Minggu, 31 Juli 2011

AGAR SI KECIL GAMPANG TIDUR

Pada sebagian anak batita, tidur bukanlah hal mudah. Lakukan kiat-kiat yang menyenangkan agar ia bisa tidur dengan perasaan nyaman.
Walau sudah mengantuk, si kecil masih berkeras untuk bermain. Akibatnya bisa ditebak, ia jadi rewel dan kalau tidak puas sedikit saja, amukannya gampang meledak. Barulah setelah merasa lelah, ia tak kuat lagi menahan kantuknya dan tertidur.
Tentu saja, agar tak kurang tidur, orang tua harus tahu bahwa umumnya anak-anak batita memerlukan waktu istirahat sekitar 10 sampai 13 jam setiap hari. Dengan catatan, kata Mira D. Amir, Psi., lamanya waktu istirahat ini berbeda untuk setiap anak. Ada anak yang memerlukan waktu tidur lama, tapi ada juga yang relatif sedikit. 

Jadi, apakah menjelang tidurnya si batita rewel atau tidak, orang tua sebaiknya tetap menentukan jam berapa ia sudah harus bersiap masuk kamar dan jam berapa harus bangun esok harinya. Ada yang mematok tidur jam 7 atau jam 8 malam, terserah saja. Namun sebaiknya memang tidak terlalu larut agar di pagi hari si kecil sudah bisa bangun dengan waktu tidur yang cukup.
Selebihnya, untuk menghindari sikap rewel itu, Mira menawarkan kiat-kiat agar si batita bisa tidur dengan mudah:

* Menepati Jadwal
Bersikaplah konsisten dengan jadwal tidur yang telah ditetapkan. Jika sudah ditentukan jam 8 malam, usahakan setiap hari anak tidur pada jam tersebut. Jangan biarkan teve atau radio menyala. redupkan lampu kamar atau kalau perlu matikan lampu-lampu di area lainnya dan bimbinglah anak masuk kamar tidur. Pola tidur yang terjadwal akan memudahkan anak untuk tidur. Kecuali jika ada alasan sangat mendesak, sesekali boleh saja anak keluar dari rutinitas tersebut.

* Bersih-bersih Sebelum Tidur
Berbeda dengan orang dewasa yang bisa langsung tertidur pulas begitu "mencium" kasur, anak-anak umumnya menginginkan ritual tertentu menjelang tidur. Luangkan beberapa menit untuk melakukan rutinitas seperti menggosok gigi, mengenakan baju tidur, serta mencuci tangan dan kaki. Berhubung anak usia ini masih dalam tahap praoperasional, beri contoh langsung dan biarkan anak mengikutinya. Tanpa contoh konkret, jangan harap kita bisa dengan gampang menyuruhnya melakukan hal-hal tadi. Lakukan semua aktivitas tersebut dengan sikap santai dan suasana gembira.

* Mengucapkan Doa
Ada baiknya setelah rutinitas fisik selesai dilakukan, orang tua membangun suasana tenang dengan mengajarkan anak mengucapkan doa-doa pendek. Terangkan secara sederhana makna atau harapan dari doa tersebut.

* Mendongeng Sebelum Tidur
Dongeng tak hanya bermanfaat sebagai pengantar tidur anak, tapi juga merangsang perkembangannya. Lewat dongeng, perkembangan verbal, imajinasi, kosakata, sekaligus relasi dengan orang tuanya bisa terjalin dengan baik. Jadi, amat disayangkan jika orang tua melewatkan malam menjelang tidur tanpa mendongeng. Tak perlu mengarang atau membacakan cerita baru setiap malam, tapi cukup dengan mengulang-ulang dongeng kemarin. Ingat, anak usia ini umumnya sangat menikmati pengulangan cerita. Tak lama kemudian biasanya ia akan tertidur.

 * Ciptakan Tidur yang Menyenangkan
Selain acara ritual di atas, orang tua juga bisa membuat acara tidur sebagai sesuatu yang menyenangkan. Semisal dengan mengucapkan selamat tidur kepada boneka atau mainan kesayangannya, atau malah mengajak bonekanya ikut tidur bersamanya. Atau biarkan anak berceloteh tentang kegiatannya sepanjang hari tadi maupun menyanyikan lagu-lagu kegemarannya saat hendak tidur. Dengan begitu anak bisa mengekspresikan perasaannya dan merasa bahagia.

* Sediakan Kamar Sendiri 
Alangkah baiknya, jika kondisi memang memungkinkan, anak usia batita tengah atau akhir, mendapat kamar sendiri atau minimal tempat tidur sendiri. Upaya ini bisa memacu anak untuk lebih mandiri sementara ketergantungan pada orang tua bisa diminimalkan.
Semisal ia jadi tertantang untuk belajar menghadapi rasa takutnya atau tidak membangunkan orang tua saat hendak buang air kecil. Orang tua juga jadi lebih mudah untuk membiasakan anak berada dalam kamarnya pada jam-jam tertentu.
Sebaliknya, jika belum bisa, jangan pernah paksa anak untuk tidur sendiri. Menurut Mira, hal ini wajar karena anak usia batita belum sepenuhnya bisa berpisah dari orang tuanya. "Jangankan anak batita, di Indonesia anak usia SD pun masih ada yang tidur bareng orang tuanya, kok."
 
* Ciptakan Rasa Aman dan Nyaman
Orang tua sebaiknya menciptakan rasa aman dan nyaman bagi anak sebelum tidur. Entah dengan memeluk si kecil atau mengusap-usapnya beberapa saat sebelum tidur. Cara itu, selain bisa membuat anak lebih cepat tidur, juga memungkinkan hubungan orang tua dan anak jadi lebih akrab dan hangat. Kalau anak terbangun di malam hari, orang tua harus memberikan rasa aman agar anak bisa tidur kembali.
 
* Atasi Rasa Takut
Banyak anak batita tidak bisa tidur karena benaknya dipenuhi perasaan takut akibat imajinasinya sendiri. Seperti ada harimau yang menungguinya di kolong tempat tidur atau makhluk aneh bertengger di atas lemari. Penjelasan sederhana sekaligus konkret amat diperlukan untuk mengatasi hal ini. Hindari penjelasan yang kelewat rasional.
Jadi, omongan saja bahwa tidak ada harimau dan makhluk aneh di kamarnya tidaklah tepat. Akan lebih baik jika orang tua mengajarkan kepada anak untuk menghadapi ketakutannya. Semisal dengan menyingkap sprei dan memeriksa kolong tempat tidurnya sambil bilang, "Lo, kok harimaunya sudah enggak ada di kolong tempat tidur. Wah dia sudah kabur takut sama Adek." Dengan begitu, anak terbiasa menghadapi ketakutan yang dialaminya.
Orang tua hendaknya juga menunjukkan sikap mampu mengatasi ketakutannya sendiri. Ingat lo, orang tua yang penakut biasanya akan melahirkan anak-anak yang penakut juga. Lagi pula bagaimana mungkin orang tua bisa mengajarkan anaknya mengatasi rasa takut jika ia sendiri tidak mampu mengelola perasaaan cemas atau takut yang berlebihan.

* Hindari Aktivitas Fisik yang Menguras Tenaga
Banyak orang tua menyangka setelah lelah si kecil pasti bisa cepat tidur dan langsung terlelap. Padahal yang terjadi mungkin sebaliknya, aktivitas fisik yang berlebihan sebelum tidur malah akan membuat tubuhnya bertambah segar karena peredaran darahnya jadi kian lancar. Bukan mustahil bila semalam suntuk anak malah akan terjaga terus. Kalaupun orang tua ingin menyempatkan waktu untuk membina kebersamaan dengan si kecil sebelum dia tidur, pilihlah aktivitas menyenangkan yang relaks, seperti membaca buku cerita.

