Minggu, 31 Juli 2011

"ADEK, STOP KONTAK ITU BERBAHAYA!"

Anak batita belum mengerti arti bahaya. Ia pun belum dapat membedakan antara yang berbahaya dan tidak.
Ya, tugas orang tualah untuk memberikan penjelasan selengkap mungkin mengenai apa itu bahaya, bukan hanya sekadar melarang. Ada beragam bahaya yang mungkin bakal ditemui si batita di lingkungan sekitarnya. Namun memang tak semua bahaya dapat langsung diperlihatkan secara konkret. Untuk mengakalinya orang tua harus pandai mencari persamaannya. Komunikasikan dengan bahasa yang sederhana dan sediakan waktu yang cukup untuk menjelaskannya, jangan terburu-buru. Namun penjelasan dengan kata-kata saja tidaklah cukup, harus disertai contoh nyata. Melalui contoh itulah si batita akan belajar langsung merasakan sesuatu yang membahayakan dirinya. Namun, orang tua harus hati-hati dalam memilih contoh konkret tersebut. Jika membahayakan seperti panasnya api, tak perlulah ia bersentuhan langsung karena dikhawatirkan malah membuatnya cedera dan trauma.
 
4 LANGKAH MENGENALKAN ARTI BAHAYA
 
1. Jelaskan hubungan sebab-akibat yang mungkin timbul.
Selain dapat membuat anak memahami bahwa sesuatu yang dilarang ini memang dapat membahayakan dirinya, juga sekaligus dapat mengembangkan kemampuan kognitifnya untuk mempelajari hubungan sebab-akibat. Dalam mengenalkan api, misal, berikan penjelasan tentang akibat yang ditimbulkan. "Api ini berbahaya karena panas. Saking panasnya, bila terkena api dapat menyebabkan luka bakar di kulit. Permukaan kulit akan menggelembung seperti balon dan berisi air, rasanya perih dan sakit."
2. Ajak anak untuk mencoba langsung.
Untuk lebih memahami rasa panas itu, ajak anak ke dapur. Minta ia memegang pinggiran kompor sebentar atau memegang tempe goreng yang masih panas dan baru saja diangkat dari penggorengan. Cara ini untuk membuktikan secara konkret akan rasa panas.
Sambil memegang pinggiran kompor atau tempe goreng, berikan penjelasan. Contoh, "Coba, deh, pegang pinggiran kompor ini. Panas, kan? Api itu lebih panas lagi." Atau, "Coba pegang tempe yang baru saja Mama angkat. Panas enggak? Panas api kompor itu bisa membuat minyak goreng jadi panas, lo, sampai-sampai makanan mentah jadi matang. Tempe yang Mama goreng tadi masih panas, kan, walau sudah diangkat dari minyak goreng? Jadi, jangan main dengan api, ya... berbahaya."
3. Minta si batita mengungkapkan pendapatnya.
Setelah anak merasakan langsung, minta ia mengungkapkan pendapatnya. Dengan demikian dapat diketahui, apakah si batita sudah memahami atau belum penjelasan yang baru saja disampaikan.
4. Ajari anak tentang pertolongan yang harus ia lakukan bila dirinya mengalami bahaya.
Untuk memudahkan pemahaman si batita, tentunya tak cukup dengan memberikan penjelasan tetapi sampaikan pula cara-cara yang harus dilakukan dengan konkret. Umpama, saat anak terkena pisau. Praktikkan cara membersihkan lukanya berikut cara memberikan obatnya serta cara membalutnya bila perlu. Dengan demikian, saat tak ada yang mendampingi dan si batita nekad mencoba-coba, ia sudah mampu menolong diri sendiri. Tak perlu ragu anak tak akan mampu melakukan, karena si batita sudah semestinya mampu menolong dirinya (self-help).

