Mengucapkan kata "maaf", "tolong", dan "terima kasih", sangat perlu diajarkan kepada anak, agar ia tak tumbuh menjadi manusia egois.
Pada usia batita, ketika sifat egois atau pemusatan pada dirinya muncul, anak harus diajarkan melihat dunia lain selain dunianya sendiri. Dunia lain dapat diartikan sebagai pengalaman orang lain dan anak bisa merasakannya jika pada mereka ditanamkan rasa empati.
Menurut Evi Sukmaningrum, S.Psi dari Universitas Atmajaya, nilai empati bisa diajarkan melalui pengenalan apresiasi positif kepada anak. Misalnya dengan mengucapkan kata "maaf", "tolong", dan "terima kasih". "Ini pembiasaan yang harus dilatih dari kecil agar anak mengerti, dengan kata maaf, ia bisa ikut merasakan sakit ketika kaki orang lain terinjak olehnya."
Bahkan sejak masih bayi, orang tua sudah bisa mengomunikasikan apresiasi positif ini dengan membiasakan diri mengucapkan "maaf", "tolong", dan "terima kasih" di hadapannya. "Memang, yang paling efektif, saat anak berumur 1 sampai 3 tahun. Di usia ini, pemahaman reseptifnya mulai jalan karena kemampuannya dalam mengeksplorasi, observasi, untuk kemudian kemudian meniru sedang berkembang. Jadi, inilah saat yang paling tepat untuk mengajarkan anak mengenal nilai-nilai empati," saran Evi.
Caranya, mulailah dari kegiatan keseharian kita. Saat pulang terlambat karena jalan macet, contohnya, katakan padanya, "Maaf, ya, Mama/Papa pulang terlambat. Adek sampai harus menunggu lama." Jangan lupa, kebiasaan ini juga harus diberlakukan pada semua orang di rumah. Misalnya, ketika menyuruh pembantu melakukan sesuatu, selalu awali dengan kata "tolong" dan akhiri dengan kata "terima kasih". Lewat cara berkomunikasi seperti itu, anak akan terkondisikan untuk selalu mengapresiasi nilai-nilai positif.
KE PANTI ASUHAN
Empati atau kemampuan merasakan penderitaan dan kebahagiaan orang lain, pada dasarnya bisa diajarkan melalui berbagai peristiwa khas dunia batita. Misalnya, ketika melihat temannya jatuh dan menangis, ajarkan anak untuk mendekati dan bertanya, "Kenapa menangis? Sakit, ya?" Ajak anak membayangkan dirinya menjadi si korban. Kalau dia yang jatuh, pasti seperti itu sakitnya. Begitu juga dengan rasa berbagi. Di saat temannya ingin meminjam mainan, ajarkan untuk meminjamkan mainannya. Ketika ia sedang memegang makanan, ajarkan dia untuk memberikan sebagian pada orang yang meminta. "Mengajaknya diskusi ketika ia melihat sesuatu yang kurang baik, juga amat disarankan. Misalnya, saat ia melihat temannya berkelahi. Beri pengertian, memukul dan dipukul tidak akan menyelesaikan masalah kecuali menghasilkan rasa sakit. Oleh karenanya, setiap masalah harus diselesaikan tanpa memukul. Evi juga menganjurkan untuk sesekali membawa anak ke panti asuhan. "Ajak dia memahami kesedihan bila sudah tak punya ayah-ibu. Juga, saat melihat anak jalanan yang terpaksa harus ngamen untuk hidup. "Pendek kata, dengan bahasa sederhana, orang tua bisa menjelaskan perihal ketidak beruntungan mereka. "Lama-lama, kepekaan sosial anak bisa tumbuh untuk kemudian melatih rasa empatinya."
BENTURAN NILAI
Anak yang sudah diajarkan nilai-nilai positif di rumah, pada saat berada di lingkungan yang lebih luas seperti sekolah, kemungkinan besar mengalami benturan nilai. Umpamanya, ia dianggap lemah karena selalu mengalah dalam rangka menerapkan konsep berbagi. Menurut Evi, ini adalah problem dilematis yang sering terjadi. Dalam kondisi seperti ini, ia menganjurkan agar orang tua kembali ke nilai-nilai yang ingin ditanamkan terhadap anak.
Bagaimanapun juga, anak harus dilatih untuk memiliki rasa empati dan kepekaan sosial, serta bisa menjadi contoh untuk teman yang lain. Jadi, bukan sikap agresif yang lantas kita ajarkan untuk bertahan di sebuah lingkungan, "melainkan sikap asertif atau tegas tanpa harus menjadi seorang penakut. Kepada teman yang suka merebut mainan, contohnya, ajari dia untuk bersikap tegas dengan tidak menghilangkan kemauan untuk berbagi." Misalnya, dengan berkata, "Kamu mau pinjam? Bilang baik-baik, dong, aku pasti pinjami. Gantian, jangan merebut."
Nilai-nilai yang dibawa dari rumah, menurut Evi, dengan sendirinya harus tertanam kuat, sehingga ketika anak bersosialisasi di luar rumah dia tidak akan terbawa oleh pengaruh buruk lingkungan. Family culture pun harus dibentuk dalam keluarga. "Suami istri, walau membawa nilai-nilai yang berbeda dari latar belakang keluarganya masing-masing, harus satu kata dalam proses pembelajaran anak," kata Evi, "sehingga anak tidak bingung."
Apa yang diajarkan oleh mama sama dengan yang diajarkan oleh papanya. Begitu juga pembantu atau pengasuh, harus diajarkan untuk mengikuti semua kebiasaan yang ada di rumah. Misalnya, mengucapkan kata "tolong", "maaf", dan "terima kasih" pun harus mereka lakukan.
RANGSANGAN LINGKUNGAN
Sekarang, anak usia 2 sampai 3 tahun rata-rata sudah bergabung dalam sebuah playgroup. Lingkungan ini sebenarnya bisa membantu menumbuhkan nilai empati pada anak. Proses sosialisasi dengan teman-temannya, bisa menimbulkan rasa kebersamaan, menghargai perbedaan, dan tolong-menolong.
Ditambah lagi, pada anak yang berusia 2,5 sampai 3 tahun mulai muncul perilaku prososial, seperti keinginan untuk menolong orang lain. Artinya, bibit empati ini secara naluriah sudah ada pada mereka. Maka akan sangat berarti bila di usia itu dia berada di lingkungan yang memang mendukung, seperti lingkungan "sekolah"nya.
Di sisi lain, tambah Evi, lingkungan sosial yang berkembang dewasa ini juga harus diwaspadai sebagai penyebab melemahnya nilai empati. Kecenderungan orang tua yang mengajarkan anaknya untuk selalu bisa bertahan dan bersaing ditambah kondisi yang mengharuskan seseorang menjadi kuat agar bisa bertahan, kerap memunculkan anggapan, "Saya saja lagi susah, buat apa dan bagaimana bisa berempati dengan kesusahan orang lain?" Atau pendapat, "Dulu saya susah, jadi sekarang harus senang."
Budaya keluarga Indonesia yang hidup dengan pembantu atau pengasuh anak pun sedikit banyak ikut menjadi penyebabnya. Kebiasaan memperlakukan pembantu atau pengasuh dengan seenaknya akan dilihat oleh anak dan kemudian ditirunya.
***Marfuah Panji Astuti. Foto: Ferdy/nakita
{ Dapatkan CD terapi gelombang otak untuk meningkatkan percaya diri , klik link di bawah ini....}
Sumber : www.gelombangotak.com/meningkatkan_percaya_diri.htm
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar