Jumat, 29 Juli 2011

10 SEBAB-AKIBAT "SOGOKAN" BAGI BATITA

Kita sering tak sadar, upaya menyelesaikan permasalahan dengan menyogok anak bisa membawa dampak berkepanjangan.
Setiap kali minta putrinya melakukan sesuatu, Santi selalu mengakhirinya dengan iming-iming. "Ayo mandi! Nanti mama beliin es krim!" Atau, "Kalau kamu tidur siang sekarang, nanti sore kamu boleh makan cokelat." Alasannya, sih, sederhana, Santi bosan membujuk si kecil dan kesal karena anaknya selalu bersikap ogah-ogahan.
Dengan iming-iming, putrinya memang tampak lebih menurut. Namun belakangan, apa yang ditawarkannya tidak diminati lagi oleh si kecil. Ia jadi harus berpikir dua kali untuk mencari iming-iming yang menarik. Sayangnya, sampai kini ia belum juga sadar, menyogok anak dapat berdampak negatif. Apa sajakah itu? Mari kita telusuri paparan Ike R. Sugianto, Psi, mengenai seluk-beluk iming-iming ataupun sogokan. 

1. Apa saja, sih, yang bisa dikategorikan sebagai kegiatan menyogok anak?
 
Semua hadiah yang dijadikan barter dengan anak adalah sogokan. Dengan mendapat sesuatu ia melakukan sesuatu. 

2. Apa yang menjadi latar belakang orang tua sampai menyogok anaknya?
 
Orang tua ingin segala sesuatunya bisa cepat beres. Misalnya, dengan menjanjikan es krim, Santi berharap anaknya akan segera mau mandi. Mungkin juga si anak bertemperamen sulit, sehingga orang tua harus melakukan segala upaya, termasuk menyogok, agar anaknya menurut. 

3. Sehatkah kebiasaan itu?
 
Tidak! Sebab akan membuat anak terbiasa dengan pamrih, atau mau melakukan sesuatu asalkan ada imbalannya. "Jadi anak hanya mau mandi kalau setelah itu mendapatkan es krim. Kalau tidak, ya tidak mandi. Ini yang sudah tidak sehat. 

4. Bukankah iming-iming merupakan reward?
 
Sebenarnya konsep reward and punishment (penghargaan dan hukuman) pada anak itu wajar. Semua perbuatannya yang baik akan mendapatkan penghargaan dengan harapan semoga perbuatan itu diulangi terus, sedang perbuatannya yang tidak baik akan mendapat hukuman supaya tidak dilakukan lagi. Yang jadi masalah, kalau semua itu baru dilakukan jika ada penghargaan yang akan diterimanya.
Yang lebih parah, kalau penghargaan diberikan di depan, atau si anak hanya mau hadiahnya saja, tanpa melakukan aktivitas yang diminta. Misalnya, si anak mau es krimnya dibelikan dulu, baru kemudian mandi. Namun setelah es krimnya diberikan, anak tetap tidak mau mandi.
Tak jarang, orang tua menjanjikan memberi permen pada anak, asalkan anak itu mau menghentikan tangisnya dan tidak rewel lagi. Ini jelas tidak benar. Menangis bukanlah perbuatan positif yang pantas mendapat hadiah. Itulah bedanya reward dengan sogokan. Selama pemberian hadiah itu memang sesuai dengan porsinya, maka sah-sah saja. 

5. Kapan bisa dikatakan reward tidak sesuai porsi?
 
Jika hadiah atau imbalannya kelewat besar dibanding apa yang dilakukan, itulah yang disebut tidak sesuai porsi. Bisa juga dikategorikan sebagai upaya "menyogok" anak. Misalnya, tidur siang dihadiahi sebuah sepeda. Disamping tidak wajar, juga tidak sehat.
Tidak sesuai porsi juga kerap terjadi jika hadiah itu sudah direncanakan sebelumnya, dengan atau tanpa aktivitas yang bisa dipenuhi anak. Misalnya orang tua minta si kecil menghabiskan makanannya dengan cepat hari ini, dan sebagai hadiahnya besok ia akan diajak ke Puncak. Padahal dipenuhi atau tidak, orang tua tetap akan mengajak anaknya ke Puncak, karena hal ini memang sudah direncanakan jauh-jauh hari. Ini juga dapat dikategorikan sebagai upaya membarter aktivitas dengan hadiah atau menyogok.
Jika aktivitas kecil saja selalu diberi imbalan hadiah, bisa jadi nantinya anak tidak mau melakukan sesutu tanpa hadiah sama sekali. Kalau pola asuh ini dibiarkan berlanjut, jelas menjadi pola yang tidak sehat buat anak dan orang tua. 

