Tampilkan postingan dengan label aneka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label aneka. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 Agustus 2011

ANEKA PERMAINAN DAN MANFAATNYA BAGI SI BATITA

Pilihlah sarana bermain yang sesuai dengan usia dan kemampuan anak batita. Perhatikan pula aspek-aspek kebersihan dan keamanannya.
Dunia anak usia batita memang dunia bermain. Boleh dibilang sepanjang waktu mereka diisi hanya dengan bermain, kecuali saat tidur. Baik bermain menggunakan alat dengan berbagai bentuk dan ukuran, maupun tidak. Si anak menggunakan tubuhnya sendiri sebagai alat bermain untuk berlari, meloncat-loncat, merangkak, dan sebagainya. Bisa dibilang tak ada tempat yang tidak bisa dijadikan tempat bermain baginya. Entah yang outdoor maupun indoor.
Kali ini, Tari Sandjojo, Psi., dari Cikal, Jakarta memaparkan aneka jenis sarana bermain yang bisa sesuai bagi anak batita. Tentu saja lengkap dengan manfaatnya bagi berbagai aspek perkembangan anak. 
 
* PEROSOTAN
Anak bisa menikmati sensasi ketinggian, terlebih saat ia berada di puncak perosotan dan siap meluncur. Belum lagi merasakan bagaimana tubuhnya terasa melayang kala meluncur ke bawah hingga akhirnya mendarat di ujung perosotan. Sebelum meluncur pun anak harus menjalani proses naik tangga. Motorik kasar anak benar-benar teruji, termasuk bagaimana menjaga keseimbangan tubuhnya saat menapaki anak tangga. Selain itu, anak juga belajar mengenai peraturan. Di antaranya mesti tertib bergiliran naik satu per satu dan tidak boleh naik dari papan luncurnya agar tidak tertabrak anak lain di atasnya.

* AYUNAN
Anak akan merasakan kenikmatan tersendiri saat tubuhnya terayun secara kencang atau lambat maupun tinggi atau rendah dari tempat berpijak. Ia juga jadi belajar mengantisipasi bahaya. Jika ada yang mengayunnya dari depan atau belakang, misalnya, tentu harus diingatkan karena tindakan ini justru membahayakan si pengayun. Selain itu anak pun dilatih untuk mempertajam kemampuan kontrol dirinya agar tidak berayun terlalu cepat dan tidak pula kelewat lamban.

 * PERMAINAN PASIR
Pilih butiran pasir yang lembut dan halus serta tidak menempel di kulit anak. Dengan dikenalkan pada permainan pasir, anak akan belajar mengenai tekstur kasar. Begitu juga tentang panas dan dinginnya pasir, maupun perubahan bentuk saat dicampur air. Bukankah ini berarti mengenalkan anak pada dunia ilmu pengetahuan, tepatnya belajar IPA secara sederhana. Tentu saja dalam memilih pasir tersebut orang tua harus hati-hati mengingat material ini dapat pula menjadi tempat tinggal bagi binatang kecil. Bukan tidak mungkin ada binatang yang bisa membahayakan atau setidaknya membuatnya takut dan cedera. 

 * STEPPING & BALOK KESEIMBANGAN
Imajinasi anak dirangsang melalui permainan ini. Arahkan anak seakan ia harus menyebrangi sungai yang deras dengan balok itu. Jika cuma berjalan dan berlalu begitu saja di atasnya, yang didapat anak hanyalah kesempatan melatih motorik dan keseimbangannya saja, tapi bukan imajinasinya.

* MANDI BOLA
Lewat permainan ini anak akan mengalami sensasi yang beragam. "Oh seperti ini ya rasanya berenang dalam kolam bola. Beda dengan masuk kolam air yang bisa membuatku tenggelam, terjun ke kolam ini empuk dan tidak membuatku tenggelam. Kalaupun aku tenggelam karena banyak gerak, aku tetap bisa bernapas, kok." Belajar mengenai konsep warna dan bentuk pun bisa diperoleh anak di sini. Begitu juga dengan belajar menentukan arah jika anak ingin main lempar bola.

* MAIN AIR
Umumnya anak usia batita hobi main air. Ia masih dikuasai rasa ingin tahu atau keinginan bereksplorasi, termasuk terhadap air. Meski ada juga yang takut terhadap air karena pernah mengalami pengalaman tak menyenangkan dengan material ini. Sayangnya, tidak sedikit orang tua yang justru membentengi rasa ingin tahu anak terhadap air dengan banyak melarang. Semisal jangan mandi lama-lama, enggak boleh main hujan-hujanan atau becek-becekan, dan sejenisnya.
Padahal menurut Tari, manfaat bermain air itu sendiri cukup banyak. Selain bisa merasakan adanya sensasi yang menyenangkan, mengapa tidak dioptimalkan dengan mengarahkan anak untuk mencintai dunia ilmu pengetahuan? Fasilitasi rasa ingin tahunya dan kegemarannya bermain air dengan menghadirkan wadah dalam berbagai bentuk dan ukuran. Mencampur air dengan cat air, pasir, atau tepung akan membantu anak menemukan banyak hal baru mengenai berat jenis, volume, perubahan bentuk, warna, dan sebagainya.

* GORONG-GORONG/TEROWONGAN
Karena suasana yang dihadirkannya amat berbeda, gorong-gorong memberi sensasi tersendiri sebagai sarana bermain bagi anak. Saat berada di dalamnya anak mendapati suasana yang agak gelap, sempit, lebih dingin dan membuat suaranya bergema. Anak pun belum bisa menerka-nerka apa yang bakal ditemuinya di depan sana, di setiap belokan ataupun di mulut gorong-gorong. Latihan semacam ini akan meningkatkan kemampuan anak dalam hal antisipasi. Selain melatihnya mengatasi rasa takut saat menghadapi suasana berbeda. Ini akan menjadi tantangan tersendiri bagi anak yang ujung-ujungnya akan mengasah kemampuan beradaptasi.

* JALA/JARING
Saat manapaki jala/jaring, sensasi ketinggian juga akan didapat anak sebagai salah satu manfaat. Manfaat lainnya adalah mengasah keterampilan motorik, rasa percaya diri, keberanian, maupun keseimbangan dan koordinasi tubuh.

* TUMPANGAN BERGOYANG
Bentuknya bisa bermacam-macam, dari pesawat terbang, tokoh film kartun, mobil, motor, hewan, atau apa saja. Namun menurut Tari, keinginan batita mencoba permainan ini lebih karena ketertarikannya pada aneka bentuk yang ada. Sementara dari segi manfaatnya nyaris tidak ada, selain sensasi saat mainan bergoyang ke kiri dan kanan atau ke depan dan belakang secara teratur saat dimasukkan koin.
 
TIPS MEMILIH ARENA BERMAIN  
Guna membantu orang tua memilihkan arena bermain yang baik bagi anaknya, Tari memberikan beberapa saran berikut: 
 
* Utamakan Kebersihan
Jangan pernah memilih arena bermain yang sarananya sudah dipenuhi debu dan ditumbuhi jamur, lumut, apalagi sampai menimbulkan bau tak sedap. "Sebagai konsumen, kita berhak bertanya kepada pihak pengelola mengenai sistem perawatan arena bermain tersebut."
Tari menyayangkan banyaknya pengelola/pemilik arena bermain, baik outdoor maupun indoor, yang mengabaikan sisi perawatan dan kebersihan. Padahal biasanya keteledoran semacam ini yang menjadikan tempat bermain umum tidak layak lagi dipergunakan bagi anak.
Idealnya, setelah sekian jam digunakan atau dimanfaatkan oleh sejumlah anak, setiap mainan harus dibersihkan. Bahkan untuk meminimalkan peluang penularan penyakit tertentu, mainan juga harus dibersihkan secara berkala menggunakan bahan pembersih yang bisa membunuh jamur, bakteri, dan kuman.
* Perhatikan Keamanan
Pastikan keamanan setiap lekuk dan sudut sarana di tempat bermain yang akan digunakan dapat diandalkan. Jika kira-kira membahayakan, lebih baik urungkan saja niat mengajak main batita di tempat tersebut. Begitu juga materi yang mendominasi arena bermain itu. Amati aspek lunak-kerasnya, licin atau tidak dan tajam atau tidak semua benda yang ada. Termasuk aman tidaknya cat yang digunakan. Mengapa hal-hal kecil tadi perlu diperhatikan baik-baik? Tak lain karena pengalaman tidak enak kala anak terbentur atau terluka akan jauh lebih "dirasa" daripada manfaat permainan itu sendiri. Sayang sekali, kan, kalau karena pernah cedera anak jadi tak mau mencoba permainan ini-itu atau tidak lagi terangsang melakukan berbagai eksplorasi hingga potensi/kemampuan anak jadi tidak terasah.
Kolam mandi bola, contohnya, untuk anak batita idealnya harus dipisahkan dari kolam serupa untuk anak prasekolah. Mengapa? Sebagian batita, terutama batita awal usia 1-2 tahun, masih berada di fase oral. Inilah yang membuat mereka seringkali memasukkan bola-bola tersebut ke dalam mulutnya. Pertimbangan lain, perkembangan motorik membuat anak prasekolah cenderung "rusuh" dengan melompat dan meloncat atau terjun bebas tanpa memperhatikan ada atau tidak orang lain yang mungkin bakal celaka dengan ulahnya. Di sinilah pentingnya orang tua menyeleksi arena bermain seperti apa yang dianggapnya layak.
* Cermati Aspek Kesesuaian
Pilihlah sarana bermain yang merangsang pergerakan otot batita, baik otot-otot kaki, tangan, maupun seluruh bagian tubuhnya. Jangan lupa perhatikan juga kesesuaian bentuk, ukuran, dan tingkat kesulitan masing-masing permainan tersebut. Balok keseimbangan, contohnya, pilihkan yang baloknya relatif lebar dan goyangannya tidak menghentak-hentak. Sedangkan untuk perosotan idealnya dilengkapi dengan matras atau "bantalan" pasir yang bisa meredam benturan saat anak mendarat. Lalu untuk permainan gorong-gorong, pilihkan yang jalan keluarnya langsung bisa ditemukan anak dengan panjang yang terjangkau.
* Kuota/Kapasitas
Tinggalkan arena bermain yang sudah penuh sesak. Dalam kondisi semacam itu jangan harap anak bisa memetik manfaat dari aktivitas bermainnya. Begitu juga jika melihat antrian yang amat panjang hingga harus menunggu cukup lama untuk mendapat giliran. Bisa-bisa si batita bete duluan sebelum bermain. Padahal salah satu unsur penting bagi anak batita adalah pengalaman yang menyenangkan. Nah, kalau dia sampai terlalu lama menunggu, kalah berebut kesempatan dengan anak yang lebih besar, tentu saja permainan tersebut akan menjadi pengalaman tidak menyenangkan buat si batita. Meski di usia ini anak juga harus mulai diperkenalkan pada konsep berbagi, tapi tentu bukan dengan cara-cara seperti ini.
* Kualitas SDM
Yang dimaksudkan di sini adalah kualitas petugas atau kakak-kakak pendamping yang ada di lokasi arena bermain. Ini sangat perlu mengingat mereka harus menjaga, membimbing, dan mengarahkan anak bagaimana harusnya bermain dengan baik dan benar. Jika semua aturan main bisa dipatuhi, bukan cuma keselamatan dan kenyamanan bermain yang didapat anak, tapi juga manfaat lain. Semisal,
"O...begini toh caranya menjaga keseimbangan di jalan yang licin." Atau "Supaya bonekanya enggak gampang hancur, aku mesti mencampur tepung ini dengan air."
Tentu saja agar bisa memainkan perannya sebagai pendamping, jumlah SDM yang bertugas harus sesuai dengan kapasitas arena permainan itu sendiri. Jangan sampai satu penjaga harus mengawasi 10 anak yang sedang asyik bermain, contohnya.
***Gazali Solahuddin. Foto: Ferdi/nakita

{ Dapatkan CD terapi gelombang otak untuk meningkatkan percaya diri , klik link di bawah ini.....}
Sumber : www.gelombangotak.com/meningkatkan_percaya_diri.htm

Aneka Penyebab Agresivitas

Berikut penuturan Fitriani tentang sebab-sebab timbulnya agresivitas pada diri anak. 

a. FRUSTRASI
"Usia 2 atau 3 tahun merupakan usia transisi awal, yang ditandai dengan keinginan besar pada diri anak untuk menjadi mandiri. Tapi di sisi lain, kemampuan bahasa anak belumlah optimal. Kemampuan verbal dan perbendaharaan kosakatanya masih terbatas. Ia tidak bisa mengungkapkan sesuatu yang diinginkan atau yang tidak diinginkan dengan jelas alias bahasanya tidak mudah dimengerti orang dewasa."
Nah, kedua perkembangan ini bak jurang pemisah yang menyebabkan anak terpaksa mengeluarkan jurus-jurus maut agresifnya. Cara itu diyakini anak sebagai cara yang paling mudah dan efektif dalam mengungkapkan emosi atau keinginannya. Misal, Andri menggigit Dina karena ia menginginkan mainan yang sedang dipegang oleh temannya itu. Atau, ia tak suka makanan yang disodorkan ibunya. Namun karena ibunya tidak segera mengganti makanan tersebut, akhirnya si anak melemparkan makanan dan piringnya kepada si ibu. 

b. MENIRU
Anak umur 3 tahun ke bawah sangat suka meniru. Semua fenomena di dalam lingkungan dipotretnya sebagai acuan untuk bersikap dan bertingkah-laku. Misalnya, saat melihat orang tua marah lalu memukul kakaknya, maka si kecil ini pun mencoba meniru perlakuan tersebut. Ia beranggapan, saat marah berarti saya boleh memukul, dong. 

c. EKSISTENSI TAK DIAKUI
Sifat agresif juga bisa muncul karena tidak ada respon atas sikapnya. Saat anak menggigit orang tua karena kesal, orang tua justru tertawa-tawa melihat sikapnya. Cara ini jelas membuat anak bingung, apakah tindakan yang dilakukan itu positif atau justru berdampak negatif? "Akibatnya, pada kesempatan lain, anak juga akan menggigit temannya jika merasa kesal atau keinginannya tak terpenuhi."
Selain itu, agresivitas juga dilakukan jika cara-cara normal tidak ditangapi. Misal, "Ma Adek enggak suka film itu." Tapi ibunya cuek saja. Anaknya mengulangi lagi hingga kedua dan ketiga, tapi tidak juga dijawab. Akhirnya, "Prang!" si anak melemparkan botol kepada sang ibu atau memukul.

d. EGO MASIH BESAR
Anak usia ini masih memandang sesuatu dari sudut pandangnya sendiri (egosentris). Saat anak menginginkan sesuatu, semua harus terpenuhi. Demikian pula saat ada mainan di hadapannya, semua harus menjadi miliknya. Bila ada yang mengganggu atau melarang dan anak merasa tak senang, maka munculah jurus agresifnya, entah memukul, menjerit, atau dilampiaskan dengan sikap negatif lainnya. Kalau ditanya, anak akan menjawab, "Ini mainanku, kok, direbut, sih."
e. TIDAK TAHU AKIBAT
Anak belum tahu bahwa sikap agresif tidaklah baik. Ia hanya tahu bahwa sesudah itu temannya pasti menangis, tapi hanya sebatas itu. Kalau penjelasan lewat kata-kata dirasa tidak mempan, berikan contoh konkret bahwa menggigit itu menyakitkan. Ingat, memberi contoh tidak boleh sama dengan tindakan membalas yang harus dihindari. Gigitlah tangan anak dengan pelan, setelah itu beri penjelasan, "Tuh, digigit itu sakit, kan? Makanya jangan menggigit orang sembarangan." 

f. BELAJAR BERTAHAN
Anak di usia ini sudah mulai belajar mempertahankan diri. Hal itu dilakukan jika ia merasa mendapat gangguan atau ancaman dari luar. Caranya, dengan menunjukkan perilaku-perilaku agresif. Misal, saat melihat mainannya diusik, ia akan merebutnya kembali. Kalau perlu dengan memukul atau mendorong si teman tersebut. 

g. ASYIK MELIHAT SEBAB AKIBAT
Anak usia ini kadang menikmati apa yang telah dilakukannya. Saat ia melihat teman tersebut menangis akibat ulahnya, saat itulah timbul rasa senangnya. Karena asyik, maka ia akan terus melakukan perbuatan tersebut. Terlebih bila orang tua membiarkan perilaku agresivitasnya. Padahal kebiasaan ini perlu diwaspadai, karena keasyikan menyakiti orang lain akan berdampak negatif terhadap perkembangan mental anak. Bukan tidak mungkin, sifat ini akan terus terbawa hingga dewasa. Anak jadi senang menyakiti orang lain.
***Ipoel

{ Dapatkan CD terapi gelombang otak untuk menambah nafsu makan anak2 & dewasa , klik link di bawah ini.......}

 Sumber : www.gelombangotak.com/menambah_nafsu_makan_anak.htm

Minggu, 31 Juli 2011

AGAR PEDE, KENALKAN PADA ANEKA SUASANA

Dunia si batita masih sangat terbatas. Aktivitasnya hanya di seputar lingkungan rumah. Padahal kalau di masa batita si kecil dikenalkan pada beragam suasana, manfaat yang didapat sangat banyak. Apa saja?
Tiap kali diajak ke tempat baru atau suasana yang tidak dikenal, Sandy pasti rewel. "Diajak bertemu orang baru, ia rewel bukan main. Begitu juga kalau diajak ke tempat baru, bisa-bisa heboh deh! Makanya kami jadi malas membawanya ke mana-mana," keluh sang ibu.
Problem serupa tidak hanya dialami oleh Mama Sandy. Banyak orang tua mengeluhkan hal sama. Padahal jika tidak pernah diajak ke mana pun, anak justru makin sulit menghadapi berbagai suasana berbeda yang dialaminya setiap hari. Lo kok jadi seperti lingkaran setan ya? Lalu bagaimana memutuskan mata rantai yang tiada berujung pangkal ini? 

Lingkup pergaulan batita masih sangat terbatas dalam yang istilah psikologinya disebut masih berada dalam lingkungan mikro. Lingkungan terkecil di luar dirinya ini disebabkan pengenalannya masih sebatas pada orang tua, pengasuh, dan nenek atau kerabat yang mungkin tinggal serumah atau sering saling mengunjungi. Aktivitasnya pun masih seputar makan, minum, tidur, main dan beberapa rutinitas terbatas lainnya. Tak heran begitu anak bertemu dengan suasana yang tidak ditemuinya tiap hari, ia jadi gelisah dan merasa tidak siap.
Ketidaknyamanan itulah yang akhirnya menjelma dalam bentuk kerewelan. "Itulah mengapa anak batita memang sudah seharusnya dikenalkan pada banyak hal. Termasuk hal-hal baru yang tidak sama dengan rutinitasnya sehari-hari atau istilahnya unpredictable situation," ujar Annelia Sari Sani, Psi.
 
BERAGAM KARAKTER
Lalu situasi lain seperti apa yang perlu dikenalkan pada anak? Intinya, menurut Anne, situasi yang tidak setiap hari dialaminya. Namun, situasi tersebut haruslah masih bisa dimengerti olehnya. Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan: 

* Mengajaknya ke acara keluarga
Mengajak anak menghadiri acara keluarga besar merupakan salah satu cara paling efektif untuk mengenalkannya pada situasi berbeda. Selama ini, di lingkungannya yang sangat terbatas, anak hanya mengenal beberapa figur, seperti orang tua, pengasuh, tetangga dan kerabat dekat.
Dengan mengajak anak menghadiri acara ini, diharapkan anak dapat berkenalan dengan lebih banyak orang yang mempunyai karakter berbeda-beda. Misalnya paman yang tinggi besar dengan suara menggelegar, tante yang dandanannya modis, bude yang cerewet, kakak sepupu yang baik hati, kakek yang lemah-lembut namun berwibawa dan sebagainya.
Pengenalan beragam karakter ini akan membuat si batita siap bertemu dengan banyak orang. "Banyak lo, anak batita yang takut bertemu orang tinggi besar dengan bersuara menggelegar. Rupanya, itu karena di lingkungan rumahnya yang sangat terbatas, ia tidak pernah bertemu dengan sosok seperti itu," ungkap Anne. 

* Mengajaknya ke pusat keramaian
Sesekali perlu juga mengajak anak ke pusat keramaian, seperti pusat perbelanjaan, taman bermain, dan sebagainya. Namun, karena tujuannya sekadar pengenalan, orang tua tidak perlu berlama-lama atau malah seharian berada di tempat tersebut. Seberapa lama, sesuaikan saja dengan daya tahan anak.
Yang tak kalah penting, di pusat keramaian ini, orang tua jangan hanya sibuk dengan urusannya sendiri. Tunjukkan pada anak hal-hal yang jarang dilihatnya, seperti dekorasi toko, eskalator, aneka permainan, kasir toko, dan sebagainya.
Saat pertama kali berada di tengah keramaian, mungkin saja anak merasa panik, cemas, gerah dan sebagainya. Tugas orang tualah mengupayakan anak merasa nyaman. Pengalaman berada di tengah keramaian ini akan membuat anak tidak mudah panik dan lebih percaya diri. 

* Menginap di rumah kerabat
Biasanya anak batita akan sulit tidur bila tidak di rumahnya sendiri. Namun, tak ada salahnya sesekali orang tua mengajaknya menginap di rumah kerabat. Selain untuk mengakrabkan ikatan kekerabatan, anak pun dikenalkan pada situasi yang berbeda. Yang paling mudah adalah mengajaknya menginap di rumah nenek.
Suasana yang berbeda akan memperkaya emosi anak, semisal tempat tidur kuno yang membuatnya merasa adem, suasana rumah yang nyaman meski tanpa AC, halaman luas dengan pohon rindang, dan sebagainya. Pengenalan pada situasi berbeda seperti ini secara tidak langsung akan melatih mental anak. 

* Berpisah sementara dengan orang tua atau pengasuh
Sesekali tak ada salahnya orang tua belajar meninggalkan anak. Tidak harus lama, cukup beberapa jam saja dan tujuannya pun jangan jauh-jauh. Biarkan anak di rumah di bawah pengawasan orang dewasa yang dipercaya. Latihan ini akan membuat batita belajar mengatasi rasa gelisahnya saat berpisah dari orang tua. Diharapkan anak akan memahami bahwa dengan ditinggal orang tua ia tidak perlu cemas. Toh, sebentar lagi mama dan papa akan segera kembali.
 
TANPA PAKSAAN
Setelah mengerti situasi seperti apa saja yang perlu dikenalkan kepada anak batita, timbul pertanyaan harus dari mana memulainya? "Bisa dari mana saja, yang penting tidak ada unsur pemaksaan pada anak," tandas Anne yang lantas menyarankan beberapa hal berikut: 

* Aktivitas sebaiknya dilakukan dengan melibatkan orang tua.
Misalnya saat anak menginap di rumah nenek, walaupun anak sudah mengenal nenek dengan baik, tapi sebaiknya pengalaman pertama ini tetap didampingi orang tua.

* Orang tua harus sabar.
Pada dasarnya kemampuan adaptasi masing-masing anak bersifat individual. Jangan pernah memaksa anak untuk segera menyesuaikan diri dengan suasana barunya hanya karena melihat anak tetangga terlihat mudah melakukan hal yang sama. 

* Lakukan latihan-latihan kecil.
Sebelum mengajak anak "menemui" situasi barunya, semisal mengajaknya ke acara keluarga atau meninggalkannya di rumah hanya bersama pengasuh, berikan gambaran yang positif. Yang pasti, orang tua mesti memberikan gambaran positif lebih dulu mengenai situasi yang akan dimasukinya. Dengan begitu anak punya gambaran menyenangkan tentang suasana tersebut. 

* Jangan lupa bawakan benda/makanan kesukaannya.
Ini akan bermanfaat untuk mengalihkan perhatiannya kala ia mulai rewel. Apalagi saat menginap di rumah kerabat. Bahkan, boneka, dan selimut kesayangannya kalau ada jangan sampai ketinggalan. Ini penting agar ia bisa mengurangi keterasingan yang dirasakannya. 

* Cari waktu yang tepat.
Ada baiknya momen pertama mengenalkan anak pada suasana yang berbeda di rumah kerabat bertepatan dengan peristiwa yang menyenangkan. Misalnya, selamatan hari ulang tahun, selamatan kelulusan, selamatan rumah baru, hari raya keagamaan, dan sebagainya. Biasanya suasana penuh suka cita bisa membantu anak mengurangi ketegangannya.

SEGUDANG MANFAAT
Situasi dalam sebuah acara keluarga, berada di pusat keramaian, menginap di rumah kerabat dan sebagainya, bagi orang dewasa mungkin terasa biasa-biasa saja. Namun bagi anak batita, momen-momen semacam itu termasuk situasi yang tidak terduga. Bagaimana tidak, bukankah pengalaman hidupnya masih sedikit dan situasi ramai tersebut amat berbeda dari aktivitasnya sehari-hari.
Menurut Anne, banyak manfaat yang akan didapat anak bila ia dibiasakan menghadapi aneka situasi yang tidak terduga tetapi masih dalam jangkauannya. Intinya adalah memberi pengaruh positif pada pembentukan karakter anak. Inilah beberapa manfaat tersebut: 

* Memperluas lingkungan
Anak batita yang masih berada dalam lingkungan mikro akan sangat terbantu oleh sering dilibatkan dalam beberapa situasi berbeda. Dengan demikian, lingkungannya akan melebar menjadi mezo yang merupakan lingkaran berikutnya setelah mikro. Anak jadi kenal om-tante, pakde, sepupu, eyang dan lain-lain yang mungkin jarang ditemuinya. 

* Lebih percaya diri
Situasi berbeda-beda yang sering dimasuki anak akan membuatnya lebih percaya diri. Tidak hanya sekali dua kali saja ia menghadapi perubahan situasi tersebut dan ternyata bisa melaluinya dengan sukses. Pengalaman positif ini akan tertanam dalam pikirannya yang masih sangat sederhana dan memberi kontribusi dalam mempertebal rasa percaya dirinya. 

* Lebih berani
Keberanian anak akan tumbuh seiring dengan banyaknya contoh yang dilihat. Saat berada di taman bermain, misalnya, anak melihat teman-teman sebayanya berani mencoba aneka permainan yang ada di situ. Melihat keasyikan anak-anak lain, ia pun akan tergoda untuk melakukan hal serupa dan ternyata berhasil. Keberhasilan ini akan menjadi modal baginya untuk mencoba hal-hal baru lain yang membutuhkan keberanian dalam porsi lebih besar.

* Tempo adaptasi lebih cepat
Anak yang terbiasa berada di situasi yang berbeda-beda, alias rutinitasnya tidak "datar" akan mempunyai kemampuan beradaptasi yang lebih cepat. Soalnya, anak sudah punya pengalaman bahwa bertemu banyak orang atau bersalaman dengan orang-orang baru ternyata aman-aman saja, kok. Di lain waktu suasana seperti apa pun tidak membuatnya cemas. Dengan kata lain, ia jadi lebih mudah menyesuaikan diri.

* Lebih mudah menerima orang baru
Pengalaman berkenalan dengan banyak orang akan membuatnya merasa yakin bahwa orang yang baru dikenalnya bukanlah sosok yang berbahaya. Dengan segala keterbatasannya, anak akan lebih mudah menerima kehadiran orang-orang baru. 

* Mampu sharing dengan orang lain
Seringnya anak bertemu dengan banyak orang akan memberinya pengalaman bagaimana seharusnya ia berbagi. Misalnya dalam acara keluarga, anak akan berjumpa dengan sepupu-sepupunya. Anak yang terbiasa menghadapi suasana baru relatif lebih mudah berbagi mainan dan makanannya, karena ia yakin nanti akan tiba gilirannya untuk menikmati permainan tersebut seperti yang sudah dialaminya selama ini.

* Tidak gampang rewel
Kerewelan anak ketika berada dalam situasi yang tidak diduganya harus dimaklumi bersumber pada kecemasan dan perasaan gelisah yang dialaminya. Nah, anak yang sering berada pada berbagai situasi berbeda tersebut sudah membuktikan bahwa semuanya aman-aman saja. Sehingga ia pun "sadar" tidak ada yang perlu dicemaskannya, apalagi sampai harus menangis.

* Melatih keterampilan lain
Orang tua sekaligus bisa memanfaatkan momen ini untuk mengenalkan banyak hal pada anak. Misalnya bagaimana seharusnya bersikap pada orang yang baru dikenalnya, mengulurkan tangan mengajak bersalaman, menyebutkan namanya saat ditanya, dan sebagainya. Pengalaman di tempat baru seperti pusat perbelanjaan, taman bermain, dan rumah kerabat dapat dimanfaatkan untuk menambah perbendaharaan kata anak. Contohnya dengan mengenalkan nama benda-benda yang baru dijumpainya di tempat tersebut.
***Marfuah Panji Astuti. Foto: Ferdi/nakita

{ Dapatkan CD terapi gelombang otak untuk mengatasi stress & marah  , klik link di bawah ini......}
Sumber : www.gelombangotak.com/mengatasi_stress_dan_marah.htm