RAGAM BAHAYA

1. Api
Ajak si batita untuk memegang pinggiran kompor atau makanan yang baru selesai dimasak untuk memberikan bukti nyata bahwa api itu panas.
2. Listrik.
Nyalakan setrika listrik, lalu tempelkan pada selembar kain. Umumnya setelah beberapa saat, panas yang ada di setrika listrik akan merambat ke kain. Berikan penjelasan bahwa kekuatan listrik mampu menghasilkan panas.
Atau, cobalah untuk membuat alat peraga sederhana yang memanfaatkan bohlam beserta kabel dan "colokan". Kemudian nyalakan bohlam dengan mengalirkan listrik lewat stop kontak. Setelah beberapa saat, minta si batita memegang bohlam tersebut. Sebelumnya, minta si batita untuk memegang bohlam yang belum dialiri listrik, sehingga ia dapat membedakan antara yang sudah dialiri dan belum.
Peragaan ini dapat dimanfaatkan untuk memberikan penjelasan bahwa stop kontak memiliki aliran listrik yang mampu menyalakan lampu dan menghasilkan panas. Karenanya, jangan main-main dengan listrik sebab memiliki kekuatan yang tiada tara.
3. Air
Masukkan batu ke dalam kolam untuk memberikan penjelasan bahwa air mampu membuat tenggelam. Atau, guyurkan air dalam jumlah yang lumayan banyak ke wajahnya. Ini dapat memberikan penjelasan, dalam keadaan panik, bila tercebur ke dalam air dapat membuat seseorang menjadi sulit bernapas. Manfaatnya agar si batita tak sembarangan menyebur ke dalam air kolam.
4. Ketinggian
Batita gemar mencoba-coba, salah satunya memanjat. Namun sering terjadi ia tak mampu untuk turun sendiri, sehingga bisa saja membahayakan dirinya. Untuk memberikan penjelasan dengan konkret, cobalah jatuhkan benda dari ketinggian tertentu. Misal, gelas dijatuhkan dari lantai atas. Saat dijatuhkan gelas dapat pecah menjadi berkeping-keping. Ini dapat memberikan penjelasan kepada batita, bila jatuh dari ketinggian tertentu, badan kita pun dapat hancur.
5. Menyeberang Jalan
Kurang kewaspadaan saat menyeberang dapat menyebabkan kecelakaan. Untuk memberikan penjelasan secara konkret, cobalah letakkan kaleng bekas tempat susu atau kue-kue, kemudian lindaslah dengan ban mobil Anda. Hasilnya, perlihatkan bahwa kaleng itu dapat hancur berkeping-keping. Apalagi bila tubuh kita yang tertabrak, bisa lebih hancur.
Menyeberang yang benar penting diajarkan karena bisa jadi si batita terlepas dari pengawasan orang dewasa saat bermain. Nah, bila ia telah memiliki keterampilan atau paham cara menyeberang, sedikitnya dapat mengurangi risiko bahaya terhadap dirinya.
6. Orang Asing
Si batita hendaknya diberi penjelasan tentang orang-orang yang berhak mengajaknya bepergian atau orang-orang yang diperkenankan diterima tawarannya. Bila hal ini telah dipahami, niscaya dapat mengurangi risiko diculik atau ditawari makanan yang sebenarnya bertujuan untuk mencelakakan dirinya.
Memang agak sulit memberikan penjelasan secara konkret. Yang mungkin dilakukan adalah dengan membacakan buku atau mengajak anak menonton film atau drama yang mengisahkan tentang penculikan.
7. Benda Tajam
Benda tajam kerap ditemui di sekitar kita, entah gunting, pisau atau benda lainnya. Untuk memberikan penjelasan yang konkret, cobalah ajak anak memegang pisau roti yang tidak terlalu tajam. Kemudian mintalah ia untuk memotong roti dengan pisau tersebut. Berikan penjelasan bahwa pisau itu tajam sehingga dapat memotong roti. Apalagi kalau pisau yang biasa digunakan di dapur, bisa lebih tajam lagi karena biasa digunakan untuk memotong sayuran dan daging. Bila tak berhati-hati dapat menyebabkan tangan teriris dan berdarah.
8. Tontonan Kekerasan dan Seks
Hindari anak menonton kekerasan karena dapat memengaruhi perilakunya. Anak usia batita sedang memasuki tahap meniru. Sesuatu yang sering dilihat akan dengan mudah ditiru. Untuk itu hindari anak-anak menonton tayangan yang bersifat kekerasan dan seks.

TIP PENTING
* Bacakan Buku untuk si Kecil
Sejak si kecil umur setahun, mulailah membacakan buku untuknya walau hanya 10 menit. Selain dapat menambah kosakata anak, bacaan dapat dimanfaatkan pula untuk memberikan pengetahuan tentang beragam bahaya yang ada di sekitarnya. Semakin dini diberikan pengertian akan semakin cepat dipahami dan mudah diingat oleh anak-anak.
* Biarkan Si Batita Bersosialisasi
Mulai usia setahun juga, izinkan si batita untuk bersosialisasi agar kemampuan sosialnya berkembang sekaligus dapat dijadikan sebagai ajang belajar. Contoh, biarkan si batita bermain sepeda di sore hari bersama teman-temannya di sekitar komplek perumahan. Sambil naik sepeda si batita dapat memahami aturan yang harus dipatuhi di jalan, semisal kalau ada mobil harus berjalan di pinggir. Namun tetap saja harus ada orang dewasa yang mengawasi.
* Bersikap Sabar
Tak boleh bosan memberikan pengertian kepada batita. Daya ingat batita memang masih terbatas, karena itu perlu dilakukan berulang-ulang.
***Utami Sri Rahayu. Foto: Iman/nakita

{ Dapatkan DVD terapi gelombang otak untuk peningkat daya seks wanita, klik link di bawah ini......}
Sumber : www.gelombangotak.com/peningkat_daya_seks_wanita.htm

Tidak ada komentar:

Posting Komentar