* Jauhi Segala Bentuk Ketegangan
Ketegangan bisa muncul tanpa disadari jika anak menyaksikan lewat film laga, film horor, dan mendengar musik yang kelewat riang atau ingar bingar. Dalam kondisi tegang seperti itu manalah mungkin mengharapkan anak mudah memejamkan matanya. Lebih baik putarkan lagu-lagu berirama lembut atau film-film kartun pendek yang adegannya diulang-ulang. Dengan begitu daya konsentrasi yang diperlukan untuk menikmati acara tersebut akan melemah, dan anak jadi mudah disergap rasa kantuk.

* Batasi Porsi Tidur Siang
Meski memberi manfaat bagi kesehatan anak, batasi porsi tidur siangnya jangan sampai melebihi 2 jam. Terlalu banyak tidur siang juga bisa membuat anak sulit tidur di malam harinya. Akibatnya, anak malah tidak akan bisa tidur pada jam yang telah dijadwalkan. Imbasnya, esok hari dia akan bangun kesiangan.

* Hindari Konsumsi Makanan Padat Menjelang Tidur
Usai mengonsumsi makanan padat, lambung akan bekerja ekstrakeras sehingga kantuk justru tak jadi datang. Lebih baik berikan segelas susu hangat yang bisa membantu mengendurkan otot dan sarafnya sebelum anak menggosok gigi.

BIAR RELAKS MENJELANG TIDUR
Anak batita memerlukan rasa aman dalam tidurnya. Banyak cara ia lakukan sendiri untuk mencapai kondisi tersebut. Baik melalui gerakan fisik maupun nonfisik. Misalnya menggerak-gerakkan kakinya, menggesek-gesekkan tangannya ke muka, memilin rambutnya, "bersenandung", sampai mendekap benda kesayangannya berupa boneka, bantal, atau selimutnya. Gerakan tadi dilakukannya secara berulang-ulang dan terus-menerus hingga semua anggota tubuhnya merasa relaks. Dengan kondisi relaks, maka rasa kantuk biasanya lebih mudah datang.
Kebiasaan-kebiasaan ini, ungkap Mira, tidak bisa dikatakan sebagai kebiasaan buruk. Hal tersebut dilakukannya semata-mata agar bisa terlelap. Lain halnya jika kebiasaan itu berupa menggigit atau mengisap jari yang tak cuma muncul menjelang tidur. Selain bisa merusak susunan gigi, kebiasaan ini merupakan indikasi adanya ketegangan atau kecemasan dalam diri anak. Orang tua mesti bisa mengamati mengapa si kecil berbuat demikian.
***Saeful Imam. Foto: Iman/nakita

{ Dapatkan DVD terapi gelombang otak utnuk mengatasi gangguan tidur , klik link di bawah ini....} 
Sumber : www.gelombangotak.com/mengatasi_gangguan_tidur.htm

AGAR PEDE, KENALKAN PADA ANEKA SUASANA

Dunia si batita masih sangat terbatas. Aktivitasnya hanya di seputar lingkungan rumah. Padahal kalau di masa batita si kecil dikenalkan pada beragam suasana, manfaat yang didapat sangat banyak. Apa saja?
Tiap kali diajak ke tempat baru atau suasana yang tidak dikenal, Sandy pasti rewel. "Diajak bertemu orang baru, ia rewel bukan main. Begitu juga kalau diajak ke tempat baru, bisa-bisa heboh deh! Makanya kami jadi malas membawanya ke mana-mana," keluh sang ibu.
Problem serupa tidak hanya dialami oleh Mama Sandy. Banyak orang tua mengeluhkan hal sama. Padahal jika tidak pernah diajak ke mana pun, anak justru makin sulit menghadapi berbagai suasana berbeda yang dialaminya setiap hari. Lo kok jadi seperti lingkaran setan ya? Lalu bagaimana memutuskan mata rantai yang tiada berujung pangkal ini? 

Lingkup pergaulan batita masih sangat terbatas dalam yang istilah psikologinya disebut masih berada dalam lingkungan mikro. Lingkungan terkecil di luar dirinya ini disebabkan pengenalannya masih sebatas pada orang tua, pengasuh, dan nenek atau kerabat yang mungkin tinggal serumah atau sering saling mengunjungi. Aktivitasnya pun masih seputar makan, minum, tidur, main dan beberapa rutinitas terbatas lainnya. Tak heran begitu anak bertemu dengan suasana yang tidak ditemuinya tiap hari, ia jadi gelisah dan merasa tidak siap.
Ketidaknyamanan itulah yang akhirnya menjelma dalam bentuk kerewelan. "Itulah mengapa anak batita memang sudah seharusnya dikenalkan pada banyak hal. Termasuk hal-hal baru yang tidak sama dengan rutinitasnya sehari-hari atau istilahnya unpredictable situation," ujar Annelia Sari Sani, Psi.
 
BERAGAM KARAKTER
Lalu situasi lain seperti apa yang perlu dikenalkan pada anak? Intinya, menurut Anne, situasi yang tidak setiap hari dialaminya. Namun, situasi tersebut haruslah masih bisa dimengerti olehnya. Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan: 

* Mengajaknya ke acara keluarga
Mengajak anak menghadiri acara keluarga besar merupakan salah satu cara paling efektif untuk mengenalkannya pada situasi berbeda. Selama ini, di lingkungannya yang sangat terbatas, anak hanya mengenal beberapa figur, seperti orang tua, pengasuh, tetangga dan kerabat dekat.
Dengan mengajak anak menghadiri acara ini, diharapkan anak dapat berkenalan dengan lebih banyak orang yang mempunyai karakter berbeda-beda. Misalnya paman yang tinggi besar dengan suara menggelegar, tante yang dandanannya modis, bude yang cerewet, kakak sepupu yang baik hati, kakek yang lemah-lembut namun berwibawa dan sebagainya.
Pengenalan beragam karakter ini akan membuat si batita siap bertemu dengan banyak orang. "Banyak lo, anak batita yang takut bertemu orang tinggi besar dengan bersuara menggelegar. Rupanya, itu karena di lingkungan rumahnya yang sangat terbatas, ia tidak pernah bertemu dengan sosok seperti itu," ungkap Anne. 

* Mengajaknya ke pusat keramaian
Sesekali perlu juga mengajak anak ke pusat keramaian, seperti pusat perbelanjaan, taman bermain, dan sebagainya. Namun, karena tujuannya sekadar pengenalan, orang tua tidak perlu berlama-lama atau malah seharian berada di tempat tersebut. Seberapa lama, sesuaikan saja dengan daya tahan anak.
Yang tak kalah penting, di pusat keramaian ini, orang tua jangan hanya sibuk dengan urusannya sendiri. Tunjukkan pada anak hal-hal yang jarang dilihatnya, seperti dekorasi toko, eskalator, aneka permainan, kasir toko, dan sebagainya.
Saat pertama kali berada di tengah keramaian, mungkin saja anak merasa panik, cemas, gerah dan sebagainya. Tugas orang tualah mengupayakan anak merasa nyaman. Pengalaman berada di tengah keramaian ini akan membuat anak tidak mudah panik dan lebih percaya diri. 

* Menginap di rumah kerabat
Biasanya anak batita akan sulit tidur bila tidak di rumahnya sendiri. Namun, tak ada salahnya sesekali orang tua mengajaknya menginap di rumah kerabat. Selain untuk mengakrabkan ikatan kekerabatan, anak pun dikenalkan pada situasi yang berbeda. Yang paling mudah adalah mengajaknya menginap di rumah nenek.
Suasana yang berbeda akan memperkaya emosi anak, semisal tempat tidur kuno yang membuatnya merasa adem, suasana rumah yang nyaman meski tanpa AC, halaman luas dengan pohon rindang, dan sebagainya. Pengenalan pada situasi berbeda seperti ini secara tidak langsung akan melatih mental anak. 

* Berpisah sementara dengan orang tua atau pengasuh
Sesekali tak ada salahnya orang tua belajar meninggalkan anak. Tidak harus lama, cukup beberapa jam saja dan tujuannya pun jangan jauh-jauh. Biarkan anak di rumah di bawah pengawasan orang dewasa yang dipercaya. Latihan ini akan membuat batita belajar mengatasi rasa gelisahnya saat berpisah dari orang tua. Diharapkan anak akan memahami bahwa dengan ditinggal orang tua ia tidak perlu cemas. Toh, sebentar lagi mama dan papa akan segera kembali.
 
TANPA PAKSAAN
Setelah mengerti situasi seperti apa saja yang perlu dikenalkan kepada anak batita, timbul pertanyaan harus dari mana memulainya? "Bisa dari mana saja, yang penting tidak ada unsur pemaksaan pada anak," tandas Anne yang lantas menyarankan beberapa hal berikut: 

* Aktivitas sebaiknya dilakukan dengan melibatkan orang tua.
Misalnya saat anak menginap di rumah nenek, walaupun anak sudah mengenal nenek dengan baik, tapi sebaiknya pengalaman pertama ini tetap didampingi orang tua.

* Orang tua harus sabar.
Pada dasarnya kemampuan adaptasi masing-masing anak bersifat individual. Jangan pernah memaksa anak untuk segera menyesuaikan diri dengan suasana barunya hanya karena melihat anak tetangga terlihat mudah melakukan hal yang sama. 

* Lakukan latihan-latihan kecil.
Sebelum mengajak anak "menemui" situasi barunya, semisal mengajaknya ke acara keluarga atau meninggalkannya di rumah hanya bersama pengasuh, berikan gambaran yang positif. Yang pasti, orang tua mesti memberikan gambaran positif lebih dulu mengenai situasi yang akan dimasukinya. Dengan begitu anak punya gambaran menyenangkan tentang suasana tersebut. 

* Jangan lupa bawakan benda/makanan kesukaannya.
Ini akan bermanfaat untuk mengalihkan perhatiannya kala ia mulai rewel. Apalagi saat menginap di rumah kerabat. Bahkan, boneka, dan selimut kesayangannya kalau ada jangan sampai ketinggalan. Ini penting agar ia bisa mengurangi keterasingan yang dirasakannya. 

* Cari waktu yang tepat.
Ada baiknya momen pertama mengenalkan anak pada suasana yang berbeda di rumah kerabat bertepatan dengan peristiwa yang menyenangkan. Misalnya, selamatan hari ulang tahun, selamatan kelulusan, selamatan rumah baru, hari raya keagamaan, dan sebagainya. Biasanya suasana penuh suka cita bisa membantu anak mengurangi ketegangannya.

SEGUDANG MANFAAT
Situasi dalam sebuah acara keluarga, berada di pusat keramaian, menginap di rumah kerabat dan sebagainya, bagi orang dewasa mungkin terasa biasa-biasa saja. Namun bagi anak batita, momen-momen semacam itu termasuk situasi yang tidak terduga. Bagaimana tidak, bukankah pengalaman hidupnya masih sedikit dan situasi ramai tersebut amat berbeda dari aktivitasnya sehari-hari.
Menurut Anne, banyak manfaat yang akan didapat anak bila ia dibiasakan menghadapi aneka situasi yang tidak terduga tetapi masih dalam jangkauannya. Intinya adalah memberi pengaruh positif pada pembentukan karakter anak. Inilah beberapa manfaat tersebut: 

* Memperluas lingkungan
Anak batita yang masih berada dalam lingkungan mikro akan sangat terbantu oleh sering dilibatkan dalam beberapa situasi berbeda. Dengan demikian, lingkungannya akan melebar menjadi mezo yang merupakan lingkaran berikutnya setelah mikro. Anak jadi kenal om-tante, pakde, sepupu, eyang dan lain-lain yang mungkin jarang ditemuinya. 

* Lebih percaya diri
Situasi berbeda-beda yang sering dimasuki anak akan membuatnya lebih percaya diri. Tidak hanya sekali dua kali saja ia menghadapi perubahan situasi tersebut dan ternyata bisa melaluinya dengan sukses. Pengalaman positif ini akan tertanam dalam pikirannya yang masih sangat sederhana dan memberi kontribusi dalam mempertebal rasa percaya dirinya. 

* Lebih berani
Keberanian anak akan tumbuh seiring dengan banyaknya contoh yang dilihat. Saat berada di taman bermain, misalnya, anak melihat teman-teman sebayanya berani mencoba aneka permainan yang ada di situ. Melihat keasyikan anak-anak lain, ia pun akan tergoda untuk melakukan hal serupa dan ternyata berhasil. Keberhasilan ini akan menjadi modal baginya untuk mencoba hal-hal baru lain yang membutuhkan keberanian dalam porsi lebih besar.

* Tempo adaptasi lebih cepat
Anak yang terbiasa berada di situasi yang berbeda-beda, alias rutinitasnya tidak "datar" akan mempunyai kemampuan beradaptasi yang lebih cepat. Soalnya, anak sudah punya pengalaman bahwa bertemu banyak orang atau bersalaman dengan orang-orang baru ternyata aman-aman saja, kok. Di lain waktu suasana seperti apa pun tidak membuatnya cemas. Dengan kata lain, ia jadi lebih mudah menyesuaikan diri.

* Lebih mudah menerima orang baru
Pengalaman berkenalan dengan banyak orang akan membuatnya merasa yakin bahwa orang yang baru dikenalnya bukanlah sosok yang berbahaya. Dengan segala keterbatasannya, anak akan lebih mudah menerima kehadiran orang-orang baru. 

* Mampu sharing dengan orang lain
Seringnya anak bertemu dengan banyak orang akan memberinya pengalaman bagaimana seharusnya ia berbagi. Misalnya dalam acara keluarga, anak akan berjumpa dengan sepupu-sepupunya. Anak yang terbiasa menghadapi suasana baru relatif lebih mudah berbagi mainan dan makanannya, karena ia yakin nanti akan tiba gilirannya untuk menikmati permainan tersebut seperti yang sudah dialaminya selama ini.

* Tidak gampang rewel
Kerewelan anak ketika berada dalam situasi yang tidak diduganya harus dimaklumi bersumber pada kecemasan dan perasaan gelisah yang dialaminya. Nah, anak yang sering berada pada berbagai situasi berbeda tersebut sudah membuktikan bahwa semuanya aman-aman saja. Sehingga ia pun "sadar" tidak ada yang perlu dicemaskannya, apalagi sampai harus menangis.

* Melatih keterampilan lain
Orang tua sekaligus bisa memanfaatkan momen ini untuk mengenalkan banyak hal pada anak. Misalnya bagaimana seharusnya bersikap pada orang yang baru dikenalnya, mengulurkan tangan mengajak bersalaman, menyebutkan namanya saat ditanya, dan sebagainya. Pengalaman di tempat baru seperti pusat perbelanjaan, taman bermain, dan rumah kerabat dapat dimanfaatkan untuk menambah perbendaharaan kata anak. Contohnya dengan mengenalkan nama benda-benda yang baru dijumpainya di tempat tersebut.
***Marfuah Panji Astuti. Foto: Ferdi/nakita

{ Dapatkan CD terapi gelombang otak untuk mengatasi stress & marah  , klik link di bawah ini......}
Sumber : www.gelombangotak.com/mengatasi_stress_dan_marah.htm

AGAR BUAH HATI MENGENAL EMPATI

Mengucapkan kata "maaf", "tolong", dan "terima kasih", sangat perlu diajarkan kepada anak, agar ia tak tumbuh menjadi manusia egois.
Pada usia batita, ketika sifat egois atau pemusatan pada dirinya muncul, anak harus diajarkan melihat dunia lain selain dunianya sendiri. Dunia lain dapat diartikan sebagai pengalaman orang lain dan anak bisa merasakannya jika pada mereka ditanamkan rasa empati.
Menurut Evi Sukmaningrum, S.Psi dari Universitas Atmajaya, nilai empati bisa diajarkan melalui pengenalan apresiasi positif kepada anak. Misalnya dengan mengucapkan kata "maaf", "tolong", dan "terima kasih". "Ini pembiasaan yang harus dilatih dari kecil agar anak mengerti, dengan kata maaf, ia bisa ikut merasakan sakit ketika kaki orang lain terinjak olehnya." 

Bahkan sejak masih bayi, orang tua sudah bisa mengomunikasikan apresiasi positif ini dengan membiasakan diri mengucapkan "maaf", "tolong", dan "terima kasih" di hadapannya. "Memang, yang paling efektif, saat anak berumur 1 sampai 3 tahun. Di usia ini, pemahaman reseptifnya mulai jalan karena kemampuannya dalam mengeksplorasi, observasi, untuk kemudian kemudian meniru sedang berkembang. Jadi, inilah saat yang paling tepat untuk mengajarkan anak mengenal nilai-nilai empati," saran Evi. 

Caranya, mulailah dari kegiatan keseharian kita. Saat pulang terlambat karena jalan macet, contohnya, katakan padanya, "Maaf, ya, Mama/Papa pulang terlambat. Adek sampai harus menunggu lama." Jangan lupa, kebiasaan ini juga harus diberlakukan pada semua orang di rumah. Misalnya, ketika menyuruh pembantu melakukan sesuatu, selalu awali dengan kata "tolong" dan akhiri dengan kata "terima kasih". Lewat cara berkomunikasi seperti itu, anak akan terkondisikan untuk selalu mengapresiasi nilai-nilai positif. 

KE PANTI ASUHAN
Empati atau kemampuan merasakan penderitaan dan kebahagiaan orang lain, pada dasarnya bisa diajarkan melalui berbagai peristiwa khas dunia batita. Misalnya, ketika melihat temannya jatuh dan menangis, ajarkan anak untuk mendekati dan bertanya, "Kenapa menangis? Sakit, ya?" Ajak anak membayangkan dirinya menjadi si korban. Kalau dia yang jatuh, pasti seperti itu sakitnya. Begitu juga dengan rasa berbagi. Di saat temannya ingin meminjam mainan, ajarkan untuk meminjamkan mainannya. Ketika ia sedang memegang makanan, ajarkan dia untuk memberikan sebagian pada orang yang meminta. "Mengajaknya diskusi ketika ia melihat sesuatu yang kurang baik, juga amat disarankan. Misalnya, saat ia melihat temannya berkelahi. Beri pengertian, memukul dan dipukul tidak akan menyelesaikan masalah kecuali menghasilkan rasa sakit. Oleh karenanya, setiap masalah harus diselesaikan tanpa memukul. Evi juga menganjurkan untuk sesekali membawa anak ke panti asuhan. "Ajak dia memahami kesedihan bila sudah tak punya ayah-ibu. Juga, saat melihat anak jalanan yang terpaksa harus ngamen untuk hidup. "Pendek kata, dengan bahasa sederhana, orang tua bisa menjelaskan perihal ketidak beruntungan mereka. "Lama-lama, kepekaan sosial anak bisa tumbuh untuk kemudian melatih rasa empatinya." 

BENTURAN NILAI
Anak yang sudah diajarkan nilai-nilai positif di rumah, pada saat berada di lingkungan yang lebih luas seperti sekolah, kemungkinan besar mengalami benturan nilai. Umpamanya, ia dianggap lemah karena selalu mengalah dalam rangka menerapkan konsep berbagi. Menurut Evi, ini adalah problem dilematis yang sering terjadi. Dalam kondisi seperti ini, ia menganjurkan agar orang tua kembali ke nilai-nilai yang ingin ditanamkan terhadap anak.

Bagaimanapun juga, anak harus dilatih untuk memiliki rasa empati dan kepekaan sosial, serta bisa menjadi contoh untuk teman yang lain. Jadi, bukan sikap agresif yang lantas kita ajarkan untuk bertahan di sebuah lingkungan, "melainkan sikap asertif atau tegas tanpa harus menjadi seorang penakut. Kepada teman yang suka merebut mainan, contohnya, ajari dia untuk bersikap tegas dengan tidak menghilangkan kemauan untuk berbagi." Misalnya, dengan berkata, "Kamu mau pinjam? Bilang baik-baik, dong, aku pasti pinjami. Gantian, jangan merebut."
Nilai-nilai yang dibawa dari rumah, menurut Evi, dengan sendirinya harus tertanam kuat, sehingga ketika anak bersosialisasi di luar rumah dia tidak akan terbawa oleh pengaruh buruk lingkungan. Family culture pun harus dibentuk dalam keluarga. "Suami­ istri, walau membawa nilai-nilai yang berbeda dari latar belakang keluarganya masing-masing, harus satu kata dalam proses pembelajaran anak," kata Evi, "sehingga anak tidak bingung." 

Apa yang diajarkan oleh mama sama dengan yang diajarkan oleh papanya. Begitu juga pembantu atau pengasuh, harus diajarkan untuk mengikuti semua kebiasaan yang ada di rumah. Misalnya, mengucapkan kata "tolong", "maaf", dan "terima kasih" pun harus mereka lakukan. 

RANGSANGAN LINGKUNGAN
Sekarang, anak usia 2 sampai 3 tahun rata-rata sudah bergabung dalam sebuah playgroup. Lingkungan ini sebenarnya bisa membantu menumbuhkan nilai empati pada anak. Proses sosialisasi dengan teman-temannya, bisa menimbulkan rasa kebersamaan, menghargai perbedaan, dan tolong-menolong.
Ditambah lagi, pada anak yang berusia 2,5 sampai 3 tahun mulai muncul perilaku prososial, seperti keinginan untuk menolong orang lain. Artinya, bibit empati ini secara naluriah sudah ada pada mereka. Maka akan sangat berarti bila di usia itu dia berada di lingkungan yang memang mendukung, seperti lingkungan "sekolah"nya. 

Di sisi lain, tambah Evi, lingkungan sosial yang berkembang dewasa ini juga harus diwaspadai sebagai penyebab melemahnya nilai empati. Kecenderungan orang tua yang mengajarkan anaknya untuk selalu bisa bertahan dan bersaing ditambah kondisi yang mengharuskan seseorang menjadi kuat agar bisa bertahan, kerap memunculkan anggapan, "Saya saja lagi susah, buat apa dan bagaimana bisa berempati dengan kesusahan orang lain?" Atau pendapat, "Dulu saya susah, jadi sekarang harus senang."
Budaya keluarga Indonesia yang hidup dengan pembantu atau pengasuh anak pun sedikit banyak ikut menjadi penyebabnya. Kebiasaan memperlakukan pembantu atau pengasuh dengan seenaknya akan dilihat oleh anak dan kemudian ditirunya.
  ***Marfuah Panji Astuti. Foto: Ferdy/nakita

{ Dapatkan CD terapi gelombang otak untuk meningkatkan percaya diri , klik link di bawah ini....}
Sumber : www.gelombangotak.com/meningkatkan_percaya_diri.htm

ADUH... SI KECIL ENGGAK MAU KERAMAS

Merawat rambut anak memang tidak semudah merawat rambut orang dewasa. Jarang sekali ada anak batita yang bisa tenang saat rambutnya dipotong, dikeramasi, atau disisiri. Orang tua sering dibuat kewalahan karenanya. Maklum, ia sedang aktif-aktifnya bergerak dan konsentrasinya masih gampang teralih. Agar tak jadi kacau, cobalah tips berikut.
 
KERAMAS
* Ciptakan selalu suasana gembira di saat memandikan dan mengeramasi si kecil. Lontarkan kata-kata yang menyenangkan, atau bernyanyilah untuknya.
* Gunakanlah sampo khusus anak yang umumnya berformula ringan, beraroma segar, dan tidak pedih di mata. Biarkan ia mandi sambil asyik mencuci rambutnya dengan busa melimpah.
* Gunakan cermin di kamar mandi untuk memperlihatkan "kehebohan" penampilannya dengan busa di kepala.
* Biarkan anak belajar mencuci rambutnya sendiri. Orang tua tinggal menyempurnakan hasil kerja si kecil dengan membilasnya secara lembut sampai bersih agar tidak ada sisa-sisa sampo tertinggal.
* Gunakan sampo secukupnya dan usapkan merata secara lembut ke rambut anak. Meski diiklankan sampo tersebut tidak pedih di mata, orang tua tetap harus menjaga agar jangan sampai mengenai matanya.
* Kalau si kecil mau, gunakan topi khusus untuk keramas yang bolong di bagian tengahnya.
* Jika rambut si kecil tergolong gampang kusut, kondisioner boleh-boleh saja digunakan, asalkan cocok.
* Keringkan dengan handuk lembut untuk menyerap tetesan air dan biarkan kering dengan sendirinya.

POTONG RAMBUT
MENURUT Fitriani F. Syahrul, M.Psi., dari Yayasan Pendidikan Insan Kamil, ada beberapa hal yang patut diperhatikan saat memotong rambut anak.
* Untuk mencairkan suasana, orang tua bisa mengundang teman-teman sebaya anak dan biarkan mereka menemaninya. Bisa juga orang tua mengalihkan perhatian anak dengan menceritakan kisah menarik selama rambutnya dipotong.
* Pilih alat yang praktis sekaligus aman. Semisal alat cukur yang menggunakan tenaga baterai dan dilengkapi sisir pengaman sekaligus pembatas panjang rambut. Alat ini biasa dipakai di tempat cukur atau salon. Pahami bila si kecil terlihat ketakutan. Maklum, dia belum paham seluk-beluk perkakas potong rambut yang mungkin dinilainya cukup menyeramkan. Belum lagi dengungan suara mesinnya. Untuk mengurangi ketakutan si kecil, sampaikan penjelasan sederhana mengenai cara kerja alat tersebut. Bila belum cukup, beri contoh konkret, semisal mengajak anak melihat rambut ayah atau sepupunya dipangkas.
* Bila memungkinkan, undanglah tukang cukur/ahli potong rambut ke rumah. Di tempat yang tidak asing umumnya anak bisa lebih tenang dan nyaman, sehingga proses cukur bisa berjalan lebih lancar.
* Di berbagai mal, kini sudah menjamur salon khusus bagi konsumen cilik lengkap dengan segala fasilitas yang pasti membuat si kecil betah. Nah, mengapa tidak memanfaatkannya?
* Hindari memotong rambut anak saat ia sedang bermain. Pemaksaan seperti ini hanya akan membuat acara gunting rambut jadi kacau, sekaligus memicu penolakan dalam diri anak. Jangan heran kalau di lain waktu anak tak mau lagi dipotong rambutnya. Jadi, carilah waktu senggang saat anak nyaman dan siap.
* Jangan pula memotong rambutnya saat dalam keadaan lapar atau lelah yang akan berujung pada kerewelan. Biarkan anak beristirahat dulu atau menikmati makanannya.
* Satu hal penting, jangan pernah coba-coba memotong rambut anak saat ia sedang lelap tidur. Cara itu memang dianggap efektif oleh para orang tua yang merasa kewalahan menghadapi anaknya. Namun, orang tua harus mencermati dampak buruknya. Selain anak akan kaget atau malah syok menyaksikan perubahan potongan rambutnya, tindakan ini pun akan menimbulkan antipati dalam diri anak. Ia merasa dikhianati oleh orang tuanya karena sesuatu yang berharga yang mungkin amat disayangi dari dirinya telah dirampas. Lain hal jika sebelumnya orang tua sudah memberitahukan rencana potong rambut saat tidur, "Nak, supaya gampang boleh ya nanti Bunda potong rambutmu waktu kamu tidur."
* Gunting dan rapikan rambut si kecil minimal 2 bulan sekali agar lebih terawat. Terutama bagian depan bila sudah mulai menutupi mata.
* Jika gaya rambutnya menggunakan belahan, ada baiknya selang beberapa hari sekali pindahkan belahan ini agar terhindar dari penipisan rambut di bagian belahan tersebut.
* Saat mengepang atau mengekor kuda, jangan mengikat rambutnya keras-keras karena dapat membuat rambut rontok. Jangan gunakan karet gelang, tapi pilih pengikat elastis berlapis kain.
 
SISIRAN
* Anak usia ini merasa serbamampu melakukan segala sesuatu sendiri. Sifat otonom ini membuat anak sulit diatur, meski sebenarnya memiliki dampak positif, yakni memacu kemandirian. Manfaatkan situasi ini dengan membiasakannya menyisir rambut sendiri, sementara orang tua tinggal mengarahkannya.
* Jangan pelit memberi pujian. Setidaknya sampaikan bahwa Anda bangga melihatnya sudah bisa menyisir sendiri dengan baik sambil ikut merapikan bagian yang kurang rapi.
* Kalau anak tak mau disisiri, bisa jadi karena dia pernah punya pengalaman kurang menyenangkan dengan aktivitas ini. Semisal orang tua pernah kelewat memaksanya sementara si anak sedang asyik dengan hal lain. Egonya yang tengah berkembang pesat di usia ini akan memancingnya untuk berontak. Ia sudah bisa membedakan mana perintah yang nyaman dan mana yang tidak. Atasi dengan perilaku lembut dari orang tua dan penjelasan mengenai pentingnya menjaga kerapian.
* Menyisirinya dengan kasar tentu akan membuat anak kesakitan dan menganggap aktivitas menyisir rambut sehabis mandi identik dengan penyiksaan. Tak heran kalau anak sulit disisiri, seperti malah berlari menghindar atau tak bisa diam. Ia lebih suka berpenampilan kusut ketimbang disisiri.
* Jangan menyisir rambut anak selagi dalam keadaan basah yang membuatnya gampang rontok disamping membuat si kecil kesakitan.
* Agar mudah dan tak membuat anak kesakitan, pilih sisir bergigi lebar. Biarkan ia menghadap ke cermin sehingga tahu persis bagaimana sisir bekerja merapikan rambutnya. Ajak anak untuk menyaksikan perubahan yang terjadi, dari yang kusut dan tak rapi menjadi rapi hingga terlihat segar dan menarik.
* Mulailah menyisiri rambut yang kusut dari bagian ujung kemudian sedikit demi sedikit bergerak ke atas. Gunakan salah satu tangan untuk menahan/memegang rambut bagian atas guna mengurangi rasa nyeri dan rontok.
* Ingat, anak butuh model identifikasi dalam proses belajarnya. Demikian pula dalam kebiasaan menjaga kebersihan dan kerapian rambut. Orang tua harus bisa memainkan peran sebagai sosok identifikasi yang baik bagi si Buyung maupun si Upik.

