Memuji anak merupakan reward yang sangat positif. Namun lakukan secara proporsional agar anak tak terbuai.
Life is a bowl of cherry. Hidup itu seperti semangkuk buah ceri, ada yang manis, ada yang asam, ada pula yang busuk. Realitas seperti itulah yang harus diketahui anak. Jangan sampai kita salah mendidik dengan terus-terusan memujinya. Sikap orang tua yang demikian hanya akan membuatnya merasa hidup ini selalu manis, padahal tidak begitu, kan. Jadi bagaimana sebaiknya memberi pujian? "Berikan pujian bila memang dianggap perlu. Namun jangan berlebihan," demikian menurut Anna Surti Ariani, Psi, dari Jagadnita Consultan, Jakarta.
PUJIAN YANG PAS
"Anak berhak mendapat pujian setelah melakukan suatu perbuatan baik, seperti yang sudah pernah dilakukan sebelumnya dan bertambah baik, atau perbuatan yang memang diharapkan orang tua agar menjadi baik," lanjut psikolog yang akrab dipanggil Nina.
Contoh perbuatan yang diharapkan baik, misalnya ketika ia sudah bisa pipis di toilet. Saat itulah ia berhak mendapat pujian. Sedangkan yang diharapkan bertambah baik, misalnya jika seorang anak sudah bersikap manis pada tamu yang datang, tapi kali ini dia mau memberi salam terlebih dahulu.
Oleh karena itu, menurut Nina, perbuatan baik yang sudah menjadi kebiasaan tidak perlu dipuji lagi. Misalnya saat pertama anak bisa menyanyikan lagu Bintang Kecil, dia berhak mendapatkan tepuk tangan dan pujian. Namun setelah beberapa kali menyanyikan lagu yang sama, sebaiknya pujian itu sudah tidak diberikan lagi.
Pujian terhadap satu hal yang sama secara perlahan harus dikurangi, sambil menambah kompleksitas kegiatan yang telah berhasil dilakukan. "Kalau hal sama tanpa kemajuan masih terus dipuji, anak akan kekurangan motivasi untuk menambah kebiasaannya."
Misalnya, ketika lagu Bintang Kecil sudah dikuasainya, doronglah ia menyanyikan lagu baru, "Ayo, coba lagu Pelangi-Pelangi. Nanti kalau sudah bisa, dapat tepuk tangan lagi." Dengan dikondisikan seperti itu, anak akan berusaha untuk selalu menambah "keahliannya".
BUKAN BASA-BASI
Namun, kurang bermanfaat kalau pujian tidak disampaikan dalam kalimat efektif. Sayangnya, seringkali orang tua asal memuji, sehingga tak bermakna. "Yang benar, kata-katanya sederhana, karena perbendaharaan kata anak usia batita masih terbatas. Kalau kalimatnya terlalu rumit atau tidak jelas, ia tidak akan mengerti," ungkap Nina.
Oleh karena itu, pilihlah kata-kata yang spesifik, sesuai dengan perbuatan yang dilakukannya. Misal, "Mama senang deh, Adek makannya habis. Bagus."
Anak akan mengerti kalau ia menghabiskan makanannya, maka orang tua senang dan memujinya. Bandingkan dengan kalimat, "Bagus, bagus," yang tidak spesifik dan mungkin maksudnya tidak dimengerti.
Agar terasa berarti, pujian juga perlu dibarengi bentuk perhatian lain, seperti sentuhan, atau setidaknya kontak mata dengan anak. Alhasil, ia akan merasa pujian itu betul-betul diarahkan kepadanya.
Di saat orang tua sedang sibuk mengerjakan sesuatu yang tidak bisa ditinggal, jangan hanya mengatakan, "Bagus. Pintar," secara sambil lalu. Apalagi kalau maksudnya supaya anak tidak mengganggu lagi. Sebaiknya katakan, "Tunggu sebentar, ya, Sayang. Kalau nanti selesai, baru Mama lihat gambar Adek." Begitu ada kesempatan, alihkan perhatian Anda kepadanya. Kalau memang yang dibuatnya perlu mendapat pujian, lakukan dengan perhatian penuh. Sambil memuji, Anda bisa menyertakan nilai-nilai yang ingin ditanamkan pada anak.