6. Apa dampaknya bagi anak dan orang tua?
 
Dalam jangka pendek, yang jelas orang tua akan kerepotan. Ia harus terus-terusan menyiapkan hadiah, sebab tanpa itu anak tidak mau melakukan sesuatu yang diperintahkan padanya alias pamrih.
Jangka panjangnya, anak jadi kehilangan motivasi, semuanya harus serba instan tanpa memikirkan bahwa untuk mendapatkan sesuatu, ia harus melalui sebuah proses. Motivasi dari dalam dirinya (intrinsic motivation) tidak akan tumbuh, atau semua tergantung pada motivasi dari luar (extrinsic motivation), yaitu hadiah. Daya juangnya juga menjadi rendah, keinginan untuk maju dan menjadi lebih juga kurang. Bisa juga anak ini kemudian menjadi anak yang "semau gue" atau hanya mau melakukan sesuatu kalau ada yang dia dapat; kalau tidak, ya tidak akan dilakukan. Pendek kata, dia hanya mau melakukan apa yang dia mau, yang tidak ya tidak.
Belum lagi pemberian "sogokan" ini dalam jangka panjang harus bertambah besar nilai bendanya. Anak yang terbiasa mendapat es krim, misalnya, sampai di suatu masa pasti akan merasa bosan dengan hadiah itu. Ia pun lantas minta yang lebih, seperti mainan, dan seterusnya. Dapat dibayangkan bila kebiasaan ini terus berlanjut sampai dewasa, apa lagi yang akan dimintanya sebagai sogokan?
Anak-anak yang selalu pamrih pada apa yang dilakukannya, setelah memasuki dunia yang lebih luas seperti Playgroup, akan kehilangan rasa percaya dirinya. Dia menemukan kondisi yang diterimanya di rumah berbeda dari kondisi yang didapatinya di "sekolah". Dia harus melakukan sesuatu yang diminta gurunya, tanpa mendapatkan apa pun. Atau bisa juga ia meniru pola asuh orang tuanya, yaitu memberikan imbalan seperti permen atau cokelat kepada teman yang mau melakukan apa yang dimintanya. 

7. Apakah sogokan harus dihentikan sama sekali?
 
Ya. Caranya dengan memilah aktivitas mana saja yang berhak mendapatkan hadiah dan mana yang memang merupakan kewajiban anak. Misalnya mandi, makan, minum susu, itu semua untuk kebaikan si anak sendiri, tidak perlu diberi imbalan hadiah, sebab kalau sudah sampai pada kategori "nyogok", maka tidak ada manfaat positifnya sama sekali buat anak.


8. Apa yang bisa dilakukan orang tua agar hadiah tidak menjadi alat barter perilaku pada anak?
 
Salah satunya, gunakan sistem tabel penghargaan (contoh tabel ada di nakita edisi 219, di rubrik Dunia Presekolah). Bila anak telah melakukan aktivitas yang diminta, dia berhak mendapatkan satu bintang pada tabel tersebut. Setelah terkumpul beberapa bintang, barulah anak boleh mendapat hadiah. Makin lama, bintang yang didapat harus makin banyak untuk mendapatkan hadiah yang sama.
Untuk anak-anak yang mempunyai masalah, seperti berperilaku sulit, sistem ini sangat efektif dan bisa membawa banyak manfaat. Hanya saja, tentu tidak semudah menangani anak normal. 

9. Bagaimana bila anak telanjur berpamrih?
 
Hentikan sogokan dan ubah segera sistem yang telah berjalan. Perbaharui kesepakatan setiap beberapa waktu sekali yang intinya mendorong agar anak berusaha lebih keras sebelum mendapatkan apa yang diinginkan.
Bila dua hal itu tidak bisa mengubah tabiatnya, dan anak malah makin seenaknya, maka orang tua harus menunjukkan ketegasan. Berikan hukuman yang sesuai, bila anak masih tidak mau melakukannya, seperti tidak boleh nonton teve, tidak boleh main di luar rumah, dan kesenangan lainnya.
Disamping itu, orang tua juga harus sabar dan konsisten untuk selalu mengulang hal yang sama. Misalnya anak yang tidak mau mandi, bila perlu segera gendong ke kamar mandi dan mandikan. Bisa jadi pada saat itu anak menangis, tapi orang tua tidak boleh menyerah. Besok lakukan lagi, sampai ada perubahan pada perilakunya. Katakan pula dengan tegas, "Mulai hari ini tidak ada cokelat lagi, tapi kamu tetap harus mandi."
Bila tingkah lakunya makin menjadi, ada baiknya orang tua menkonsultasikan hal tersebut pada ahli. Bisa jadi anak tengah mengalami kondisi insecure atau tidak aman, seperti apakah benar orang tuanya menyayangi dia, dan sebagainya. Namun, pada dasarnya perilaku anak usia batita, relatif mudah diubah. 

10. Bagaimana kalau orang tua tidak menepati janji?
 
Janji adalah hutang, tapi banyak orang tua justru memberikan "janji palsu" kepada anak-anaknya. "Ayo mandi sana. Nanti setelah mandi, Papa kasih es krim, deh." Nyatanya, es krim itu tidak pernah ada.
Lama-lama anak akan menyadari kebohongan orang tuanya. Kekecewaan demi kekecewaan pada akhirnya melunturkan rasa percaya anak terhadap orang tua. Kalau anak sudah tidak memiliki itu, maka sulit bagi kita untuk mengajarkan keterampilan dan tanggung jawab. Jelas ini bukan hal positif.
Kalau sampai kepercayaan anak terhadap orang tua hilang, mulailah segala sesuatunya dengan lembaran baru; jangan lagi pernah berbohong pada anak dan janganlah menjanjikan hadiah yang tidak sesuai porsi. 

{ Dapatkan DVD terapi gelombang otak untuk melakukan perubahan dari diri sendiri, klik link di bawah ini......} 
Sumber : www.gelombangotak.com/Merubah_diri_hipnotis.htm

Tidak ada komentar:

Posting Komentar