KETOMBEAN
* Ketombe, sebetulnya tak cuma dialami kalangan dewasa, tapi juga anak-anak. Ketombe merupakan pengelupasan kulit kepala. Meskipun tidak berbahaya, ketombe bisa mengganggu aktivitas anak karena serangan rasa gatalnya. Semakin digaruk, rasa gatal akan kian melebar dan mungkin saja timbul infeksi. Belum lagi keluhan rambut rontok.
* Selain keluhan gatal, akan terjadi pengelupasan lapisan kulit kepala dalam bentuk serpihan-serpihan yang akan berjatuhan ke bahu bagai butiran salju.
* Untuk mengatasinya, gunakan sampo antiketombe yang mengandung selenium sulfid atau zinc pirithione. Namun karena sifat zat ini relatif keras, sebaiknya kosultasikan dulu pada dokter jika ingin menggunakannya untuk si kecil.
* Jagalah senantiasa kebersihan rambut. Kapan harus keramas, sesuaikan dengan jenis dan intensitas aktivitas si kecil. Kalau ia banyak main di luar dan banyak mengeluarkan keringat, boleh saja keramasi setiap hari. Toh di pasaran banyak tersedia sampo lembut yang memang diformulasikan untuk penggunaan setiap hari.
***Saeful Imam/dari berbagai sumber. Foto: Iman/nakita

{ Dapatkan CD terapi gelombang otak untuk menambah nafsu makan anak2 & dewasa , klik link di bawah ini.....} 
Sumber : www.gelombangotak.com/menambah_nafsu_makan_anak.htm

"ADUH, PINTARNYA ANAK MAMA"

Memuji anak merupakan reward yang sangat positif. Namun lakukan secara proporsional agar anak tak terbuai.
Life is a bowl of cherry. Hidup itu seperti semangkuk buah ceri, ada yang manis, ada yang asam, ada pula yang busuk. Realitas seperti itulah yang harus diketahui anak. Jangan sampai kita salah mendidik dengan terus-terusan memujinya. Sikap orang tua yang demikian hanya akan membuatnya merasa hidup ini selalu manis, padahal tidak begitu, kan. Jadi bagaimana sebaiknya memberi pujian? "Berikan pujian bila memang dianggap perlu. Namun jangan berlebihan," demikian menurut Anna Surti Ariani, Psi, dari Jagadnita Consultan, Jakarta. 

PUJIAN YANG PAS 

"Anak berhak mendapat pujian setelah melakukan suatu perbuatan baik, seperti yang sudah pernah dilakukan sebelumnya dan bertambah baik, atau perbuatan yang memang diharapkan orang tua agar menjadi baik," lanjut psikolog yang akrab dipanggil Nina.
Contoh perbuatan yang diharapkan baik, misalnya ketika ia sudah bisa pipis di toilet. Saat itulah ia berhak mendapat pujian. Sedangkan yang diharapkan bertambah baik, misalnya jika seorang anak sudah bersikap manis pada tamu yang datang, tapi kali ini dia mau memberi salam terlebih dahulu.
Oleh karena itu, menurut Nina, perbuatan baik yang sudah menjadi kebiasaan tidak perlu dipuji lagi. Misalnya saat pertama anak bisa menyanyikan lagu Bintang Kecil, dia berhak mendapatkan tepuk tangan dan pujian. Namun setelah beberapa kali menyanyikan lagu yang sama, sebaiknya pujian itu sudah tidak diberikan lagi. 

Pujian terhadap satu hal yang sama secara perlahan harus dikurangi, sambil menambah kompleksitas kegiatan yang telah berhasil dilakukan. "Kalau hal sama tanpa kemajuan masih terus dipuji, anak akan kekurangan motivasi untuk menambah kebiasaannya."
Misalnya, ketika lagu Bintang Kecil sudah dikuasainya, doronglah ia menyanyikan lagu baru, "Ayo, coba lagu Pelangi-Pelangi. Nanti kalau sudah bisa, dapat tepuk tangan lagi." Dengan dikondisikan seperti itu, anak akan berusaha untuk selalu menambah "keahliannya". 

BUKAN BASA-BASI 

Namun, kurang bermanfaat kalau pujian tidak disampaikan dalam kalimat efektif. Sayangnya, seringkali orang tua asal memuji, sehingga tak bermakna. "Yang benar, kata-katanya sederhana, karena perbendaharaan kata anak usia batita masih terbatas. Kalau kalimatnya terlalu rumit atau tidak jelas, ia tidak akan mengerti," ungkap Nina.
Oleh karena itu, pilihlah kata-kata yang spesifik, sesuai dengan perbuatan yang dilakukannya. Misal, "Mama senang deh, Adek makannya habis. Bagus."
Anak akan mengerti kalau ia menghabiskan makanannya, maka orang tua senang dan memujinya. Bandingkan dengan kalimat, "Bagus, bagus," yang tidak spesifik dan mungkin maksudnya tidak dimengerti.
Agar terasa berarti, pujian juga perlu dibarengi bentuk perhatian lain, seperti sentuhan, atau setidaknya kontak mata dengan anak. Alhasil, ia akan merasa pujian itu betul-betul diarahkan kepadanya. 

Di saat orang tua sedang sibuk mengerjakan sesuatu yang tidak bisa ditinggal, jangan hanya mengatakan, "Bagus. Pintar," secara sambil lalu. Apalagi kalau maksudnya supaya anak tidak mengganggu lagi. Sebaiknya katakan, "Tunggu sebentar, ya, Sayang. Kalau nanti selesai, baru Mama lihat gambar Adek." Begitu ada kesempatan, alihkan perhatian Anda kepadanya. Kalau memang yang dibuatnya perlu mendapat pujian, lakukan dengan perhatian penuh. Sambil memuji, Anda bisa menyertakan nilai-nilai yang ingin ditanamkan pada anak. 

RISIKO KALAU BERLEBIHAN 

Anak yang terlalu sering mendapat pujian sama berisikonya dengan anak yang terlalu jarang mendapatkan pujian. Jika terlalu sering, selain akan mengurangi motivasi untuk mencoba melakukan hal lain, dalam jangka panjang, nantinya ia akan tumbuh menjadi pribadi manja, kurang fight, kurang kreatif, kurang memiliki sense of feeling guilty, dan pada akhirnya kurang berprestasi. "Sebab, anak menganggap dengan begini saja ia sudah dipuji, lalu untuk apa berusaha lebih keras lagi?" kata Nina. 

Biasanya orang tua kelewat memuji untuk menutupi rasa bersalahnya. Misalnya saat pulang terlambat, kita akan dengan mudah mengatakan, "Anak pinter, anak cantik, tadi tidak nangis ya?" Padahal kita tidak tahu pasti apakah seharian tadi anaknya menangis atau tidak.
Begitupun dengan anak-anak yang jarang menerima pujian, "Anak pada kondisi ini tidak pernah tahu bahwa dirinya telah melakukan hal-hal positif," ungkap Nina. Dalam jangka panjang, ia akan tumbuh dengan rasa percaya diri yang sangat kurang, depresif, sering kecewa, sulit berinteraksi, mudah sedih, sensitif, dan beberapa sifat buruk lainnya. 

BERI STIMULUS 

Pujian pun harus selalu dikaitkan dengan bertambahnya kemampuan anak. Sertakan di situ apa lagi yang kita harapkan darinya, sehingga kemampuan anak akan bertambah terus. Bila sudah terlalu lama tak memujinya, dengan begitu terlihat bahwa belum ada kemajuan lain yang dicapainya. Orang tua tak boleh tinggal diam. Berikan ia stimulus agar terdorong melakukan sesuatu yang baru atau memperbaiki yang sudah berlangsung. 

Namun ingat, pujian tidaklah harus terpaku pada pencapaian target. Proses usaha pun berhak mendapatkan pujian. Misalnya anak sudah berusaha makan sendiri. Walaupun masih berantakan, yang penting dia sudah berusaha. Katakan, "Tidak apa-apa kalau kamu hari ini masih berantakan makannya, tapi besok dicoba lagi ya, makan yang lebih bersih." Dengan begitu anak bisa merasakan bahwa usahanya selama ini dihargai, sekaligus ada pemacu untuk mencobanya lagi.
Pahamilah bahwa kemampuan perkembangan tiap individu sangat berbeda. Ada anak yang mampu berkembang dengan pesat, ada yang berkembang wajar, atau bahkan ada yang berkembang terlambat. Apa pun yang dicapainya dalam perkembangan itu, anak berhak mendapat pujian. Misalnya, "Mama tahu teman-temanmu sudah bisa nyanyi lagu yang lain, tapi Mama tetap bangga Adek bisa nyanyi lagu ini. Mama senang karena Adek mau berusaha dan belajar. Besok belajarnya ditambah ya, supaya Adek bisa menyanyi lagu yang sama dengan teman-teman." 

Bila ayah dan ibu berbeda nilai, komunikasikan apa yang harus dilakukan untuk anak. "Yang sering terjadi adalah, karena salah atu pasangan jarang memuji anak, maka pasangan yang lainnya malah memberi pujian yang berlebihan. Maksudnya untuk menyeimbangkan, tapi itu jelas salah," tandas Nina. "Bagaimanapun, anak harus menerima pujian pada porsi yang tepat dari kedua belah pihak. Bukan karena yang satu kurang maka yang lainnya bisa memberi lebih."
  ****Marfuah Panji Astuti. Ilustrator: Pugoeh

{ Dapatkan CD terapi gelombang otak untuk perawatan kulit & awet muda ,klik link di bawah ini....}
Sumber : www.gelombangotak.com/perawatan_kulit_awet_muda.htm

"Aduh, Gigi Anakku Rapuh!

Gigi merupakan gambaran kesehatan tubuh seorang anak. Pada anak tertentu, gigi bisa rapuh atau mudah keropos meski rajin sikat gigi dan menjaga makanan. Konon kondisi ini ada hubungannya dengan keturunan.

Gigi adalah salah satu alat bantu pencernaan, yang juga merupakan pintu masuk dari seluruh kuman-kuman dan bakteri dari luar tubuh. Oleh karena itu, kesehatan mulut dan gigi, sangat penting untuk dilakukan. Hanya saja, anak-anak sering mengalami berbagai keluhan, misalnya gigi berlubang, gusi berdarah dan juga gigi keropos.

Gigi keropos, menurut drg. Risqa Rina Darwita, Ph.D., sebenarnya bisa terjadi pada siapa saja. "Pada anak-anak, umumnya pada saat mereka masih memiliki gigi susu," jelas Dosen di Fakultas Kedokteran Kesehatan Gigi Universitas Indonesia, Jakarta ini. Yang paling sering terjadi, keroposnya gigi balita, akibat banyaknya plak yang menumpuk akibat banyaknya sisa susu yang menempel pada gigi.

Anak-anak yang suka memakan makanan yang manis-manis atau permen, dan diperparah dengan kurangnya orangtua memperhatikan kebersihan gigi si kecil, menyebabkan gigi menjadi mudah berlubang bahkan keropos. "Gigi susu yang keropos ini, nantinya masih bisa diganti dengan gigi tetap." Hanya saja pada beberapa anak yang telah mempunyai gigi tetap, ada yang tetap mengalami gigi keropos, meski rajin sikat gigi dan menghindari makanan yang manis-manis.

Kerusakan Struktur Gigi
Secara struktur, gigi terdiri dari mahkota gigi, akar gigi, dan leher gigi yang ditutupi oleh gusi. "Semua bagian rongga mulut tersebut, apabila tidak dipelihara dengan baik akan mudah terserang oleh penyakit," terangnya. Terjadinya gigi keropos, lanjut Risqa, secara kedokteran disebut dengan Radang gigi Gangraena Pulpa atau Pulpitis.

Kekeroposan ini, terjadi akibat adanya kerusakan pada struktur gigi yang berdampak pada email (lapisan keras yang melindungi gigi) dan lapisan terluar dari gigi, yang terus menjalar pada lapisan dentin dan pulpa. Secara umum, gigi keropos bisa terjadi akibat beberapa sebab. "Timbunan plak dari makanan dan kurang asupan kalsium dan mineral, bisa mengakibatkan gigi keropos. Bahkan pada sebagian orang, gigi keropos juga bisa disebabkan oleh faktor keturunan," ungkapnya lagi.

Umumnya, gigi keropos banyak disebabkan oleh adanya plak yang tidak dibersihkan. "Plak yang tidak dibersihkan dari lapisan luar gigi, akan menjadi tempat berkumpulnya mikroorganisme, dimana mikroorganisme tersebut akan mengeluarkan zat yang bersifat asam." Plak terjadi akibat terlalu banyak mengkonsumsi makanan yang mengandung karbohidrat (gula dan makanan yang mengandung perekat), seperti roti, sereal, susu, soda, buah-buahan, kue, atau permen yang tersisa pada gigi.

Bakteria yang tinggal di dalam mulut akan mencerna makanan-makanan ini, dan merubahnya menjadi acids (asam). Bakteria, asam, sisa makanan dan air liur yang menyatu pada plak, akan menempel erat pada gigi. Asam yang dikeluarkan oleh plak, lama kelamaan akan mengikis lapisan lembut email pada gigi, dan menyebabkan timbulnya lubang pada gigi, yang disebut Calvities atau Caries. "Kekeroposan terjadi akibat zat asam yang menghancurkan jaringan lunak (misalnya gingiva)."

Mikroorganisme - salah satunya streptococcus Mutant - bersifat menghancurkan jaringan email, disamping itu mikroorganisme ini juga mendukung perubahan plak yang tidak dibersihkan, lama kelamaan bisa menjadi karang gigi. "Bila kondisi ini dibiarkan, maka kerusakan ini akan terus menjalar ke bagian dentin dan pulpa," terangnya.

Bila kerusakan sudah mengenai dentin dan pulpa, apalagi bila sudah mengenai syaraf gigi yang menyebabkan gigi membusuk dan matinya syaraf pada gigi Gangraena atau Necrosis," terangnya. Bila syaraf gigi mati, maka lambat laun gigi akan runtuh sedikit demi sedikit dan menyebabkan gigi menjadi keropos. "Matinya syaraf gigi, juga berarti hilangnya fungsi gigi."

Unsur Penguat Gigi
Selain plak, gigi keropos juga bisa terjadi akibat kurangnya asupan fluor, yang bisa membantu gigi menjadi lebih kuat. "Saya pernah menemukan kasus dimana dalam satu masyarakat di daerah Kalimantan, mengalami gigi keropos," ungkap Risqa. Dari penelitian diketahui, ini terjadi akibat kurangnya asupan fluor (mineral). "Mereka minum dari air tadah hujan, yang tidak mengandung fluor," jelasnya.