RISIKO KALAU BERLEBIHAN
Anak yang terlalu sering mendapat pujian sama berisikonya dengan anak yang terlalu jarang mendapatkan pujian. Jika terlalu sering, selain akan mengurangi motivasi untuk mencoba melakukan hal lain, dalam jangka panjang, nantinya ia akan tumbuh menjadi pribadi manja, kurang fight, kurang kreatif, kurang memiliki sense of feeling guilty, dan pada akhirnya kurang berprestasi. "Sebab, anak menganggap dengan begini saja ia sudah dipuji, lalu untuk apa berusaha lebih keras lagi?" kata Nina.
Biasanya orang tua kelewat memuji untuk menutupi rasa bersalahnya. Misalnya saat pulang terlambat, kita akan dengan mudah mengatakan, "Anak pinter, anak cantik, tadi tidak nangis ya?" Padahal kita tidak tahu pasti apakah seharian tadi anaknya menangis atau tidak.
Begitupun dengan anak-anak yang jarang menerima pujian, "Anak pada kondisi ini tidak pernah tahu bahwa dirinya telah melakukan hal-hal positif," ungkap Nina. Dalam jangka panjang, ia akan tumbuh dengan rasa percaya diri yang sangat kurang, depresif, sering kecewa, sulit berinteraksi, mudah sedih, sensitif, dan beberapa sifat buruk lainnya.
BERI STIMULUS
Pujian pun harus selalu dikaitkan dengan bertambahnya kemampuan anak. Sertakan di situ apa lagi yang kita harapkan darinya, sehingga kemampuan anak akan bertambah terus. Bila sudah terlalu lama tak memujinya, dengan begitu terlihat bahwa belum ada kemajuan lain yang dicapainya. Orang tua tak boleh tinggal diam. Berikan ia stimulus agar terdorong melakukan sesuatu yang baru atau memperbaiki yang sudah berlangsung.
Namun ingat, pujian tidaklah harus terpaku pada pencapaian target. Proses usaha pun berhak mendapatkan pujian. Misalnya anak sudah berusaha makan sendiri. Walaupun masih berantakan, yang penting dia sudah berusaha. Katakan, "Tidak apa-apa kalau kamu hari ini masih berantakan makannya, tapi besok dicoba lagi ya, makan yang lebih bersih." Dengan begitu anak bisa merasakan bahwa usahanya selama ini dihargai, sekaligus ada pemacu untuk mencobanya lagi.
Pahamilah bahwa kemampuan perkembangan tiap individu sangat berbeda. Ada anak yang mampu berkembang dengan pesat, ada yang berkembang wajar, atau bahkan ada yang berkembang terlambat. Apa pun yang dicapainya dalam perkembangan itu, anak berhak mendapat pujian. Misalnya, "Mama tahu teman-temanmu sudah bisa nyanyi lagu yang lain, tapi Mama tetap bangga Adek bisa nyanyi lagu ini. Mama senang karena Adek mau berusaha dan belajar. Besok belajarnya ditambah ya, supaya Adek bisa menyanyi lagu yang sama dengan teman-teman."
Bila ayah dan ibu berbeda nilai, komunikasikan apa yang harus dilakukan untuk anak. "Yang sering terjadi adalah, karena salah atu pasangan jarang memuji anak, maka pasangan yang lainnya malah memberi pujian yang berlebihan. Maksudnya untuk menyeimbangkan, tapi itu jelas salah," tandas Nina. "Bagaimanapun, anak harus menerima pujian pada porsi yang tepat dari kedua belah pihak. Bukan karena yang satu kurang maka yang lainnya bisa memberi lebih."
****Marfuah Panji Astuti. Ilustrator: Pugoeh
{ Dapatkan CD terapi gelombang otak untuk perawatan kulit & awet muda ,klik link di bawah ini....}
Sumber : www.gelombangotak.com/perawatan_kulit_awet_muda.htm
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar