkan batita kita mampu menghargai hak orang lain. Sebab, kekuasaan kerajaan yang ada di dunia ini tidak ada artinya bagi anak batita. Matahari terbit dan tenggelam serta dunia berputar pun mereka benar-benar tak peduli. Teman bermain, orang tua, nenek dan kakek, pengasuh bahkan hewan pelihaaan-semuanya seakan ada untuk kepentingan dirinya saja. Keinginan mereka segunung, kebutuhan mereka tidak dapat ditawar, perasaan mereka adalah satu-satunya yang perlu diperhitungkan.

Tahap Perkembangan Otonomi
Tak usah kaget melihat batita Anda mengeluarkan sikap yang mau menang sendiri, tak peduli dengan hak orang lain. Karena sesungguhnya pada fase usia seperti itu anak sedang mengalami perkembangan mental. Menurut Miranda Zarfiel, psikolog, anak usia 2-3 tahun yang semula (usia 0-2 tahun) dalam fase trush, fase aman karena orangtua selalu berada di sampingnya, melindungi, membantunya bahkan membiarkannya bermain dengan benda yang disukainya sepuasanya, kini memasuki fase perkembangan otonomi.

Fase perkembangan otonomi ini merupakan sikap anak agar orang lain mengakui 'keakuanya'. Anak merasa bahwa semua hal harus dalam kendali dirinya dan orang lain harus memahami dan menghargainya. Anak akan sangat marah bila keinginannya dilarang oleh orang tuanya karena dirinya berpikir ia sudah 'dewasa' dan mampu melakukan sendiri segala sesuatu.

Adakalanya anak begitu ego dalam kesehariannya, sama sekali tidak mau berbagi, tidak mau menghargai orang lain atau bahkan sedikit 'tidak' memiliki rasa kasih terhadap orang lain. Akibatnya bisa ditebak, dia jadi jarang ditemani oleh teman bermainnya. Jika demikian yang terjadi menurut Miranda tak bisa lepas dari fase perkembangan emosional anak sebelumnya yakni 'trush'.

Anak yang melalui masa trushnya dengan cukup baik, kata Miranda, biasanya energi anak tidak terlalu besar untuk menunjukkan energi 'keakuannya'. Anak sudah terpuaskan oleh pemahaman bahwa dirinya percaya dengan keadaan sekelilingnya. Dengan demikian ketika anak memasuki tahap otonomi dia tidak terlalu overacting atau menjelma menjadi 'imperialis kecil' .

Hilang sendirinya
Fase ini juga disebut Miranda sebagai fase kritis. Karena dalam tahap ini anak sudah menunjukkan kemampuan dirinya berbuat sesuatu. Merasa dirinya mampu untuk makan sendiri, sudah mampu untuk menyisir sendiri, mampu untuk memilih warna dan jenis pakaian sendiri bahkan merasa berhak mengatur barang-barang milik orang di sekitarnya.

Semua anak usia 2 - 3 tahunan akan mengalaminya. Hanya kekuatan masing-masing yang berbeda. Jadi tidak usah cemas terhadap perkembangan emosi seperti ini. Sebab, akan hilang di atas usia 5 tahunan. "Tetapi hilang tidaknya tentu membutuhkan pemahaman serta campur tangan sekelilingnya."

Campur tangan berarti memberi anak pemahaman bukan pemaksaan. Koperatif terhadap sikap anak bukan maunya orangtua sendiri, sehingga alih-alih anak menurut malah bertengkar. Termasuk juga sportif tak membenarkan anak melulu tapi perlu juga membenarkan kakak atau temannya jika mereka lebih benar, akan membuat anak lolos melewati tahap ini dengan baik. Hasilnya bahkan mungkin membanggakan. Misalnya, anak akan memiliki sifat terpuji, mandiri, bijak, dan murah hati. Sebaliknya, bila anak melalui masa tersebut tanpa penanganan yang baik, akibatnya anak menjadi otoriter dan sangat egois.

Jelaskan Hak, Perlu

Salah satu hal yang harus dipelajari oleh'imperialis kecil' ini adalah bahwa orang lain juga mempunyai hak. Tak terlalu dini? "Tak ada yang terlalu dini jika penjelasannya tepat. Semakin besar usia anak dan baru dikenalkan justru dapat membuatnya lebih sulit dikendalikan karena sikap imperialisnya mungkin sudah 'menetap' atau jadi kebiasaan," kata Miranda.

Bila anak sedang berebut mainan dengan kakak atau temannya, meski mobil-mobilan itu bukan miliknya, hanya ia yang pertama memainkanya, orangtua harus menunjukkan sikap sportif. Katakan hal sebenarnya dan minta padanya untuk meminta izin terlebih dahulu karena ingin meminjamnya. Bila pun anak sudah belajar meminjam, tapi temannya tidak memberi lantas anak menangis, tak perlu Anda sewot. Kata Miranda, menangis juga proses belajar mendidik anak perihal bagaimana rasanya ditolak, sebagaimana ia tahu rasa senang jika diberi pinjaman mainan.

Orang tua juga perlu mengajarkan anak bagaimana cara memberi pinjaman mainan pada teman, atau bahkan memberi dalam arti sesungguhnya. Orang tua pun tidak boleh egois dengan memberi pelajaran instan berupa pemaksaan anak 'murah hati' pada temannya. Ketika terjadi rebutan mainan walaupun mainan itu milik anak kita, Anda harus meminta izin anak sebelum memberikan.

Jadi, mengajarkan hak orang lain harus dimulai dengan mengajarkan hak anak sendiri. Seperti minta ijin akan meminjamkan mainan milik anak pada temannya. Kata Miranda, ini adalah pelajaran berat yang membutuhkan waktu bertahun-tahun. Tetapi mulailah sekarang saat anak menunjukkan otonominya agar perilaku itu tak menjadi kebiasaan yang menetap. Atau, Anda akan lebih pusing karenanya.

Yuk, memahami hak orang lain!
  • Jangan bertindak sebagai martir. Memang sebagian tugas dari menjadi orang tua adalah mendahulukan kebutuhan anak di depan kebutuhan sendiri. Tapi hal demikian tak selamanya. Jika Anda selalu dan selamanya melakukan hal ini tidak mustahil akan terjadi dua hal yang tidak diinginkan. Pertama, membuat Anda dibebani dan akhirnya merasa dendam. Kedua, memperkuat dan memperpanjang sikap 'imperialis' anak. Akibatnya? Anak tidak keluar dari tahap perkembangan ini, bahkan sebaliknya batita yang egois akan tumbuh menjadi anak yang sangat manja. Tak ada salahnya mempertahankan hak Anda sebagai orang tua untuk hal-hal 'privasi' misalkan, membebaskan kamar Anda dari mainan anak atau hak untuk tetap membaca buku favorit Anda.
  • Jangan hanya menuntut hak Anda, tapi juga jelaskan. Dari pada berkata 'mama tidak bisa bermain sekarang karena sedang membaca buku', lebih baik jelaskan bahwa, membaca buku adalah kegiatan yang menyenangkan bagi mama sama seperti kamu menyenangi permainan balok atau boneka. Dengan penjelasan ini membuat anak tahu bahwa Anda dan orang lain juga mempunyai kebutuhan dan perasaan yang sama persis dengan dia sendiri.
  • Hargai hak anak. Kebanyakan orang tua ingin 'membina kebesaran jiwa' anak dengan cara mendahului hak teman bermainnya. Tanpa seijinnya tak jarang Anda memberikan permainan anak pada teman bermainnya, atau bahkan memihak anak lain ketika terjadi perebutan mainan. Sayangnya, cara ini tak mengajarkan kemurahan hati anak, yang timbul malah anak menjadi egois. Anak merasa haknya selalu diabaikan atau terancam dengan demikian ia menjadi kokoh dan bertahan untuk tidak berbagi, tidak mau bekerja sama. Sikap menghargai hak anak juga harus dipertahankan ketika adik barunya sudah muncul. Tidak adil jika ia selalu dituntut untuk mengalah 'karena ia lebih besar'. Karena, bukan tak mungkin pelampiasannya adalah adu fisik atau 'menyakiti' adik bayinya. Lebih runyam kan?
  • Hargai perasaan anak. Anak tidak akan belajar menghargai perasaan orang lain jika perasaannya sendiri tidak pernah dihargai. Jika Anda mempermalukannya di depan teman-temannya atau orang dewasa lainnya dengan "Oh kamu nakal sekali, kok kamu bisa sih menumpahkan susu seperti ini?", atau tak memperdulikan pendapatnya, "sudah kamu ikuti kata mama saja." Maka, jangan heran bila anak Anda pun akan melakukan hal sama dengan Anda.
Berikanlah contoh yang baik. kata-kata tidak akan berpengaruh besar jika sikap Anda tidak sama dengan 'nasihat' yang Anda berikan. Misalnya, Anda melarang anak melakukan sesuatu, terapkan juga pada seluruh anggota keluarga termasuk Anda sendiri. Anak tetap anak-anak. Bila ia melihat kakak, ayah atau Om Tante melakukan sedang ia tidak, tentu ia akan mengambil kesimpulan "boleh" bila ia menginginkannya. 

{ Dapatkan CD terapi gelombang otak untuk menambah nafsu makan anak2 & dewasa , klik link di bawah ini.......} 
Sumber : www.gelombangotak.com/menambah_nafsu_makan_anak.htm