Di lain pihak, gigi keropos pada anak-anak, bisa juga akibat adanya faktor keturunan. "Seorang ibu yang mempunyai gigi keropos, kemungkinan anaknya juga mengalami gigi keropos," paparnya. Sebab gen yang ikut terbawa pada bayi, bisa jadi gen yang kurang mengandung mineral dan kalsium dan menyebabkan anak juga mengalami kekurangan kalsium. "Oleh karena itu, penting bagi ibu hamil untuk banyak mengkonsumsi kalsium dan mineral."

Kebutuhan kalsium dan mineral, lanjut Risqa, memang sangat dibutuhkan untuk memperkuat email gigi. "Kebutuhan ini, sebenarnya bisa dicukupi dengan meminum air yang mengandung mineral, asupan gizi yang cukup - terutama vitamin D, dan menggosok gigi dengan pasta gigi yang mengandung fluor." Vitamin D merupakan salah satu unsur pokok dalam metabolisme kalsium dan fosfor.

Jadi, usahakan anak-anak cukup mendapatkan vitamin D (dari sinar matahari pagi) setidaknya 10 mg per hari. Bila kebutuhan ini tidak terpenuhi, bisa jadi si kecil akan mengalami masalah pada penguatan struktur gigi, akibat adanya gangguan mineralisasi pada struktur tulang dan gigi. Sehingga serajin apapun si kecil menggosok gigi dan menghindari makanan yang manis-manis, ia tetap akan mengalami gigi keropos akibat kurangnya unsur yang bisa memperkuat gigi.

Hindari Pencabutan
Sebenarnya, gigi keropos bisa terjadi pada siapa saja. Umumnya, gigi keropos banyak terjadi pada orang yang telah berusia lanjut (Manula). Sebab pada manula, semakin lama tubuh semakin kurang dapat menyerap fluoride. Namun Risqa tidak menutup kemungkinan adanya anak-anak yang telah mengalami gigi keropos. "Kesehatan gigi, sangat dipengaruhi oleh kerajinan dan kedisiplinan anak dalam menggosok gigi," tegasnya.

Pada anak-anak yang telah mempunyai gigi keropos, Risqa menyarankan untuk segera di bawa ke dokter gigi untuk diperiksa. "Pemeriksaan ini diperlukan untuk mengetahui penyebab mengapa gigi menjadi keropos." Bila penyebab gigi keropos disebabkan adanya plak atau karang gigi, maka biasanya dokter akan menyarankan untuk melakukan pembersihan plak atau karang gigi tersebut. "Bila keroposannya masih dalam bentuk gigi berlubang, maka penambalan harus dilakukan di tempat yang berlubang."

Penanganan gigi keropos, jelas Risqa, tidak selalu harus dilakukan dengan pencabutan - yang merupakan ketakutan paling besar bagi anak-anak. "Dalam penanganan gigi saat ini, pencabutan gigi merupakan alternatif yang paling terakhir." Untuk memperbaiki gigi yang telah keropos, lanjutnya, sebenarnya bisa dilakukan dengan memberikan mahkota pada permukaan gigi. "Mahkota ini nantinya akan mengganti lapisan gigi yang telah keropos."

Kecuali, bila gigi yang keropos tersebut sudah sangat parah karena mulai membusuk dan syarafnya sudah mulai mati (necrosis), mau tidak mau gigi tersebut harus dicabut. Gigi yang berlubang atau yang telah membusuk harus segera ditangani, tuturnya, sebab bila tidak akan mengganggu kesehatan - bukan saja pada kesehatan di sekitar mulut (seperti sariawan), tapi juga pada anggota tubuh lainnya.

Gigi merupakan gambaran dari kesehatan tubuh kita. Seseorang bisa saja terkena hipertensi, penyakit jantung atau lainnya, hanya karena ia memiliki gigi berlubang atau gigi yang telah membusuk. "Kesehatan tubuh, bisa diakibatkan oleh adanya gangguan pada gigi, begitu juga sebaliknya. Karena tubuh merupakan satu kesatuan, yang saling terkait dengan unsur tubuh lainnya. Jadi, jangan anggap sepele kesehatan gigi ya," sarannya.

Mencegah Gigi Keropos
1.       Gosoklah gigi sekurangnya dua kali sehari dengan pasta gigi yang mengandung fluoride. Terutama, setelah makan dan sebelum tidur.
2.       Bila perlu, setiap seminggu sekali lakukan kumur-kumur dengan obat kumur yang bisa membantu mencegah terjadinya plak dan karang gigi.
3.       Sikatlah gigi dengan baik dan benar, yaitu dengan menjangkau ke seluruh permukaan gigi dan sela-sela gigi.
4.       Sikatlah gigi dengan tekanan yang sedang, tekanan yang terlalu keras akan mengakibatkan email gigi rusak, begitu juga bila terlalu lunak yang bisa menyebabkan gigi kurang bersih.
5.       Kalau perlu, pergunakanlah dental floss atau benang gigi untuk membantu membersihkan sisa-sisa makanan yang terselip pada sela-sela gigi.
6.       Makanlah makanan yang bergizi dan seimbang. Hindari terlalu banyak memakan makanan yang mengandung karbohidrat, seperti permen atau makanan bertepung yang sisanya dapat melekat pada gigi.
7.       Hindari penggunaan pasta gigi yang unsur fluoridenya terlalu rendah atau pun terlalu tinggi. Terlalu banyak fluoride, bisa mengakibatkan kerusakan gigi dan keracunan.
8.       Minumlah air yang mengandung fluor atau mineral.
9.       Lakukan pemeriksaan gigi setiap 6 bulan sekali, dan lakukan pembersihan plak dan karang gigi secara rutin.
Pertahankan Keasaman Gigi
Menyikat gigi secara rutin, terang drg. Risqa Rina Darwita, Ph.D., mampu menghindari menumpuknya sisa makanan pada gigi, yang bisa menyebabkan terjadinya plak atau karang gigi - yang bisa menyebabkan gigi lambat laun menjadi keropos. Namun, Risqa juga menganjurkan untuk tidak terlalu cepat menggosok gigi setelah kita mengkonsumsi makanan.

"Mulut kita, sebenarnya membutuhkan keasaman (pH) tertentu, yaitu pH 7," terangnya. Pada saat mulut kita mengunyah makanan, pH di dalam mulut lambat laun akan turun hingga mencapai pH kritis, yaitu 5,5. "Untuk mencapai pH yang normal, memerlukan waktu hingga mencapai 20-30 menit. "Bila kita terlalu sering ngemil, maka lambat laun gigi akan mudah keropos. Hal ini disebabkan oleh keasaman di dalam mulut, yang tidak normal."

Begitu juga pada anak-anak yang langsung menggosok gigi sehabis makan, karena saat kita menggosok gigi keasaman dalam mulut pun menurun. "Oleh sebab itu sebaiknya kita baru menggosok gigi, sekitar 20-30 menit setelah makan. Sehingga pH gigi pun, bisa tetap terjaga. "Saya menyarankan untuk lebih banyak berkumur dari pada menggosok gigi, sebab umumnya kita menggosok gigi dengan menggunakan pasta gigi," sarannya.

Pasta gigi, meski mengandung fluoride yang dibutuhkan gigi, namun juga mengandung deterjen (terlihat pada efek busa saat menggosok gigi). Padahal, deterjen tersebut juga tidak baik pengaruhnya pada gigi. "Dengan berkumur, sebenarnya kotoran dan sisa-sisa makanan pada gigi sudah terbuang. Atau kita juga bisa menyikat gigi dengan sikat gigi, tanpa harus menggunakan pasta gigi terlalu sering."
(Rahmi)


{ Dapatkan CD terapi gelombang otak untuk menurunkan berat badan , klik link di bawah ini.....} 
Sumber : www.gelombangotak.com/menurunkan_berat_badan.htm