Sabtu, 30 Juli 2011

Ada pesan dari bu guru....

Buku penghubung membuat komunikasi orangtua murid dan guru lancar. Juga membantu kelancaran tugas-tugas anak. Tapi orangtua atau guru mesti cermat dalam menulis laporan.

"Ma, tadi bu guru menulis di buku penghubung. Katanya besok aku harus bawa gunting, penggaris, dan karton. Kita mau bikin tempat pensil dari kertas," tutur Cempaka (8 tahun) sepulang sekolah.
"Oh, begitu. Mana coba, buku penghubungnya mama lihat. Ya sudah, nanti sore kita ke toko buku beli karton, ya?!"

***
Buku penghubung kini sudah menjadi istilah yang akrab di kalangan murid SD. Sebagian sekolah sudah menerapkannya sebagai sarana komunikasi antara guru dengan orangtua. Buku penghubung ini beda lho, dengan rapor atau laporan reguler. Rapor dan laporan reguler biasanya diberikan pada jangka waktu tertentu, sedangkan buku penghubung bisa digunakan kapan saja saat diperlukan. Misalnya untuk menyampaikan pengumuman yang berkaitan dengan kegiatan proses belajar-mengajar.

Ide dasar diadakannya buku penghubung ini, menurut Evie Elviati, Psi., adalah untuk memudahkan pihak sekolah dan orangtua dalam berkomunikasi tanpa memerlukan waktu yang khusus, mengingat orangtua dan guru punya keterbatasan waktu.

"Buku penghubung ini bertujuan agar orangtua mengetahui kejadian di sekolah atau hal-hal yang memang harus diketahui orangtua. Misalnya, alat-alat apa yang harus dibawa anak pada hari tertentu, dsb," terang psikolog di Essa Consulting Group, Jakarta ini. Contoh: 'Hari senin, tanggal 29, anak-anak diminta membawa kertas karton warna merah untuk ekstra kurikuler membuat kerajinan tangan'.

Sebaliknya, karena buku penghubung bisa digunakan dua arah, artinya orangtua juga bisa menulis di buku itu, pihak sekolah (guru) juga dapat mengetahui kejadian khusus di rumah, dari berita yang disampaikan orangtua. Misal, di buku penghubung itu orangtua bisa menulis: 'Kemarin Aldi sakit panas. Dokter menyarankan supaya ia jangan ikut aktifitas fisik yang berat dulu untuk 3 hari ini'.

Jangan Menghakimi
 
Banyak manfaat yang bisa diperoleh dari buku penghubung. Terutama, untuk anak-anak yang duduk di kelas rendah seperti kelas 1 sampai 3 SD. Anak-anak di kelas ini sebagian belum bisa membaca dengan lancar, dan juga belum mampu mengingat tugas-tugas sekolah atau mengatur jadwal dengan baik. Buku penghubung bisa membantu anak mengingat kembali tugas sekolah yang harus ia lakukan, terutama untuk anak-anak yang jarang berkomunikasi dengan orangtua. "Itu sebabnya," kata Evie, "buku penghubung sebaiknya dibawa anak setiap hari dan orangtua juga melihatnya setiap hari."

Agar buku penghubung bukan hanya menjadi seonggok buku, menurut Elvie perlu ada aspek-aspek tertentu yang dicantumkan dalam buku penghubung tersebut. "Antara lain hari dan tanggal, yakni waktu dituliskannya pesan dalam buku tersebut. Juga uraian tentang apa yang mau disampaikan. Yang terakhir, paraf orangtua -atau guru, jika pesan ditulis orangtua- untuk menunjukkan bahwa mereka sudah membaca buku tersebut."

Sedangkan spesifik atau tidaknya pelaporan tergantung dari apa yang akan ditulis di dalam buku. "Kalau yang ditulis lebih bersifat informasi, ada baiknya bersifat spesifik. Sedangkan kalau yang ditulis adalah permasalahan atau keluhan guru, ada baiknya guru hanya menulis secara garis besar saja, lalu membuat perjanjian ketemu dengan orangtua." Evie memberi contoh: 'Sehubungan dengan kejadian hari Kamis, 25 September, di mana tingkah laku Aldi mengganggu suasana belajar mengajar di kelas, saya mengharap kedatangan Ibu/Bapak di sekolah pada hari Senin, 29 September, pukul 09.00 WIB'.

Agar buku penghubung efektif, menurut Evie ada beberapa hal yang harus diperhatikan guru saat hendak menuliskan laporan di buku penghubung. Pertama, laporan tidak boleh bersifat menghakimi anak dengan penilaian yang kurang obyektif. Kedua, ada baiknya guru cuma menuliskan tentang situasi yang terjadi. Contoh yang benar misalnya: 'Ratih tidak membawa baju olahraga, sehingga ia tak bisa mengikuti pelajaran olahraga hari ini'. Sedangkan contoh yang salah misalnya: 'Ratih nakal, karena tidak memakai pakaian olahraga. Karenanya ia dihukum tidak boleh ikut pelajaran olahraga'.

Untuk anak yang sudah bisa membaca, guru tidak perlu menulis secara detil apa yang ingin disampaikan pada orangtua. Apalagi jika itu menyangkut perilaku anak yang 'bermasalah'. "Sebaiknya guru hanya menulis keinginan pihak sekolah untuk bertemu orangtua dengan memberikan jadwal pertemuan. Dengan begitu, guru bisa leluasa menyampaikan masalah yang berhubungan dengan si anak saat pertemuan berlangsung," terang Evie.

Eit, Jangan Sampai Keteter!
 
Untuk guru yang punya banyak murid, pusing dong, kalau tiap hari harus menulis laporan dalam setumpuk buku penghubung?

"Tak harus begitu," kata Evie. "Agar guru tidak keteter, untuk laporan atau informasi yang bersifat massal, misalnya informasi umum yang harus diketahui semua anak, edaran dengan surat mungkin lebih efektif. Jadi guru tak harus menulis dalam buku penghubung satu persatu."

Jika Sekolah Tak Ada Buku Penghubung
 
Banyak sekolah yang tidak menerapkan adanya buku penghubung ini. Karena manfaatnya yang cukup besar, terutama jika kedua orangtua bekerja di luar rumah, sebaiknya orangtua proaktif dengan mengusulkan diadakannya buku penghubung. Agar efektif usulan sebaiknya dilontarkan di Forum Orangtua-Guru (Komisi Sekolah) saat rapat berlangsung. Ini akan memberikan efek psikologis bagi orangtua-orangtua lainnya, yang belum tahu maupun yang suka 'kurang peduli' pada anak dapat tersentuh dan terbuka wawasannya. Jika usulan Anda diterima, pastikan kapan adanya buku penghubung dapat diwujudkan. Ini penting agar ada kontrol yang jelas dari keduabelah pihak, guru dan orangtua. Sehingga, orangtua yang bekerja pun lebih efektif mengontrol kemajuan maupun masalah yang dialami buah hatinya.

{ Dapatkan CD terapi gelombang otak untuk pria perkasa, klik link di bawah ini......} 
Sumber : www.gelombangotak.com/pria_perkasa_penis_besar.htm

Tidak ada komentar:

Posting Komentar